Da Akmal,

 

Inilah salah satunya kenapa meyakinkan diri untuk mundur

Terima kasih telah membahasakannya

 

Salam

Rina

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Akmal N. Basral
Sent: Friday, November 30, 2012 10:36 AM
To: [email protected]
Cc: Rantau Net
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Alihguna Re:Crowd funding? Re: Manulih Cerpen
Basamo? BR PRRI

 


Masalahnya bukan soal badoncek, Mak Darwin. Problemnya adolah urang nan
amuah mambantu (termasuk juga bersedia badoncek sejak problem buku PRRI
terungkap ke permukaan awal bulan lalu), malah disabuik "menjadikan
galak-galak" soal badoncek dalam buku ko.

 

Ado problem lebih serius dari (calon) buku PRRI itu nan harus dibahas dengan
kepala dingin lebih dulu, karena setelah saya baca (sekilas) beberapa karya
yang ditampilkan di milis, kondisinya adalah "creatively incorrect". Saya
duga hal itu yang membuat Pak Mestika Zed agak "enggan" selain "bingung"
untuk memberikan sentuhan akhir yang diharapkan. (Jangan lupa, MZ adalah
sejarawan sejati yang sangat ketat pada metodologi dan sistem verifikasi).

 

Kita jangan lupa, bahwa membuat gado-gado pun ada rumusnya: hanya sayuran
(dan kacang-kacangan). Tidak ada gado-gado yang dicampurkan gulai tunjang
dan sate Padang ke dalamnya, bukan?





Harus ada "firewall" yang jelas dalam membuat sebuah karya: secara
pendekatan antar peserta harus santai, informal, tak ada batas senioritas.
Nggak "mentang-mentang".





Tapi untuk kualitas karyanya sendiri? Harus berstandar tinggi! Tidak boleh
ada kompromi. No excuse.





Orang kita suka terbolak-balik menerapkan ini: penampilan
diserius-seriuskan, kualitas kerja malah kedodoran. 





Coba kita role playing menempatkan diri di posisi Mestika Zed, yang susah
payah mencapai reputasi dan kredibilitasnya sekarang dari melakukan riset
demi riset selama ini. Jika namanya muncul di sampul depan "buku PRRI"
sebagai penulis Kata Pengantar dan penyunting, kira-kira apa yang
dipikirkannya? (Singkirkan dululah pikiran, dia mungkin minta jumlah uang
tertentu dari pekerjaan profesionalnya itu. Jangan lupa juga sanak palanta:
bagi Mestika Zed ini adalah bagian dari kerja profesionalnya, bukan hanya
hobi seperti bagi sebagian besar penulis di situ.

Tidakkah jika kita cepat puas dengan "kualitas karya", maka yang terjadi
sebetulnya adalah kita sedang menyiapkan lubang besar bagi Mestika Zed?
Pernah terpikirkan kah hal seperti ini?).





Jangan salah paham. Bagi saya, semua kisah adalah berlian. Lengkapnya,
berlian yang masih mentah. Perlu usaha keras untuk membuatnya menjadi
berkilau, dan perlu usaha lebih keras lagi untuk meletakkannya di etalase
sehingga terlihat menarik, dan mampu membuat orang yang sedang melintas,
berhenti memperhatikan, sebelum masuk toko dan memutuskan membeli berlian
itu.





Salam,





Akmal N. Basral

Cibubur

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke