Rincian kasus-kasus korupsi dalam tubuh Polri yang diposting Rara Chaniago
dalam akun Facebooknya:
https://www.facebook.com/rara.chaniago/posts/456907994339963.

Cukup panjang, namun bisa membuka mata kita bagaimana "permainan" dalam
"menguras" uang negara.
Persaingan & perseteruan dalam perebutan jabatan basah beserta kasus-kasus
korupsi dalam tubuh polri

Sjk awal, Kapolri (TB 1) Timur Pradopo merasa tdk suka dg Djoko Susilo yg
dinilainya terlalu mengakar di kalangan jajaran Lalulintas Polri. Djoko pun
sangat dikenal sbg “orang” nya Wakapolri (TB2) Nanan Sukarna. Sdh menjadi
rahasia umum Djoko Soesilo merupakan motor utama dalam tim sukses Nanan.
Djoko bersama Wakapolda Bali I Ketut Untung Yoga Ana dan Kapolda Jateng
Edward Aritonang (sdh pensiun) dikenal sbg 3 Serangkai-nya Nanan. Soliditas
mereka bertambah kuat saat ketiganya menjalani pendidikan Sespati (Sekolah
Staf Perwira Tinggi) 4 tahun lalu. Motor utama tim sukses yg dimaksud di
atas adalah Djoko menggalang dukungan khususnya di Korps Lalulintas
(Korlantas) dan elemen lain di kepolisian, DPR, Pers dan LSM untuk
meng-gol-kan Nanan Sukarna menduduki posisi TB1.

Djoko jg sangat kuat akar dan jaringannya di kalangan wartawan, khususnya
di kalangan pers yg biasa meliput bidang hukum dan kriminal. Karena selain
Djoko “murah hati”, Djoko juga sangat frendly dan rendah hati di kalangan
pekerja pers tsb. Kedekatan Djoko dgn wartawan sdh sejak dirinya menjabat
sbg Kabag Regident Ditlantas Polda Metro dengan pangkat AKBP, Kemudian
menjadi Kapolrestro Bekasi, Kapolres Jakarta Utara, Dirlantas Polda Metro,
Wadirlantas Mabes Polri, Dirlantas Mabes Polri hingga Kakorlantas Polri dgn
pangkat bintang 2.

Saat Djojo menjabat Gubernur Akpol masih cukup banyak wartawan di Jakarta
yg menyambanginya ke Semarang. Djoko tdk pernah selektif dlm menjalin
pertemanan dgn wartawan. Baik wartawan media besar, middle, kecil hingga
wartawan bodrek sekalipun diterima hangat oleh Djoko dgn “tangan terbuka”.

Dijadikan TSK-nya Djoko oleh KPK, merupakan “pukulan” bagi wartawan yg
menjalin hubungan pertemanan dgn Djoko. Djoko jg dikenal sbg perwira polisi
pembangun. Mulai Djoko menjabat Kapolres Kota Bekasi dan Kapolres Jakarta
Utara. Djoko lah yg membangun gedung polres shg menjadi kuat dan terlihat
megah. Ketika Djoko menjabat Direkktur Lalulintas Polda Metro selama 4 thn,
Djoko yg membangun gedung Direktorat Lalulintas menjadi begitu gagah dan
megah, kemudian disebut sbg Gedung Biru. Dia jg membangun Trafick Managemen
Centre Polda Metro, gedung Samsat hingga gedung utama Kapolda Metro. Dia jg
membangun Trafick Managemen Centre Polda Metro, geung Samsat hingga gedung
utama Kapolda Metro

Kembali ke Timur. Apa lacur? Timur Pradopo yang sejak 1998 masuk "kotak"
ketika meletusnya peristiwa. Penembakan Mahasiswa Trisakti saat ia menjabat
sebagai Kapoles Jakarta Barat yg memicu kerusuhan Mei 1998. Malangnya nasib
Timur bertambah ketika dia dimutasi menjadi Kapolres Jakarta Pusat, lagi2
meletus peristiwa Semanggi 1 pada th 1999. Tapi pasca Kapolri Sutanto yg
masih di era Presiden SBY, Timur "diam-diam" justru diproyeksikan SBY sbg
Kapolri. Menggantikan kandidat utama Susno yg sedang bermasalah pada saat
itu. Maka pelan2 dikeluarkanlah Timur dari "kotaknya" itu. Timur setelah
menjabat sebagai Kapolres Jakarta Pusat, dia melanglangbuana tak tentu
arah. Dia menjabat Kapuskodalops Polda Jawa Barat, Kapolwiltabes Bandung,
Kakortarsis Dediklat Akpol, Irwasda Polda Bali. Titik terang dimulai 2005
saat dia menjabat Kapolda Banten, Kaselapa Lemdiklat Polri 2008, Staff Ahli
Kapolri BHD di bidang sosial 2008. Melejit saat menjabat Kapolda Jabar
2008-2010, Kapolda Metro Jaya, Kabaharkam Polri baru kemudian mjd Kapolri
Oleh Presiden SBY, sebenarnya yg hendak dijadikan Kapolri adalah Susno
Duadjisno "kecemplung" kasus Cicak-Buaya yg merembet ke kasus2 lain Spt
ketika Susno mengungkap ke publik adanya permainan perkara Gayus Tambunan,
Syahril Johan hingga rekayasa kasus Antasari Ashar

Terpaksa "plan B" digunakan yaitu Timur Pradopo yg "harus" menggantikan BHD
sbg Kapolri. Padahal Susno diketahui sbg "anak buah kesyangan" SBY saat di
Bosnia dulu. Sudah menjadi rahasia umum juga di kalangan internal
kepolisian kalau SBY sangat "perhatian". Terhadap para perwira polisi yg
pernah ikut bersamanya saat SBY memimpin pasukan perdamaian PBB di Bosnia
pd th 1996 lalu. Selain Timur Pradopo dan Susno Duadji, Kapolri Bambang
Hendarso Danuri (BHD) juga pernah bertugas di Bosnia. Padahal di era
Presiden Gus Dur yg Kapolrinya Bimantoro dan Presiden Megawati yg
Kapolrinya Dai Bachtiar, Mereka selama bertahun-tahun berdinas tanpa posisi
strategis yang empuk. Mereka2 ini tidak pernah siajak masuk ke "gerbongnya"
Kapolri Bimantoro apalagi penggantinya, Kapolri Dai Bachtiar. Mereka
"nobody" di kalangan kepolisian saat itu

Tapi nasib baik muncul saat Demokrat dan SBY muncul 2004. Mereka ; Sutanto,
BHD, Timur, Susno “terangkat” karirnya dan melejit-lejit menjadi
petinggi-petinggi kepolisian. Gerbong Bimantoro-Dai Bachtiar pelan-pelan
“terkikis”. Hanya Makbul Padmanegara sisa anggt gerbongnya Dai Bachtiar yg
“bertahan” krn bermain “cantik”shg dpt mencapai posisi Wakapolri (TB 2).
Padahal ketika Makbul menjabat Kapolda Metro Jaya dgn pangkat Inspektur
Jenderal (Irjen), BHD hanya salah satu anak buahnya Makbul dgn jabatan
Sesditserse dgn pangkat Komisaris Besar (Kombes). Bayangkan “sakitnya”
Makbul yg di “plot” sbg Kapolri menggantikan Dai Bachtiar kalo sj Megawati
SP berhasil menang dlm Pilpres 2004 lalu. Tp nasib berkata lain, grup
“Pasundan” Jawa Barat (Dai-Makbul) selesai. digantikan grup “Majapahit”
Jawa Timur ketika SBY berkuasa dimana Sutanto mjd Kapolri.

Kembali ke Timur, setelah menjabat Kapolda Banten selama 3 th kemudian bbrp
bulan menjabat Kaselapa Polri dan Sahli Kapolri. Dia pun dijadikan Kapolda
Jawa Barat dengan pangkat bintang 2 dgn “tugas” mensukseskan Pemilu 2009
dan “mensukseskan” Demokrat dan SBY-Boediono di Jawa Barat dengan cara
mengerahkan segenap potensi Keluarga Besar Polisi. "Mensukseskan" Demokrat
dan SBY-Boediono di Jawa Barat dengan cara mengerahkan segenap potensi
Keluarga Besar Polisi. Sukses bertugas, usai Pemilu 2009 sbg "hadia" Timur
mendapat tugas sbg Kapolda Metro Jaya

Tak sampai setahun menjabat Kapolda Metro, Timur diangkat sbg Kepala
Baharkam Polri dgn dianugerahi bintang 3. Tak sampai setahun menjabat
Kapolda Metro, Timur diangkat sbg Kepala Baharkam Polri dg dianugerahi
bintang 3. Sepekan sbg Kepala Baharkam, Timur dipilih sbg Kapolri. Setelah
Susno “selesai”, SBY hanya inginkan Timur sbg Kapolri. Itu sebabnya saat 3
nama yg disodorkan Kapolri BHD ke SBY sbg kandidat Kapolri saat itu, yaitu
Nanan Sukarna, Imam Sudjarwo dan Timur P. Justru hanya nama Timur yg
disodorkan SBY kepada DPR untuk di fit proper test. Hancurlah harapan Nanan
dan trio serangkainya Djoko - I Ketut Untung Yoga Ana – Edward Aritonang.

Setelah Timur ditetapkan sbg Kapolri, Nanan hanya kebagian jatah Wakapolri.
Sejak itulah perseteruan senyap & dingin mulai berlangsung. Perseteruan tsb
sebenarnya sama saja ketika BHD menjabat Kapolri dimana Makbul sbg
Wakapolri. Namun bHD cenderung mengalah kpd Makbul, krn bagaimanapun Makbul
adalah senior jauh BHD bahkan pernah mjd atasan yg begitu dihormatinya

Lain cerita dgn Timur dan Nanan. Memang Timur dan Nanan rekan satu angkatan
sbg taruna Akpol 1978. Tp Nanan sbg taruna terbaik peraih Adhi Makayasa
Polri. Sedangkan Timur tergolong biasa-biasa saja. Nanan pun dianggap sbg
“sisa” kelompok Pasundan-nya Dai Bachtiar, dimana Nanan menjabat Wakapolda
Metro Jaya (2003-2004) ketika Kapolda-nya dijabat Makbul Padmanegara. “cold
fight” antara Timur dan Nanan memang semakin menghangat.

Berbagai gejolak sosial di tengah masyarakat dianggap “keteledoran” Nanan
yg kurang maksimal membenahi internal Polri. Ledakan mercon di Gelora
Senayan saat SBY menonton bola, peledakan bom di gereja di Solo, bentrokan
di Bima, Lampung dll jg dianggap sbg “kesalahan” Nanan. Belum lagi mutasi
besar-besaran di kalangan Pamen dan Pati ketika awal2 Timur menjabat
Kapolri dianggap upaya menempatkan “orang-orangnya” Nanan di berbagai
jabatan strategis di kepolisian.

Kembali ke Djoko Soesilo. Saat di bulan2 terakhir BHD menjabat Kapolri,
Ditlantas Mabes Polri dinaikkan levelnya mjd Korp Lantas Polri. Saat itu
posisi Direktur Lantas Mabes Polri dijabat Djoko Soesilo dgn pangkat
Brigjen. setelah sebelumnya Djoko menjabat sbg Wakil Direktur Lantas Mabes
Polri dgn pangkat Kombes.. Sebelumnya, Djoko menjabat Direktur Lantas Polda
Metro mengikuti Sespati bersama I Ketut Untung Yoga Ana dan Edward
Aritonang.. Usai menjalani Sespati dimana Djoko Soesilo terpilih sbg siswa
terbaik, ia pun dipromosikan sbg Wadirlantas Mabes Polri. Bbrp bulan
menjabat Djoko Soesilo langsung naik sbg Dirlantas Polri dgn pangkat
bintang 1. Djoko yg menggagas Polisi Masyarakat (Polmas) oleh Kapolri BHD
dinaikkan pangkatnya menjadi bintang 2 (Irjen) seiring dgn naiknya level
Ditlantas Polri itu mjd Korlantas Polri.

Salah satu kesuksesan Djoko saat menjabat Wadirlantas dan Dirlantas Mabes
Polri saat Djoko “mengamankan” kepentingan tugas dan wewenang Polri ketika
RUU Lalulintas dan Angkutan Jalan (RUU LLAJ) yg digodok di DPR pd Januari
hingga Mei 2009. Saat itu dlm draft RUU LLAJ yang diajukan Kementerian
Perhubungan (Pemerintah), disebutkan dlm salah satu pasalnya hendak
mengambil alih proses penerbitan SIM, STNK dan BPKB menjadi salah satu
tugas dan wewenang Kementerian Perhubungan. Tentu saja Polri “menjerit” dgn
salah satu pasal dlm draft RUU itu. Sebab dlm hal SIM, STNK, BPKB – lah
Polri mendapat pasokan “darah segar” dalam operasionalnya. termasuk
menggemukkan pundi-pundi kekayaan para petinggi Polri itu.

Sekedar tahu saja, uang “suap” dan pungli diperoleh dari SIM, STNK, BPKB,
mutasi, balik nama, pesanan nopol cantik, nopol khusus & nopol blank (bebas
pajak) dan cek fisik. Khusus hanya di Polda Metro saja menerima sekitar Rp
2 milyar setiap harinya. coba hitung kalau ada 33 Direktorat Lalulintas
Polda di seluruh wilayah NKRI ini ?

Tim khususpun dibentuk Polri, yg dimotori Djoko Susilo sbg Direktur
Lalulintas Mabes Polri untuk menggagalkan rencana Pemerintah cq Kementerian
Perhubungan itu. Djoko jg dibantu Edward Aritonang yg saat itu menjabat
Kepala Divisi Humas Mabes Polri dan I Ketut Untung Yoga Ana sbg Kabag
Penerangan Umum Mabes Polri kemudian diporomosi mjd Wakil Kepala Divisi
Humas Mabes Polri. Berbagai “gerilya” dilakukan. Mulai ke anggt DPR
khususnya jajaran Komisi III yg membawahi kepolisian & Komisi V yg
membawahi perhubungan

“Gerilya” jg dilakukan ke berbagai kantor media massa dan LSM-LSM. Para
peneliti dan pemerhati perhubungan jg menjadi sasaran “proyek penggagalan”
pasal yg diajukan pemerintah. yg dinilai akan “merampas” kenikmatan duniawi
mereka. Bidang komunikasi dilakukan Edward dan Ketut.. Berbagai dalih
diajukan, mulai dalih hanya polisi yg sangat mengerti ilmu forensik
kendaraan, mencegah dan mengusut aksi terorisme dgn menggunakan bom mobil
yg sdh direkayasa shg sulit diidentifikasi. Maupun mencegah maraknya
kejahatan curanmor. Banyak dalih2 lain yg diajukan, dgn menggunakan corong
LSM, anggt dewan, pers dan peneliti dan pemerhati perhubungan yg sdh
“dibeli”.. Kerja tim khusus Djoko Soesilo, Edward Aritongang, I Ketut
Untung Yoga cs sangat sukses. Mungkin ratusan milyar uang bahkan lebih yg
“ditebar” untuk mengamankan wewenang2 Polri dalam lalulintas itu.

Djoko dinilai sangat berhasil melakukan tugasnya sbg motor tim khusus dlm
menggagalkan keinginan Kemenhub.. RUU LLAJ disahkan pada minggu keempat Mei
2009 dimana Polri tetap memegang wewenang tanpa berubah sedikitpun. Polri
tetap memiliki wewenang menerbitkan SIM, STNK dan BPKB maupun wewenang lain
terkait lalulintas itu. Saat sedang “ramai2nya” RUU LLAJ itu, di saat yg
bersamaan itu, mencuat kasus pembunuhan Direktur PT RNI Nazrudin Zulkarnaen
yg tewas ditembak di Tanggerang. Ketua KPK Antasari Azhar yg ssaat itu
sedang getol menyadap hubungan HP para petinggi Polri terseret mjd
tersangka utama pembunuhnya. Mungkin kalau Antasari Azhar tetap sbg Ketua
KPK saat itu, akan banyak petinggi Polri dan anggota dewan yg ditangkapinya
krn terlibat transaksi jor-joran dlm proses tarik ulur RUU LLAJ itu.

Selanjutnya, ketika Djoko menjadi Korlantas dan Timur menjabat Kapolda
Metro Jaya, benih-benih ketidak sukaan Timur kepada petinggi2 jajaran
Lalulintas Polri terlihat ketika pengganti Djoko sbg Direktur Lalulintas
Polda Metro Jaya,. Kombes Condro Kirono digantikan Kombes Royke Lumowa.
Nanan-Djoko-Condro sebenarnya sdh punya calonnya sendiri sbg penggantinya
Condro sbg Dirlantas Polda Metro Jaya. Tp yg muncul justru Royke Lumowa yg
diduga kuat sbg orang “titipan” Cikeas, karena isterinya Royke adalah
dokter tentara dari Kowad yg merupakan salah satu anggota tim kedokterannya
Ibu Ani Yudhoyono. Timur juga menjadi “tidak suka” kpd Djoko, selain krn
Djoko sangat kental warna Nanan-nya. Juga karena Djoko mau menerima
kenaikan pangkat bintang 2 dari Kapolri BHD. Pdhl sebelumnya Timur sdh
meminta Djoko agar mau menjadi Staf Ahlinya (Sahli) kalau dirinya menjabat
Kapolri nantinya. Tp Djoko berfikir lain, kesempatan harus diambil dan toh
yg paling bagus potensinya menjadi Kapolri nantinya adalah Nanan. Tp arah
angin politik tdk dapat ditebak Djoko. Timur yg mjd Kapolri.

Demi menjaga “kebersihannya” di mata Cikeas, dan krn muncul benih
ketidaksukaannya pd Djoko, makanya Timur diketahui paling pantang menerima
“upeti” dari jajaran Lalulintas yg dipimpin Djoko ini. Persoalan jg muncul
saat Djoko menolak sistem Inafis dimasukkan sbg program terpadu dlm proses
pengambilan identitas bagi peserta SIM. “Program alat simulator pd proses
pengambilan SIM harus jalan terus. Program Inafis silakan dilakukan sendiri
oleh reserse (Bareskrim). Janganlah program identitifikasi pada Inafis
dicampur baurkan dgn SIM,” begitu kira-kira dalih Djoko saat menolak
dipadukannya program Inafis itu ke SIM. Djoko pun kala itu sedang perlu
dana untuk membangun Nasional TMC (NTMC) Korlantas Polri di samping TMC
Polda Metro Jaya yg dibangun pula oleh Djoko. Djoko memang perwira
pembangun. Saat itulah kekesalan Timur terhadap Djoko semakin menjadi. Tp
gaya “Majapahit” tetap berlaku. Walau “tdk suka” kpd Djoko. Tp Timur tetap
“merestui” Djoko menduduki jbtn Gub. Akpol yg dilantiknya pd 2 Maret 2012.
Jebakan Batman ??

“Perseteruan” kembali menghangat krn Kapolri Timur Pradopo sdh harus
pensiun pd 10 Januari 2013 di saat umurnya 57 thn. Siapa penggantinya ? SBY
berharap penggantinya Timur adalah “orang muda” yg berprestasi gemilang,
cerdas, santun, rendah hati, penurut & yg utama, selain dpt mengamankan
Pemilu 2014 jg dpt kendalikan Polri setelah SBY lengser setidaknya 4 th
seusai Pemilu 2014. Siapa ? pilihan ada pada “2 anak muda” yg memenuhi
kriteria tsb. Kapolda Jawa Barat Irjen Putut Bayu Eko Seno yg disukai
Timur, dan Djoko Susilo perwira andalannya Nanan. Sama-sama Akpol angkatan
1984 dan sama2 lahir 1961. Keduanya baru pensiun dari Polri pd 2018, 4 thn
setelah Pemilu 2014 atau setahun jelang Pemilu 2019.

Djoko sangat memenuhi kriteria tp Djoko belum pernah pegang komando wilayah
setingkat Polda type A. Djoko Soesilo harus menjadi Kapolda. Syukur-syukur
Kapolda Metro, baru selanjutnya layak mendapat bintang 3. Yg berarti
tinggal selangkah lagi menjadi Kapolri. Bayangkan Kapolri dari jajaran
lalulintas yg memang akan sangat langka. Tp Djoko memang istimewa. Mendapat
bbrp penghargaan Presiden SBY. Prestasi Djoko jauh lbh baik dibanding Putut.

Timur yg hanya dlm hitungan 5 bulan ke depan sdh harus masuk Masa Persiapan
Pensiun (MPP) pasti dia “tdk terima” kalau pengganti sementaranya Nanan
Sukarna. Sebab Nanan pasti akan memuluskan menjadikan Djoko sbg Kapolri.
Timur pun tahu kasus Simulator SIM, dan menolak mentah2 “upeti” yg
disodorkan Djoko. Timur tahu soal pemukulan thdp Bambang Sukotjo. Timur
tahu Sutkojo dijebloskan ke penjara lewat pengadilan Bandung Jawa Barat.
Timur juga tahu upaya naik banding Sutkojo berbuah kenaikan jumlah hukuman
yg diterima Sutkojo.

Majalah Tempo memblow up kasus ini hanya 50 hari sejak Djoko dilantik sbg
Gubernur Akpol. Majalah Forum mengikutinya. Media2 lain diam saja. Djoko
sangat dekat dgn media dan pekerja pers. Sutkojo terus “berteriak” masalah
ketidakadilan yg menimpanya. Bersama tim pengacaranya Sutkojo juga melapor
ke KPK !

Gong berbunyi. Djoko yg sdh masuk “Jebakan Batman” harus menerima
dampaknya. Pers harus mjd gempar ! 26 jam belasan penyidik KPK dan barang
bukti yg disita harus “mendekam” di Mabak II (sebutan Markas Korlantas
Polri). Jajaran Korlantas Polri yg sebelumnya sangat “welcome” saat KPK
datang menggeledah yg dimulai jam 4 sore Senin 30 Juli. Tp 4 jam kemudian
mendadak didatangi jajaran reserse dari Bareskrim Mabes Polri bahkan
disusul dgn kedatangan Kepala Bareskrim Mabes Polri Komjen Sutarman.
Jajaran Bareskrim langsung menghalangi proses penggeledahan. Cekcok mulut
dan pelarangan keras terlontar dari pihak reserse. Para petugas Korlantas
hanya “melongo” bingung dgn apa yg sdg terjadi. Tengah malamnya 3 pimpinan
KPK termasuk Abraham Samad datang. Perdebatan 3 pimpinan KPK itu
berlangsung 3 jam dari tengah malam Senin 30 Juli itu hingga jam 3 pagi
Selasa 31 Juli dgn Kabareskrim Sutarman yg didampingi beberapa direktur
penyidiknya. Perdebatan menemui jalan buntu. Jam 6 pagi keluar statement
KPK, Irjen Djoko Soesilo jd tersangka KPK. Jam 8 pagi pernyatan resmi KPK
keluar lagi. “Irjen Djoko Soesilo jd tersangka KPK dlm kasus Simulator SIM”

Bayangkan, Gubernur Akpol Irjen Djoko Susilo yg begitu cemerlang karir
kepolisiannya jd tersangka kasus korupsi oleh KPK. Tapi berita memang blm
mencapai “ledakan” maksimal. Barang bukti dan penyidik KPK tetap dihalangi
keluar dari markas Korlantas itu. Berita semakin dramatis. Sepanjang hari
Selasa 31 Juli mulai pagi hingga sore berita di internet (online)
khususnya, maupun di radio dan televisi berita didominasi insiden
“penyanderaan” dan jadi tersangkanya Irjen Djoko Soesilo sang Gubernur
Akpol. Wartawan dan fotografer pers dari berbagai penjuru memenuhi Mabak
II. Puluhan wartawan yg di Semarang “memburu” Irjen Djoko Soesilo di
komplek Akpol. Menkopolhukam angkat bicara, “Engak ada cecak dan buaya
jilid II”.

GONG ! Besoknya Rabu 1 Agustus nyaris semua koran nasional dan lokal memuat
berita utama : “Irjen Djoko Susilo Gubernur Akademi Kepolisian menjadi
tersangka korupsi KPK !!!”, “Perang ala Majapahit” sukses ? Nanan yg sering
membuat “mangkel” Timur disebut-sebut menerima “upeti” dari proyek
Simulator SIM itu ? berapa ? 10 milyar ? 20 milyar ? 30 milyar ? siapa lagi
perwira tinggi Polri yg menerima ? semua tergantung Djoko saat diperiksa
penyidik KPK yg hanya berpangkat Komisaris Polisi (Kompol). Bintang 2
(Irjen) diperiksa melati 1 (kompol). Tamat riwayat kepolisian Djoko
Soesilo. Djoko sudah habis..bis..bis.. Hancur nama besarnya. Bisa masuk
penjara. Dan yg pasti tidak mungkin jadi Kapolri

Sekian "Kasus Korupsi Irjen Djoko S dan Perang Bandar di Tubuh Polri"
terima kasih yang sudah menyimak

Inafis: proyek Komputerisasi IT sidik jari, yg mark up harganya & gagal ..
ada dugaan Djoko yg membocorkan & menggagalkan proyek bareskrim ini tetap
akibat dari pertarungan internal Polri

Sutan Andri Satria Masri, S.E., M.E.

L/40/Koto/Nagari Sungai Sariak/Kecamatan VII Koto/Kab. Padang Pariaman

*
*

*Hidup Adalah Pengabdian Seumur Hidup Kepada Sang Maha Pemberi Kehidupan.*
My profiles: [image: Facebook] <http://www.facebook.com/andri.masri> [image:
Blogger] <http://andrimasri.blogspot.com> [image:
WordPress]<http://andrisatria.wordpress.com> [image:
Twitter] <http://twitter.com/AndriSatria>
Contact me: [image: Google Talk] [email protected] [image: Y!
Messenger]as_masri
 Get a signature like this.
<http://r1.wisestamp.com/r/landing?promo=20&dest=http%3A%2F%2Fwww.wisestamp.com%2Femail-install%3Futm_source%3Dextension%26utm_medium%3Demail%26utm_campaign%3Dpromo_20>
CLICK
HERE.<http://r1.wisestamp.com/r/landing?promo=20&dest=http%3A%2F%2Fwww.wisestamp.com%2Femail-install%3Futm_source%3Dextension%26utm_medium%3Demail%26utm_campaign%3Dpromo_20>

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke