Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

 

Bukan berminang-minang tetapi mungkin ada manfaatnya bagi si minang sebab
saya perhatikan banyak yang ikut RN ini yang telah memasuki usia lanjut.
Sekedar paangekan saluang sajo. Banyak maaf sabalumnyo.

 

Catatan Ibunda 5

 

Post-Power Syndrome

By : Rina

 

Kebanyakan artikel yang kubaca mengenai post-power syndrome mengulas
mengenai perasaan kehilangan kekuasaan di bidang pekerjaan seperti jabatan
di suatu badan. Tapi setelah melihat-lihat lebih jauh hal ini tampaknya
berlaku juga bagi orang tua yang kehilangan kekuasaan setelah anak-anaknya
tidak lagi dibawah penguasaannya. Mereka telah memiliki hidup sendiri dan
tugas tanggung jawab sendiri di dalam rumah tangganya masing-masing.
Orangtua otomatis menjadi pihak lain yang yang memiliki peran yang berubah
dari ayah ibu menjadi kakek dan nenek.

 

Sedikit kukutipkan dari sebuah sumber di internet : 

 

Post-Power Syndrome merupakan sekumpulan gejala yang muncul ketika seseorang
tidak lagi menduduki suatu posisi sosial, biasanya satu jabatan dalam
institusi tertentu. Kondisi post-power syndrome terjadi bila seseorang
mengalami pemutusan hubungan kerja, masa jabatan berakhir, SK-nya tidak
diperpanjang, mengalami pensiun dini oleh berbagai sebab atau usia
kalendernya telah mencapai usia dimana orang tersebut harus pensiun. Gejala
ini umumnya terjadi pada orang yang tadinya mempunyai kekuasaan atau jabatan
dan ketika jabatan itu sudah tak lagi dipegang, muncullah berbagai gejala
kejiwaan atau emosional yang sifatnya kurang positif. Post power syndrome
merupakan tanda kurang berhasilnya seseorang menyesuaikan diri.

Secara umum, orang yang mengalami post power syndrome sebenarnya diliputi
rasa kecewa, bingung, kesepian, ragu-ragu, khawatir, takut, putus asa,
ketergantungan, kekosongan, dan kerinduan. Selain itu, harga dirinya juga
menurun, merasa tidak lagi dihormati dan terpisah dari kelompok. Semua ini
biasanya tidak begitu disadari oleh yang bersangkutan.

 

Gejala
Beberapa gejala dari post-power syndrome biasanya dapat dibagi ke dalam 3
kelompok:
1. Gejala fisik; misalnya tampak kuyu, terlihat lebih tua, tubuh lebih lemah
dan tampak kurang bergairah, sakit-sakitan.


2. Gejala emosi; misalnya mudah tersinggung, pemurung, senang menarik diri
dari pergaulan, atau sebaliknya cepat marah untuk hal-hal kecil, tak suka
disaingi dan tak suka dibantah.


3. Gejala perilaku; misalnya menjadi pendiam, pemalu, atau justru senang
berbicara mengenai kehebatan dirinya di masa lalu, senang menyerang pendapat
orang, mencela, mengkritik, tak mau kalah, atau menunjukkan kemarahan dan
kekecewaan baik di rumah maupun di tempat umum.

 

http://pptapaksuci.org/olahraga-a-kesehatan/256-gejala-post-power-syndrome.h
tml

 

Perubahan dari vase orangtua menjadi kakek nenek ini bila dilihat sepintas
tidak menjadi perubahan besar dari kehidupan keluarga namun bila dilihat
dari sisi psikologi telah terjadi perubahan besar dari vase kehidupan
seseorang. Biasanya hal ini sering tidak disadari dan terkadang berubah
menjadi konflik terselubung yang jarang terpecahkan. Selalunya masing-masing
pihak telah merasa memiliki andil untuk tidak memperpanjang konflik dengan
sikap mengalah, padahal konflik itu akan tetap ada dan berkelanjutan bila
tidak disadari oleh masing-masing pihak apa yang sebenarnya terjadi dan
langkah apa yang tepat untuk dilakukan.

 

Seseorang yang terbilang bukan orang biasa sebab telah mencapai gelar
professor pernah mengeluh mengenai anaknya yang mengkritik mereka. Ketika si
kakek atau nenek berusaha memanjakan cucu dengan menuruti segala kemauannya
sehingga melanggar batasan-batasan yang dijaga oleh orangtuanya. Hal ini
menimbulkan efek negative di diri si cucu. Karena kakek dan nenek merasa itu
adalah cucunya dan dia berhak akan hal itu sehingga terjadi bentrok tak
nampak antara kakek nenek dan orangtua sebab masing-masing pihak merasa
dirinya benar.  Hingga butuh bantuan orang ketiga yang direspek oleh si
kakek nenek untuk bisa mengerti akan hal ini, terkadang sampai mencap si
anak (orangtua) telah tidak lagi menghormati dan bersikap kasar walaupun hal
ini hanya perasaan saja. Jarang sekali konflik ini selesai dengan
masing-masing pihak mengerti apa yang telah berubah dan sebenarnya terjadi
sehingga telah siap dengan sikap yang benar.

 

Kakek nenek yang rentan dengan jenis post power syndrome ini biasanya dimasa
mudanya adalah orangtua yang otoriter di keluarga. Dia selalu menjadi orang
yag berhak memutuskan apapun yang harus dikerjakan dan dijalani oleh anggota
keluarga yaitu anak-anak mereka. Sering kita dengar seorang anak mengeluh
mengenai keputusan orangtuanya yang ingin si anak jadi pegawai bank. Maka si
anak dimasukkan ke pendidikan yang menuju maksud tersebut. Padahal si anak
ingin menjadi seorang sastrawan. Dalam hal ini bisa saja si anak menuruti
dengan patuh sebab takut dicap durhaka namun dia menjalaninya dengan
hari-hari berat dengan tiada makna dan penuh stress. Karena pekerjaan yang
tidak dijalani dengan semestinya banyaklah timbul penyakit-penyakit akibat
adrenalin yang selalu dalam kondisi 'fulltank' tersebut.

 

Ada pula anak yang sekalian membangkang dan memberontak sehingga pergi dari
rumah untuk mencapai cita-citanya namun ada yang berhasil, ada yang gagal
sebab tidak adanya dukungan financial sehingga gagal ditengah jalan dan
akhirnya menjadi sampah masyarakat. Namun ada pula anak yang hanya menurut
dan berusaha menikmati petunjuk demi petunjuk orangtuanya sehingga
terciptalah anak yang manja. Anak seperti ini tidak layak untuk hidup keras
ditengah arus samudera kehidupan yang terkadang penuh topan dan badai.
Bahkan untuk menentukan baju apa yang mesti dipakai untuk suatu acarapun si
anak kebingungan. Sebab sudah terbiasa dengan kemanjaan yang selalu diterima
di masa anak-anak dan remajanya dimana semua ditentukan oleh ibunya. 

 

Dalam batas ini bisa kita bayangkan bagaimanakah dia bisa mengambil
keputusan untuk kasus-kasus yang serius seperti di pekerjaan atau memilih
jodoh. Bahkan jodohpun ada yang tinggal santai saja sebab telah disediakan
orangtua. Sungguh sangat ironi sekali menurut saya dimana diri kita sendiri
sebagai individu lebih mengenal dan tahu apa yang kita maui. Sehingga bila
terjadi sesuatu hal kita tidak menjadi si manja yang suka melemparkan
masalah karena oranglain tetapi belajar menghadapi dan berusaha
mempertanggungjawabkannya dan mencari solusi yang tepat. Sehingga ada
semacam kelegaan terhadap apapun keputusan yang kita ambil.

 

Anak-anak yang memendam pembangkangan di dalam hatinya terhadap orangtua
yang otoriter akan lebih kompleks lagi permasalahannya. Apalagi bila si anak
menjadi seseorang yang lebih sukses melebihi orangtuanya sendiri. efek
negative bisa saja untuk kedua belah pihak. Si anak bisa menjadi sombong dan
angkuh terhadap orangtua atau sebaliknya. Si orangtua merasa minder,
ragu-ragu dan takut terhadap anak. Akibatnya tidak tercipta komunikasi yang
baik antara anak dan orangtua. Sebab di masa sebelumnya orangtua telah
menjadi dictator dan sangat berkuasa akan segala tetek bengek kehidupan si
anak. Dan sekarang menjadi si tua yang selalu merasa dikucilkan dan rendah
diri karena merasa tidak bisa menggunakan keotoriterannya lagi. 

 

Seperti memberikan pukulan hook yang penuh tenaga namun hanya menampar angin
sehingga kaget dan mundur mengunci diri sebab tidak ada kekuasaan lagi
seperti puluhan tahun lalu dimana sangat berkuasa. Dalam tahap ini biasanya
orang yang mengalaminya tidak menyadarinya dan tidak mau peduli dengan
anjuran atau masukan dari si anak sehingga orang ketiga yang direspeknya
sehingga menyadari sikap yang aneh tersebut. 

 

Sungguh amat mulia ajaran kita dimana setiap detilnya untuk kasus ini kita
diberi petunjuk yang jelas. Seperti merendahkan perkataan terhadap yang tua
dan tidak boleh berkata 'ah' atau 'cis' kepada mereka. Bersikap baik
meskipun mereka tidak bersikap baik kepada kita. Namun apabila anda sayang
terhadap anak-anak anda sebaiknya mulai menyadari apakah kita ini orangtua
yang otoriter atau bukan. Sebab semakin kita otoriter semakin berpotensilah
kita menjadi orang yang menjerumuskan anak untuk menjadi durhaka kelak.
Dikarenakan ketidakmampuan anak mengikuti petunjuk ajaran tersebut dalam
menghadapi kita yang terlalu sulit dihadapi ketika telah menjadi lansia
kelak.

 

 

Wassalam

Rina, 34, Batam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke