http://indrapiliang.com/2012/11/06/iko-jaleh-piaman-6/ 
Museum Anas Malik
Iko Jaleh Piaman (6)
Selasa, 6 November 2012
Iko Jaleh Piaman (6) 

Oleh
Indra J Piliang *) 

Banyak
 orang yang bertanya, akan jadi apa saya kelak, setelah lulus dari 
jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UI? Salah satu yang disebut adalah 
bekerja di museum. Saya hampir patah semangat untuk terus kuliah di 
semester pertama dan kedua. Beruntung, orang tua saya tidak berpunya, 
sehingga saya tidak punya kesempatan lagi untuk mengikuti Ujian Masuk 
Perguruan Tinggi Negeri pada tahun berikutnya, 1992. 


Saya justru 
tahu kegunaan ilmu sejarah setelah menamatkan studi dan mulai menulis. 
Ada latar pada sebuah cerita dan analisa, itu sejarah, ibu dari semua 
ilmu (sosial). Krisis ekonomi yang datang pada Juli 1997, bertepatan 
dengan saat saya hendak wisuda. Jadi, tidak satu museumpun akhirnya 
mendapatkan surat lamaran dari saya. Tatanan pemerintahan sudah berubah. Iklim 
demokrasi tumbuh. Era politik dan kebebasan perspun dimulai. 
Setelah kembali ke kampung halaman sebagai politisi, bukan sebagai akademisi, 
saya mulai menggali cerita lama. Perspektif yang tidak akan hilang dalam diri 
saya. Dari Benteng Bukit Tajadi di Bonjol, sampai makam Haji 
Miskin di Pandai Sikek, mulai perlahan saya coba maknai. Di bidang ilmu 
pemerintahan, terbersit mencari sosok-sosok lokal, ketimbang para 
negarawan besar yang hadir dalam buku-buku sejarah. 


Di Pariaman, 
saya menemukan sosok Anas Malik. Banyak tokoh menyebut namanya. Anas 
Malik adalah seorang kolonel TNI Angkatan Darat yang menjadi legenda. 
Anas menjadi Bupati Padang Pariaman pada tahun 1980-1990. Periode saya 
Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Dari ayah saya, terdapat 
cerita soal Anas Malik ini, atasannya ketika menjadi pegawai di kantor 
Bupati Padang Pariaman. Salah satu visi Anas Malik adalah menggabungkan 
Kepulauan Mentawai sampai Kepulauan Nias menjadi salah satu wilayah yang 
dikelola dalam satu tangan. 


Anas Maliklah yang mengubah 
Kabupaten Padang Pariaman, khususnya Kota Pariaman, dari daerah yang 
dianggap keras dan tanpa peradaban, menjadi disiplin dan tidak lagi 
kumuh. Anas berasal dari Sungai Geringging, daerah asal Nangkodo Baha, 
sehingga mempopulerkan kesenian Indang Sungai Geringging. Jalan-jalan 
dibangunnya dengan bagus, sampai ke pedesaan, dengan konsep ABRI Masuk 
Desa. Pola ini lalu dipakai di seluruh Indonesia oleh Jenderal M Yusuf. 
Walau banyak membangun di kawasan utara Padang Pariaman, namun dari sisi 
kultur, Anas Malik banyak berperan di Padang Pariaman. Dia menjadi 
legenda di kalangan bupati se-Sumatera Barat. 


*** 


Diam-diam, saya menugaskan kepada Hendri, seorang guru di SMA Sungai Limau, 
untuk 
menulis biografi Anas Malik. Hendri bahkan sampai ke Jakarta melakukan 
riset kecil-kecilan. Terakhir, Hendri menyerah, minta maaf kepada saya, 
lebih karena kesibukannya sebagai guru. Hendri sudah sempat menulis 
beberapa puluh halaman, dengan sejumlah data yang ia ambil dari 
dokumen-dokumen resmi sampai cerita orang per orang. 


Belakangan, 
saya menemukan seorang penulis yang mengelola sebuah situs bernama 
Pariaman Today. Namanya Oyong Liza Piliang. Kepada Oyong saya sampaikan 
tantangan yang sama, agar bisa menulis tentang Anas Malik. Dengan 
semangat tinggi, Oyong menggali cerita Anas Malik dan  memuatnya di 
Pariaman Today. Oyong memang sudah pernah memuat kisah Anas Malik, 
sehingga tidak lagi mulai dari awal. Kebetulan, putri Anas Malik adalah 
istri dari Leonardy Harmaini, mantan Ketua DPRD Sumbar dan Ketua DPD 
Partai Golkar Sumbar. 


Kini, saban pekan kita menemukan kisah Anas Malik dalam situs Pariaman Today. 
Saya terus menyemangati Oyong Liza 
Piliang untuk menggali sedalam-dalamnya. Bagi saya, sebuah kota kecil 
seperti Pariaman, serta Piaman Laweh umumnya, patut berterima kasih 
kepada Anas Malik. Pariaman tidak punya tokoh-tokoh hebat yang mayoritas 
berasal dari Padang Panjang, Padang, Bukittinggi dan Sawahlunto. Dengan nama 
Anas Malik, minimal ada sandaran soal sejarah yang tidak hanya 
tertulis nama-nama besar itu. 
Dalam masa kampanye pemilu 
legislatif 2008-2009, saya sering berpidato di hadapan massa. “Jarak 
Pariaman ke Bukittinggi memang hanya 2 jam perjalanan. Tapi jarak 
peradabannya 80 tahun. Ketika Anas Malik membersihkan WC terpanjang di 
dunia di pantai Pariaman tahun 1980-an, orang Bukittinggi sudah sampai 
di Belanda pada awal abad ke-20.” Ketika pengaruh Ranah Minang di pentas 
nasional disebut, mayoritas pengaruh itu datang dari arah Bukittinggi, 
tanpa Pariaman. 


Ada beberapa nama lain yang coba saya gali. 
Antara lain, Firdaus Wajdi, ayah kandung dari Muhammad Luthfi, Duta 
Besar Republik Indonesia di Jepang. Firdaus adalah aktivis Kesatuan Aksi 
Mahasiswa Indonesia tahun 1966. Namun, lagi-lagi kiprahnya terkenal di 
pusat politik Jakarta. Nama yang otentik dengan Pariaman harus dicari di 
Pariaman sendiri. Ada juga nama Azzumardi Azra, sosok intelektual asal 
Lubuk Alung, Padang Pariaman. 


*** 


Saya merasa masih punya 
utang, apabila tidak bisa menulis soal Anas Malik. Saya mengenal 
putranya, Indra Jaya Malik. Dalam kesempatan kampanye di Sungai 
Geringging, nama Indra Jaya Malik sering disebut. Tetapi Indra gagal 
masuk menjadi anggota DPRD Sumatera Barat. Leonardy Harmaini-lah yang 
jadi “pewaris” keluarga Anas Malik. Faisal Arifin, Ketua DPD Partai 
Golkar Padang Pariaman, juga masih tergolong keponakan Anas Malik. 


Sebuah kota idealnya punya museum sejarah. Apapun isinya. Sejarah sebuah kota 
adalah anak tangga untuk menaiki tangga berikutnya. Dari sini, saya 
berpikir, Kota Pariaman layak memiliki museum itu. Banyak bukti yang 
saya temukan di Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional di Jakarta yang 
menunjukkan wajah Kota Pariaman di masa lalu. Mikrofilmnyapun ada. 
Kalau tidak segera dipelihara dan didistribusikan, saya khawatir, 
bukti-bukti itu tertelan debu zaman. 


Apabila Kota Pariaman 
memiliki museum, dengan mudah anak-anak muda bisa berkunjung dan melihat 
perkembangan kota. Sama ketika saya pergi ke Shanghai dan melihat wajah kota 
itu dari tahun ke tahun, hanya dari potret yang diambil di sudut 
yang sama, namun dilakukan di tahun yang berbeda. Jumlah bangunan bisa 
dilihat, begitu juga gedung tertinggi yang tumbuh dari tahun ke tahun. 
Kesadaran sejarah yang terbangun di Kota Shanghai, juga ada di kota-kota 
lainnya di dunia. 


Studi tentang sejarah lokal semakin lama 
semakin banyak. Perkembangan demokrasi, desentralisasi dan otonomi 
daerah, tentunya membutuhkan sejarah lokal. Tidak bisa lagi Indonesia 
dilihat secara seragam, sebagai sebuah kesatuan, melainkan dalam bingkai 
persatuan dan keberagaman. Dari sini, museum-museum lokal yang dibangun adalah 
penanda bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta atau tidak mungkin 
hanya bisa diwakili oleh satu peristiwa saja, misalnya Lubang Buaya atau 
Kesepakatan Ciganjur. Indonesia tidak bisa hanya dirujuk pada satu kota atau 
sepenggal kejadian saja. 


Yang terbersit di benak saya 
adalah adanya museum di Kota Pariaman. Museum inilah yang mengantarkan 
pengunjung kepada kisah yang ada di masa lalu, sembari tetap berada di 
masa kini, lalu sedang berjalan ke (imajinasi) masa depan. Museum 
memberikan tanda bahwa manusia sesungguhnya hanyalah seorang pejalan 
kaki biasa yang menempuh kehidupan yang berbeda, lalu menyebutnya 
sebagai “kemajuan” atau “modernitas”. Di atas bumi yang sama, planet 
yang sama, umat manusia saling memaknai masing-masing zaman berdasarkan 
subjektifitas kekinian.

Andai Kota Pariaman jadi membangun sebuah museum, saya hanya ingat satu nama 
untuk mengabadikannya: “Museum Anas Malik”... 


*) Lulusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke