Mak Darwin NAH,
kalimek Socrates lainnyo nan paling acok dikutip urang adalah manyangkuik 
pernikahan. 
Keceknyo:

"If you get a good wife, you'll become happy. If you get a bad one, you'll 
become a philosopher."

Ambo paranah satu wakatu batanyp soal iko ka mas Goenawan Mohamad. "Apa betul 
itu Mas Goen?" tanyo ambo.

Mas Goen tagalak saketek. "Kelihatannya benar, Mal," jaweknyo.

Sangenek,

Akmal Nasery Basral
Cibubur.

 
minds are like parachutes. they work best when open.


________________________________
 From: Darwin Bahar <[email protected]>
To: Palanta Rantaunet <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected] 
Cc: 'andi ko' <[email protected]> 
Sent: Wednesday, August 29, 2012 3:45 AM
Subject: [R@ntau-Net] OOT - Caping GM:Agora
 

 
Senin, 27
Agustus 2012
http://www.tempo.co/read/caping/2012/08/27/128543/Agora
Di agora,
kearifan dimulai dengan kegelisahan dan tak tahu. Ada satu kalimat yang konon
dari Sokrates: "ia [Sokrates] tak tahu apa-apa, kecuali bahwa ia tahu ia
tak tahu apa-apa."
Itu sebabnya
sebuah agora, yang dalam sejarah Yunani Kuno merupakan tempat berkumpul orang
di pusat kota, dijadikan ­Sokrates sebagai arena bertanya-jawab. Sejarah
mengisahkan ini bukan waktu senggang yang iseng dan tanpa konsekuensi. Dengan
pertanyaan-pertanyaannya yang menggugat pikiran yang gampangan dan mandek,
Sokrates mengibaratkan diri sebagai "lalat pengusik" bagi masyarakat,
agar masyarakat itu tak terlena. Kita tahu, akhirnya Sokrates dihukum mati pada
tahun 399 sebelum Masehi.
Dalam film
Alejandro Amenábar, Agora, tokoh yang mesti mati adalah Hypatia. Ia seorang
perempuan pemikir dari Alexandria, ibu kota Mesir di bawah kuasa Romawi pada
tahun 331.
Berbeda
dengan Sokrates, Hypatia mati dirajam orang ramai: para penganut Kristen yang
dengan berapi-api sedang hendak mengubah dunia dengan membasmi orang pagan atau
"kafir".
Tapi
ceritanya tak sekadar itu. Hypatia menolak jadi orang yang beriman karena ia
melihat dirinya berperan sebagai orang yang bertanya. Ia berkata kepada
Synesius, bekas muridnya yang jadi uskup di Cyrene, Libya: "Kau tak
mempertanyakan, atau tak bisa mempertanyakan, apa yang kau imani. [Sedangkan]
aku harus."
Synesius
gagal mengajaknya masuk Kristen.
Sikap itu
merisaukan para pembesar kota, terutama karena Hypatia punya pengaruh dan
sesekali dimintai pendapat dalam sidang-sidang mereka. Ia dipanggil menghadap.
Seseorang
bertanya: "Mengapa sidang ini harus menerima nasihat dari seseorang yang
tak percaya apa pun?"
Hypatia
menjawab: "Saya percaya kepada filsafat."
Sebenarnya
tanya-jawab itu bertolak dari kesalahan. Si pembesar kota menganggap bahwa tak
percaya kepada Tuhan sama artinya dengan tak percaya apa pun. Ia menyempitkan
pandangannya. Sementara itu, Hypatia tak konsisten dengan argumennya sendiri:
jika ia mengatakan "percaya kepada filsafat", berarti ia tak hendak
dan tak dapat menggugat apa yang dipercayainya. Padahal bahkan filsafat bisa
dipersoalkan. Ia, Hypatia, seorang pemikir, yang dengan atau tanpa sebuah
sistem filsafat, menyimak dan menelaah kehidupan, dan berani menghadapi
hal-ihwal yang tak segera ada jawabnya, atau yang telah lapuk. Ia seharusnya
menjawab: "Saya percaya kepada ketidaktahuan dan pertanyaan."
Tentu
jawaban seperti itu akan terlampau sulit dicerna, terutama oleh mereka yang
telah berkesimpulan bahwa agama adalah penangkal terakhir bagi ketidaktahuan
dan pertanyaan. Namun bagi Hypatia, ketidaktahuan dan pertanyaan tak bisa
dihapus selama-lamanya. Keduanya akan selalu hadir selama manusia hidup dan
berubah. Dalam film Amenábar, Hypatia (dimainkan oleh Rachel Weisz) tampak tak
henti-hentinya mencari jawab soal konstelasi bumi dan matahari.
Barangkali
itu sebuah kekeliruan. Hypatia tampaknya yakin, pengetahuan yang diperoleh akan
memberinya sebuah kekuatan. Ia lalai bahwa pengetahuan tak dengan sendirinya 
melahirkan
kekuatan. Bahkan sebaliknya: kekuatan itu yang melahirkan pengetahuan, dengan
mengkonstruksikan wacana. Hypatia tak tahu betapa pentingnya kekuatan itu. Ia
terisolir ketika ia acuh tak acuh terhadap perubahan yang terjadi di
Alexandria: hari-hari itu, penganut Kristen yang merasuk ke mana-mana, juga ke
kalangan kekuasaan.
Dan itulah
yang kemudian menentukan ketika penguasa agama, Cyril, yang fanatik, keras, dan
otoriter, hendak meneguhkan bahwa pengetahuan hanya mungkin selama orang
mengakui otoritas Kitab Suci. Ia didukung umat yang sedang bergelora menghadapi
iman yang bagi mereka harus ditinggalkan—gelora yang membuat mereka buas.
Konflik
berdarah pun terjadi dengan umat Yahudi. Kaum ini dibantai. Perpustakaan yang
termasyhur di Alexandria pun dibakar—sebuah peristiwa simbolik:
perpustakaan adalah khazanah pengetahuan yang beraneka suara, dan sebab itu
agama (yang tak menghendaki pengetahuan lain) tak membutuhkannya.
Sementara
itu, Hypatia tak punya kekuatan apa pun. Ia semula dibela oleh Orestes, bekas
muridnya dan lelaki yang mencintainya yang kemudian jadi wakil kekuasaan Romawi
di Alexandria. Tapi kemudian Orestes pun tak bisa berbuat apa-apa menghadapi
desakan umat Kristen yang makin keras.
Pada
klimaksnya, Hypatia dibawa ke depan altar dan ditelanjangi. Orang-orang
mengumpulkan batu untuk merajamnya. Di saat itu ia ditolong Davus, bekas budak
yang mencintainya dan kemudian jadi orang Kristen: agar tak merasakan sakitnya
hantaman ratusan batu, Hypatia dicekik sampai mati.
Bukankah
Tuhan kita mengampuni? Itu pertanyaan Davus kepada seorang temannya, seorang
militan Kristen. Jawaban sang militan: Tuhan mengampuni karena Ia Tuhan,
sedangkan kita ini manusia.
Dari jawaban
itu tampak, si Kristen militan meletakkan dirinya tidak setara Tuhan dan sebab
itu ia tak bisa mengampuni; maka ia membunuh. Yang diabaikannya ialah bahwa ia
membunuh justru karena ia meletakkan dirinya setingkat Tuhan dalam menentukan
kesalahan manusia lain. Ia merasa dirinya mencerminkan Tuhan yang
mahatahu—dan sebab itulah ia merasa berhak memutuskan mana yang kafir dan
yang bukan.
Dengan kata
lain: dialah yang mengkonstruksikan sifat Tuhan, memilih mana yang cocok daan
meniadakan yang tak cocok. Ia bahkan lebih kuasa ketimbang Tuhan.
Tak
mengherankan bila sang militan tak melihat bahwa pengetahuannya tentang apa
yang "buruk" dan yang "baik", yang "sesat" dan
yang "tak sesat", sebenarnya dibentuk oleh pengalamannya di
bumi—terutama pengalaman kompetisi dan antagonisme—bukan oleh sabda
dari langit.
Agora, bagi
saya, bukanlah film yang memikat. Tapi saya kira ketika Amenábar membuatnya
pada tahun 2008, di dalam dirinya bergema suara suram tentang agama-agama hari
ini.
Goenawan
Mohamad
 
-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke