http://indrapiliang.com/2012/10/23/menikam-jejak-mencari-akar/ 

Selasa, 23 October 2012
Menikam Jejak, Mencari Akar

Oleh
Indra J Piliang *)

Entah
 mengapa, saya tidak terlalu pandai melakukan perencanaan hebat di 
bidang politik. Biasanya, saya mengandalkan intuisi, menggunakan gerak 
hati. Walau saya lebih banyak menggunakan nalar sebagai intelektual, 
namun dalam politik, intuisi atau bahasa hati saya lebih menonjol. 
Makanya, tidak ada yang tahu saya mau bergerak kemana, bahkan saya 
sendiri pun tidak tahu. Bunda, istri saya tercinta, sangat paham dengan 
“perubahan demi perubahan” ini dalam hidup saya. 

Barangkali, 
sikap saya itu dibentuk oleh tanah kelahiran saya, Kota Pariaman. Kota 
yang dilalui debur ombak. Pada masa kanak-kanak, saya menikmati betul 
suasana ombak ini, ditambah dengan pengalaman tinggal di Kepulauan 
Mentawai. Sampai usia SMA, saya adalah anak kampung yang terbiasa 
menyeberangi sungai tanpa perahu. Setiap pekan, bahkan setiap hari 
ketika saya di SMP. Alhamdulillah, apapun akhirnya yang saya pilih dari intuisi 
atau bahasa hati itu, saya tetap mensyukurinya, melaluinya, mengalir saja. 

Itu
 juga yang terjadi ketika saya kemudian memutuskan untuk mengambil 
formulir pendaftaran sebagai Calon Walikota Pariaman periode 2013-2008. 
Fitra Yandi, tim IJP 09 Center, memberi informasi bahwa Partai Golkar 
membuka pendaftaran pada tanggal 22 Oktober 2012. Kami ada di 
Bukittinggi bersama Sahrul dan Wen. Tapi saya tidak tertarik 
mendiskusikan itu. Sepanjang jalan, saya hanya berdiskusi tentang 
Pariaman, Padang Pariaman dan Sumbar di masa lalu dan ke depan. 

Pagi
 tanggal 22 Oktober 2012, saya ke kebun buah naga. Bekerja sampai pukul 
14.00. Dari mencangkul, membersihkan sunur-sunur yang tumbuh, sampai 
memberikan  petunjuk kepada dua orang adik saya. Kebun buah naga kecil 
kami sudah menghasilkan buah, namun belum maksimal. Bulan September 
menghasilkan 200 kg lebih, bulan Oktober ini masih di angka 100 kg. 
Banyak buah kecil yang muncul, akibat dikawinkan lebah di malam bulan 
pernama. Saya masih melihat kondisi kebun belum seperti kebun 
sebagaimana yang saya bayangkan.  Kedua adik saya memang bukan petani 
profesional. Saya dan kedua kakak saya jauh lebih banyak berkebun, 
dibanding mereka, di masa kecil. 

Pukul 15.00 saya bergerak 
menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Terlebih dahulu saya 
mengirim pesan kepada seorang staf bandara yang terbiasa mengambilkan 
kursi untuk saya. Jadi, ada waktu, mengingat pesawat take off di jadwal pukul 
17.50 WIB. Di saat itulah Fitra Yandi minta saya untuk 
singgah di DPD Partai Golkar Kota Pariaman. Rencananya, membuat kejutan. Kami 
disambut oleh Mardison Mahyuddin, Ketua DPD Partai Golkar Kota 
Pariaman. Terjadi diskusi dalam waktu sempit. Otak saya bergerak. Saya 
langsung memutuskan untuk mengambil formulir pendaftaran, mengisi daftar absen. 
Sejumlah wartawan dipanggil, tapi hanya dua orang yang hadir. 

Done! Bismillah... Saya menerima berkas pendaftaran dari Mardison Mahyuddin. 

Lalu
 saya berangkat  ke BIM. Di perjalanan baru diskusi digelar kembali 
dengan tiga orang tim saya. Biasanya, saya tidak bisa lagi mengubah 
sebuah keputusan yang sudah saya ambil. Rencana disusun. Untunglah, kami
 sudah punya banyak pengalaman selama proses pemilu legislatif tahun 
2008. Suara yang saya dapat di Kota Pariaman memang di bawah ekspektasi.
 Namun, Partai Golkar Kota Pariaman mengalami peningkatan kursi dari dua
 kursi menjadi tiga kursi. Satu kursi diraih dari posko pusat saya di 
Pariaman Selatan. Partai Golkar naik dari posisi nomor enam dalam pemilu
 2004 menjadi nomor dua pada pemilu 2009 di dapil Pariaman Selatan. 

Kota
 Pariaman adalah wilayah yang keras. Masyarakatnya egaliter, terbuka dan
 individualistis. Komunalisme berbentuk pengajian dan hoyak tabuik. Kota 
Pariaman adalah tempat tinggal banyak elite, baik dari Padang 
Pariaman maupun dari Kota Pariaman sendiri. Orang-orangnya berpendidikan berada 
lapisan atas, terutama pegawai negeri. Namun, bukan berarti 
tidak ada kemiskinan. Banyak, terutama di kawasan nelayan. Sebagaimana 
kota pada umumnya, Kota Pariaman juga menyimpan kondisi kesenjangan 
strata sosial. 

Akun twitter @Padang Ekspres menyapa 
saya, sesampai di Jakarta. Apakah benar saya mendaftarkan diri sebagai 
Walikota Pariaman? Saya mengiyakan. Segera diskusi panjang mengalir, 
sampai hari ini. Akun twitter saya (@IndraJPiliang) bertaburan mention. Saya 
bersyukur dengan dukungan yang mengalir dari Aceh sampai Papua. 
Tapi saya gamang, mereka bukan pemilih. Pemilihnya adalah warga Kota 
Pariaman sendiri. 

Saya segera mengirimkan pesan singkat kepada 
petinggi partai, yakni Ketua Umum Aburizal Bakrie dan Ketua Bidang 
Kajian Kebijakan Rizal Mallarangeng. Keduanya memberikan restu. Bang ARB
 meminta saya untuk sering turun ke Kota Pariaman. Restu juga datang 
dari Fahmi Idris, mantan Menteri Perindustrian yang baru saja 
mendapatkan gelar Doktor. Tentu restu itu belum cukup. Saya harus 
mengirimkan kabar kepada tokoh-tokoh yang lain. 

Apa yang akan saya lakukan? Menikam jejak, mencari akar. Tahun 2008 saya pulang 
ke kampung dengan tagline “Pergi ke Rantau Mencari Ilmu, Pulang ke Ranah 
Menemui Guru. Pergi ke 
Rantau untuk belajar, Pulang ke Ranah mencari akar.” Kini, saya tinggal 
menikam jejak sendiri, jejak yang sudah lama ada di Kota Pariaman. Jejak sejak 
tanggal 19 April 1972, ketika saya dilahirkan di Kampuang Perak. Wallahu ‘Alam. 

*) Ketua Alumni SMA 2 Pariaman, Ketua Balitbang DPP Partai Golkar dan Wakil 
Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia 
(2010-2015). 

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke