Kok ditanyo jaleh-jaleh, ambo bukan fotografer, labiah cocok disabuik suko mamoto atau hobby sajo. Namun pun baitu, ado sajo nan mintak baraja untuak mamoto ko. Ambo sendiri indak pulo barek untuak share pengetahuan nan ado. Jadi kalau ado nan ingin baraja, selalu ambo suruah bao kamera, kudian cobo dipatiak, baru inyo bisa batanyo apo nan paralu ditanyo.
Baraja babeda jo badebat, ilmu nan kito punyo indak pulo banyak, hanyo bisa di share nan kito tahu pulo. Mangko dek itu ambo alun bisa manyabuik awak ko fotografer. Kok ado nan mangajak badebat mengenai foto, ambo galak sajo, sabab wakatu ko sabana baharogo daripado dihabihkan untuak batikai jo kato-kato. Kok ka baraja, iyo didanga jo dikarajokan apo nan disuruah, saroman baraja silek maso ketek daulu. wasalam AZ/lk/34th/caniago Kubang, sadang di kampuang babako ka Canduang Koto Laweh, Agam ________________________________ Dari: Akmal N. Basral <[email protected]> Kepada: "[email protected]" <[email protected]> Dikirim: Minggu, 2 September 2012 8:36 Judul: Re: [R@ntau-Net] (OOT) Cerpen "Boyon" Selamat pagi kanda ZulTan di Bogor, Wah pertanyaannya kelas berat semua, seperti sedang dalam kelas Teknik Editing atau Apresiasi Prosa :) Cerpen "Boyon" ini pertama kali muncul di Koran Tempo Minggu, dengan editor (tamu) sastrawan Nirwan Dewanto. (Kalau tidak salah, sampai sekarang Nirwan masih di posisi ini). Syarat teknis cerpen koran yang maksimal 10.000 karakter membuat versi koran agak sedikit berbeda dengan cerpen asli yang hampir 15.000 karakter, atau 1,5 kali lebih panjang. Secara umum, cerpen tak ubahnya seperti Asinan Bogor atau Pecal. Di Cibubur ada Asinan Bogor Ibu Yenny yang terkenal (bukan Asinan Bogor Ibu "Non-Yenny"). Di Bukittinggi, ada Pical Si Kai. Kalau kedua kandungan makanan ini dianalisis ahli nutrisi atau ahli gizi secara cermat, mungkin tak ada lagi orang yang mau berkunjung makan. Tapi seringkali enaknya makanan bukanlah tergantung pada pengetahuan si pencecap tentang komposisi karbo, protein, dll. Horace mempostulasikan sifat ini dalam sastra sebagai "dolce et utile" (manis dan berguna). "Manis" adalah sebuah kondisi yang berbeda dengan "normal". Kadar "manis" pun berbeda bagi setiap orang. Begitu juga dengan "berguna". Apa yang menurut Horace "berguna" dari sebuah karya, mungkin kurang gunanya bagi pembaca lain. Tetapi, secara rata-rata, pembaca/pendengar/penonton paling awam bisa mengetahui mana karya sastra/film/musik yang "manis dan berguna". Karya-karya yang "benar" secara aturan gramatika, seringkali menjadi "klinis", kering, dan akibatnya, tak memenuhi kaidah "dolce et utile". Itu sebabnya sastra bisa menerima gaya penulisan "mubazir" yang disebut Pleonasme, bentuk majas yang "lebay" meminjam istilah anak muda sekarang. (Badu maju ke depan, contohnya. Masak sudah jelas "maju" masih perlu ditambah "ke depan" pula, menurut logika bahasa yang efektif. Tapi dalam konteks sebuah karya ini yang menjadi "manis"-nya karya itu). Ada contoh lucu tentang seseorang yang punya kebiasaan menakar pemakaian bahasa secara kritis, ketika orang ini berkunjung ke pasar. Dia mampir ke sebuah los penjual ikan yang memasang tulisan "DI SINI JUAL IKAN SEGAR" yang ditulis indah untuk menarik minat pembeli. Sang "kritikus" langsung bertanya, "Kemarin saya lihat belum ada tulisan itu, kapan dipasangnya? Dan apa gunanya?" "Memang baru dipasang Tuan," jawab penjual ikan. "Semoga semakin banyak pengunjung pasar ini yang membeli ikan saya setelah membaca tulisan itu." "Tetapi itu mubazir," jelas Sang Kritikus. "Semua pengunjung pasar ini tahu bapak menjualnya di sini, bukan di sana. Jadi mengapa harus ada tulisan DI SINI? Coba bapak pikirkan." Seperginya Sang Kritikus, penjual ikan memutuskan bahwa pendapat itu benar, sehingga dia memotong bagian kayu yang bertuliskan kata "DI SINI", sehingga yang tersisa hanya "JUAL IKAN SEGAR" Keesokan harinya Sang Kritikus datang lagi ke los ikan itu, melihat pada tulisan yang sudah lebih pendek dan bertanya kepada si penjual ikan, "Jadi selama ini bapak menjual ikan TIDAK segar ya?" Kagetlah si penjual ikan sampai berteriak, "Demi Allah dan RasulNya, tak pernah sekali pun saya menjual ikan busuk yang menipu pembeli." "Kalau begitu untuk apa ada kata SEGAR di sana?" tunjuk Sang Kritikus pada kalimat di atas kepalanya. Sepulangnya Sang Kritikus, penjual ikan yang merasakan ada benarnya pendapat itu, memotong tulisan SEGAR, sehingga kini yang tersisa hanya JUAL IKAN. Besok harinya, Sang Kritikus kembali ke pasar itu. Sambil melewati los ikan, dia berkata kepada sang penjual, "Saya tidak tahu kalau sebelum ini bapak selalu memberikan gratis ikan-ikan kepada orang lain." Bingunglah si penjual ikan dan bertanya, "Kenapa bapak berpikir begitu? Bukankah bapak tahu bahwa ini pasar, tempat jual beli." "Kalau begitu kenapa harus dijelaskan dengan kata JUAL," sambar Sang Kritikus. "Bukankah tanpa tulisan itu pun orang-orang tahu bahwa bapak menjual ikan, bukan membagi-bagikan dengan gratis?" Maka untuk ketiga kalinya si penjual ikan pun menghilangkan tulisan itu sehingga hanya tersisa kata "IKAN" saja. Selesai? Belum sama sekali. Keesokan harinya lagi Sang Kritikus yang lewat di depan los ikan memanggil seorang anak kecil yang ada di dekatnya, membuat si penjual ikan bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan Zang Kritikus. Rupanya lelaki itu bertanya kepada sang bocah, "Nak, kau tahu hewan apa itu?" katanya sambil menunjuk pada tumpukan ikan si penjual. "Ikan," jawab si anak. "Nah, bapak lihat sendiri bukan," ujar Sang Kritikus kepada si penjual ikan, "bahkan anak kecil pun tak perlu dibantu dengan tulisan IKAN untuk tahu bahwa yang bapak jual adalah ikan. Kecuali bapak menjual hewan yang namanya tak diketahui pengunjung pasar, maka tak ada guna sama sekali tulisan IKAN itu masih bapak pampang selain menunjukkan kemubaziran saja." Akhirnya pada akhir hari yang malang itu, sembari membereskan los dagangan, si penjual ikan membuang kata terakhir IKAN di losnya ke dalam tong sampah bersama sisa-sisa kotoran ikan. Moral of the story: jangan berjualan ikan pada kritikus bahasa, juallah pada ibu-ibu rumah tangga yang membutuhkan, hehehe.... Selamat berakhir pekan bersama keluarga Kanda ZulTan. Salam, Akmal Nasery Basral Cibubur -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
