[Bagian empat dari empat tulisan]

Saya adalah salah seorang di Palanta yang sering mengritik, kadangkala
secara keras, pengembangan pariwisata, sehingga dapat menimbulkan kesan
bahwa saya tidak setuju dengan pariwisata Sumatra Barat, sehingga terkesan
sebagai seorang yang "nyinyir" dan "lebay" :). Benarkah?

Rasanya tidak ada yang tidak sependapat, bahwa Sumatra Barat mempunyai
potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata guna
meningkatkan pendapatan daerah dan masyarakat.   

Rasanya juga tidak ada yang tidak sependapat, bahwa pariwisata yang harus
dikembangkan di Sumatra Barat adalah pariwisata yang yang tidak bertabrakan
dengan budaya dan sistem nilai masyarakat adat yang dirumuskan dengan
ABS-SBK,  parawisata yang memakmurkan rakyat badarai, bukan hanya para
pemodal atau orang-orang bekerja di sektor pariwisata saja. Parawisata yang
tidak merusak/merampas hutan, lahan pertanian rakyat serta pesisir pantai
dan danau tempat para nelayan kecil menggantungkan kehidupan mereka.
Pariwisata yang berbasis nagari. Pariwisata yang memajukan perekonomian
rakyat.

Ini artinya  pengembangan pariwisata yang bukan hanya sekadar mengopi begitu
saja pariwisata Bali. Banyak hal yang dapat dipelajari dari Bali, tetapi
bukan cara pengelolaan pariwisata yang sangat berorientasi pasar, pariwisata
yang liberalistik-kapitalistik. Kalau jalan-jalan di Bukittinggi sering
macet, untuk mengatasinya tidak perlu belajar ke Bali, tetapi ke Solo, yang
perencanaan dan pengelolaan lalu lintasnya sangat bagus.

Saya juga sering merasa khawatir terhadap pandangan yang gemar melihat
sesuatu hanya dari sektor hilir belaka, maju mundurnya pariwisata diukur
dengan banyak sedikitnya jumlah wisatawan-terutama yang dari
mancanegara-yang  berkunjung. Pandangan seakan-akan masih relatif rendahnya
jumlah wisatawan yang berkunjung Sumatra Barat, semata hanya karena
kurangnya promosi.

Adakah media promosi pariwisata Sumatra Barat yang lebih baik dan murah
meriah ketimbang TdS? Tetapi apakah setelah sukses TdS 2012, wisatawan
domestik dan mancanegara lalu berbondong mengunjungi Sumatra Barat? So what?

Karena pariwisata ini tak ubahnya seperti masakan yang spesial, promosinya
lebih banyak dari mulut ke mulut ketimbang  advertensi masal di media masa.

Dengan kata lain, masih banyak pembenahan yang perlu dilakukan di sektor
hulu, seperti infrastruktur (yang tidak hanya terbatas pada jalan dan
jembatan), transpotasi, logistk,  dan suatu hal yang tidak dapat
ditawar-tawar: ketahanan dan kedaulatan pangan, seperti yang dimiliki
Sulawesi Selatan hari ini. 

Karena pariwisata yang mengabaikan ketahanan dan kedaulatan pangan sama saja
dengan bunuh diri. Lihat Mesir di era Mubarak, lihat Tunisia di era  Zine
al-Abidine Ben Ali. 

Dan ini butuh waktu panjang.

Dan saya percaya, tidak akan ada pemangku kepentingan pariwisata Sumatra
Barat yang tidak sependapat dengan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut di
atas. Bahkan bukan saja sependapat, tetapi sudah mendahului berfikir,
berucap dan bertindak seperti itu, ketimbang saya yang bisanya hanya
cuap-cuap belaka. Antara lain para tokoh dan cerdik pandai di MAPPAS. 

Akan tetapi, salah satu problem besar, kalau mau dikatakan besar ya besar,
tetapi bisa juga kecil jika mau dikatakan kecil, kita belum punya 'road map'
atau 'cetak biru' pariwisata Sumatra Barat yang minimal secara prinsip
disepakati oleh segenap pemangku kepentingan pariwisata Sumatra Barat.
Dibilang kecil, karena sebenarnya tidak perlu tebal-tebal, 20 atau 30
halaman cukup. Sebab yang paling utama di sini adalah menyamakan visi dan
misi serta strategi dasar pengembangan, yang disusun dengan menggunakan
premis-premis yang ditetapkan secara cermat berdasarkan fakta-fakta di
lapangan. 

Dengan adanya 'road map' ini, kita dapat memetakan di mana peran pemerintah
provinsi, kabupaten, kota, nagari, organisasi masyarakat sipil dan para
perantau.

Dengan adanya 'road map' ini, kebiasaan para pemangku kepentingan 'sama-sama
bekerja' lebih mempunyai peluang untuk diubah menjadi 'bekerja sama'.

Dengan adanya 'road map' ini, kita juga tidak akan  mudah menyalahkan begitu
saja masyarakat bawah sebagai 'tidak sadar wisata',  kalau menemukan banyak
hal yang tidak beres di lapangan, lalu melontarkan gagasan 'gagah': mengubah
paradigma masyarakat Sumatra Barat mengenai pariwisata, mengira perubahan
paradigma-kalau memang benar-benar itu akar masalahnya-bisa dilakukan, maaf,
secara amatiran.

Pasalnya kita kadang-kadang lupa, bahwa manusia Minang itu adalah  homo
economicus, homo economicus par excellence! Manusia yang rasional. Ada
kepeng ada barang. Tidak ada kepeng barang melayang. 

Malahan untuk itulah mereka menyebar ke berbagai pelosok nusantara, bahkan
mancanegara, bahkan tidak jarang dengan menyerempet-nyerempet bahaya pula.
Dari bincang-bincang dengan urang awak pemilik kios sovenir di Jayapura,
saya diberi tahu bahwa cukup banyak juga perantau Minang yang mengadu untung
sampai ke Kabupaten Puncak Jaya yang merupakan kawasan yang paling tidak
aman di Papua, dari dulu sampai sekarang. 

Dan kebutuhan akan  'road map'  ini pernah saya sampaikan dulu di sini, dan
dapat respon pula. 

Tetapi boleh jadi sudah ada, hanya saya saja yang tidak tahu.  

Ya, siapa pulalah awak ini.  

Wallahualam bissawab

Disertai permohonan maaf jika ada kata dan ucap yang tidak berkenan.

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69), asal Padangpanjang, tinggal di Depok 
14 Agustus 2012

"Alam terkembang menjadi guru"

 

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke