Kanda Saaf Sarato Sanak Sa Palanta nan Ambo Hormati; Saya ingin menggarisbawahi tulisan Kanda Saaf yang saya arsir di bawah ini, terutama mengenai pecahnya Pakistan menjadi Pakistan Barat dan Pakistan Timur, yang kini menjadi Bangla Desh, yang terjadi pada tahun 1971 melalui sebuah perang saudara. Itu berarti generasi yang lahir sesudah tahun '60 tidak begitu "aware", bahkan saya pikir ada yang tidak tahu bahwa kedua negara tersebut dahulunya merupakan suatu kesatuan.
Seperti kita ketahui, konstitusi Pakistan yang penduduknya 97 persen Islam itu, didasarkan pada filosofi tentang kedaulatan Allah atas alam semesta dan syariah Islam sebagai sumber hukum tertinggi. Dan para pemimpinnya tentu saja tidak ada yang beragama Yahudi atau Nasrani Akan tetapi, itu semua tidak mampu menegakkan keadilan yang menyebabkan negeri multietnis itu terbelah, serta sering terjadinya konflik antarsuku dan antarpendukung partai politik. Dengan pendapatan per kapita dalam tahun 2011 US$ 1,201 (Data IMF), Pakistan masih tegolong negara miskin. Wikipidia mencatat berbagai tantangan dan masalah lain yang dimiliki Pakistan seperti kemiskinan, buta aksara, korupsi serta serangan teroris. Sedangkan Laporan FFP menempatkan Pakistan, di urutan ke 13 dari bawah negara gagal. Hal ini tidak mengerankan karena banyak terjadinya KDRT, diskriminasi terhadap perempuan dan kelompok-kelompok minoritas. Sudan malahan lebih parah lagi Presiden Republik Islam Sudan Omar Hassan Bashir dituduh bertanggung jawab atas genosida terhadap tiga suku di Darfur, yaitu suku Fur, Masalit, dan Zaghawa (semuanya muslim) dan diperintahkan untuk ditangkap oleh Mahkamah Kriminal Internasional atau ICC di Den Haag (Kompas Rabu, 14 Juli 2010). Seperti kita ketahui awal tahun lalu, melalui referandum Sudan bagian Selatan yang mayoritas penduduknya penganut Kristiani memisahkan dari dan membentuk Republik Sudan Selatan Sudah barang tentu bukannya tidak ada kebajikan baik di Pakistan maupun Sudan, tentu sangat-sangat banyak juga. Akan tetapi hal itu tidak mengurangi fakta bahwa ada yang salah dengan konsep Negara Islam-dalam tanda petik-karena hampir semuanya merupakan Proyek gagal. Dan di sini tidak ada salahnya merenungkan pendapat Buya Syafii Maarif dalam tulisannya di Republika 31 Juli 2007 ( Musharraf dan Dilema Republik Islam) Republika, 31 Juli 2007, agar, orang harus ekstra hati-hati untuk membawa agama ke dalam pusaran politik kekuasaan. Suatu hal yang sangat terasa, karena sangat kuatnya nuansa SARA dalam menghadapi Pilkada putaran kedua antara pasangan no 1 Foke-Nara vs no 3 Jokowi-Ahok, termasuk dalam diskusi yang cukup panjang di Palanta ini, khususnya yang berhubungan dengan pesan Al-Quran dalam Al-Maidah : 51. Bagaimana membumikan Al-Maidah : 51, paling tidak kita dapat belajar dari Pak Natsir. Sebagai Ketua Fraksi Masyumi di Sidang Konstituante, beliau sangat kokoh dan gigih memperjuangkan Syariat Islam sebagai dasar negara. Tetapi beliau tidak mendukung NII Kartosuwiryo. Namun beliau tidak regu bergabung dengan PRRI yang nasionalis, at all cost! Bagi saya pribadi selain Al-Maidah : 51, saya juga mempertimbangkan Al-Maun. Ya, karena Al-Maun, walaupun sebagai pemegang KTP Depok tidak punya hak memilih dalam Pilkada DKI, saya jadi relawan kecil-kecilan bagi pasangan Jokowi-Ahok di dunia maya, karena bagi saya hanya pasangan ini yang saya yakini mampu mewujudkan pesan Al-Maun, yang dalam bahasa kenegaraan membangun pemerintahan yang pro-poor dan pro-rakyat badarai, dalam tekad, ucap dan perbuatan. Lagi pula kalau isu agama mau dibawa-bawa, pertanyaan Rky Isna mengenai apa agama istri Foke perlu juga ditimbang-timbang, karena Ny Foke adalah putri Soedjono Hoemardani, tokoh aliran kepercayaan yang di masa orba yang berada di lingkaran 1 kekuasaan dan merupakan penasihat spritual Pak Harto. Orang-orang seusia saya tentu belum lupa terhadap represi yang dialami Umat Islam di masa orde baru melalui penghancuran modal politik dan modal sosial, khususnya dalam periode 1970-1990. Untuk melakukan pengajian saja perlu izin. Tapi ini tentu cerita lain lagi. Wallahualam bissawab Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69), asal Padangpanjang, tinggal di Depok ===== Re: Bls: [R@ntau-Net] Nasionalisme dan sara Sun Jul 29, 2012 2:07 pm (PDT) . Posted by: "Dr Saafroedin Bahar" Iyolah kok baitu, bung Muljadi. Talapeh dari soal panzer mamanzer iko, upayo untuak menyegarkan baliak semangat kebangsaan dan mencegah bangkiknyo baliak sentimen SARA tu paralu bana ditangani sacaro sungguah-sungguah. Bisa diduga, kalau usaho iko gagal, negara nan dibangun jo susah payah ko akan pacah bakapiang-kapiang sarupo USSR dan Yugoslavia atau sarupo pacahnyo India jo Pakistan, atau pacahnyo Pakistan Barat dan Pakistan Timur, nan kini jadi Bangla Desh. Paliang akhir sarupo pacahnyo Sudan Utara jo Sudan Selatan. Kalau itu nyampang tajadi, maliek contoh ka nan sudah, salain akan sangaik marusak, juo pasti akan banyak makan korban nyawa. Karano tu janlah sampai tajadi handaknyo. Dalam hubungan iko karisauan Ajo Suryadi di Leiden cukuik berdasar. Dalam kampanye pilkada putaran kaduo di DKI alah ado nan mulai bamain api iko, mungkin dek alun sadar gadangnyo risiko nan bisa timbua. Untuak itu harus ado kelompok dalam masyarakat nan amuah mangarajokan karajo barek menyadarkan sagalo fihak. Karano partai sibuk dek pemilu jo pilkada, birokrasi sibuk dek korupsi, polisi sibuk dek demo, dan tentara diparkir di tangsi, mako tapasolah gaek-gaek purnawirawan TNI-AD iko - tamasuak ambo - pai bakaliliang maingekkan sagalo kalangan - tautamo kalangan kampus - tentang pentingnyo mamaliharo semangat kebangsaan. ( Sakali lai: indak pakai panzer bagai doh, ) Sakian tambahan dari ambo. Wassalam, SB. Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. -----Original Message----- From: "Muljadi Ali Basjah" <[email protected]> -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
