Dinda Rina, Angku Muljadi dan Mak Ngah NAH, ambo jadikan satu tanggapan soal saran-saran manyangkuik novel PRRI ko dari posting Rina di bawah iko dulu
1. Dalam "Presiden Prawiranegara" suduik pandangnyo memang dari Kamil Koto, mantan "pencopet" di Pasa Piaman, dek karano ambo indak manulih buku sejarah, tapi novel sejarah (historical novel). Sisi historisnyo adalah pado namo-namo tokoh utamo (Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Mr. T. Hasan, Mr. Sutan Moh. Rasjid/Residen Rasjid, dll) yang harus tapek, tempat-tempat dan tanggal kejadian yang harus akurat, namun dari sisi penceritaan yang tak bisa dipilih oleh sejarawan yang sudah cukup banyak menulis tentang PRRI. Karano itulah ambo bapikia: baa kalau kisah 207 Hari PDRI ko dicaliak dari urang ketek, urang biaso saroman si Kamil ko? 2. Untuk kepentingan "novel", Kamil punyo subplot nan ambo caliak relevan dengan kisah gadang PDRI, yakni: pencarian terhadap sosok Bapak. Jika PDRI adalah (dalam mainstream sejarah Indonesia, khususnya era Orde Baru) adalah menafikan peran Bapak-bapak Bangsa yang sudah disandang sukarela oleh Pak Sjaf, Teuku Hasan, dkk, maka Kamil juga menafikan peran ayah kandungnya yang wafat dalam keadaan kecewa karena tahu kondisi Kamil. Awalnyo, Kamil yakin bahwa para Bapak-bapak PDRI itu indak punyo masalah dengan ayah mereka masing-masing. Tapi seiring kedekatannya mengikuti rombongan PDRI berpindah-pindah tampek, dan ikuik sholat bajamaah dengan mereka, makin lamo Kamil biso pulo mandanga kisah pribadi Pak Sjaf dengan ayah kanduang no, nan indak salalu mulus. Bahkan saat ayahnyo maninggal dunia di Kediri, Pak Sjaf talambek datang, dan itu marupokan salah satu panyasalan gadangnyo di kudian hari. Jadi, paralelisme pencarian sosok ayah iko nan ambo ingin sampaikan lewat carito "Presiden Prawiranegara". 3. Ukatu ambo manyampaikan niek manulih novel dengan judul "Presiden Prawiranegara" tu ka ahli warih (anak-anak Pak Sjaf). Tanggapan awal mereka adalah indak langsuang manarimo judul nan ambo sodorkan (Mereka langsung setuju ide novel, tapi keberatan dengan judul). Alasan yang disampaikan Farid Prawiranegara adalah, "Nanti disangka kami, anak-anak beliau, yang ngotot agar ayah diakui sebagai Presiden (oleh Pemerintah)," kata Farid. "Coba carilah judul yang lebih netral." Lalu ambo jawek. "Yang menyebut Pak Sjaf presiden adalah Kamil, representasi dari masyarakat, karena melihat para pembantu Pak Sjaf itu adalah para menteri. Bahkan Kamil kemudian tahu bahwa Panglima Sudirman pun mengirim surat memberikan laporan kepada Pak Sjaf, sehingga dalam pandangan Kamil, kalau sudah begitu sebutan apa lagi yang lebih layak bagi Pak Sjaf sebagai Presiden?" Jadi sosok Kamil Koto menjadi penting dan vital, sahinggo saat di kudian hari Kamil nan alah manikah jo Puti Zahara tingga di Pakistan, mambaco berita wafatnya Pak Sjaf sebagai tokoh Islam internasional di koran setempat. 4. Manga novel PP indak ditutup dengan suasana pertemuan keluarga itu kembali? Manuruik ambo, puncak kenegarawanan Pak Sjaf adalah saat pertemuan dengan Pak Natsir dkk yang diutus Bung Hatta untuk meluluhkan hati kubu PDRI agar bersedia mengembalikan mandat kepada Bung Karno-Bung Hatta. Saat itu, hubungan Kubu PDRI dan Tracee Bangka (tokoh nasional yang ditahan di Bukit Menumbing, Bangka, setelah Agresi Militer ke-2 spt Bung Karno, Bung Hatta, Haji Agus Salim, Sjahrir, dll)sudah sangat tegang menyusul adanya Perjanjian Roem Roijen yang diwakili Tracee Bangka. Bahkan Panglima Sudirman mengecam keputusan Bung Karno yang menunjuk Mr. Roem sebagai negosiator mewakili Indonesia karena menurut Panglima, mana mungkin akan ada hasil perundingan yang fair antara pihak yang menahan dengan pihak yang bertahan, sementara Bung Karno sendiri sudah mengeluarkan mandat yang dikabarkan ke seluruh dunia bahwa pemerintahan dimandatkan kepada PDRI yang dipimpin oleh Menteri Kemakmuran Mr. Sjafruddin Prawiranegara? Jadi, de facto dan de jure, Perjanjian Roem Roijen seharusnya batal demi hukum, atau dalam bahasa agama, batil. Tengoklah bagaimana saat itu Pak Natsir (sahabat Pak Sjaf, sebagai sama-sama tokoh Masyumi) menyatakan bahwa dia sendiri paham dan mengerti bahwa harusnya Kubu PDRI yang berunding dengan Belanda, namun kondisi tak memungkinkan. Di saat tegang seperti itulah Pak Sjaf yang melunakkan hati kawan-kawannya, kubu PDRI, bahwa meskipun dia tetap tak menerima hasil Roem-Roijen, namun demi kemaslahatan perjuangan rakyat Indonesia, beliau bersedia mengembalikan mandat kepada Bung Karno dan Bung Hatta, dengan pertimbangan: - Belanda selalu memecah belah kekuatan Indonesia. Setiap kali itu terjadi, yang rugi adalah masyarakat sendiri. Jadi kalau dualisme kepemimpinan Tracee Bangka (Bung Karno-Bung Hatta) versus Kubu PDRI (Pak Sjaf - Mr. T. Hasan) dilanjutkan, yang rugi dalam pemikiran pak Sjaf, adalah rakyat Indonesia sendiri. - Dalam pandangan masyarakat internasional, pemimpin Indonesia yang lebih dikenal adalah Bung Karno-Bung Hatta, sehingga akan lebih menguntungkan bagi diplomasi internasional jika legalitas kepemimpinan dikembalikan kepada mereka berdua. - Dengan mengembalikan kepemimpinan kepada Proklamator, maka tanggung jawab selanjutnya juga akan kembali kepada mereka, menurut argumen Pak Sjaf. Begitu mendengar rangkaian argumen indah itu, menangislah baik Kubu PDRI maupun Pak Natsir mengagumi leadership Pak Sjaf yang visioner itu. Nah Rina, dengan pertimbangan-pertimbangan di atas itulah manga ambo akhianyo manulih saroman nan kini dibukukan itu, dengan satu tambahan pertimbangan politis: pada saat novel itu ditulih, Pak Sjaf masih alun diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah. Usulan untuk menjadikan Pak Sjaf sebagai Pahlawan Nasional sudah dilakukan dua kali, pada 2007 dan 2009, dua-duanya kandas. Alhamdulillah pada 2011, lewat Pemerintahan yang sama (SBY), Pak Sjaf diakui sebagai Pahlawan Nasional, yang menurut Aisyah Prawiranegara, putri sulung Pak Sjaf di KompasTV pada siaran langsung 10 November 2011, "Itu bisa terjadi karena tahun lalu Akmal ngotot datang ke rumah kami bilang mau tulis novel tentang ayah. Padahal kami sudah hopeless, merasa status ayah (dianggap sebagai pemberontak) tak akan pernah berubah lagi," katanya. 5. Tentang novel PRRI, sajauah ko, iyo alun ado rencana ambo manulihkannyo. Mungkin karano tujuan utamo saat manulih novel PP alah tacapai, yakni mambarasiahkan namo Pak Sjaf dari stempel pemberontak. Dan bahkan Pak Sjaf alah pulo diangkek sabagai Pahlawan Nasional. Mungkin juo dek ambo baru salasai manulih satu novel sajarah lain nan bajudua "Napoleon dari Tanah Rencong" tentang kisah Darul Islam di Aceh nan malatuih tahun 1953, dari kacomato Hasan Saleh, mantan panglima perang DI nan pacah kongsi jo Daud Beureueh pado 1959. Di "Napoleon dari Tanah Rencong" ko ado pulo sangek hubungan DI Aceh jo PRRI (dek karano Menteri Sosial PRRI Ayah Gani adalah juo sahabaik arek Hasan Saleh, sasamo tokoh DI), dan hubungan DI Aceh dengan RPI Pak Sjaf. Salam, Akmal Nasery Basral Cibubur minds are like parachutes. they work best when open. ________________________________ From: Rina Permadi <[email protected]> To: [email protected] Sent: Monday, August 27, 2012 12:41 PM Subject: RE: Agresi ke-2 = PRRI ? Re: [R@ntau-Net] Napak Tilas Agresi Belanda ke-2 th 1974 di Bukittinggi Da Akmal jo dunsanak, Ambo jo Papa alah mambaco Novel Da Akmal tentang Pak Sjaf, tp sepertinyo lebih banyak ke sisi si Tukang Pijit tu lupo ambo namo baliau tu. Sebab alah cukuik lamo waktu baru terbit di Gramed. Kalo manuruik ambo, novel yg diawali dengan suasana melepas kepergian Pak Sjaf ke Sumatra alangkah bagusnya kalo ditutup dengan suasana pertemuan keluarga itu kembali. Ambo jadi penasaran jo Novel Da Akmal tu, ambo jadi batanyo2 apo ado seri ka-2nyo. Iko cuma tanyo iseng ambo sajo nan awam. Mungkin bisa jadi ispirasi sambungan Novel yang partamo tu, bersambung ka sejarah PRRI ko. Pak Sjaf dulu tu sangat dakek jo DR M Natsir dan Mr Assaat. Mereka dengan keluarga ijok (bersembunyi) masuk rimbo. Tahun 1961 mereka terpisah, Pak Natsir di rimbo batang Masang Pasaman sedangkan Pak Sjaf jo Mr Assat di rimbo Koto Tinggi kalo ditaruihan arah utara tibo di Padang Sidempuan. Karena kampung-kampung telah dikuasai tentara pusat yang dibantu pemuda rakyat aliran kiri. Papa pernah sobok jo Pak Sjaf waktu ikuik upacara bendera berdirinya RPI (lanjutan dr PRRI) di Pasaman daerah Bonjol. Pak Sjaf (Presiden RPI) sebagai urang sipil kurang paham akan upacara militer jadi dipandu dek Kol. Dahlan Djambek memimpin upacara. Anggota pasukan kebanyakan memakai baju baru tapi baju barunya masih berlogokan Divisi Diponegoro bukan logo PRRI atau RPI, hasil rampasan penyerangan ke markas Divisi Diponegoro di Pasaman yang lumayan sukses waktu itu. Ambo tunggu lahirnyo Novel ttg PRRI ko dg penuh ketidaksabaran J Wassalam Rina, 34, Batam -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
