Wa'alaikum salam. Terlalu jauh membandingkan dengan Sanghai atau Hongkong. Nan ambo caliak di lapangan, kondisi nelayan paliang sulik di Piaman. Dulu terkenal dg sebutan "urang pasie" nan karajonyo pacakak, susah diajak mangecek. Sampai kinipun kondisinyo mirip. Ambo pai ka lauik, mamanciang seharian, mancaliak terumbu2 karang hancue kanai bom ikan.
Kalau sektor nelayan jo tambak sajo diperbaiki, ndak ka HIV bagai nan datang doh. Baitu juo di pasie2 nan lain, dari Piaman sampai ka Tiku. Kampuang2 nelayan sabana buruak. Sadiah hati mancaliaknyo. Kama pitih ka dicari mambuek Sanghai di Tiku, Sungai Limau, jo Tiku? Tapi untuak mambuek kampuang2 nelayan lebih berperadaban, bisa dialokasikan dari dana2 APBN jo APBD. Sent from my iPad On 3 Nov 2012, at 19:47, "Muljadi Ali Basjah" <[email protected]> wrote: > Assalamualaikum Wr.Wb. Yth. Bapak Indra J.Piliang sarato para Pambaco yang > budiman. > > Tampak2nyo, Pak Indra calon WaKo iko kasatirehannyo jo Peer Steinbrück > kandidat Kanselir Juruman, mantan Gubernur NRW, Mantan Menteri Keuangan > Juruman. > Bagi nan ingin tahu kamiripan dan pabedoannyo, sila caliak masiang2, sarato > manuruik interpretasi masiang2. > > Kalau impian Pak Indra... nio, mambuek palabuahan Kapa lauik ("Malin > Kundang") nan dalam, kirop2 mnyaingi Singapuar jo Shanghai, pasan ambo tolong > teliti bana dulu, bara panjang angok kito, bara banyak "Jaga" kito nan ka > dijua/diangkuik urang. Ijan lupo pulo Kutub2 nan lah muloi mancaia, co > Shanghai diprediksi kemahalan (12 Milliard Dollar??) dan kamungkinan > tenggelam. Selain intern basaiang jo Hongkong pulo. Dilain itu, kapa2 > raksasa, tendesial lah mulai manurun dek polusi jo minyak nan mulai > maha/bakurang. > Alun lai effekt2 negativ untuak lingkuangan alam nan dibeong dek Kapa2 > Raksasa. > Usah tampaik basanda kapa2 Parang USA/GI nan di pangkalan Diego Garcia. > Panyakik nan tibo beko, antaro lain HIV etc. etc. > > > > Wassalam, > Muljadi ALi Basjah. > > -------- Original-Nachricht -------- >> Datum: Thu, 1 Nov 2012 05:31:13 -0700 (PDT) >> Von: Indra Jaya Piliang <[email protected]> >> An: Rantau Net <[email protected]> >> Betreff: [R@ntau-Net] Iko Jaleh Piaman! (2) > >> http://indrapiliang.com/2012/11/01/iko-jaleh-piaman-2/ >> >> Iko Jaleh Piaman! (2) >> Kamis, 1 November 2012 >> Iko Jaleh Piaman! (2) >> Oleh >> Indra J Piliang *) >> >> >> Bagi masyarakat Minangkabau, Pariaman tidak termasuk dalam kategori ranah >> (luhak). Ada tiga luhak di Minangkabau, yakni Luhak Lima Puluh Kota, >> Luhak Agam dan Luhak Tanah Datar. Pariaman hanyalah rantau. Namun, dalam >> kaitannya dengan agama Islam, Pariaman adalah wilayah pertama yang >> ditempati oleh Syech Burhanuddin, ulama asal Aceh yang dipercaya sebagai >> pembawa agama Islam ke Minangkabau. Makam Syech Burhanuddin bertempat >> di Ulakan yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Padang Pariaman. >> >> >> Karena itu pula, Pariaman dikenal sebagai pusat dari nama-nama yang >> terkait >> dengan Syech Burhanuddin. Ada dua perguruan tinggi yang membawa nama >> ini, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syech Burhanuddin dan Sekolah >> Tinggi Ilmu Tarbiyah Syech Burhanuddin, keduanya terletak di Kota >> Pariaman. Keberadaan nama Syech Burhanuddin itulah yang menempatkan >> image bahwa masyarakat Pariaman adalah masyarakat relegius, terutama >> dikaitkan dengan tarekat Syattariyah. >> >> >> Di masa kecil, saya sering mendengar pembicaraan soal tarekat demi tarekat >> ini. Tidak jarang orang-orang di Pariaman menuntut ilmu (mengaji) ke >> tempat-tempat lain. Perdebatan tentang hubungan manusia dengan Allah SWT >> berlangsung di banyak surau, terutama setelah semua orang tidur. Karena saya >> tinggal di Kampuang Tangah, Lansano, Sikucur Selatan, tentu ada >> perasaan bahwa orang yang tinggal di Pariaman jauh lebih maju dari kami. >> Kemajuan itu dilihat dari peralatan yang dimiliki dan dipakai, seperti >> kendaraan, telepon, sampai televisi. >> >> >> Saya semakin mengenal Kota Pariaman ketika masuk SMA 2 Pariaman >> (1988-1991). Sama sekali tidak ada perasaan minder dari sisi ilmu >> pengetahuan, >> selain saya berasal dari keluarga berkekurangan. Jarang saya memiliki >> baju yang layak untuk dipakai dalam kegiatan non sekolah. Saya memasak >> sendiri di rumah kos, bersama Sahrul Chaniago, sesama jurusan Fisika >> yang kini jadi sahabat saya. Pagi ke pasar membeli kentang dan ikan >> asin, lalu memasaknya. Sepatu hanya satu, itupun sobek dengan merkDragon >> Fly. >> Di akhir pekan saya kembali ke Kampuang Tangah, Kecamatan V Koto Kampuang >> Dalam. Terkadang, sungai banjir, sehingga terpaksa menunggu air surut >> selama berjam-jam. Tidak ada jembatan penyeberangan. Kalaupun ada ban >> bekas, itupun yang memiliki tidak banyak orang. Kampung ibu saya memang >> baru dimasuki listrik pada tahun 2002 lalu, kemudian memiliki jembatan >> gantung tahun 2008. Alhamdulillah, sekarang sudah ada jembatan permanen, >> dibangun atas bantuan Kerajaan Oman pasca gempa bumi hebat 2009. >> >> >> *** >> >> >> Karena lahir di Kota Pariaman, saya mengetahui kota ini dari ayah saya, >> Boestami Datuak Nan Sati. Ayah bekerja di kantor Bupati Padang Pariaman >> (waktu itu masih meliputi Kota Pariaman dan Kabupaten Kepulauan >> Mentawai). Ayah berasal dari Luhak Tanah Datar, tepatnya Nagari Aie >> Angek, Kecamatan X Koto. Sebagai pegawai negeri, ayah di mata saya >> memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Bacaan Intisari menjadi makanan wajib >> kami, begitu juga siaran radio BBC Inggris danABS Australia. Pengetahuan >> saya dibentuk dari apa yang dibaca dan didengar oleh ayah saya. >> >> >> Kota Pariaman dalam ingatan masa kecil saya masih dipenuhi oleh rimbunnya >> pohon baguak (gnetum gnemon, family gnetaceae). Selain itu, pohon ceri >> (kersen) dan tebu. Halaman rumah masih melewati >> jembatan kecil melintasi selokan yang berawa dan berair coklat. Memang >> sudah ada bioskop Garuda. Ci Ayang dan Ci Elok, dua panggilan tante (etek) >> dari pihak Datuak Nullah – keluarga sesuku --, mengajak saya menonton >> di bioskop itu. Sebagai anak kecil, saya tentu ketakutan melihat ada >> kereta api besar hendak melindas, sehingga saya sembunyi di balik >> bangku. >> >> >> Di Pariaman dulu masih banyak kuda bendi, sebagai ciri khas mengangkut >> orang dari dan ke pasar di dekat tepi laut. Inilah ciri yang mulai >> hilang di Kota Pariaman. Kuda bendi ini dihiasi dengan beragam bendera, >> apabila menjelang Tujuh Belasan atau Tabuik Piaman. Dengan kemajuan yang >> kini ada di Kota Pariaman, kuda bendi ini tidak lagi menjadi sesuatu >> yang khas, sebagaimana juga terjadi di kota-kota lainnya. Saya tidak >> tahu, sejak kapan kuda ini menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari >> masyarakat Pariaman, lalu kenapa sekarang malah mulai hilang. Barangkali >> karena aspek perlindungan atas hewan yang mulai meningkat, tetapi lebih >> banyak lagi akibat kendaraan bermotor yang jadi pemandangan keseharian. >> >> >> Laut adalah >> wilayah yang terasa jauh, bahkan ketika saya lahir di Pariaman dan >> sekolah di tingkat SMA. Sama sekali tidak ada keakraban antara manusia >> dengan laut. Sampai sekarang, banyak orang di luar Pariaman masih >> menganggap pantai Pariaman sebagai WC terpanjang di dunia. Dulu, Bupati >> Anas Malik (1980-1990) memberantasnya, dengan cara razia setiap pagi dan >> senja. Bupati ini juga rajin menangkap hewan ternak yang lepas, lalu >> membawanya ke halaman kantor bupati. >> >> >> *** >> >> >> Dengan luas wilayah 73,36 kilometer persegi, Kota Pariaman termasuk >> sebagai >> kota kecil di Indonesia. Menurut sensus 2010, jumlah penduduk Kota >> Pariaman hanya 79.043 jiwa. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari >> laki-laki. Keunikan lain, hanya ada 6 (enam) kota di pantai barat >> Sumatera, yaitu Kota Banda Aceh, Kota Sibolga dan Kota Gunung Sitoli >> (Sumut), Kota Pariaman dan Kota Padang (Sumbar) dan Kota Bengkulu. >> >> >> Rantai atau sabuk enam kota di Pantai Barat Sumatera itu menarik dijadikan >> sebagai panggung Indonesia ke Lautan Hindia. Sebelum Selat Malaka >> dipenuhi kapal, perjalanan dari Eropa ke Amerika dan Australia melewati >> pantai barat Sumatera. Bahkan, penulis terkenal Karl May-pun pernah >> singgah di Teluk Bayur, Padang. Banyak penjelajah dan penulis asing yang >> singgah di kota-kota pelabuhan di pantai barat Sumatera di abad-abad >> lampau, termasuk dari Eropa, India, China dan Arab. >> >> >> Merasa jauhnya masyarakat kota, termasuk Kota Pariaman, terhadap laut juga >> terjadi secara regional, ketika perhatian ke pantai barat Sumatera >> terlalu minim. Maritim masih dianggap sebagai bukan bagian dari proses >> modernisasi Indonesia, juga bukan masa depan umat manusia. Visi >> pembangunan kota dan pantai menjadi penting, apalagi menjadi kota >> pantai. Semacam waterfront city yang memang jadi tujuan berakhir pekan >> secara nyaman di pelbagai negara maju di dunia. >> >> >> Apabila di masa lalu Kota Pariaman masih dikenal sebagai daerah yang >> memiliki >> banyak rawa, termasuk lokasi SMA 2 Pariaman di Rawang (rawa), maka kini >> keadaan itu semakin sedikit. Dengan posisi strategis di pinggir pantai, >> Pariaman bisa menjadikan laut sebagai teman, termasuk sebagai area >> transportasi laut ke Kota Padang – apalagi ke Bandara Internasional >> Minangkabau di Padang Pariaman – ataupun ke Agam dan Pasaman Barat. >> Sabuk alam yang sudah disusun rapi itu, tinggal dimanfaatkan dan >> dimaksimalkan bagi kepentingan masyarakat ke depan. >> >> >> Studi etnografis dan antropologis bisa membawa kita kepada mitos negatif. >> Bahwa Malin Kundang jadi batu, ketika terlalu dekat dengan laut dan >> menjadi saudagar muda yang memiliki kapal layar besar. Akibat >> perangainya yang buruk, Malin Kundang tidak hanya menjadi durhaka kepada >> ibunya, tetapi juga durhaka kepada alam Minangkabau secara luas. Batu >> Malin Kundang membawa masyarakat Minangkabau menjadi bermusuhan dengan >> laut yang membawa kebudayaan asing, berupa lupa pada bundo kanduang. >> Seyogianyalah mitos itu diruntuhkan atau ditafsirkan ulang. Tidak semua >> laut bisa >> membawa seseorang menjadi Malin Kundang. Pembangunan area yang >> berdekatan dengan laut, dengan visi maritim yang jelas, adalah cara >> untuk memecah batu Malin Kundang yang membebani mentalitas manusia >> Minangkabau. Wallahu ‘Alam >> *) Pendiri Nangkodo Baha Institute. >> >> -- >> -- > > -- > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti > subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > > -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
