Mak Darwin Bahar,
Nan ambo tahu, kabanyakan dari kito ingin mambuek "road map" mantun jo imbal jasa, dengan arati kato diharagoi pulo jariah payahnyo jo materi ataupun kebaikan untuak diri pribadi. Kan alah mamak sabuikan homo economicus, homo economicus par excellence. Dek mangko itu kualitas urang awak kini agak manurun, sabab urang tuo sisuak motivasinyo indak hanyo salingka mantun, labiah kapado kebaikan untuak basamo walau takadang materi ko jadi tatingga dek kebaikan basamo tu. Ambo mancaliak, banyak tokoh minang maso lalu hiduik dalam kondisi nan sederhana, mungkin dalam kategori indak barado pabilo kito bandiang maso kini. Kok kito mundur labiah jauah ka bulakang, pemimpin Islam maso daulu iyo banyak nan bansaik, mulai dari Rasulullah, Umar ibn Khattab hinggo ka Umar ibn Aziz. wasalam AZ/lk/34th/caniago Kubang, sadang di kampuang babako ka Canduang Koto Laweh, Agam ________________________________ Dari: Darwin Bahar <[email protected]> Kepada: Palanta Rantaunet <[email protected]>; [email protected]; [email protected] Cc: Andiko <[email protected]> Dikirim: Rabu, 15 Agustus 2012 0:07 Judul: [R@ntau-Net] Kritik dan Harapan kepada Pariwisata Sumatra Barat [Bagian empat dari empat tulisan] Saya adalah salah seorang di Palanta yang sering mengritik, kadangkala secara keras, pengembangan pariwisata, sehingga dapat menimbulkan kesan bahwa saya tidak setuju dengan pariwisata Sumatra Barat, sehingga terkesan sebagai seorang yang “nyinyir” dan “lebay” :). Benarkah? Rasanya tidak ada yang tidak sependapat, bahwa Sumatra Barat mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata guna meningkatkan pendapatan daerah dan masyarakat. Rasanya juga tidak ada yang tidak sependapat, bahwa pariwisata yang harus dikembangkan di Sumatra Barat adalah pariwisata yang yang tidak bertabrakan dengan budaya dan sistem nilai masyarakat adat yang dirumuskan dengan ABS-SBK, parawisata yang memakmurkan rakyat badarai, bukan hanya para pemodal atau orang-orang bekerja di sektor pariwisata saja. Parawisata yang tidak merusak/merampas hutan, lahan pertanian rakyat serta pesisir pantai dan danau tempat para nelayan kecil menggantungkan kehidupan mereka. Pariwisata yang berbasis nagari. Pariwisata yang memajukan perekonomian rakyat. Ini artinya pengembangan pariwisata yang bukan hanya sekadar mengopi begitu saja pariwisata Bali. Banyak hal yang dapat dipelajari dari Bali, tetapi bukan cara pengelolaan pariwisata yang sangat berorientasi pasar, pariwisata yang liberalistik-kapitalistik. Kalau jalan-jalan di Bukittinggi sering macet, untuk mengatasinya tidak perlu belajar ke Bali, tetapi ke Solo, yang perencanaan dan pengelolaan lalu lintasnya sangat bagus. Saya juga sering merasa khawatir terhadap pandangan yang gemar melihat sesuatu hanya dari sektor hilir belaka, maju mundurnya pariwisata diukur dengan banyak sedikitnya jumlah wisatawan—terutama yang dari mancanegara—yang berkunjung. Pandangan seakan-akan masih relatif rendahnya jumlah wisatawan yang berkunjung Sumatra Barat, semata hanya karena kurangnya promosi. Adakah media promosi pariwisata Sumatra Barat yang lebih baik dan murah meriah ketimbang TdS? Tetapi apakah setelah sukses TdS 2012, wisatawan domestik dan mancanegara lalu berbondong mengunjungi Sumatra Barat? So what? Karena pariwisata ini tak ubahnya seperti masakan yang spesial, promosinya lebih banyak dari mulut ke mulut ketimbang advertensi masal di media masa. Dengan kata lain, masih banyak pembenahan yang perlu dilakukan di sektor hulu, seperti infrastruktur (yang tidak hanya terbatas pada jalan dan jembatan), transpotasi, logistk, dan suatu hal yang tidak dapat ditawar-tawar: ketahanan dan kedaulatan pangan, seperti yang dimiliki Sulawesi Selatan hari ini. Karena pariwisata yang mengabaikan ketahanan dan kedaulatan pangan sama saja dengan bunuh diri. Lihat Mesir di era Mubarak, lihat Tunisia di era Zine al-Abidine Ben Ali. Dan ini butuh waktu panjang. Dan saya percaya, tidak akan ada pemangku kepentingan pariwisata Sumatra Barat yang tidak sependapat dengan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut di atas. Bahkan bukan saja sependapat, tetapi sudah mendahului berfikir, berucap dan bertindak seperti itu, ketimbang saya yang bisanya hanya cuap-cuap belaka. Antara lain para tokoh dan cerdik pandai di MAPPAS. Akan tetapi, salah satu problem besar, kalau mau dikatakan besar ya besar, tetapi bisa juga kecil jika mau dikatakan kecil, kita belum punya ‘road map’ atau ‘cetak biru’ pariwisata Sumatra Barat yang minimal secara prinsip disepakati oleh segenap pemangku kepentingan pariwisata Sumatra Barat. Dibilang kecil, karena sebenarnya tidak perlu tebal-tebal, 20 atau 30 halaman cukup. Sebab yang paling utama di sini adalah menyamakan visi dan misi serta strategi dasar pengembangan, yang disusun dengan menggunakan premis-premis yang ditetapkan secara cermat berdasarkan fakta-fakta di lapangan. Dengan adanya ‘road map’ ini, kita dapat memetakan di mana peran pemerintah provinsi, kabupaten, kota, nagari, organisasi masyarakat sipil dan para perantau. Dengan adanya ‘road map’ ini, kebiasaan para pemangku kepentingan ‘sama-sama bekerja’ lebih mempunyai peluang untuk diubah menjadi ‘bekerja sama’. Dengan adanya ‘road map’ ini, kita juga tidak akan mudah menyalahkan begitu saja masyarakat bawah sebagai ‘tidak sadar wisata’, kalau menemukan banyak hal yang tidak beres di lapangan, lalu melontarkan gagasan ‘gagah’: mengubah paradigma masyarakat Sumatra Barat mengenai pariwisata, mengira perubahan paradigma—kalau memang benar-benar itu akar masalahnya—bisa dilakukan, maaf, secara amatiran. Pasalnya kita kadang-kadang lupa, bahwa manusia Minang itu adalah homo economicus, homo economicus par excellence! Manusia yang rasional. Ada kepeng ada barang. Tidak ada kepeng barang melayang. Malahan untuk itulah mereka menyebar ke berbagai pelosok nusantara, bahkan mancanegara, bahkan tidak jarang dengan menyerempet-nyerempet bahaya pula. Dari bincang-bincang dengan urang awak pemilik kios sovenir di Jayapura, saya diberi tahu bahwa cukup banyak juga perantau Minang yang mengadu untung sampai ke Kabupaten Puncak Jaya yang merupakan kawasan yang paling tidak aman di Papua, dari dulu sampai sekarang. Dan kebutuhan akan ‘road map’ ini pernah saya sampaikan dulu di sini, dan dapat respon pula. Tetapi boleh jadi sudah ada, hanya saya saja yang tidak tahu. Ya, siapa pulalah awak ini. Wallahualam bissawab Disertai permohonan maaf jika ada kata dan ucap yang tidak berkenan. Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69), asal Padangpanjang, tinggal di Depok 14 Agustus 2012 "Alam terkembang menjadi guru” -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
