Tribunnews.com - Selasa, 29 Mei 2012 20:18 WIB

http://www.tribunnews.com/2012/05/29/nu-tidak-ada-intoleransi-beragama-di-in
donesia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membantah
terjadinya praktik intoleransi beragama di Indonesia.

PBNU juga mendorong dilakukannya dialog bersama untuk menyelesaikan
kesalahpahaman tersebut. Pernyataan ini menanggapi hasil sidang tinjauan
periodik universal II di Dewan HAM Perserikatan Bangsa Bangsa.

"Tidak ada intoleransi beragama di Indonesia. Kalau luar menyoroti
pembangunan Gereja Yasmin yang masih sulit, luar juga harus tahu pembangunan
beberapa masjid di Papua juga mengalami kesulitan," tegas Ketua Umum PBNU KH
Said Aqil Siroj, seusai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana
Negara, Selasa (29/5/2012).

Menurut Kang Said, tak hanya di Papua, tepatnya di Manokwari, kesulitan
pembangunan masjid di sejumlah daerah di mana Islam menjadi golongan
minoritas, juga terjadi. Salah satunya di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Untuk menyelesaikan kesalahpahaman tersebut, NU mendorong dilakukannya
dialog bersama, dan semua pihak mengesampingkan kepentingan kelompoknya.

"Mari kita berdialog untuk menyelesaikan permasalahan ini. Dialog bersama
yang saling terbuka. Diperlukan dialog antar-tokoh agama, antar-elit, agar
masalah ini bisa diselesaikan dengan baik," urai kyai bergelar doktor
lulusan Universitas Ummul Qura', Mekkah.

Untuk kerukunan antarumat Islam, Kyai Said menyebut kondisi di Indonesia
justru merupakan yang terbaik di dunia. Peran serta civil society yang baik,
menjadi salah satu yang menjadikan kerukunan antarumat beragama dan umat
Islam terlaksana.

"Buktinya, presiden mengapresiasi akan dikukuhkannya Forum Persahabatan
Ormas Islam hari Jumat mendatang di PBNU," papar Said.

Said menuturkan, Presiden SBY juga langsung memerintahkan Menteri Agama
Suryadharma Ali, untuk menyelesaikan tudingan asing terkait kasus
intoleransi beragama.

"Presiden sudah memerintahkan Menteri Agama agar permasalahan itu
di-clear-kan. Pembangunan Gereja Yasmin yang masih mengalami kendala segera
diselesaikan, sebaliknya pembangunan masjid di Manokwari dan Kupang juga
diperintahkan agar segera dituntaskan," beber Said.

Sebelumnya, sidang tinjauan periodik universal II di Dewan HAM PBB,
intoleransi beragama di Indonesia dibeberkan delegasi dari beberapa negara
seperti Austria, Norwegia, Belanda, Jerman, India, dan Italia. Sementara
masalah HAM di Papua menjadi sorotan delegasi dari Swiss, Jepang, dan
Swedia. (*)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke