Sanak Sutan Sinaro, tarimo kasih alah basusah payah mangirim thread Sanak ka japri ambo. Alah ambo baco elok-elok. Nampaknyo indak ado nan baru dalam bahan nan Sanak kirimkan tu, tamasuak soal semantiknyo. Kalau nio dilanjuikkan juo wacana ko, rancak kito rumuskan elok-elok, salain tatatertib nan alah ambo usulkan sabalun iko, juo apo mukasuik dan tujuan nan ingin dicapai, karano sagalo amal kan tagantuang ka niatnyo. Kalau nan kadibahas adolah pilihan antaro NII - jo sagalo variannyo - atau NKRI, ambo bialah manyimak sajo. Silakan Sanak lanjuik, ambo baitu pulo. Wassalam, SB. Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
-----Original Message----- From: Sutan Sinaro <[email protected]> Date: Fri, 29 Jun 2012 21:24:46 To: <[email protected]> Cc: <[email protected]> Subject: Fw: Re: [R@ntau-Net] Fw: MOCHTAR NAIM: SINKRETISME VS SINTETISME DALAM MEMAHAMI SILA PERTAMA PANCASILA Indak tanampak dek pak Saaf mungkin, postingan ka pak Zul Tan tu panjang. Ambo kirimkan baliak ka japri pak Saaf, ambo apuih untuak pak Zul Tan nyo, sarupo di bawah ko. Pak Saaf, pak MN jo dunsanak kasadonyo yang saya hormati, dan mudah-mudahan Insya Allah diberkati oleh Allah swt. Dima punco putuih nyo tadi kito baliak ka sinan baliak. Pengertian dalam hal sekulerism, sudah diberi penjelasan, ditambah pula penjelasan pak MN. Penjelasan ini berguna bagi kita semuanya Insyaa Allah. Dari posting pak Saf yang ketiga menjawab saya, yang mengatakan bahwa : jamaah NU dan Muhammadiyah menyatakan bahwa negara Pancasila adalah bentuk final negara yang dicari ummat Islam. Pernyataan ini benar secara optional dengan beberapa pertanyaan yang menghendaki jawaban yang benar. Pertanyaan bentuk negara, negara seperti apa ?. Tentu saja bagi seorang Muslim pertanyaannya menjadi : negara (Islam... dalam hati) seperti apa ?. Jawabnya ... yaah NKRI itulah ... saya mendukung jawaban ini benar dengan syarat dikembalikan kepada asalnya (baca postingan tayang Ulang, Negara Islam seperti apa ?), karena sesuai dengan sistem Islam dalam hal khilafah (bukan sesuai dengan pikiran atau pendapat saya), hanya saja sebutan khalifah diganti menjadi Presiden, majelis syuraa menjadi MPR dst. Pertanyaan berikutnya tentu dasar negara. Jawabannya Pancasila. Jawaban ini masih bisa benar dengan beberapa pertanyaan jika dan hanya jika jawabannya benar. Pertanyaannya adalah,... Pancasila yang mana ?. Pancasila yang sesuai dengan piagam Jakarta. ... OOo tidak bisa, sudah disepakati bersama Pancasila yang ada dalam UUD45... Baik ... pertanyaan berikutnya ... Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa itu maksudnya apa ?. Jawabannya ... Ketuhanan Yang Maha Esa menurut orang Islam ... .... ooo tidak bisa, ... Nah di sini batulagah barang tu. Kalaulah seperti yang kata pak Saaf, saya mengatakan untuk apa bersusah payah meletakkan kata-kata "Ketuhanan yang Maha Esa", contohnya Malaysia dengan kata-kata "Kepercayaan kepada Tuhan" yang mengkover semua agama. (baca lagi postingan ketiga saya bertanya). Lalu kok alot betul urusan tujuh kata itu dan kemudian menerimanya walaupun dengan alasan keinginan untuk segera merdeka. Jawabannya, dengan kata Ketuhanan yang Maha Esa itu, anak bangsa yang mayoritas Muslim ini sudah merasa dan berharap tujuh kata itu sudah terwakili oleh kata-kata Tuhan Yang Maha Esa. Akan lain hal nya bila disebutkan "Kepercayaan kepada Tuhan" seperti di Malaysia, saya yakin tidak akan pernah mendapat persetujuan mayoritas anak bangsa ini. Ingat ketika itu dari 63 orang anggota BPUPKI 60 persen adalah orang Minang, ditambah orang Islam dari Jawa, sementara yang non muslim hanya ada AA. Maramis, Lim Koen Hian dan Tan ...(lupa) . Dan ketika itu paham komunis Muso, Aidit dan Oentoeng belum mencuat dengan kuat walaupun ada dulunya anggota partai Syarikat Islam Merah, tetapi anggotanya orang Jawa yang Islam abangan. Kesimpulannya, Tuhan Yang Maha Esa itu adalah merujuk kepada referensi Islam, bukan yang lain. Lalu kenapa kemudian menjadi seperti sekarang ?. Tentu dengan banyak sebab, yang namanya politik barat kadang-kadang lebih mendahulukan kepentingan diri dari sahabat karib. Tambahan pula para kiyai dan ulama-ulama besar sudah wafat semua. Buya Hamka pada saat itu belum dalam level sekarang. Ketika buya Hamka naik, keadaan sudah berubah sama sekali. Bahkan beliau menerima juga ketika di marjinalkan menjadi MUI sehingga mudah di kebiri. (Ini siyasah juga pak Asmardi). Kemudian pak Saaf menyatakan ada pengertian "ideologis" dan "Theologis" mulai dari postingan pertama. Kalau sudah begini, tentu ini menganut anasir paham sekuler karena ada pengertian terpisah antara negara (ideologis) dan agama (Theologis). Pernyataan pak Saaf diperkuat dengan alternatif ketiga dalam dikotomi sekuler- non sekuler ini, yang dianut oleh mayoritas rakyat Indonesia - termasuk oleh umat Islam Indonesia - yaitu full Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan full Islam dalam kehidupan sosial budaya, baik secara pribadi maupun secara kolektif. Nah dari titik ini tentu kembali kepada pertanyaan saya yang dulu pada postingan lain, "apakah bisa ?". Pertanyaan ini belum dijawab sampai hari ini. Apakah maksud pak Saaf dengan "dikotomi ketiga" tersebut ? Sudah bisakah kita menjalankan semua kewajiban kepada Allah swt. dengan cara dikotomi ketiga tersebut ?. Ataukah dikotomi ini hanya dua saja dan tidak bisa lagi yang lain karena garis demarkasinya sudah jelas. Satukan atau pisahkan. Kenapa demikian ?, karena seperti yang pernah saya gambarkan pada pentaran P4 yang ditentang banyak orang, pernyataan manggala dan widiaswara yang mengatakan "Dalam beragama silahkan beragama sesuai dengan kepercayaan masing-masing se-alim alimnya, tetapi dalam berbangsa dan bernegara harus mengikuti P4". Kenapa ditentang banyak orang sehingga widiaswara mengumpulkan kami di ruangan khusus mengajak berdialog mambana-bana, tarimo lah ko tarimo lah ko, dek kerana pernyataan itu adalah suntikan paham sekuler. Dan ketika itu saya terpedaya juga (iko masalahnyo ko kalau lah jadi pemimpin, padahal alun lai tu, Setan ko iyo santiang, Doktor lo setan nan tibo tun) karena dipilih menjadi peserta terbaik dan mendapat wing merah pada penataran itu dan wing putih pada penataran berikutnya, walau dalam hati tidak setuju sama sekali, tapi kan ini selemah-lemah iman. Jadi dikotomi ketiga yang pak Saaf katakan, tidakkah sebenarnya juga menganut paham sekuler itu ?. Baiklah, karena sudah terlalu panjang, kami tunggu jawaban pak Saaf. Billaahil hidaayah wat taufiq Wassalam St. Sinaro -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
