Assalamu'alaikum Wr. Wb anggota milis WM yang budiman,
terlampir adalah kolom Prof. KH Ali Mustafa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal, 
yang pernah dimuat majalah Gatra, dan sudah dijadikan buku dengan berjudul sama 
(2010).  Tema ini menurut saya relevan bagi semua muslim mengingat musim haji 
yang sudah di depan mata. 

Jadi artikel ini bukan saya tujukan untuk orang per orang, melainkan sebagai 
pengingat agar jangan ghuluw (berlebihan) dalam beribadah, dengan justifikasi 
apa pun. 

Wallahu a'lam bish shawab,

Akmal Nasery Basral

* * *HAJI PENGABDI SETAN
Ali Mustafa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Jamaah haji Indonesia yang pulang ke Tanah Air, bila mereka ditanya apakah Anda 
ingin kembali lagi ke Mekkah, hampir seluruhnya menjawab, ”Ingin.” Hanya 
segelintir yang menjawab, “Saya ingin beribadah haji sekali saja, seperti Nabi 
SAW.”

Jawaban itu menunjukkan antusiasme umat Islam Indonesia beribadah haji. 
Sekilas, itu juga menunjukkan nilai positif. Karena beribadah haji berkali-kali 
dianggap sebagai barometer ketakwaan dan ketebalan kantong. Tapi, dari kacamata 
agama, itu tidak selamanya positif.

Kendati ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, bagi umat Islam, ia baru 
diwajibkan pada tahun 6 H. Walau begitu, Nabi SAW dan para sahabat belum dapat 
menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. 
Setelah Nabi SAW menguasai Mekkah (Fath Makkah) pada 12 Ramadan 8 H, sejak itu 
beliau berkesempatan beribadah haji.

Namun Nabi SAW tidak beribadah haji pada 8 H itu. Juga tidak pada 9 H. Pada 10 
H, Nabi SAW baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Nabi SAW wafat. 
Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wida’ (haji perpisahan). Itu 
artinya, Nabi SAW berkesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau 
menjalaninya hanya sekali. Nabi SAW juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun 
beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji 
sekali. Mengapa?

Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Nabi SAW lebih 
dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran Nabi SAW adalah memberi uswah 
(teladan) bagi umatnya. Selama tiga kali Ramadan, Nabi SAW juga tidak pernah 
mondar-mandir menggiring jamaah umrah dari Madinah ke Mekkah.

Dalam Islam, ada dua kategori ibadah: ibadah qashirah (ibadah individual) yang 
manfaatnya hanya dirasakan pelakunya dan ibadah muta’addiyah (ibadah sosial) 
yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain. Ibadah haji dan umrah 
termasuk ibadah qashirah. Karenanya, ketika pada saat bersamaan terdapat ibadah 
qashirah dan muta’addiyah, Nabi SAW tidak mengerjakan ibadah qashirah, 
melainkan memilih ibadah muta’addiyah.

Menyantuni anak yatim, yang termasuk ibadah muta’addiyah, misalnya, oleh Nabi 
SAW, penyantunnya dijanjikan surga, malah kelak hidup berdampingan dengan 
beliau. Sementara untuk haji mabrur, Nabi SAW hanya menjanjikan surga, tanpa 
janji berdampingan bersama beliau. Ini bukti, ibadah sosial lebih utama 
ketimbang ibadah individual.

Di Madinah, banyak ”mahasiswa” belajar pada Nabi SAW. Mereka tinggal 
di shuffah Masjid Nabawi. Jumlahnya ratusan. Mereka yang disebut ahl 
al-shuffah itu adalah mahasiswa Nabi SAW yang tidak memiliki apa-apa kecuali 
dirinya sendiri, seperti Abu Hurairah. Bersama para sahabat, Nabi SAW 
menanggung makan mereka. Ibadah muta’addiyah seperti ini yang diteladankan 
beliau, bukan pergi haji berkali-kali atau menggiring jamaah umrah tiap bulan.

Karenanya, para ulama dari kalangan Tabiin seperti Muhammad bin Sirin, Ibrahim 
al-Nakha’i, dan  alik bin Anas berpendapat, beribadah umrah setahun dua kali 
hukumnya makruh (tidak disukai), karena Nabi SAW dan ulama salaf tidak pernah 
melakukannya.

Dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim ditegaskan, Allah dapat ditemui di sisi 
orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW 
tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka’bah. Jadi, Allah berada 
di sisi orang lemah dan menderita. Allah dapat ditemui melalui ibadah sosial, 
bukan hanya ibadah individual. Kaidah fikih menyebutkan, al-muta’addiyah afdhol 
min al-qashirah (ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual).

Jumlah jamaah haji Indonesia yang tiap tahun di atas 200.000 sekilas 
menggembirakan. Namun, bila ditelaah lebih jauh, kenyataan itu justru 
memprihatinkan, karena sebagian dari jumlah itu sudah beribadah haji 
berkali-kali. Boleh jadi, kepergian mereka yang berkali-kali itu bukan lagi 
sunah, melainkan makruh, bahkan haram.

Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat 
bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, banyak 
orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang makan nasi aking, dan 
banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji 
kedua atau ketiga kalinya, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah 
haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah?

Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara 
kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti 
Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau 
sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang 
awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka 
berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan.

Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan, setan hanya menyuruh kita 
berbuat kejahatan atau setan tidak pernah menyuruh beribadah. Mereka tidak tahu 
bahwa sahabat Abu Hurairah pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap 
malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan setan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.

Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa 
kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk 
minum khamr. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. 
Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan 
hawa nafsunya, maka saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat 
padanya. 

Wa Allah a’lam.
 * * *

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke