Waalaikumussalam, Sanak Elthaf.
  
  Saya amat bersetuju dengan pendapat atau pandangan Dr Asvi Warman Adam  itu. 
Kita perlu berjiwa besar untuk menjadi bangsa gagah dan disegani.
  
  Mohon maaf jika nggak berkenan.
  
  Idris Talu (57) 

"Elthaf (elthaf)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:         v\:* {  BEHAVIOR: 
url(#default#VML) } o\:* {  BEHAVIOR: url(#default#VML) } w\:* {  BEHAVIOR: 
url(#default#VML) } .shape {  BEHAVIOR: url(#default#VML) }    @font-face {   
font-family: Tahoma;  }  @font-face {   font-family: Comic Sans MS;  }  @page 
Section1 {size: 8.5in 11.0in; margin: 1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; }  P.MsoNormal 
{   FONT-SIZE: 12pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; FONT-FAMILY: "Times New Roman"  }  
LI.MsoNormal {   FONT-SIZE: 12pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; FONT-FAMILY: "Times New 
Roman"  }  DIV.MsoNormal {   FONT-SIZE: 12pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; FONT-FAMILY: 
"Times New Roman"  }  A:link {   COLOR: blue; TEXT-DECORATION: underline  }  
SPAN.MsoHyperlink {   COLOR: blue; TEXT-DECORATION: underline  }  A:visited {   
COLOR: purple; TEXT-DECORATION: underline  }  SPAN.MsoHyperlinkFollowed {   
COLOR: purple; TEXT-DECORATION: underline  }  SPAN.EmailStyle17 {   
FONT-WEIGHT: normal; COLOR: blue; FONT-STYLE: normal; FONT-FAMILY:
 "Comic Sans MS"; TEXT-DECORATION: none; mso-style-type: personal  }  
SPAN.EmailStyle19 {   COLOR: navy; FONT-FAMILY: Arial; mso-style-type: 
personal-reply  }  DIV.Section1 {   page: Section1  }                
Assalaamualaikum wr.wb.,
  Dari lapau sabalah, Tulisan kanda Asvi Warman Adam,   alumni SMA 1 Bkt 1973, 
pesan da Asvi marilah berjiwa besar, seperti di bagian   bawah tulisan beliau.
   
  Tadi malam di Trans 7 Kanda Asvi Warman Adam juga   tampil dalam dialog 
interaktif dengan narasumber, pak Azyumardi Azra, mantan   Rektor IAIN Syarif 
Hidayatullah, Kanda Asvi Warma Adam, Peneliti senior LIPI dan    dan Pak Fajrul 
rahman, mantan   aktivis.
  Ambo sempat mangodak uda Asvi wakatu manonton di TV di   rumah, kalau da Asvi 
berkenan akan ambo kirimkan jo email   ko.
  Wassalam,
  Elthaf, 1980

    
---------------------------------
  From: [EMAIL PROTECTED]   [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Mawri,   
Viermitrio
Sent: Monday, January 28, 2008 10:25 AM
Subject:   [TanjungMedan] FW: BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO & PAK   HARTO


  
     
   
    REGARDS
  VM
  EXT   8646
  081387488499

      
---------------------------------
  
  From: Nurcahyo   K, Nurcahyo 
Sent: Monday,   January 28, 2008 10:24 AM
Subject: BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO &   PAK HARTO

   
  BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO & PAK HARTO
Oleh Asvi   Warman Adam *ahli peneliti utama LIPI 

Pada 27 Januari 2008 pukul 13.10,   mantan Presiden Soeharto wafat. 
Jenazahnya disemayamkan di kediamannya,   Jalan Cendana, dan dilayat 
pejabat tinggi negara, mulai presiden, wakil   presiden, sampai para 
menteri. Masyarakat umum berjubel di sepanjang Jalan   Cendana menonton 
para tetamu. 

Senin pagi, 28 Januari 2008, ini   jenazah mantan orang nomor satu RI 
itu diterbangkan ke pemakaman keluarga di   Astana Giribangun. Ketua 
DPR Agung Laksono akan bertindak secara resmi dalam   pelepasan jenazah 
di Jalan Cendana, Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin   pelepasan di 
Halim Perdanakusumah. Presiden   Susilo Bambang Yudhoyono menjadi 
inspektur upacara di Astana Giribangun.   

Astana Giribangun yang diperuntukkan keluarga Nyonya Suhartinah   
Soeharto didirikan di Gunung Bangun yang tingginya 666 meter di atas   
permukaan laut. Cangkulan pertama dilakukan Tien Soeharto Rabu 
Kliwon,   13 Dulkangidah Jemakir 1905, bertepatan dengan 27 November 
1974.   

Dengan menggunakan 700 pekerja, bangunan yang merupakan gunung yang   
dipangkas tersebut diselesaikan dan diresmikan pada Jumat Wage, 23 
Juli   1976. Jadi 30 tahun sebelum meninggal, Soeharto telah 
mempersiapkan tempat   peristirahatan yang terakhir. Hal itu dilakukan 
Soeharto agar "tidak   menyusahkan orang lain". 

Soeharto memperoleh hak dan fasilitas sebagai   seorang mantan kepala 
negara. Namun, hal yang berbeda dialami mantan   Presiden Soekarno. 
Sewaktu mengalami semacam tahanan rumah di Wisma Yaso   (sekarang 
Gedung Museum Satria Mandala Pusat Sejarah TNI) di Jalan Gatot   
Subroto, Jakarta, Soekarno tidak boleh dikunjungi masyarakat umum.   

Pangdam Siliwangi H.R. Dharsono mengeluarkan perintah melarang rakyat   
Jawa Barat untuk mengunjungi dan dikunjungi mantan Presiden Soekarno.   
Kita ketahui, H.R. Dharsono kemudian juga menjadi kelompok Petisi 50 
dan   meminta maaf kepada keluarga Bung Karno atas perlakuannya pada 
masa lalu   itu. 

Putrinya sendiri, Rachmawati, hanya boleh besuk pada jam tertentu.   
Pada 21 Juni 1970, Bung Karno wafat setelah beberapa hari dirawat di   
RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Beberapa waktu sebelumnya, Rachmawati   
menanyakan kepada Brigjen Rubiono Kertapati, dokter kepresidenan, 
kalau   Soekarno menderita gagal ginjal, kenapa tidak dilakukan cuci 
darah?   Jawabannya, alat itu sedang diupayakan untuk dipesan ke 
Inggris. 

Itu   jelas sangat ironis. Pada masa revolusi pasca kemerdekaan, 
Jenderal Sudirman   menderita penyakit TBC. Ketika itu, obatnya baru 
ditemukan di luar negeri,   yakni streptomycin. Pemerintah Indonesia 
dalam keadaan yang sangat terbatas   dan berperang menghadapi Belanda 
berusaha mendapatkan obat tersebut ke   mancanegara, tetapi nyawa 
Panglima Sudirman tidak tertolong lagi. Hal itu   tidak dilakukan 
terhadap Ir Soekarno. 

Bung Karno dibaringkan di   Wisma Yaso setelah wafat di RSPAD Gatot 
Subroto dan di situ pula dia dilepas   Presiden Soeharto dan Nyonya 
Tien Soeharto. Situasi saat itu memang sangat   tidak kondusif bagi 
Soekarno dan keluarganya. Beberapa hari sebelumnya,   yakni 1 Juni 
1970, Pangkopkamtib mengeluarkan larangan peringatan hari   lahirnya 
Pancasila setiap 1 Juni. Soekarno sedang diperiksa atas tuduhan   
terlibat dalam percobaan kudeta untuk menggulingkan dirinya sendiri.   
Pemeriksaan tersebut dihentikan setelah sakit Bung Karno semakin 
parah.   

Pada 22 Juni 1970, jenazah sang proklamator dibawa ke Halim   
Perdanakusumah menuju Malang. Di Malang disediakan mobil jenazah yang   
sudah tua milik Angkatan Darat, demikian pengamatan Rachmawati   
Soekarnoputri (di dalam buku Bapakku Ibuku, 1984) yang membawanya ke   
Blitar. 

Sepanjang jalan Malang-Blitar, rakyat melepas kepergian sang   
proklamator di pinggir jalan. Di sini Soekarno dimakamkan dengan   
Inspektur Upacara Panglima ABRI Jenderal Panggabean pada sore hari.   
Sambutan dibacakan sangat singkat. 

Soekarno hanya dimakamkan di   pemakaman umum di samping ibunya. Seusai 
acara resmi, rakyat ikut menabur   bunga. Karena banyaknya tanaman itu, 
sampai terbentuk gunung kecil di atas   pusara Sang Putra Fajar 
tersebut. Namun tak lama kemudian, rakyat yang tidak   kunjung beranjak 
dari makam kemudian mengambil bunga-bunga itu sebagai   kenangan-
kenangan. Dalam tempo singkat, makam Bung Karno kembali rata sama   
dengan tanah. 

Pemakaman di Blitar itu berdasar Keputusan Presiden RI   No 44/1970 
tertanggal 21 Juni 1970. Keputusan tersebut diambil dengan   
berkonsultasi bersama pelbagai tokoh masyarakat. Padahal, Masagung 
dalam   buku Wasiat Bung Karno (yang baru terbit pada 1998) 
mengungkapkan bahwa   sebetulnya Soekarno telah menulis semacam wasiat 
masing-masing dua kali   kepada Hartini (16 September 1964 dan 24 Mei 
1965) dan Ratna Sari Dewi (20   Maret 1961 dan 6 Juni 1962). Di dalam 
salah satu wasiat itu dicantumkan   tempat makam Bung Karno, yakni di 
bawah kebun nan rindang di Kebun Raya   Bogor.

Di dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan bahwa sebelum   memutuskan 
tempat pemakaman Soekarno, dirinya mengundang pemimpin partai.   Jelas 
Soeharto menganggap itu masalah politik yang cukup pelik. Jadi,   
pemakaman tidak ditentukan keluarga, tetapi melalui pertimbangan 
elite   politik. 

Kemudian, Soeharto melalui keputusan presiden menetapkan   pemakaman di 
Blitar konon dengan alasan tidak ada kesepakatan di antara   keluarga. 
Apakah betul demikian? Sebab, pendapat lain mengatakan bahwa hal   itu 
dilakukan Soeharto demi pertimbangan keamanan. Jika dikuburkan di   
Kebun Raya, pendukung Bung Karno akan berdatangan ke sana dalam   
rombongan yang sangat banyak, sedangkan jarak Bogor dengan ibu kota   
Jakarta tidak begitu jauh. Hal tersebut dianggap berbahaya, apalagi 
saat   itu menjelang Pemilu 1971. 

Pemugaran makam Bung Karno juga penuh   kontroversi. Pemugaran 
dilakukan pada 1978 dengan memindahkan makam-makam   orang lain itu. 
Menurut Ali Murtopo di depan kader PDI se-Jawa Timur, ide   tersebut 
berasal dari Presiden Soeharto. Masyarakat tentu bisa menduga bahwa   
itu dilakukan dalam rangka mengambil hati para pendukung Bung Karno   
menjelang pemilu. Dalam pemugaran tersebut, keluarga tidak diajak 
ikut   serta. Bahkan, dalam peresmian pemugaran itu, putra-putri 
Soekarno tidak   hadir. 

Dalam prosesi pemakaman di Kalitan-Solo, Megawati tidak hadir   karena 
sedang berada di luar negeri. Namun, kabarnya putra tertua Bung   
Karno, Guntur Sukarno Putra, mewakili keluarga mantan Presiden 
Soekarno   akan datang ke Astana Giribangun. Ketika Soeharto di Rumah 
Sakit Pertamina,   Guruh juga berkunjung. Ini suatu pelajaran sejarah 
berharga bagi bangsa   kita. Jangan lagi kesalahan masa lalu diulang 
dan marilah kita berjiwa   besar. 

* Dr Asvi Warman Adam, sejarawan, ahli peneliti utama   LIPI
   
                                      
     
                 
   


              This email and any attachments are         confidential and may 
also be privileged. If you are not the addressee, do         not disclose, 
copy, circulate or in any other way use or rely on the         information 
contained in this email or any attachments. If received in         error, 
notify the sender immediately and delete this email and any         attachments 
from your system. Emails cannot be guaranteed to be secure or         error 
free as the message and any attachments could be intercepted,         
corrupted, lost, delayed, incomplete or amended. Standard Chartered PLC         
and its subsidiaries do not accept liability for damage caused by this         
email or any attachments and may monitor email         traffic.



Standard Chartered PLC is incorporated in England         with limited 
liability under company number 966425 and has its registered         office at 
1 Aldermanbury Square, London, EC2V 7SB.



Standard         Chartered Bank ("SCB") is incorporated in England with limited 
liability         by Royal Charter 1853, under reference ZC18. The Principal 
Office of SCB         is situated in England at 1 Aldermanbury Square, London 
EC2V 7SB. In the         United Kingdom, SCB is authorised and regulated by the 
Financial Services         Authority under FSA register number 114276.



If you are         receiving this email from SCB outside the UK, please click   
      http://www.standardchartered.com/global/email_disclaimer.html to refer to 
        the information on other   jurisdictions.


    
  


 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Peraturan yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: 
[EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke