[Bagian dua dari empat tulisan].

Dari bincang-bincang di dapur dengan sesama jemaah haji asal Parepare,
Sulawesi Selatan,  di pemondokan di Makkah ketika kami menunaikan ibadah
haji di tahun 2003, isteri saya bercerita tentang dua bersaudari yang
berhaji tidak dibiayai oleh suami-suami mereka, tetapi dari hasil jerih
payah mereka berdua dengan bertanam jagung. 

Suatu hal yang  membuat saya heran tak heran. So what?

Sulawesi Selatan adalah provinsi yang cukup saya kenal dengan baik. Selain
merupakan salah satu provinsi mitra kami di Perform yang rata-rata saya
kunjungi setiap tiga bulan sekali  selang tahun 2003-2004-dengan mengitari
jalur Makassar,  Maros, Parepare, Pinrang, Enrekang, Sengkang, Sinjai dan
kembali ke Makassar-hampir semua kabupaten di provinsi dulu pernah saya
kunjungi ketika bekerja selama tiga tahun lebih di  IBRD - North and South
Sulawesi Water Supply Sector Project pada paruh kedua tahun delapan puluhan

Jalan-jalan di seantero provinsi ketika itu sudah bagus-bagus dan diaspal
dan yang  menonjol, tingkat kemakmuran masyarakat relatif merata. Hampir
tidak  ada kepincangan  Timur-Barat atau Utara-Selatan seperti yang terjadi
di banyak daerah.  Hanya di Selatan, terutama Jeneponto yang sebagian besar
wilayahnya tandus yang kurang makmur. Masyarakat yang tidak tertampung di
sektor pertanian banyak yang merantau ke Kalimantan dan Indonesia bagian
Timur.   

Hal ini tidak terlepas dari kebijakan dan strategi yang ditetapkan oleh
Gubernur Prof. Dr. Ahmad Amiruddin yang menjadi orang nomor satu di provinsi
tersebut selama dua periode, 1983-1988 dan 1989-1993. Salah satu
kebijakannya, setiap kabupaten hanya boleh mengembangka komoditas yang
paling sesuai dengan kondisi Kabupaten yang bersangkutan. Pemerintah Daerah
menyediakan benih, membangun infrastruktur jalan raya dan irigasi serta
membantu pemasaran..

Singkatnya, kebijakan ini menyebabkan Provinsi Sulawesi Selatan menjadi
provinsi produsen, provinsi penghasil komoditas yang "tradables",  yang
dapat diperdagangkan lintas provinsi, pulau dan negara seperti, produk
tanaman  pangan, kakao, ikan, udang dan biji-bijian berminyak serta kayu
atau barang dari kayu, di samping nikel.

Di tengah polemik tentang kebijakan impor beras, Pemerintah Provinsi
Sulawesi Selatan justru bersiap mengekspor 200.000 ton beras ke Malaysia,
Singapura, dan Filipina. Langkah ini diambil karena produksi padi di Sulsel
pada 2010 naik 15 persen daripada produksi tahun sebelumnya yang mencapai
4.324.193 ton (Kompas, 24/06/2011).

Dan seperti diberitakan Kompas 04/07/2011, Pemerintah Provinsi Sulawesi
Selatan bahkan mulai memasok masing-masing 1 ton ikan laut dan daging sapi
ke Jakarta. Pengiriman via udara yang dilakukan pada Jumat sepekan sebelum
itu merupakan tahap permulaan. Selanjutnya, Sulsel akan memasok 50 ton ikan
dan daging setiap hari untuk memenuhi kebutuhan di Jakarta. Berdasarkan
sensus ternak tahun 2011, populasi sapi di Sulsel saat itu mencapai 978.242
ekor. Hingga pertengahan tahun 2011, Sulsel telah menyuplai 173.948 sapi
potong. Sebanyak 156.553 ekor di antaranya digunakan untuk memenuhi konsumsi
lokal.

Mengapa kunjungan ke Makassar tetap tinggi, karena Makassar tidak hanya
merupakan kota transit, tetapi menjadi pusat perdagangan terpenting di timur
Indonesia, karena kota itu mempunyai hinterland yang kaya dengan
produk-produk yang "tradables".

Hal itu menyebabkan Makassar tumbuh lebih cepat daripada kota-kota provinsi
lainnya. Hotel berbintang tiga dulu hanya dua biji, sekarang sudah menyebar
ke seluruh kota. Dan secara bertahap berbagai lokasi dan sarana rekreasi
ditambah dan diperbaiki. Dulu Pantai Losari tidak banyak  berbeda dengan
Pantai Purus di Padang. Jangan kata sekarang.

Dan Makassar akan semakin berkibar setelah pembangunan monorel yang akan
menghubungkan Pasar Sentral, Bandara Sultan Hasanuddin dan lingkar dalam
Kota Makassar (Kompas, 26 Juli 2011)  selesai dan mulai beroperasi. Apalagi
kalau rencana pembangunan jalur kereta api Trans-Sulawesi yang akan
menghubungkan Makassar dengan Palu dan Manado dengan investor dari Rusia,
jadi terlaksana.  

Tetapi terlepas kenyataan bahwa Sulawesi Selatan waktu ini juga masih
menghadapi berbagai masalah yang hampir tidak berbeda dengan daerah-daerah
lainnya di Indonesia, saat ini Sulawesi Selatan  merupakan satu-satunya
provinsi di Indonesia yang memiliki baik ketahanan maupun kedaulatan pangan.
Modal yang sangat-sangat berharga dalam menatap masa depan yang ancaman
kelangkaan dan meningkatnya harga pangan semakin nyata. 

Dan seperti pernah saya tulis di sini, Kabupaten Pinrang yang merupakan
gudang beras di Provinsi Sulawesi Selatan adalah kabupaten yang paling
banyak jemaah hajinya. 

Artinya bahwa dengan kebijakan yang tepat dan terarah, sektor pertanian
dapat memberikan hasil kepada para petani, sesuai dengan jerih payah mereka.

Inilah yang menyebabkan saya selalu iri kepada Sulawesi Selatan, artinya
saya ingin kampung halaman saya Sumatra Barat bisa seperti provinsi ini,
menjadi provinsi produsen.

Bukan seperti Kalimantan, seperti  Bali apalagi. Malah kalau bisa lebih baik
daripada Sulawesi Selatan karena potensi itu ada di Sumatra Barat. Karena
Sumatra Barat juga memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki
Sulawesi Selatan. IPM Sumatra Barat dalam tahun 2008, hampir satu poin lebih
tinggi daripada IPM Sulawesi Selatan di tahun tersebut. 

Bukan jalan yang mudah tentu saja, karena merancang dan melaksanakan
strategi yang dirancang pada tingkat provinsi sekarang sudah bukan jamannya
lagi, karena di era otonomi daerah ini, bola lebih banyak di tangan
kabupaten/kota dan, terutama nagari, melalui penguatan sistem perekonomian
nagari yang mampu memberikan nilai tambah lebih bagi para petani, peternak,
petambak dan nelayan yang pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas
sektor-sektor terkait.

Pertanyaan kuncinya, memangnya Sumatra Barat, punya pilihan lain, misalnya
dengan menfokuskan pada pengembangan pariwisata?  

Wassalam, HDB-SBK (L, 69)

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke