*OLEH : H MARJOHAN | *Pemerhati Sosial-Budaya


*SIAPA *tak kenal Rahmah El-Yunusiyah! Seorang pendidik di Minangkabau
secara cultural dan di Sumatera Barat secara provinsial. Sekitar 1920-an,
kaum hawa di daerah ini masih bergulat dalam awan kebodohan dan
keterbelakangan.



Tegasnya, wanita masih berjalan tertatih-tatih di kawasan marginal. Dan,
yang membuat kening bergerinyit, keterpinggiran si Bundo Kandu(a)ng itu,
nyaris menjamah semua denyut kehidupan.



Sebut saja dimensi pendidikan, kesehatan, sosialbudaya, ekonomi dan lainnya.

Menilik kondisi sosial-objektif menggalaukan itu, adik Zainuddin Labai
El-Yunusi (ulama terkemuka di Minangkabau) ini, bercita-cita menegakkan
tiang-pancang sekolah yang mampu mengakomodir semua kebutuhan yang
menggeliat pada kaum hawa tadi.



Tepat pada 1 November 1923, Rahmah El-Yunusiyah membidani kelahiran
Diniyyah Putri, di Padang Panjang.

Di awal mengayunkan langkah, pelbagai tanggapan dari masyarakat
menggelembung ke muka.



Sebanyak yang menyuguhkan dukungan moral bahkan material, sebanyak itu pula
yang mencemooh, mencibir dan mematahkan sebongkah tekad yang bertengger di
dada calon Pahlawan Nasional ini.



Secuil pemikiran aneh bin ajaib yang menggelinding ketika itu,
digelontorkan segelintir kaum literati adat yang masih terpengap di lorong
sempit *adat lamo *

*pusako usang *(adat tak punya pijakkan): anak perempuan tidaklah penting
benar disekolahkan tinggi-tinggi. Toh akhirnya kelak akan bergelimang
dengan dapur juga.

Dengan bijak, pendapat *nyeleneh *tersebut, didinginkan beliau dengan
pendekatan informatif, persuasif dan edukatif. Soalnya, jauh sebelum
mengibarkan bendera Diniyyah Putri, beliau telah mendalami hal-ihwal
kewanitaan.



Bagi Rahmah, wanita berperan signifikan dalam pencerahan umat (*harakatu
al-ummah*). Apalagi andai pencerdasan itu diunjukkan bagi wanita yang masih
terseok-

seok di akar rumput (*grass root level*).



Terpatri di sesudut sanubari Rahmah: mendidik satu orang putri, sama dengan
mendidik sepuluh generasi. Kondisi social sosiologis ini benar-lah
sebagai *asbabu
al-wurud *(latar belakang) Rahmah menancapkan marawa Diniyyah Putri yang
kini dibiduki Fauziah Fauzan, El-M, SE, M Si tersebut.

Dan, semua obsesi yang bergayut di jiwa beliau memang termanifestasi dalam
pendidikan Diniyah Putri yang diteruka dan dinakhodai beliau.



Indikasinya? Diniyah Putri bahkan hingga kini mempertautkan kurikulum
secara multi-komplek (*kaffah*/lengkap) dan seimbang. Maksudnya,
mengutamakan kompetensi spritual, trans-sendental dan intelektual (afektif/*
affection*) tapi tak abai menyentuh aspek skill-pisikomotorik. Kurikulum
plus metodologi pendidikan yang diretas Rahmah disinkronisasikannya dengan
tujuan pendidikan Diniyah Putri itu yang dianyam beliau apik!

Yaitu membentuk putri-putri: berkarakter Islami; mampu memosisikan diri
sebagai ibu pendidik yang cakap, terampil, aktif, *berakhlaqulkarimah; *serta
bertanggungjawab terhadap *kemaslahatan *(kesejahteraan) masyarakat dan
tanah air.

* *

*Pahlawan Nasional?*



Ketika si penjajah mengintervensi/menyugukan bantuan pada Diniyah Putri,
Rahmah tetap bersikukuh menganut politik: *non kooperatif *dengan Belanda.



Sedang pada zaman Jepang, Rahmah gigih menggeliatkan lembaga social politik
yang waktu itu dirasakan penting demi menjuluk kemerdekaan. Rahmah dibantu
kawan-kawan mengibarkan bendera ADI alias Anggota Daerah Ibu, Sumatera
Tengah. Bertujuan menentang invansi Jepang. Darah Rahmah kian menggelegak
nyaris menyergap ke ubunubun!

Soalnya, si tentara Jepang yang haus seksual ini, ingin melampiaskan
libidonya pada wanita Sumatera Tengah termasuk siswi Diniyah Putri sendiri.
Semua bakal mereka jadikan: wanita penghibur (noni-noni) di Rumah-Rumah
Kuning. Sekali lagi kehadiran ADI amatlah dibutuhkan. Dengan institusi ADI
pula, Rahmah punya kekuatan moral: menuntut dengan mata berbinar pada
Jepang agar menutup Rumah Kuning tersebut.



Dan, menelusuri tikam jejak perjuangan Rahmah El-Yunusiyah, terutama dalam
mendaya-ungkit derajat dan martabat kaum wanita—lewat institusi pendidikan,
agaknya tidaklah kalah ketimbang Raden Ajeng Kartini dan Fatmawati Soekarno.



Yang disebut pertama, bukankah hanya berupa korespondensi (surat-surat)
tentang harkat/martabat wanita Indonesia dalam tataran filosofis yang
dialamatkan pada para pembesar dan Nyonya-nyonya Belanda!



Sedang yang dibilang kedua (Fatmawati), jasa yang ditorehkan: menjahit
Sangsaka Merah-Putih yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945. Namun, keduanya
(Kartini dan Fatmawati), justru disematkan prediket: Pahlawan Nasional (?)
Inilah sejarah!

Sejarah dikuasai oleh yang sedang menggenggam kekuasaan. Ironisnya,
sekeranjang kebenaran, bisa dikalahkan oleh segenggam kekuasan.



Sekali lagi, di Minangkabau secara kultural dan di Sumatera Barat secara
provinsial, sejak Orla, Orba hingga era reformasi kini telah banyak pejuang
wanita yang diusulkan pada Negara melalui pemerintah untuk diangkat sebagai
Pahlawan Nasional. Sebut saja Siti Manggopoh, Rasuna Said, Ratna Juita dan
Rahmah El-Yunusiyah. Khusus yang disebut terarakhir (Rahmah El-Yunusiyah),
ketika penulis bertandang ke Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, sesuai
PP Nomor 33/1964: berkas (arsip & dokomen) beliau sebagai calon Pahlawan
Nasional sudah lengkap dan bahkan diantar langsung ke sarangnya, yakni ke
Kementerian Sosial RI guna diproses.



Namun sampai detik ini, tidak satu pun srikandisrikandi tanah Minang itu,
termasuk Rahmah El-Yunusiyah yang disuguhi gelar Pahlawan Nasional! Sekali
lagi, begitulah ketidak-adilan sejarah di negeri kita. Jawa sentries
kayaknya lebih kental dari-pada Minang sentries; Kalimantan sentries;
Sulawesi sentries dan seterusnya.

Sementangpun begitu, legitimasi masyarakat agaknya jauh lebih *gadang-badagok
*(kuat & besar secara hakiki) ketimbang legitimasi penguasa.



Tegasnya, Rahmah El-Yunusiyah tetaplah seorang pahlawan yang terpahat
memukau di tonggak-tonggak kulturalistik. Apalagi di mata puluhan ribu
alumni Diniyyah Putri yang berserak-serak di seantero Tanah Air. Bahkan
menjalar sampai ke Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Thailand dan
lainnya. Semoga!*



Harian Haluan, 18/12/12

-- 
*
*
*Wassalam

*
*Nofend St. Mudo
36Th/Cikarang | Asa Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola
*

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke