http://indrapiliang.com/2012/12/06/iko-jaleh-piaman-12-/


Iko Jaleh Piaman! (12) 

Oleh
Indra J Piliang *)

Minggu lalu saya bertemu dengan M Nursam, seorang sahabat lama, sejak 
mahasiswa. Nursam adalah alumni Universitas Gajah Mada. Saya bertemu 
dengannya pada tahun 1995 di Universitas Riau, Pekanbaru. Dari dia, 
lahir tawaran untuk menerbitkan serial “Iko Jaleh Piaman!” ini untuk 
menjadi buku. Tentu saya menerimanya dengan senang. Nursam memiliki satu 
penerbitan di Yogya, Penerbit Ombak. 

Dengan Nursam saya bisa 
berdiskusi tentang “dunia saya”, yakni ilmu sejarah. Kebetulan, Nursam 
sedang menyiapkan satu buku menyangkut Jenderal M Jusuf. Saya memberikan 
namanya sebagai penulis, ketika seorang kenalan bertanya kepada saya 
tentang siapa yang layak menulis tentang M Jusuf ini. Nursam adalah anak 
Makassar, kental Bugisnya, tinggal berdekatan dengan Buya Sjafii Maarif dan 
menjadi salah satu teman diskusinya. 

Nursam mengetahuan 
peran M Jusuf dalam kisah Anas Malik yang saya tulis di sini. Nursam 
juga bercerita soal rencananya menerbitkan satu buku terjemahan 
menyangkut kota-kota pelabuhan di Indonesia di abad-abad lampau. 
Menelusuri kembali riwayat kota-kota itu membuka perspektif akan luasnya 
kehidupan bangsa Indonesia di masa lalu, dengan segala catatan 
plus-minusnya. 

Mencari buku yang memuat sejarah atau ilmu 
pengetahuan lokal adalah bagian dari  kesenangan saya. Rata-rata saya 
kesulitan. Sekarang sudah mulai banyak muncul buku-buku biografi tentang elite 
lokal yang sedang berkuasa. Itu sudah cukup. Namun yan saya cari 
sebetulnya menyangkut banyak aspek tentang lokalitas, ketika 
nasionalitas dan universalitas tidak lagi menarik di tangan kelompok 
yang anti kemanusiaan dan anti ilmu pengetahuan. 

Kegemaran Nursam juga mirip. Alumni-alumni jurusan ilmu sejarah setahu saya 
memang 
kurang begitu getol dalam menumpuk harta benda. Lebih banyak lari ke 
dunia ilmu pengetahuan. Walau ada beberapa yang masuk ke dunia politik 
dan meraih kekuasaan, sikap skeptis dan kritis tetap jadi menu dasar 
dalam berpikir dan bertindak. Yang dicerna adalah masa lalu, sedangkan 
masa kini dipandang dari hari depan. Lontaran pikiran di masa depan 
untuk melihat apa yang dikerjakan hari ini, sekaligus mencari jejak masa lalu 
atas apa yang terjadi hari ini. 

*** 

Dalam perjalanan ke Pariaman selama seminggu akhir bulan lalu, saya mencari 
lagi 
jejak-jejak masa lalu di Kota Pariaman. Saya datangi kuburan China di 
Kuraitaji untuk pertama kalinya seumur hidup. Masih banyak kuburan yang 
bagus, sekalipun juga sudah ada beberapa yang runtuh. Kantor Samsat 
Kabupaten Padang Pariaman berdiri di bawah gundukan bukit yang 
barangkali tertinggi di Kota Pariaman itu. Di puncaknya, berdiri satu 
tugu, lalu saya naik ke atasnya. 

Itulah untuk pertama kalinya 
juga saya melihat kota Pariaman dari atas ketinggian. Saya sudah lama 
meminta kepada adik-adik di Nangkodo Baha Institute untuk mencari lokasi 
dimana: “Kita bisa memandang Kota Pariaman dari ketinggian, supaya 
utuh.” Rupanya, tidak ada lokasi itu di Kota Pariaman. Kita harus naik 
ke Gunung Tandikat, kalau memang mau memandangnya. Berbeda dengan 
Bandung atau Jayapura yang bisa dilihat dari ketinggian, secara dekat. 

Saya membayangkan jauhnya letak kuburan China di Kuraitaji dengan kawasan 
pemukiman orang Tionghoa di masa lalu, yakni di sekitar Kampung Chino 
atau dekat pantai. Barangkali, ketika mengantarkan jenazah untuk 
dimakamkan di Kuraitaji, para pengiring menggunakan kuda bendi di masa 
lalu, serta pawai dengan tarian barongsai. Iring-iringan yang kita 
temukan di Bagansiapi-api, Bangka atau Singkawang. 

Saya juga 
mencari Kuburan Belanda (Kubel) di Lohong. Lokasinya bersebelahan dengan tempat 
kelahiran saya, Kampung Perang (Kamper). Rupanya, dari ibu-ibu 
yang sedang membeli gorengan sore itu, saya menemukan fakta kalau 
Kuburan Belanda sudah rata dengan tanah. Di atasnya berdiri bangunan 
Kesbangpol Kabupaten Padang Pariaman. 
Ada kutipan menarik: “Hantu 
Bulando kan ndak mode hantu urang awak doh. Jadi, ndak takuik ughang 
mendataan.” (Hantu Belanda kan tidak model hantu kita. Jadi, tidak takut
 orang-orang ketika menguruknya). 

Yang terbayang di benak saya 
adalah usaha mendapatkan satu foto saja dari masa lalu untuk menunjukkan model 
Kuburan Belanda itu di masa lalu. Kalau foto itu ditemukan, entah di Belanda 
atau di arsip siapapun, satu proses rekonstruksi juga bisa 
dilakukan. Minimal, masyarakat sekarang dan nanti tahu, ada komunitas 
orang (tentara) Belanda di Kota Pariaman di masa lalu. Kalau ada ahli 
bahasa yang bisa menyelidiki, bisa jadi dalam bahasa Pariaman sekarang 
masih terdapat istilah campuran bahasa lokal dengan bahasa Belanda dan 
Tionghoa. 

Di Pulau Angso Duo, saya menemukan satu kuburan 
panjang, yakni 7 meter. Di sebelahnya ada surau. Sayang, kuburan itu 
seperti kehilangan daya magisnya, mengingat sudah disemen secara 
permanen. Konon, masih ada ahli-ahli tarekat yang datang berziarah ke 
kuburan tak dikenal itu. Dulu, menurut orang-orang, panjang kuburan itu 
bisa berubah-ubah. Setelah disemen, tentu sudah mengukur perubahan demi 
perubahan yang terjadi. Ada tulisan Arab yang mulai dibuat untuk 
menamakan “jenazah” di dalam kuburan itu, tetapi dasarnya sama sekali 
sulit dijelaskan. 

Di kaki Gunung Tandikat, ada juga makam yang 
disebut berhubungan dengan makam di Pulau Angso Duo. Saya belum pernah 
melihatnya atau datang ke sana. Yang saya dengar, di sanalah para 
pandeka, parewa atau ahli tarekat melakukan semedi. Harimau-harimau 
Sumatera juga suka “nongkrong” di sana. Entahlah. Dalam ilmu 
antropologi, makam dan segala jenis mitos, adalah cara nenek moyang kita 
menyimpan ilmu pengetahuannya. Belum ada universitas untuk menyusun 
teori dari ilmu pengetahuan yang didapat oleh nenek moyang kita itu. 

*** 

Pariaman adalah kota dengan banyak lapau. Juga Padang Pariaman. Di area Piaman 
Laweh ini, tradisi lisan hidup subur. Jutaan kata-kata terbang ke langit dari 
seluruh lapau itu. Hilang menjadi buih. Lapau inilah yang 
menghabiskan banyak waktu penduduk. Tetapi lapau juga yang memberi 
banyak pelajaran tentang hidup, terutama dalam berbagi ilmu pengetahuan, 
informasi, sampai diskusi mendalam tentang apapun. Andai seluruh kata 
yang terbang ke langit selama semalam saja dikumpulkan dari seluruh 
lapau di Kota Pariaman, maka akan terdapat puluhan buku yang terbit 
dalam semalam.

Kota Pariaman di abad lampau sudah memiliki 
korannya sendiri. Koran adalah sarana berbagi informasi, terutama bagi 
penduduknya yang multi budaya, multi bangsa. Dasar-dasarnya masih 
terlihat dari arsitektur Kota Pariaman, terutama yang tidak langsung 
diruntuhkan, seiring dengan revolusi sosial, industri atau budaya. Saya 
menemukan keasyikan tersendiri, berjalan-jalan di gang-gang Kota 
Pariaman, melihat rumah-rumah panggung lama dan moderen. 

“Lihat 
bangunan-bangunan ini. Ini sudah memenuhi syarat sebagai satu masyarakat kota. 
Lihat ibu-ibu itu, usia harapan hidupnya tinggi,” begitu kata 
saya, setiap kali, kepada adik-adik Nangkodo Baha yang mengikuti saya. 
Saya tentu bukan seorang Socrates yang berjalan-jalan di pasar bersama 
anak-anak muda, lalu bercerita tentang ilmu. Walau, di usia sekolah, 
seorang kawan memberi saya puisi, lalu menulis judulnya: “Untuk Socrates 
Pariaman”. Yang saya bayangkan dengan cara berkeliling seperti itu 
adalah adik-adik yang mengerubungi saya membuka alam pikirannya, tidak 
hanya stagnan dengan rutinitas harian. 

Satu kesimpulan sudah saya dapatkan, Kota Pariaman adalah kota dalam arti yang 
sebenarnya. 
Masyarakatnya egaliter. Hampir semua orang yang saya temui merasa 
dirinya penting, apapun kedudukan dan strata sosialnya. Jarang kita 
menemukan orang Pariaman yang merasa dirinya tidak penting. 

“Di 
Pariaman tidak ada gunung, tidak ada bukit. Yang ada hanya pantai dan 
laut yang luas, datar. Jadi, tidak ada orang yang benar-benar tinggi 
kedudukannya, walau pangkatnya banyak,” begitulah cara saya 
berkomunikasi dengan adik-adik di Nangkodo Baha Institute. 


Saya 
perlahan membuat perbandingan dengan Kota Padang. Padang adalah 
masyarakat niaga, masyarakat pasar. Transaksi menjadi kata penting dari 
aktivitas keseharian. Pantai di Kota Padang ada, tetapi sedikit dan 
banyak yang tertutup.  Walau ada Muara (Muaro) dan Teluk Bayur, hanya 
orang-orang yang bepergian ke luar yang sering datang ke sana. Teluk 
Bayur sudah menghasilkan banyak kisah indah dan lagu-lagu menawan. 
Begitu juga Muara. 

Saya kira, ke depan, Kota Pariaman lebih siap 
sebagai Water Front City, ketimbang Kota Padang. Kota Padang bisa 
dikembangkan ke arah yang lain. Semakin cepat pantai-pantai di Kota 
Padang menemukan identitasnya, semakin baik perkembangannya sesuai 
dengan budaya lokalnya. 
Kota Pariaman? Sedang menuju jalan yang 
lebih terang, menjadi kota penting di masa depan. Mambangkik batang 
tarandam, menyambut biduk yang pulang... 

*) Secara ius 
soli (hak berdasarkan tempat lahir), adalah orang Kampuang Perak, Kota 
Pariaman. Secara ius sanguinis (hak berdasarkan tali darah), adalah 
orang Kampuang Dalam Padang Pariaman (Ibu) dalam sistem matrilineal dan 
orang Aie Angek Tanah Datar (ayah) dalam sistem patrilineal. 

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke