Kok jadi museum ko, dibao naskah2 pantun jo karya2 Syekh Daud Sunur (1830-an) 
nan tasimpan di Leiden lai ka Piaman. Awak lari ka dalam pandan basamo2 di SMA 
2 Piaman dek taparogok dek Pak Anak ko sadang main domino di lapau jo kawan2 
sambia okok mancudik2 co kuretapi ganepo. Wakatu tu indak taraso bagai padiah 
jangek kanai duri pandan doh. (Kenangan kepada Pak Anas Malik).
 
Wassalam,
Suryadi

Dari: Indra Jaya Piliang <[email protected]>
Kepada: Rantau Net <[email protected]> 
Dikirim: Selasa, 6 November 2012 7:45
Judul: [R@ntau-Net] Iko Jaleh Piaman (6)


http://indrapiliang.com/2012/11/06/iko-jaleh-piaman-6/ 
Museum Anas Malik
Iko Jaleh Piaman (6) 
Selasa, 6 November 2012
Iko Jaleh Piaman (6) 

Oleh
Indra J Piliang *) 

Banyak orang yang bertanya, akan jadi apa saya kelak, setelah lulus dari 
jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UI? Salah satu yang disebut adalah bekerja 
di museum. Saya hampir patah semangat untuk terus kuliah di semester pertama 
dan kedua. Beruntung, orang tua saya tidak berpunya, sehingga saya tidak punya 
kesempatan lagi untuk mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri pada tahun 
berikutnya, 1992. 


Saya justru tahu kegunaan ilmu sejarah setelah menamatkan studi dan mulai 
menulis. Ada latar pada sebuah cerita dan analisa, itu sejarah, ibu dari semua 
ilmu (sosial). Krisis ekonomi yang datang pada Juli 1997, bertepatan dengan 
saat saya hendak wisuda. Jadi, tidak satu museumpun akhirnya mendapatkan surat 
lamaran dari saya. Tatanan pemerintahan sudah berubah. Iklim demokrasi tumbuh. 
Era politik dan kebebasan perspun dimulai. 
Setelah kembali ke kampung halaman sebagai politisi, bukan sebagai akademisi, 
saya mulai menggali cerita lama. Perspektif yang tidak akan hilang dalam diri 
saya. Dari Benteng Bukit Tajadi di Bonjol, sampai makam Haji Miskin di Pandai 
Sikek, mulai perlahan saya coba maknai. Di bidang ilmu pemerintahan, terbersit 
mencari sosok-sosok lokal, ketimbang para negarawan besar yang hadir dalam 
buku-buku sejarah. 


Di Pariaman, saya menemukan sosok Anas Malik. Banyak tokoh menyebut namanya. 
Anas Malik adalah seorang kolonel TNI Angkatan Darat yang menjadi legenda. Anas 
menjadi Bupati Padang Pariaman pada tahun 1980-1990. Periode saya Sekolah Dasar 
sampai Sekolah Menengah Atas. Dari ayah saya, terdapat cerita soal Anas Malik 
ini, atasannya ketika menjadi pegawai di kantor Bupati Padang Pariaman. Salah 
satu visi Anas Malik adalah menggabungkan Kepulauan Mentawai sampai Kepulauan 
Nias menjadi salah satu wilayah yang dikelola dalam satu tangan. 


Anas Maliklah yang mengubah Kabupaten Padang Pariaman, khususnya Kota Pariaman, 
dari daerah yang dianggap keras dan tanpa peradaban, menjadi disiplin dan tidak 
lagi kumuh. Anas berasal dari Sungai Geringging, daerah asal Nangkodo Baha, 
sehingga mempopulerkan kesenian Indang Sungai Geringging. Jalan-jalan 
dibangunnya dengan bagus, sampai ke pedesaan, dengan konsep ABRI Masuk Desa. 
Pola ini lalu dipakai di seluruh Indonesia oleh Jenderal M Yusuf. Walau banyak 
membangun di kawasan utara Padang Pariaman, namun dari sisi kultur, Anas Malik 
banyak berperan di Padang Pariaman. Dia menjadi legenda di kalangan bupati 
se-Sumatera Barat. 


*** 


Diam-diam, saya menugaskan kepada Hendri, seorang guru di SMA Sungai Limau, 
untuk menulis biografi Anas Malik. Hendri bahkan sampai ke Jakarta melakukan 
riset kecil-kecilan. Terakhir, Hendri menyerah, minta maaf kepada saya, lebih 
karena kesibukannya sebagai guru. Hendri sudah sempat menulis beberapa puluh 
halaman, dengan sejumlah data yang ia ambil dari dokumen-dokumen resmi sampai 
cerita orang per orang. 


Belakangan, saya menemukan seorang penulis yang mengelola sebuah situs bernama 
Pariaman Today. Namanya Oyong Liza Piliang. Kepada Oyong saya sampaikan 
tantangan yang sama, agar bisa menulis tentang Anas Malik. Dengan semangat 
tinggi, Oyong menggali cerita Anas Malik dan  memuatnya di Pariaman Today. 
Oyong memang sudah pernah memuat kisah Anas Malik, sehingga tidak lagi mulai 
dari awal. Kebetulan, putri Anas Malik adalah istri dari Leonardy Harmaini, 
mantan Ketua DPRD Sumbar dan Ketua DPD Partai Golkar Sumbar. 


Kini, saban pekan kita menemukan kisah Anas Malik dalam situs Pariaman Today. 
Saya terus menyemangati Oyong Liza Piliang untuk menggali sedalam-dalamnya. 
Bagi saya, sebuah kota kecil seperti Pariaman, serta Piaman Laweh umumnya, 
patut berterima kasih kepada Anas Malik. Pariaman tidak punya tokoh-tokoh hebat 
yang mayoritas berasal dari Padang Panjang, Padang, Bukittinggi dan Sawahlunto. 
Dengan nama Anas Malik, minimal ada sandaran soal sejarah yang tidak hanya 
tertulis nama-nama besar itu. 
Dalam masa kampanye pemilu legislatif 2008-2009, saya sering berpidato di 
hadapan massa. “Jarak Pariaman ke Bukittinggi memang hanya 2 jam perjalanan. 
Tapi jarak peradabannya 80 tahun. Ketika Anas Malik membersihkan WC terpanjang 
di dunia di pantai Pariaman tahun 1980-an, orang Bukittinggi sudah sampai di 
Belanda pada awal abad ke-20.” Ketika pengaruh Ranah Minang di pentas nasional 
disebut, mayoritas pengaruh itu datang dari arah Bukittinggi, tanpa Pariaman. 


Ada beberapa nama lain yang coba saya gali. Antara lain, Firdaus Wajdi, ayah 
kandung dari Muhammad Luthfi, Duta Besar Republik Indonesia di Jepang. Firdaus 
adalah aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia tahun 1966. Namun, lagi-lagi 
kiprahnya terkenal di pusat politik Jakarta. Nama yang otentik dengan Pariaman 
harus dicari di Pariaman sendiri. Ada juga nama Azzumardi Azra, sosok 
intelektual asal Lubuk Alung, Padang Pariaman. 


*** 


Saya merasa masih punya utang, apabila tidak bisa menulis soal Anas Malik. Saya 
mengenal putranya, Indra Jaya Malik. Dalam kesempatan kampanye di Sungai 
Geringging, nama Indra Jaya Malik sering disebut. Tetapi Indra gagal masuk 
menjadi anggota DPRD Sumatera Barat. Leonardy Harmaini-lah yang jadi “pewaris” 
keluarga Anas Malik. Faisal Arifin, Ketua DPD Partai Golkar Padang Pariaman, 
juga masih tergolong keponakan Anas Malik. 


Sebuah kota idealnya punya museum sejarah. Apapun isinya. Sejarah sebuah kota 
adalah anak tangga untuk menaiki tangga berikutnya. Dari sini, saya berpikir, 
Kota Pariaman layak memiliki museum itu. Banyak bukti yang saya temukan di 
Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional di Jakarta yang menunjukkan wajah Kota 
Pariaman di masa lalu. Mikrofilmnyapun ada. Kalau tidak segera dipelihara dan 
didistribusikan, saya khawatir, bukti-bukti itu tertelan debu zaman. 


Apabila Kota Pariaman memiliki museum, dengan mudah anak-anak muda bisa 
berkunjung dan melihat perkembangan kota. Sama ketika saya pergi ke Shanghai 
dan melihat wajah kota itu dari tahun ke tahun, hanya dari potret yang diambil 
di sudut yang sama, namun dilakukan di tahun yang berbeda. Jumlah bangunan bisa 
dilihat, begitu juga gedung tertinggi yang tumbuh dari tahun ke tahun. 
Kesadaran sejarah yang terbangun di Kota Shanghai, juga ada di kota-kota 
lainnya di dunia. 


Studi tentang sejarah lokal semakin lama semakin banyak. Perkembangan 
demokrasi, desentralisasi dan otonomi daerah, tentunya membutuhkan sejarah 
lokal. Tidak bisa lagi Indonesia dilihat secara seragam, sebagai sebuah 
kesatuan, melainkan dalam bingkai persatuan dan keberagaman. Dari sini, 
museum-museum lokal yang dibangun adalah penanda bahwa Indonesia bukan hanya 
Jakarta atau tidak mungkin hanya bisa diwakili oleh satu peristiwa saja, 
misalnya Lubang Buaya atau Kesepakatan Ciganjur. Indonesia tidak bisa hanya 
dirujuk pada satu kota atau sepenggal kejadian saja. 


Yang terbersit di benak saya adalah adanya museum di Kota Pariaman. Museum 
inilah yang mengantarkan pengunjung kepada kisah yang ada di masa lalu, sembari 
tetap berada di masa kini, lalu sedang berjalan ke (imajinasi) masa depan. 
Museum memberikan tanda bahwa manusia sesungguhnya hanyalah seorang pejalan 
kaki biasa yang menempuh kehidupan yang berbeda, lalu menyebutnya sebagai 
“kemajuan” atau “modernitas”. Di atas bumi yang sama, planet yang sama, umat 
manusia saling memaknai masing-masing zaman berdasarkan subjektifitas kekinian.

Andai Kota Pariaman jadi membangun sebuah museum, saya hanya ingat satu nama 
untuk mengabadikannya: “Museum Anas Malik”... 


*) Lulusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke