Jangan Remehkan Ancaman Kalimantan
http://nasional.inilah.com/read/detail/1866544/jangan-remehkan-ancaman-kalimantan

 
INILAH.COM, Jakarta - Sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, Kalimantan tidak 
pernah menimbulkan masalah. Ibarat anggota keluarga NKRI - Negara Kesatuan 
Republik Indonesia, Kalimantan merupakan anak bangsa yang selalu bersikap 
tenang, manis dan penyejuk suasana.
 
Tapi Mei 2012, di saat semua perhatian tercurah pada persoalan-persoalan lain, 
tiba-tiba : "braaakkkk"! Tokoh Kalimantan seperti menggebrak meja, menarik 
perhatian dan membuat kegaduhan.
Itulah kira-kira perumpaman yang cocok untuk menggambarkan tentang protes dari 
para Gubernur se-Kalimantan. Protes terbuka, dan resmi yang belum pernah 
dilakukan oleh Kepala Daerah selama ini.

Keempat Gubernur dari pulau yang disebut Paru-Paru Dunia itu, melayangkan 
keberatan kepada Pertamina, BPH Migas, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, 
serta Komisi Energi DPR. Dalam keberatan mereka, terselip ancaman dalam bahasa 
yang tersirat. Protes empat gubernur dilakukan terkait adanya pengurangan kuota 
BBM yang signifikan oleh pemerintah pusat tanpa koordinasi dengan pemerintah 
provinsi.
Pada 2011, kuota BBM sebesar 280 ribu kiloliter dialokasikan untuk empat 
provinsi tersebut. Di 2012, kuota berkurang tajam menjadi hanya 263 ribu 
kiloliter. Akibatnya warga pun kesulitan mendapatkan BBM. Antrean terjadi di 
setiap SPBU.

Sangat tidak masuk akal daerah penghasil BBM justru mengalami kelangkaan 
minyak. Pemilik minyak justru harus meminta kepada pemerintah yang seharusnya 
hanya sebagai administrator. Hingga kini, belum ada kejelasan, sejauh mana 
respons pihak-pihak yang disurati oleh para Guberner se-Kalimantan tersebut.

Kita berpikir positif saja. Semoga para pihak yang disurati keempat Gubernur 
se-Kalimatan sadar atas urgensi protes itu. Karena yang pasti, suara dari 
Kalimantan itu, merupakan peristiwa serius yang tidak boleh dipandang remeh. 
Selain itu kekurangan BBM di Kalimantan ini mengingatkan peristiwa serupa yang 
terjadi di Pekanbaru, Riau yang juga salah satu daerah penghasil BBM terbanyak 
di Indonesia.

Jangan sampai terjadi, setelah Riau, Kalimantan kemudian daerah lainnya 
bernasib serupa. Tingkat keseriusannya, jika diabaikan, dapat melampaui dampak 
destruktif yang disebabkan oleh mega korupsi. Sebab niat keempat Gubernur 
Kalimantan itu juga untuk menjaga wibawa pemerintah secara keseluruhan.

Protes pimpinan daerah Kalimantan itu merupakan sebuah peringatan kepada 
petinggi di Jakarta agar dalam melihat dan menangani persoalan daerah harus 
menggunakan kacamata yang benar. Tidak cukup hanya berpikir dengan paradigma 
yang hanya menjadi kepentingan kelompok terbatas saja.

Bukan sebuah dramatisasi, namun kalau pemerintah pusat tidak merespon secara 
benar protes dari Kalimantan ini, bakal muncul sebuah ketidak puasan daerah 
yang ujung-ujungnya dapat menimbulkan sentimen kedaerahan.

Sebagaimana sejarah kita mencatat, hampir semua pulau utama di Indonesia, mulai 
dari Sumatera, Papua dan Sulawesi sudah pernah bergolak. Pemicunya berasal dari 
sentimen kedaerahan. GAM dan PRRI di Sumatera, Permesta di Sulawesi dan OPM di 
Papua.

Pergolakan itu muncul, berawal dari protes mereka yang tidak ditanggapi secara 
proporsional. Hak-hak daerah dikebiri dengan alasan tidak jelas. Pemerintah 
pusat akhirnya memang bereaksi. Tetapi sudah terlambat. Selain terlambat 
pemerintah pusat menganggap tindakannya selalu benar. Maka yang dikedepankan 
bukan solusi melainkan pemaksaan kehendak.

Pemerintah pusat yang seharusnya mengaku bersalah, perlu melakukan negosiasi 
dan rekonsiliasi, justru menjawab protes daerah dengan arogan sambil 
membusungkan dada. Akhirnya terjadi ketegangan antara Jakarta sebagai pemegang 
kekuasaan tertinggi dengan daerah. Ujung-ujungnya pergolakan meletus.

Menyelesaikan persoalan GAM butuh puluhan tahun. OPM belum tuntas. Sementara 
PRRI dan Permesta, sekalipun sudah selesai, tetapi luka akibat pergolakan itu 
ikut menyebabkan perjalanan bangsa tersendat.

Flasback peristiwa di tiga pulau besar itu sengaja diangkat, untuk mengingatkan 
para pengelolah kekuasaan dan negara, agar tidak melupakan sejarah. Pengalaman 
di masa lalu itu, sangat pahit bagi bangsa dan NKRI. Sehingga semua harus punya 
tekad, pergolakan tidak boleh terulang kembali.

Jadi kekecewaan masyarakat Kalimantan sebagaimana diekspresikan para pimpinan 
puncak di daerah itu, harus ditanggapi secara serius. Semua pulau di Indonesia, 
tanpa kecuali besar atau kecil, memiliki hak yang sama. Kendati begitu, posisi 
Kalimantan dalam geopolitik Indonesia, menempati posisi yang cukup penting dan 
strategis.

Dalam waktu hampir setengah abad, posisi Kalimantan sudah mengalami perubahan 
yang sangat besar. Kontribusi pulau itu bagi pembangunan Indonesia, melalui 
sumber-sumber daya alam, tidak terhitung.

Selain tidak mengeluh, kekayaan sumber daya alamnya dikeruk habis-habisan 
berdasarkan izin dari pemerintah pusat. Karena tidak ada keluhan, pemerintah 
pusat ikut terbuai. Sehingga melupakan apa yang harus diberikannya kembali 
kepada pulau penghasil devisa terbesar itu.

Selain salah satu pulau terbesar dan kaya, letaknya yang berada di tengah 
wilayah Indonesia pernah mengundang pemikiran agar ibukota negara dipindahkan 
ke salah satu kota (Palangkaraya) di pulau itu. Kalimantan juga memiliki 
wilayah terpanjang yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Hal ini 
semua memperlihatkan, Kalimantan merupakan pulau penting.

Singkatnya, Kalimantan memiliki kekhususan dan keistimewaan. Kekhususan 
Kalimantaan bisa disetarakan dengan Jakarta dan keistimewaannya dapat 
disejajarkan dengan DI Yogyakarta serta Nangroe Aceh Darusalam.
 
Sebagai sebuah pulau terbesar di Indonesia plus memiliki kekayaan alam yang 
tidak terbatas, sangat wajar apabila Kalimantan memperoleh perlakuan khusus 
bahkan bila perlu secara istimewa. Sehingga dengan alasan pragmatis ataupun 
politis, sangat wajar apabila protes dari Kalimantan yang dapat berkonotasi 
ancaman itu, benar-benar mendapatkan perhatian. [mdr]

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke