Tarimo kasiah sanak Tan Lembang nan alah babagi tulisan. On Nov 8, 2012 4:01 PM, "Muhammad Dafiq Saib" <[email protected]> wrote:
> Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu > *Tuesday, December 18, 2007* > > *PULANG KAMPUNG* > > Marzaini tidak dapat menyembunyikan rasa gelisahnya. Keringatnya > bercucuran. Padahal udara di ruang tunggu berAC itu sangat nyaman. Dadanya > berdebar-debar. Pikirannya menerawangi bayang-bayang gelap tentang kampung. > Yang paling menyedihkan dalam pikirannya adalah kenyataan bahwa rumah > tempat dia dulu dibesarkan tidak ada lagi. Mak dan ayah memang sudah tidak > ada. Dia menyadari itu. Tapi rumah itu. Dia tidak akan melihat rumah mak > itu lagi. Entah sudah seperti apa *bangkalai* perumahan itu agaknya kini. > Lalu apa saja yang akan dilihatnya di kampung? Rasanya lebih baik dia tidak > usah melihat dengan mata kepalanya pemandangan yang pasti memilukan itu. > > Masih terngiang-ngiang di telinganya perbincangan dengan anaknya beberapa > minggu yang lalu. Ketika dia berusaha keras menolak rencana anak-anaknya > untuk ikut pulang kampung. Sebenarnya sudah sejak lama dan berkali-kali > anak-anaknya mengajak hal yang sama. Selama ini selalu ada saja alasannya > untuk menolak. Bahkan dahulu, ketika anak-anak masih kecil-kecil, ketika > mereka merengek minta dibawa mengunjungi nenek mereka, selalu ditolaknya > dengan alasan kesibukan. > > Waktu itu, dia adalah seorang pegawai rendah di sebuah perusahaan > ekspedisi dengan gaji pas-pasan. Hampir tidak pernah dia mengambil cuti > atau berlibur, karena gajinya seolah-olah dihitung harian. Maksudnya, uang > makan dan uang transpor yang dibayarkan induk semangnya disesuaikan dengan > kehadiran di kantor. Uang tambahan itu sangat bermakna untuk penambah biaya > hidup serta biaya sekolah anak-anaknya. Itulah sebabnya dia tidak pernah > sempat membawa keluarganya pulang ke kampung. > > Bahkan selama merantau di Jakarta sejak empat puluh lima tahun yang lampau > Marzaini hanya pernah sekali saja pulang. Dua puluh tahun yang lalu ketika > ibunya berpulang kerahmatullah. Dengan kapal Kambuna. Itupun seminggu > sesudah ibunya dimakamkan. Dan ketika itu tentu saja dia masih pulang ke > rumah mak. Rumah masa kanak-kanaknya. Ketika itu dia masih bertemu dengan > beberapa orang teman bermainnya dulu. > > Alhamdulillah, kegigihan membela pendidikan anak-anaknya membuahkan hasil. > Tiga orang anak-anaknya sudah menamatkan pendidikan mereka di perguruan > tinggi dan ketiganya bahkan sudah bekerja dan berkeluarga pula. Dua orang > anaknya tinggal dan bekerja di Jakarta sedang si Bungsu tinggal di > Surabaya. Sejak anaknya yang pertama mulai bekerja lebih sepuluh tahun yang > lalu, si Sulung itu beberapa kali mengajak pergi menziarahi makam neneknya. > Namun Marzaini entah kenapa selalu menolak. > > Baru kali inilah akhirnya dia menyerah. Mengangguk ketika si Buyung Gadang > untuk ke sekian kali mengajaknya lagi. Sesudah melalui sebuah diskusi > panjang. Dan itu terjadi seminggu yang lalu. > > ‘Saya akan segera mengambil cuti, ayah. Ayolah ayah, kita kunjungi kampung > yang selalu ayah ceritakan keindahannya ketika kami masih kanak-kanak dulu. > Saya ingin menunjukkan keelokan negeri itu kepada Lastri,’ ajak si Buyung > Pamenan, anaknya yang nomor dua. > > ‘Sebenarnya, sejujurnya ayah merasa malu. Kemana akan ayah bawa kalian di > kampung itu? Rumah nenekmu sudah tidak ada. Sudah dibongkar *pak etek*mu > lebih sepuluh tahun yang lalu karena memang sudah lapuk tak terurus. Ke > kampung ibumu lebih parah lagi. Rumah *gadang*nya sudah terpanggang lima > belas tahun yang lalu dan di perumahan itu sekarang kabarnya penuh dengan > semak belukar,’ jawab Marzaini. > > ‘Dulu kata ayah masih ada saudara-saudara sepupu ayah yang tinggal di > kampung. Apakah kita tidak boleh bertamu ke rumah mereka?’ > > ‘Sekarang sudah tidak ada. Mereka sudah habis pergi merantau. Rumah-rumah > mereka tinggal terkunci semua.’ > > Tapi kali ini ada usulan baru dari si Buyung Gadang, anaknya yang sulung > itu. Mereka akan menginap di hotel di Bukit Tinggi. Mereka akan menyewa > mobil untuk sekedar berziarah ke kampung dan setelah itu mereka akan pergi > melancong ke tempat-tempat wisata di ranah Minang. Marzaini mula-mula masih > menolak. Itu hanya akan membuang-buang uang saja. Kalau kalian ingin juga > pergi biarlah kalian sekeluarga saja yang pergi, usulnya. > > ‘Tidak ayah. Kami ingin ayah menunjukkan tempat berdirinya rumah nenek > dulu. Tempat ayah bermain ketika ayah kanak-kanak. Tempat ayah bermain bola > di tanah lapang. Kita kunjungi itu semua, ayah. Dan sesudah itu kita > kunjungi pula kampung ibu. Untuk melihat hal yang sama.’ > > ‘Ibumu bahkan tidak tahu dengan kampungnya. Dia masih bayi ketika dibawa * > inyiak* dan nenekmu merantau ke Betawi ini. Apa pula yang akan > dilihatnya?’ bantah Marzaini. > > ‘Masakan ayah tidak *taragak* sedikit juga untuk melihat itu semua?’ > desak si Buyung Pamenan. > > ‘Ayahpun sangat *taragak*. Tapi ayah tidak sanggup membayangkan semua > yang ayah ketahui dulu sudah tidak ada lagi sekarang. Rumah nenekmu, tanah > lapang, surau tempat ayah mengaji. Semua sudah tidak ada lagi.’ > > ‘Bukankah ayah masih bisa menunjukkan tempat dimana berdirinya rumah nenek > itu dulu. Dimana tempat ayah bermain, pancuran tempat ayah mandi. Tempat > berdirinya surau. Tunjukkanlah kepada kami ayah,’ pinta si Buyung. > > ‘Pulang kampung itu pasti akan membuat hati ayah sedih,’ katanya berterus > terang. > > ‘Kita ambil sisi indahnya ayah. Kenapa pula ayah mesti bersedih ? Kita > kunjungi tempat-tempat yang indah di negeri Minang itu. Tempat-tempat indah > seperti yang sering kita tonton di televisi. Yang ayah selalu mengingatkan > bahwa tempat-tempat itu memang indah sekali.’ > > ‘Jadi maksudmu kita tidak benar-benar melihat kampung ayah? Hanya sekedar > pergi melancong saja? Bagaimana mungkin ayah tidak akan pergi berziarah ke > kuburan *inyiak* dan nenek kalian? Artinya ayah akan tetap pulang ke > kampung itu, bukan? Melihat keadaan disitu. Melihat pemandangan yang pasti > menghancurkan hati ayah.’ > > ‘Mudah-mudahan tidak akan sampai demikian ayah,’ si Buyung mencoba > meyakinkan. > > ‘Entahlah.......’ keluh Marzaini > > Akhirnya dia menyerah juga. Keinginan anak-anaknya untuk mengunjungi tanah > tumpah darah nenek moyang mereka tidak pantas untuk terus-terusan > dimentahkan. Alasan bahwa tidak ada lagi rumah mak yang akan didatangi > sudah dicarikan pemecahannya oleh si Buyung Gadang. Apa lagi yang bisa > dijadikan alasan? > > Istrinya sangat senang mendengar persetujuannya untuk pulang kampung. > Rencana lebih matangpun dibuat. Si Buyung Gadang telah menyiapkan > segala-galanya. Mereka akan berangkat delapan orang termasuk anak-anak si > Buyung Gadang dan si Buyung Pamenan masing-masing satu orang. > > > ***** > > Mereka sudah sampai di Bandara sejak jam tujuh pagi tadi. Pesawat yang > akan mereka tompangi dijadwalkan berangkat jam delapan. Marzaini belum > pernah naik pesawat terbang, dan insya Allah baru kali ini akan mencoba. > Tapi dia gugup bukan lantaran takut akan naik pesawat terbang. Hal itu > tidak sedikitpun dicemaskannya. > > Dia masih belum siap untuk menemui semua kehilangan yang akan dilihatnya > nanti di kampung halamannya. Di dalam bayangannya, rumah maknya, rumah > tempat dia dulu diasuh dan dibesarkan masih berdiri di rumpun pohon betung. > Padahal dia sadar bahwa rumah itu sudah di bongkar adiknya. Dua puluh meter > ke arah mudik ada pancuran tempat dia dulu mandi. Entah masih ada entah > tidak pancuran itu. Tanah lapang tempat dia bermain bola dulu sudah > ditempati bangunan sekolah. Dan masih adakah teman bermainnya yang tinggal > di kampung? Betapa menyedihkan membayangkan semua itu. Itulah yang membuat > dia senewen. > > Cucu-cucunya yang lincah memperhatikan kegelisahannya. Karena tidak > seperti biasa ketika dia senang berkelakar dengan mereka. Sejak sampai di > ruang tunggu ini lebih setengah jam yang lalu dia hanya membisu. > > ‘Kenapa *inyiak* diam saja? *Inyiak* takut mau naik pesawat?’ tanya si > Puti menggoda. > > ‘Tidak. *Inyiak* tidak takut bagai *doh*,’ jawabnya sambil mencoba > tersenyum. > > ‘Dari tadi *inyiak* diam saja. *Inyiak* sakit ?’ giliran si Pinto pula > bertanya. > > ‘Tidak. *Inyiak* baik-baik saja,’ jawabnya. > > > ***** > > Mereka menaiki pesawat. Marzaini cukup percaya diri. Ah, kalau sekedar > naik pesawat terbang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh dilamun ombak > Ketahun sudah pernah dialaminya. Dan ternyata benar. Dia tidak sedikitpun > kikuk atau gugup selama berada di dalam pesawat, sampai mereka mendarat di > Bandara Minangkabau. Melihat bandara kebanggaan *urang awak* itupun dia > biasa-biasa saja. > > Dari bandara mereka langsung menuju ke Bukit Tinggi. Buyung Gadang > menyetir mobil sewaan itu. Mereka lalui jalan yang mulus di tengah cuaca > yang agak redup seperti mau hujan. Semua terkagum-kagum melihat keelokan > pemandangan begitu memasuki lembah Anai. Kecuali Marzaini. Pemandangan itu > baginya biasa-biasa saja. Mereka singgah di kedai sate di Padang Panjang. > Semua *cepak-cepong* makan sate. > > Akhirnya mereka sampai di Bukit Tinggi. Langsung ke penginapan yang sudah > dipesan sebelumnya oleh Buyung Gadang. Penginapan yang elok dan asri di > pinggir kota dengan pemandangan ke arah gunung Marapi. Untuk memastikan > tempat yang sudah dipesan sekaligus untuk meletakkan kopor-kopor mereka. > Sore ini mereka belum akan mengunjungi kampung. Mereka akan raun-raun dan > berjalan-jalan di pasar atas melihat pemandangan di sekitar jam gadang dan > di tepi ngarai. Oh, alangkah eloknya kota ini. > > Marzaini mulai bercerita bahwa di bawah jam gadang ini, dulu tidak seramai > seperti sekarang. Dulu belum ada hotel besar itu, belum ada toko besar ini, > katanya menunjuk ke mall di sebelah barat jam gadang. Mereka berjalan kaki > di sekitar pasar atas, yang di sore hari ini masih ramai saja. Padahal ini > bukan hari pekan. Puas mereka kitari pasar atas, bahkan sampai ke kebun > binatang. Betapa semua terkagum-kagum melihat yang mereka temui. Sudah agak > malam waktu mereka kembali ke penginapan. Itulah yang mengherankan > Marzaini. Ternyata sekarang Bukit Tinggi tidak cepat sepi di waktu malam. > Sudah malam masih ada saja orang yang hilir mudik. > > ***** > > Keesokan harinya barulah mereka pergi ke kampung. Sesudah sarapan di > penginapan. Pikiran Marzaini sudah mulai agak tenang agaknya. Dia bercerita > di sepanjang jalan tentang pemandangan yang dilihat. Tentang jalan raya > yang ketika itu lebih banyak digunakan oleh bendi. Tentang keretapi dengan > asapnya yang *menggebubu*. Tentang tempat dimana rumah dan toko di > pinggir jalan yang berjejer sekarang, dulunya masih sawah. Ditunjukkannya > pula sekolah tempat dia dulu belajar yang jaraknya hampir lima kilometer > dari rumah orang tuanya. Dan dia berjalan kaki setiap hari untuk datang ke > sekolah itu. > > Akhirnya mereka sampai di kampung. Marzaini mengenali semua rumah-rumah > tua di kampung itu. Tapi dia tidak mengenali beberapa buah rumah tembok > baru yang terletak di tepi jalan. Mobil mereka hentikan di pinggir jalan > dekat sekolah di kampung itu. Beberapa orang kampung melihat penuh selidik > ke arah mereka. Tidak seorangpun yang dikenali Marzaini. Seorang perempuan > tua rupanya lebih jeli dan mengenalnya. > > ‘Rasanya ini si Zain......, siapalah gelarnya gerangan, anak *tuo*Khadijah > bukan?’ sapa > *mak tuo* itu. > > ‘Iya, *ambo* si Zain anak mak Tangkudun dan mak Khadijah. Lupa ambo, *etek > * siapa gerangan?’ jawab Marzaini, sambil menyodorkan tangan bersalaman. > > ‘Ambo Tipah yang di Jambak. Ada ingat?’ > > ‘Oh iya..iya.. ingat ambo. Tek Tipah Jambak. Ini keluarga ambo tek. Ini > orang rumah ambo, ini dan ini anak, yang berdua ini menantu, itu > cucu-cucu,’ Marzaini memperkenalkan rombongan besar itu. > > Mereka bersalam-salaman. Tek Tipah itu menawarkan agar singgah ke rumahnya > saja. > > ‘Nantilah kami singgah, tek. Kami akan berziarah dulu,’ jawab Marzaini. > > Mereka sampai di pandam pekuburan. Yang penuh semak tak terurus. Air mata > Marzaini bercucuran melihat *pandam* itu. Tidak ada siapapun dekat tempat > itu. Bahkan tidak ada rumah orang untuk meminjam parang untuk membersihkan > jalan ke arah kuburan itu. Mereka tidak jadi masuk kesana. > > Akhirnya mereka teruskan berjalan di jalan sempit menuju ke tepi kampung. > > ‘Inilah jalan ke rumah nenek kalian,’ ujar Marzaini. > > Mereka lalui jalan kecil sampai bertemu dengan dua buah rumah kayu yang > sudah tua. Rumah yang hampir-hampir roboh dan sudah tidak ditempati. > Terpisah agak lebih jauh ada dua buah rumah lagi yang masih lumayan terawat > dan kelihatannya ada yang menempati. > > ‘Ini rumah sepupu ayah. Orang yang satu kaum dengan nenek kalian. Mereka > merantau ke Medan dan ke Pekan Baru. Sepertinya tidak pernah pula mereka > pulang. Disitu, di sebelah rumah yang satunya itu, itulah tempat rumah > nenek dulu. Perhatikanlah tanah yang lebih tinggi sedikit, disitulah > persisnya rumah nenek,’ Marzaini bercerita dengan mata berlinang. > > ‘Ketika ayah kanak-kanak dulu ketiga rumah ini ditempati. Banyak juga > saudara sepupu ayah teman bermain disini kala itu. Disebelah sana ada > pancuran, tempat kami mandi. Di pekarangan ini dulu kami bermain > berkejar-kejaran,’ dia melanjutkan cerita. > > Semua mendengar ceritanya penuh perhatian. > > ‘Rumah yang agak terpisah di sebelah sana apakah bukan rumah famili > nenek?’ tanya si Buyung Gadang. > > ‘Masih famili jauh. Tapi yang menempati bukan mereka melainkan orang dari > kampung lain yang tinggal dan bertani di kampung ini,’ jawab Marzaini. > > Etek Tipah yang tadi bertemu di pinggir jalan datang menemui mereka. > > ‘Etek suruh orang membersihkan pekuburan sebentar ini. Paling tidak > membersihkan jalan ke dalam. Sudah penuh ditumbuhi belukar pekuburan itu. > Tidak ada yang mengurusnya,’ ujar orang tua itu. > > ‘Terima kasih tek. Betul. Sudah penuh semak. Kami tidak bisa masuk tadi > kesana,’ jawab Marzaini. > > Mereka kembali menuju ke pekuburan itu. Benar saja, jalan ke dalam sudah > dirintis dan dibersihkan oleh seorang anak muda. > > Sesudah berziarah mereka berjalan-jalan lagi di kampung itu. Marzaini > menunjukkan tempat dia sekolah, surau tempat dia mengaji, tempat dia dulu > bermain layang-layang, tempat dia memancing, tempat dulu dia > berkejar-kejaran di sawah. Memang sudah tidak seperti dulu lagi tentu saja. > Tidak ada seorangpun teman bermainnya yang masih ada di kampung. Semua > berada di rantaunya masing-masing. > > Mereka sempatkan singgah sebentar di rumah tek Tipah. Orang tua itu > menahan mereka dengan sungguh-sungguh untuk makan siang di rumahnya. > Marzaini berbasa dengan sebaik-baiknya pula menolak tawaran itu karena > tidak ingin menyusahkan orang tua itu menjamu mereka serombongan besar. > > Siangnya mereka kembali ke Bukit Tinggi. Makan nasi Kapau yang terkenal > itu. Setelah itu mereka lanjutkan kunjungan wisata ke tempat-tempat lain > yang sudah direncanakan Buyung Gadang dan adiknya Buyung Pamenan. Setiap > tempat yang mereka kunjungi indah belaka. Mereka tinggal di Bukit Tinggi > selama seminggu. Marzaini tidak ingin mengulang lagi mengunjungi > kampungnya. Entah kenapa. Bagai terngiang ditelinganya untaian lagu yang > dulu tanpa berniat apa-apa dia pernah ikut mendendangkannya. > > *Tinggi malanjuik lah kau batuang* > *Indak den tabang-tabang lai* > *Tingga mancanguik lah kau kampuang* > *Indak den jalang-jalang lai * > > (Tinggi berlanjutlah engkau betung > Tidak ku tebang-tebang lagi > Tinggal merengutlah engkau kampong > Tidak ku jelang-jelang lagi) > > ______________ > > bengkalai = badan, bekas tempat > > inyiak = kakek > > taragak = rindu > > cepak cepong = lahap > > menggebubu = terbang, naik ke udara > > pak etek = bapak kecil (adik dari bapak) > > etek = bibi (adik perempuan bapak atau adik perempuan ibu, atau panggilan > kepada orang perempuan yang lebih muda dari ibu sendiri) > > mak tuo = panggilan untuk orang perempuan yang lebih tua dari ibu sendiri > > pandam = komplek pekuburan > > > ***** > > > Wassalamu'alaikum, > > Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam > Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi > Lahir : Zulqaidah 1370H, > Jatibening - Bekasi > ------------------------------ > ** > > -- > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > > > -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
