Baa lo ko? Apo ado urang nan agamonyo bagus tapi akhlaknyo kurang? Baa logika e tu? Gak heran ambo. Manuruik aka ambo nan bodoh ko: indak mungkin doh kalau ado urang nan baagamo bagus tapi akhlaknyo akhlaknyo kurang. Kalau urang baagamo bagus pasti akhlaknyo mulia. NAN MUNGKIN HANYO: URANG NAN PAMER KA URANG BANYAK SAOLAH2 URANG SALIAH, KUPIAH BILUDU BAKILEK, KAIN BUGIH RANCAK BASANDANG TARUIH, 6 KALI SUMBAYANG KA SURAU/MUSAJIK, TAPI TUNGGANG TUNGGIK SAJO, korupsi jalan taruih deknyo. Nah, urang co iko bisa ko akhlaknyo kurang. Maaf, paniang awak soal agamo jo akhlaknyo di Nugari awak ko. Wassalam, Suryadi
________________________________ Dari: Dr Saafroedin Bahar <[email protected]> Kepada: Rantau Net Rantau Net <[email protected]> Dikirim: Selasa, 16 Oktober 2012 13:07 Judul: Re: [R@ntau-Net] Partanyoan. Ambo sato batanyo, Sanak Muljadi, dan akan manyimak apo jawabannyo. ( Btw ambo takana novel/cerpen "Robohnya Surau Kami" karangan AA Navis). Wassalam, SB. Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. Pertanyaan: Mana yang lebih utama, seorang yang agamanya kurang tetapi akhlaqnya bagus atau seorang yang agamanya bagus (iltizam/kokoh dalam mengamalkan syariat) tetapi akhlaqnya kurang? Dan bagaimana hubungannya dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam, “akhlaq yang baik akan pergi membawa dua kebaikan, kebaikan dunia dan akhirat” [1] sebagaimana jawaban beliau terhadap Ummi Salamah? Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin rahimahullah Menjawab: Tidak diragukan lagi bahwa termasuk dari kesempurnaan agama adalah sempurnanya akhlaq, sebagaiamana telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alahi wassallam bahwa beliau bersabda, “Muslim yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaqnya” [2]. Oleh karena itu, orang yang akhlaqnya kurang maka sejatinya agamanya juga kurang karena kesempurnaan agama menuntut bagusnya (atau sempurnanya) akhlaq. Dan (sebaliknya) sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya[3] bahwa bagusnya akhlaq akan tergambar dalam muammalahnya dengan makhuq dan sang Khaliq. Maka jelas bahwa sempurnya akhlaq juga dengan sempurnanya agama [4]. Sesungguhnya pengaruh seorang yang memiliki kesempurnaan akhaq terhadap sesama, seperti untuk menarik dan membawanya kedalam agama Islam, tentu lebih besar pengaruhnya dari pada seorang yang beragama tetapi berakhlaq buruk. Dan jika ada orang yang agamanya kuat ditambah baik akhlaqnya maka yang demikian adalah lebih sempurna lagi. Adapun menganggap lebih utama orang yang kuat ibadahnya saja tetapi akhlaqnya buruk maka itu masalah yang tidak bisa dipastikan. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan mewafatkan kita atas yang demikian itu. Dan menjadi wali kita di dunia dan akhirat. Dan semoga tidak menjadikan penyakit di hati kita setelah Dia menunjukinya. Dan menganuregahi kepada kita rahmatNya sesungguhnya Dia Maha Pemberi. Diterjemahkan dari Kutaib “Makaarimu Al Akhlaq” oleh syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah. Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 12 Shofar 1433 H (6 Jan 2011) - -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
