Sanak Akmal YSH,
Ambo yo salut dengan Sanak. Ndak sumbarang panulis bisa cerpennyo dimuek di Kompas Minggu. Sanak Akmal lah mambuktikannyo. Iko cito-cito ambo sajak sari, namun aluh panah kasampaian. Alun ciek juo cerpen ambo nan ambo kirim ka Kompas karano memang alun panah manulis cerpen. Hampia tiok tahun ambo mambali kumpulan Cerpen Pilihan Kompas terbitan Gramedia. "Bilolah kamasuak namo ambo di situ?" Baa triknyo mambuek cerpen tu Sanak Akmal? Ambo suko cerpen Boyon ko karano ndak banyak kato-kato babungo sarupo: angin semilir, bulan tersenyum di balik awan yang merekah, derik pintu menikam keheningan malam, matahari bersinar lembut, dlsb. Bukannyo ambo alergi hanyo kadang-kadang bakalabihan. Ambo bisa sajo bakomentar "mantap" taradok Si Boyon ko, tapi ambo ndak dapek baraja dari siko. Dek ingin baraja itulah, makonyo ado babarapo partanyaan satantang Si Boyon ko. Satiok pertanyaan ambo dahului jo kutipan yang marupakan penggalan kalimat dari Cerpen Boyon. Kutipan: "... di desa Kapau yang terkenal dengan kelezatan nasinya." Apakah nasinya atau masakannya yang terkenal lezat? Tentu kelezatan nasi Kapaunya. Kutipan: "... kontraksi perut ibu berlangsung lebih cepat tiga pekan dari perkiraan. Malam harinya ibu melahirkan dengan bantuan bidan." Kapan Boyon lahir? Apakah sudah ada cara mendeteksi kelahiran pada masa itu? Belakangan saya dapat perkirakan si Boyon lahir antara tahun 1970-1971. Ini saya duga dari saat dirilisnya film Catatan Si Boy tahun 1987, Si Boyon baru masuk SMA, umur 16 tahun. Apa iya, tahun 1970, sudah dapat diperkirakan kapan seorang ibu hamil melahirkan, yang tinggalnya jauh dari peradaban moderen? Apakah dihitung sejak bulan tidak haid? Bisakah tahu tiga minggu lagi? Kutipan: "... Tentu saja aku tak ingat kejadian itu kalau tidak diceritakan lagi oleh ibu." Ada dua kata yang terasa kurang pas: ingat dan lagi. "Tidak ingat" berarti sesuatu pernah diketahui pada masa lalu dan kini lupa. Tidakkah kata "tidak tahu" lebih cocok di sini. Kata "lagi" dalam konteks itu, tentu "bercerita kembali". Apakah memang demikian? Tidakkah kalimat di bawah ini lebih cocok untuk menggambarkan kalimat di atas. "... Tentu saja aku tidak tahu kejadian itu, jika ibu tidak pernah menceritakannya." Kutipan: '"Nama yang bagus, tapi ..." Ayah jelas tak setuju.' Kenapa kata "jelas" yang digunakan. Kata ini memberikan makna "kepastian", padahal Ayah belum menyelesaikan kalimatnya. Entah apa yang akan dikatakannya sesudah itu. Apakah kata "tampaknya", "seperti", atau "seakan" tidak lebih sesuai. "Ayah tampaknya tidak setuju." Kutipan: "Setelah beberapa detik gagal menemukan kata-kata yang pantas, sikap ayahku yang gadang ota,..." Apa fakta yang telah diungkapkan sejauh ini, sehingga pembaca dapat menerima kesimpulan si Boyon (si Penulis) bahwa Ayahnya "gadang ota"? Selain itu, saya melihat kata "gadang ota" terlalu dipaksakan hadir dalam kisah ini. Setidaknya, kata ini diulang tiga kali. Bahkan, ada satu alinea sampai mengulangnya dua kali. Jika perilaku ayah digambarkan dengan tepat, sifat "gadang ota" ini tentu dengan sendirinya akan muncul dibenak pembaca. Kepulangan Ayah ke tanah air karena takut polisi, bagi saya lebih cocok disebut "gadang kalang" daripada "gadang ota". Kutipan: "... ayah menjentikkan jarinya seperti mendapatkan ilham." Saya bertanya, apakah seseorang akan "menjentikkan" jarinya ketika mendapat ilham? Apakah maksudnya menggesekkan ibu jari dan jari manis hingga mengeluarkan bunyi? "Menjentikkan" biasanya digunakan ketika mengusir lalat yang hinggap di bibir gelas atau ketika guru menghukum murid. Kutipan: "Pendidikan ayahku yang kandas setingkat kelas 4 Ibtidaiyah,..." Bukankah kata-kata "setingkat" dan "kelas" kedua-duanya bermakna serupa? Tidakkah jadi "redundant" alias mubazir? Menurut saya dapat saja keduanya digunakan dalam satu kalimat dalam makna yang berbeda jika kalimatnya seperti ini, "Pendidikan ayahku kandas di kelas 4 Ibtidaiyah, setingkat Sekolah Dasar di kota-kota." Kutipan: "SEWAKTU bersekolah di SD dekat rumah, teman-teman memanggilku Boyon. Aku merasa biasa saja, .." Ada dua kata yang ingin saya tanyakan. Satu, kata "SEWAKTU". Apakah sebelum SD, Boyon tidak dipanggil "Boyon"? Kedua, "Aku merasa biasa saja, ..". Ucapan ini membingungkan. Bukankah memang seharusnya dipanggil Boyon? Lain jika di SD itu ia dipanggil "Bonyok", lalu bersikap "biasa saja" wajar adanya. Kutipan: "Menjelang pucuk malam,... Sedangkan guru mengaji yang rajin berkhalwat kepada Allah Ta'ala itu kuintip tengah mengerjakan shalat malam." Jam berapa "pucuk malam" itu? Saya menangkapnya pukul 00.00. Jika pengertian "pucuk malam" seperti pemahaman saya, tentu guru mengaji ini melakukan amalan yang tidak ada contohnya. Namun pertanyaan saya tentu tidak relevan jika "pucuk malam" diganti dengan "selepas tengah malam" atau di "sisa malam". Kutip: ".., wajahku terlihat lebih mirip Emon karena rambut ikalku serta postur dengan berat 82 kilogram dan tinggi 164 sentimeter. Terlalu berat?" Apakah tepat menggambarkan wajah mirip karena rambut, berat dan tinggi badan? Bukankah penggambaran wajah dengan elemen rambut dan bobot badan, lebih menggambarkan postur "ketimbang" wajah. "Postur tubuhku lebih mirip Emon." Selain itu kata "terlalu berat" jarang kita dengar digunakan dalam mencocokkan seseorang dengan orang lain. Biasanya digunakan kata-kata "terlalu gemuk, terlalu besar, atau terlalu tinggi". Kutipan: "... Jangan lupa aku berasal dari Kapau. Kalau baru menyantap sepiring nasi, rasanya seperti baru makan sehelai roti. Jumlah kehadiranku di dalam kelas sebanding dengan jumlah ketidakhadiranku..." Apa yang saya lihat dari kutipan di atas? Ini adalah dua alinea yang tidak berada dalam satu ide alur cerita. Ada loncatan berpikir/ide. Jika benar, tidakkah seharusnya ada tanda bintang tiga (***) sebagai pemisahnya pada baris tersendiri? Atau dapat pula menandakannya dengan kata pertama aliena kedua tadi dengan huruf kapital. Dalam hal ini, "JUMLAH kehadiranku..." Kutipan: "Saat pengumuman kelulusan SMA diumumkan, ...". Tidakkah pengulangan kata "umum" terkesan pemborosan dan dapat menyebabkan pembaca bosan? Tidakkah lebih sederhana kalimat seperti ini, "Saat kelulusan SMA diumumkan, ..." Kutipan: '"Idih, jorok sekali sih namamu," teriak salah seorang. Aku jadi malu setelah seseorang membisiki betapa mengerikannya ...' Hal serupa juga saya temukan pada dua kalimat ini. Mengulang kata "orang" dalam kalimat-kalimat yang berdekatan. Bagaimana jika diubah menjadi; '"Idih, jorok sekali sih namamu," teriak seseorang. Aku jadi malu setelah ada yang membisikiku betapa mengerikannya ...' Kutipan: "... Jacky Chan..." Bolehkah mengganti nama tokoh nyata seperti Jakie Chan menjadi Jacky Chan? Atau memang kesalahan ketika belaka. Kutipan: "Tinggi tubuhku terdongkrak 2 senti dari 164 menjadi 166 cm." Perlukah memberikan kalimat matematis seperti ini? Tidakkah cukup mengatakan "Tinggi tubuhku terdongkrak 2 senti menjadi 166 senti" tanpa menyebut ulang angka 164? Saya pernah melihat iklan yang menggunakan seleb top tapi masih menuliskan namanya pada iklan tersebut. Ini memberi kesan pemirsa/pembaca itu "tidak pintar". Kali ini tanpa kutipan. Ada fakta yang terlihat janggal. Di masa pertumbuhan, sejak usia masuk SMA hingga kuliah si Boyon tidak bertambah tingginya, tetap 164. Ketika kuliah, ia sampai memerlukan kursus ortopedi, padahal ini masih dalam usia pertumbuhan (18-19 tahun). Demikian pula beratnya, tidak naik tidak turun sejak itu; 82 kg sejak dulu. Apakah ini kealpaan si Penulis? Kutipan: "Dia menulisnya sudah lama sekali. Pesannya tolong diberikan kepadamu jika dia meninggal." Apakah penggunaan kata "lama sekali" sudah benar di sini? Kata lama sekali memang relatif karena tergantung konteks. Surat almarhum Ayah ditulis dua tahun menjelang wafat. Ini saya tahu dari tanggal surat menjelang Boyon lulus SMA dan wafat saat di tingkat dua. Tampaknya kata "lama sekali" kurang tepat untuk periode singkat tersebut. Namun, entahlah bagi orang tua di kampung. Tanpa kutipan. Pertanyaan lain, apakah kata seperti "ayah" dan "ibu" di sini tidak sebaiknya ditulis dengan huruf awal kapital (Ayah/Ibu) karena ditujukan kepada orangtua Si Boyon, guna menggambarkan rasa hormat? Ada beberapa kata asing yang seharusnya dicetak miring, tapi di sini tidak. Sumuk, keren, ngaji, nongkrong, modern, dan bagal. Apakah ini memang lazim dalam penulisan cerpen? Demikian pula kata-kata seperti: sedang, maka, yang, dan tapi, apakah boleh jadi awal kalimat? (Saya bisa maklum bila itu merupakan ucapan langsung, tentu tidak mengapa.) Demikianlah pertanyaan-pertanyaan orang yang ingin belajar, Pak. Banyak maaf. Salam, ZulTan, L, Bogor Action cures fear. -----Original Message----- From: "akmal n. basral" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 30 Aug 2012 23:44:53 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen "Boyon" Sanak sapalanta nan budiman, talampia adalah cerpen ambo "Boyon" (2006) nan ado dalam kumpulan cerpen "Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku", antologi nan masuak long list Khatulistiwa Literary Award 2007. Iko bacaan ringan untuak akhia pakan. Mangingek ambo lahia dan gadang di Jakarta, mohon maaf jiko ado detail kisah tentang kampuang nan indak sasuai.(Saluruah namo urang dan tampek dalam kisah ko iyo hasil imajinasi ambo sajo). http://athinktokill.blogspot.com/2008/10/boyon.html Tapi ruponyo kisah ringan ambo ko dibedah serius oleh surang mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, banamo Puji Pramesti dengan judul "barek" manjadi "A Portrait of Human Culture Toward Nature: An Ecocritical Analysis of The Short Stories by Akmal Nasery Basral" Pengantar http://repository.upi.edu/abstrakview.php?no_abstrak=1009 Abstrak http://repository.upi.edu/operator/upload/s_033781_c0351__abstract.pdf Metodologihttp://repository.upi.edu/operator/upload/s_033781_c0351_chapter3.pdf Kesimpulan http://repository.upi.edu/operator/upload/s_033781_c0351_chapter5.pdf Salam, Akmal Nasery Basral Cibubur * * * Cerpen BOYON Akmal Nasery Basral NAMAKU Boyon. Jems Boyon. Nama ini diberikan ayah setelah menonton film yang dibintangi Sean Connery di bioskop lusuh Pasar Atas, Bukittinggi, Sumatera Barat. Atau lebih tepatnya, setelah ayah dan ibuku yang hamil tua menonton film itu. Mereka tidak tinggal di Bukittinggi melainkan sekitar 14 kilometer ke arah Payakumbuh, di desa Kapau yang terkenal dengan kelezatan nasinya. Mungkin karena perjalanan yang cukup jauh, kontraksi perut ibu berlangsung lebih cepat tiga pekan dari perkiraan. Malam harinya ibu melahirkan dengan bantuan bidan. "Aku ingin namanya Hatta, agar sikapnya harum wangi seperti proklamator kita," kata ibu sembari berulang kali menciumi pipiku. Tentu saja aku tak ingat kejadian itu kalau tidak diceritakan lagi oleh ibu. "Nama yang bagus, tapi ..." Ayah jelas tak setuju. Setelah beberapa detik gagal menemukan kata-kata yang pantas, sikap ayahku yang gadang ota, alias omong besar, tak bisa disembunyikan lagi. "Pak Hatta hidupnya terlalu sederhana. Aku tak mau anakku hidup menderita di jamannya." "Kalau begitu...Hamka?" "Itu lebih berat lagi. Nama ulama besar jangan sembarang diberikan. Kalau tidak kuat, anak kita bisa gila." "Bagaimana kalau Navis, katanya itu nama penulis." Ibu pantang menyerah. "Ah tidak. Penulis hidupnya miskin." "Kita toh sudah melarat." "Karena itu jangan ditambah-tambah lagi." Lidah ayahku seperti pesilat lincah. Setelah beberapa menit yang hingar oleh dengung nyamuk di rumah kami yang sumuk, ayah menjentikkan jarinya seperti mendapatkan ilham. "Kita namakan saja Jems Boyon seperti film yang kita lihat tadi. Itu nama modern. Pintar, tampan, dan disenangi padusi."* Ibuku seorang yang santun. Dia hanya berkata pendek. "Uda yakin itu nama yang benar?" "Yakin. Saya pernah berdagang di Negeri Sembilan. Di sana, begitulah mereka mengucapkannya. Lidah warisan Inggris mereka tentu tak keliru seperti milik urang awak." Begitulah. Pendidikan ayahku yang kandas setingkat kelas 4 Ibtidaiyah, bergabung sempurna dengan sifat gadang ota-nya yang selalu membanggakan diri pernah ke luar negeri, meskipun hanya sebagai penjual bubur kampiun di Malaysia. Dua bulan kemudian beliau pulang kampung saat mendengar Polis Diraja Malaysia akan melancarkan razia terhadap pendatang haram. Seperti halnya para gadang ota sejati, ayah tak punya cukup nyali untuk kembali mengejar mimpinya. Semua terhenti sebatas kata-kata. ~ SEWAKTU bersekolah di SD dekat rumah, teman-teman memanggilku Boyon. Aku merasa biasa saja, mungkin karena belum punya konsep tentang keren tidaknya sebuah nama. Menginjak SMP aku baru tahu yang dimaksud ayah dengan Jems Boyon tak lain dari James Bond. Maka di sekolah, aku menulis namaku sebagai James. Kalaupun harus dipanjangkan, ya James B saja. Nama Boyon terdengar seperti bloon, istilah yang dipakai seorang teman kelasku dari Jakarta untuk memanggil orang dungu. Tapi seorang guru mengaji di surau dekat rumahku satu kali menasehati. "James itu nama orang kafir. Tidak pantas orang Minang yang menjunjung adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah memakai nama seperti itu."** Aku diam saja, meski hatiku panas. Sholatku memang seperti saringan teh yang bolong-bolong. Tapi kalau disamakan dengan orang kafir aku tersinggung juga. Bukankah kata seorang pujangga Inggris, apalah artinya sebuah nama? Masalahnya, kendati tubuhku semontok karung beras, guru ngaji itu juga mengajar silat. Jadi apa yang bisa kuperbuat? Sepulang dari surau, aku langsung ke sawah. Menjelang pucuk malam, aku mengendap-endap mendekati surau dengan karung di pundak. Di Minang ada kebiasaan anak-anak lelaki yang mulai dewasa tidak tidur lagi di rumah orang tuanya, tapi di surau. Malam itu ternyata hanya sedikit murid tidur di sana. Sedangkan guru mengaji yang rajin berkhalwat kepada Allah Ta'ala itu kuintip tengah mengerjakan shalat malam. Saat yang pas untuk melepaskan 15 katak dan 23 belut tangkapan malam itu ke dalam surau. Lalu aku menjauh, menunggu. Tak lama kemudian, terdengar kehebohan luar biasa dari surau gelap itu. Hampir semuanya memekik histeris. Lalu pintu terbuka, guru mengajiku keluar seperti hendak mencari si pelaku. Untungnya bulan malas bercahaya. Aku melangkah pulang dengan hati puas. Baru sebulan kemudian aku berani mengaji lagi, setelah yakin guru itu lupa dengan serangan katak dan belut. Lalu aku melanjutkan sekolah di SMA 1 Bukittinggi. Saat itu film Catatan Si Boy yang meledak di Jakarta bergaung juga gemanya sampai ke ruang kelas kami. Maka aku lupakan nama James. Namaku menjadi Boy. Aku bergaya seperti Onky Alexander dengan kerah baju diluruskan ke atas, meskipun kalau mau setia pada tokoh di film, wajahku terlihat lebih mirip Emon karena rambut ikalku serta postur dengan berat 82 kilogram dan tinggi 164 sentimeter. Terlalu berat? Tidak juga. Jangan lupa aku berasal dari Kapau. Kalau baru menyantap sepiring nasi, rasanya seperti baru makan sehelai roti. Jumlah kehadiranku di dalam kelas sebanding dengan jumlah ketidakhadiranku. Aku lebih suka nongkrong bersama beberapa teman di jembatan Limpapeh yang menghubungkan Kebun Binatang dan Benteng Fort de Kock. Jembatan itu terbentang di atas Jalan Achmad Yani, jalan utama di Bukittinggi. Jembatan ini tempat paling nyaman untuk melihat turis asing lalu lalang. Terutama turis wanita yang sering malas berpakaian lengkap seperti perempuan kita. Tak ada turis yang berbaju kurung, apalagi berkerudung. Jika mereka tersenyum, aku merasa melayang seperti balon gas. Bosan di Limpapeh, aku menyelinap ke bioskop yang pernah diceritakan ibu, meski aku harus hati-hati karena warung bubur kampiun ayahku ada di dekat situ. Pertama agar tidak tertangkap basah sedang bolos. Kedua, aku tak mau ada teman yang tahu bahwa ayahku tukang bubur kampiun. Sekali kenyataan ini tersebar, duniaku kiamat selamanya. Maka semua film di bioskop itu kutonton tanpa peduli. Aku lebur dalam segala peran. Ketika menonton Rambo, aku melihat wajahku di tubuh kekar Sylvester Stallone. Tampan sekali. Aku bahkan menirukan gaya bicaranya yang terdengar seperti sapi mengunyah kelereng. Betapa pun seringnya aku bolos, aku tak pernah tinggal kelas. Bahkan aku selalu bisa masuk tiga besar. "Beruntunglah otakmu encer, Buyung," kata guru sejarah yang selalu menolak memanggilku Boy. Menurut teorinya, Buyung itu justru versi lokal Minang terhadap boy dan young. Aku tak tahu apakah ia serius atau bergurau. Yang jelas terhadap pendapat ini, aku bercita-cita ingin membuat sebuah film dokumenter tentang legenda Minang yang syahdan pernah disinggahi Iskandar Zulkarnain Yang Agung ketika "dunia masih sebesar telur ayam". Saat pengumuman kelulusan SMA diumumkan, aku menjadi juara umum kedua. Hampir tak ada yang percaya. Tapi inilah hidup, tak semua fakta bisa kita percaya, bukan? Tekadku sebulat tubuhku: masuk Institut Kesenian Jakarta. Aku ingin menjadi aktor. Di Jakarta nama Boy ternyata banyak sekali. Aku ingin berbeda, modern sekaligus khas. Maka kupilih nama Jems Boy Chaniago. Panggilan: Jembi. Ketika teman-teman mendengar ini mereka tertawa terbahak-bahak. Para mahasiswa beramai-ramai menyiramku dengan es cendol di depan Kafe Alex. Mendadak rambutku seperti Bob Marley. Mahasiswi terkekeh-kekeh geli. "Idih, jorok sekali sih namamu," teriak salah seorang. Aku jadi malu setelah seseorang membisiki betapa mengerikannya bila mereka harus memanggil namaku di tengah keramaian. Setelah mengutak-atik beberapa pilihan, hatiku berkata: Jaby Chan. Ya, ini pilihan terbaik. Jaby tentu saja dari James Boy. Yang penting terdengar mirip Jacky Chan, idolaku saat itu setelah tahu Jacky hampir tak pernah menggunakan stunt man dalam film-filmnya. Aku pun mulai serius membentuk tubuh biar terlihat mirip Jacky. Lumayan juga hasilnya. Beratku turun dari 82 menjadi 74 kilo. Otot-otot perutku mulai terlihat six-pack. Aku pun ikut kursus tertulis ortopedi. Tinggi tubuhku terdongkrak 2 senti dari 164 menjadi 166 cm. Aku juga berterima kasih kepada para penemu matematika, sehingga jika angka itu dibulatkan, maka tinggiku sekarang 1,7 meter. Lumayan. Tinggi dan berat badan baru inilah yang kupasang di curriculum vitae sebelum kusebar ke beberapa artist management. ~ MEMASUKI kuliah tahun kedua, ayahku wafat. Aku tak sempat menghadiri pemakamannya karena terikat kontrak dengan sebuah produksi film laga. Jika aku nekad pulang, bukan saja kontrak diputus, aku malah harus bayar ganti rugi. Sialan! Di dunia film aku mulai merasakan ritme kehidupan Jacky Chan – meski cuma urusan stunt man. Soalnya peran utama tetap jatah bintang film terkenal meski berotak bagal. Aku hanya pemeran pengganti. Ada di film, tapi tak dikenali penonton. Yang mengenaliku justru dukun urut patah ulang di Jakarta Selatan. Itupun setelah beberapa kali aku ke sana. Hari kelima setelah pemakaman aku bisa pulang melihat tanah pusara yang masih merah. Ibu bertanya apakah aku tak ingin melanjutkan usaha bubur kampiun. Aku menggeleng tegas. Ia mengangguk lemah seraya mengangsurkan sepucuk surat. "Dari ayahmu." "Kapan ayah memberikan?" "Dia menulisnya sudah lama sekali. Pesannya tolong diberikan kepadamu jika dia meninggal." Aku masuk kamar, membuka surat itu. Tanggalnya menjelang aku lulus SMA. Isinya singkat: Anakku, maafkan jika selama ini ayah membuatmu malu di hadapan teman-temanmu. Ayah memberimu nama yang salah. Kebodohan dan sifat besar kepala ayah yang menyebabkan itu, bukan niat hati. Karena itu jangan kau ulangi lagi kebodohan ini pada anakmu kelak. Jika ajal menjemput ayah lebih cepat, semoga kau bisa memaafkan kesalahan tukang bubur tua ini yang membuatmu menanggung malu seumur hidup. Ayahmu. ~ SURAT itu kini tersimpan rapi meski sudah kubaca ratusan kali selama 10 tahun terakhir. Aku tak bermimpi lagi menjadi aktor. Aku beralih profesi menjadi sutradara. Bulan depan aku berangkat ke Sundance Film Festival. Film pertamaku berhasil menembus seleksi resmi mereka. Di situs mereka tertulis sebaris informasi tentang judul filmku: Ode to My Father (Jems Boyon – Indonesia). Kalimat itu terlihat kabur di mataku yang basah. Seaneh apa pun ayah memberi nama, yang ia hadiahkan adalah segunung cinta. Aku saja yang terlambat melihat. Jakarta, 11 Mei 2006 *padusi = perempuan **adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah = adat bersendi syariat (Islam), syariat bersendi Kitab Allah. minds are like parachutes. they work best when open. -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
