Yang dilakukan oleh LKAAM Sumbar sudah mengarah pado arah nan jaleh, baitu pulo 
jo publikasi nan dilakukan oleh pihak media massa. Tantu ka 14 anggota DPR RI 
asal wilayah pemilihan Sumbar nan ko paralu dukungan tertulis & real dari urang 
minang. Kito punyo sagarubak organisasi minang maupun organisasi perantau.

Nan manjadi tando tanyo ambo ka bakeh angku, mamak, bundo sarato dunsanak 
sapalanta RN nan ko adolah, apokah kito lai namuah mendukung tindak lanjut nan 
ko sahinggo 14 anggota DPR RI mantun bisa batambah picayo dirinyo & memiliki 
kekuatan politis untuak merevisi UU mantun?

Nan ambo khawatirkan adolah kito ko baliak kambuah pinyakik lamo, yaitu suko 
saliang manunggu satu samo lain sambia balagak jua maha untuak saliang baiyo 
batido. Sadonyo maraso punyo kapaitas nan sabananyo kapasitas mantun sabana 
dipertanyakan apokah lai iyo ado bahkan sabana indak ado samo sakali. Disikolah 
paralu didahulukan kesadaran untuak kepentingan bersama mendukung agar jaleh 
duduak tagaknyo status nagari di ranah minang dimata hukum nan berlaku di NKRI 
nan ko.

Kok kaditanyo ka diri ambo, iyo akan bausahokan bana hal iko bisa 
direalisasikan semaksimal mungkin, kok paralu indakado kayu janjang dikapiang. 
Namun, angku, mamak, bundo sarato dunsanak sapalanta nan ambo hormati, keraguan 
mantun labiah nyato dari pado apo nan sabana ambo harokan, sabab labiah 
tabayang kito ko labiah condong pandai bakomentar sajo, kurang lihai dalam 
babuek untuak memperjuangkan kepentingan basamo, saroman kurenah nan ado 
salaruik salamo nan ko di palanta, banyak maaf.

Mudah-mudahan indak lamo lai, ado perwakilan dari RantauNet, Gebu Minang, 
BK3AM, SAS, PKDP, Bakor Agam, IKTD, Gonjong Limo, IKPS, S3, Pasaman Saiyo, 
IKTD, IKK, Bakor Padang, dan sagarubak tundo organisasi minang lainnyo menjalin 
koordinasi untuak mampasokong hal iko secara tertulis & real untuak menggalang 
dukuangan agar hal iko terealisasi.

Ambo kiro, malatuihnyo jumlah pemerintahan nagari di kabupaten Pesisir Selatan 
nan samulo hanyo 76 pemerintahan nagari nan kini sampai mencapai 182 
pemerintahan nagari bisa menjadi contoh real paralu bana hal nan ko dipasamokan 
untuak didukuang.

Ijan sampai tajadi nan sudah-sudah, cakak habih silek baru takana, sabab 
momentum hal nan sarupo iko indak datang tiok tahun.

wasalam

AZ/lk/34
   
Dalam kapasitas provinsi ataupun yang disebut ranah minang untuk memperjuangkan 
kepentingan nagari-nagari, masyarakat minang cenderung tidak peduli dikarenakan 
secara psikologis lebih mementingkan ego nagari sendiri. Begitu pula ketika 
membahas kepentingan nagari, secara psikologis cenderung lebih mementingan 
kepentingan suku. Begitu pula ketika membahas permasalahan suku, lebih 
cenderung mementingkan ego kaumnya & pada tatanan terkecil pada struktur 
masyarakat adat minangkabau ini, dimana ketika membahas kepentingan kaum, 
cenderung ego yang dikemukakan adalah untuk kepentingan paruik.

Seperti sabik (sabit) ataupun gergaji, tidak sama pada kedua sisi atau yang 
umum disebut dalam istilah sehari-hari, yaitu tajam sabalah. Pantas saja 
pituah-pituah minang sejak dahulu selalu memberikan pesan moral untuk 
kebersamaan, sebab hal ini merupakan permasalahan utama orang minang untuk 
baiyo batido, yaitu lebih menekan sifat egoismenya untuk mendahulukan 
kepentingan bersama. Untuak masalah nan ko, indak ado kriteria apokah nan 
disabuik inyo basikolah tinggi, berwawasan luas, ataupun memiliki experince 
yang lebih baik dari yang lain. Sebab lebih terpulang kepada ahlak seseorang 
untuk lebih mengutamakan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan pribadi 
ataupun kelompok, sehingga apa yang disampaikan dalam Islam juga sama, yaitu 
untuk membentuk ahlakul karimah dengan menghargai seluruh muslim dalam haq & 
kewajibannya, nan disabuik dalam pituah adat, duduak samo tinggi tagak samo 
randah.   



________________________________
 Dari: Nofend St. Mudo <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Dikirim: Jumat, 6 Juli 2012 18:29
Judul: [R@ntau-Net] Menunggu “Makan Tangan” Anggota DPR Asal Sumbar
 

Jumat, 06 Juli 2012 03:30

 
Boleh dikatakan kita semua kini menunggu ‘makan tangan’ 14 anggota DPR RI asal 
daerah pemilihan Sumatera Barat untuk menentukan apakah Nagari masih akan 
dihargai sedemikian rupa dalam UU tentang desa yang sedang dirancang.
Wacana yang berkembang seperti sudah berkali diberitakan suratkabar ini, RUU 
Desa akan menyamaratakan saja penyebutan bentuk pemerintahan paling depan 
menjadi hanya ‘desa’ saja. Dengan demikian penyebutan nagari tidak akan dikenal 
lagi dalam nomenklatur pemerintahan.
Sepertinya sepintas lalu RUU itu tidak ada masalah karena dia justru akan 
memperbaiki UU sebelumnya yang pernah ada tentang pemerintahan desa seperti UU 
No 5 tahun 1979. Tetapi ketika masalahnya sampai pada penyebutan nama desa yang 
diseragamkan, itu akan mengusik sisi kultural dari perundang-undangan yang 
sedang dirancang itu.
Antara lain akan menimbulkan reaksi dari beberapa daerah yang tidak terbiasa 
dengan sebutan desa. Di Sumatera Barat sejak zaman Belanda pun penyebutan 
nagari diakui dalam staatbalads Belanda. Begitu juga penyebutan Mukim di Ace, 
Marga di Sumsel, Negeri di Maluku dan sebagainya. Hanya di pulau Jawa saja yang 
disebut desa.
Karena itulah Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar bersama 
dengan LKAAM kabupaten dan kota menolak Rancangan Undang-Undang (UU) tentang 
Desa dan mencabut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa.
Jika RUU itu tetap dibahas juga antara DPR dan pemerintah, LKAAM mengusulkan 
agar namanya diganti menjadi UU tentang Pemerintahan Terendah atau Terdepan
Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di DPR RI, Ketua LKAAM sengaja diundang 
bersama sejumlah tokoh adat.
Kita memberikan dukungan kepada LKAAM yang meminta ada keistimewaan untuk 
Nagari. Sebab ia adalah bentuk tata kemasayarakat yang jauh berbeda dengan desa 
di Jawa. Sebab ia menyangkut sistem kekerabatan, tanah ulayat, adat salingka 
nagari dan sebagainya. Semuanya itu tidak terakomodasi dalam RUU Desa.
Keistimewaan nagari terletak pada sistem kekerabatan matrilineal yang 
bercirikan antara lain yaitu, garis keturunan menurut garis keturuan ibu, suku 
anak mengikuti suku ibu, pusaka tinggi tidak boleh beralih hak dan kekuasaan 
pemanggu adat melekat dan mengikat.
Keistimewaan lainnya adalah bahwa masyarakat Minangkabau dalam kehidupan 
sehari-harinya menganut filosofi yang amat istimewa, yaitu adat basandi 
syarak’, syara’ basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Mungkin bisa dianggap terlalu eksklusif apabila kita menghendaki hak istimewa 
untuk nagari dalam RUU itu. Tetapi menghendaki agar RUU itu mempertimbangkan 
terakomodasinya semangat mempertahankan nilai-nilai luhur dalam yang ada dalam 
kehidupan masyarakat di daerah-daerah di luar Jawa, kita rasa tidaklah terlalu 
berlebihan.
Maka kita berharap Pansus RUU Desa agar memasukkan beberapa hal tentang nagari 
tersebut dalam RUU yang sedang dibahas. Seperti mencantumkan nagari di 
Minangkabau sebagai kesatuan wilayah yang berbasis adat basandi syara’, syara’ 
basandi Kitabullah.
Terkait dengan RUU Desa ini, sebelumnya telah beberapa kali digelar pertemuan 
untuk membahas masalah ini, termasuk dengan Pansus DPR. Bahkan ketika sejarawan 
Mestika Zed diminta pendapatnya, malah meminta tidak perlu dibuatkan UU 
Pemerintah Desa. Mestika mengusulkan agar soal nagari dan desa, diserahkan ke 
pemerintah daerah saja mengingat adanya semangat otonomi daerah.
Maka bola sekarang ada di DPR RI. Gawenya para politisi di Senayanlah yang 
menentukan nanti apakah nagari akan hilang sama sekali dalam nomenklatur 
pemerintahan lalu berganti menjadi desa atau sebaliknya.
Kita di Sumatera Barat juga ‘bapitaruah’ kepada 14 anggota DPR RI yang berasal 
dari daerah pemilihan Sumatera Barat. Bagaimana mereka bisa merangkul 
kawan-kawannya yang berlatar belakang Minang (tapi dari dapil non-Sumbar) untuk 
memberikan dukungan kepada aspirasi dari Sumatera Barat. Kalau perlu ditambah 
dengan meminta dukungan kepada empat anggota DPD RI yang sangat berkepentingan 
dengan aspirasi daerah ini.
Pengesahan RUU Pemerintahan Desa ini akan menjadi semacam batu ujian bagi para 
politisi asal Sumbar di Senayan, seberapa jauh ‘makan tangan’ mereka. Seberapa 
kuat loby-loby mereka dalam menggalang dukungan. Bukankah kemampuan menggalang 
dukungan adalah salah satu kompetensi seorang politisi juga? Nah, kita nantikan 
hasilnya.***

Harian Haluan : http://bit.ly/RqX8Xy 
-- 
Wassalam
Nofend | L-35 | CKRG

-- 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke