Dear All, Dari acara diskusi panel geothermal kmrn di EBTKE Conex di JCC, Gubernur Sumbar menyampaikan keprihatinannya atas lambatnya perkembangan eksploatasi Panas Bumi di Indonesia. Stlh 30 tahun sejak Kamojang pertama kali, baru 1200 MW dari potensi yg diperkirakan 29.000 MW, 40% dari potensi dunia. Indonesia adl negara TERBESAR di dunia yg memiliki potensi panas bumi...! Tetapi ironisnya, baru 2% yg digunakan sbg sumber energi dari panas bumi ini utk pembangkit listrik. Sedangkan program pemerintah pengadaan 10.000 MW tahap I dan 10.000 MW tahap II tidak akan tercapai kalau tidak ada terobosan2 baru utk itu. Irwan Prayitno yg ikut membidani UU Panas Bumi ini ketika menjadi Anggota DPR sangat prihatin dg hal ini. Beikut pernyataan beliau kemaren: "Ini masalah MINDSET. Maaf kalau kita lihat dari sisi agama, kita ini sebetulnya KURANG BERSYUKUR thd karunia Tuhan. Potensi sedemikian besarnya, disia-siakan begitu saja. Energi panas bumi itu sudah disediakan oleh Tuhan jauh sejak sblm kita lahir. Tidak akan habis. Tidak merusak merusak lingkungan. Uang yg akan dipakai Investor pun juga bukan uang negara. Tidak ada cost recovery seperti eksploatasi minyak dan gas bumi. Yang akan diuntungkan juga kita semua, rakyat Indonesia. Terus kenapa kok terkesan dipersulit dan diperlambat izinnya...? Itu sama saja dg memperlambat kesempatan rakyat kita utk menikmati kesejahteraannya...!". Gubernur Sumbar kmrn juga menyatakan bahwa Propinsi Sumbar diharapkan bisa jadi SUMBER ENERGI HIJAU termasuk energi air, angin, laut, biomass disamping potensi panas bumi yang cukup besar. Dengan proses perizinan melalui satu pintu yg diterapkan di Sumbar, diharapkan bisa menarik lebih banyak lagi investor masuk ke Sumbar. Catatan lain: Menurut Dirjen EBTKE, Kardaya Warnika ketika diskusi panel hari pertama, jika kondisi penggunaan energi saat ini masih dilakukan seperti ini terus, diperkirakan 2019 kita akan murni jadi IMPORTIR ENERGI. Krn energi fosil kita akan habis dg peningkatan kebutuhan akan energi listrik yang meningkat terus. Bank Indonesia skrg sdg menyiapkan GREEN BANKING utk mendukung investasi di sektor EBTKE ini. Krn masih banyak bank yang masih ragu-ragu akan resiko utk mendukung investasi di sektor EBTKE ini. Panas Bumi sering dikatakan sbg Energi Masa Depan. Ttp Surya Darma memberikan sedikit koreksi: Energi MASA KINI dan MASA DEPAN...! Krn kalau dikatakan hanya energi masa depan, kapan mau dipakainya...? Lihat jg KOMPAS Rabu 18 Juli 2012 hal.17: Energi dg BBM 28%, Gas 23%, Batubara 40%, Panas Bumi 2% dan Air 7%. Harga pokok penyediaan listrik dg BBM sktr 35-40 sen Dollar per kWh, dg Panas Bumi masih 9,7 sen dollar per kWh. Menteri ESDM, Jerowacik yg menyatakan mendukung 1000% EBTKE pd pidato pembukaan, segera menaikkan harga pokok utk panas bumi menjadi 10 sen dollar per kWh utk Sumatera hingga 17 sen dollar per kWh seperti di Papua. Talabiah takurang mohon maaf sebelumnya. Tarimo kasih. Wass, Nofrins'79 Ki-ka: Dirut PLN (diwakili), Dirut PERTAMINA Geothermal Energy (Slamet Riyadi), Gubernur Sumbar (IP), Moderator (Suryadarma), Dirjen Kehutanan, ORMATS (topik Low/Medium Temperatur Geothermal) dan Sekrtrs Dirjen EBTKE (DR. Djadjang Sukarna)
-- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
