Saya agak bingung mengenai cerita ini, krn Aggresi Belanda dimana Sukarno Hatta ditangkap Belanda tgl.19 Des'49, tapi dalam kisah ini disebutkan PDRI dibentuk tgl.23 Des'48 kemudian kembali lagi dibawahnya dikisahkan perjalanan Mr Syafruddin di bulan Januari 1949, jadi dr Des'49 mundur ke Jan'49 yg benarnya yg mana Pak Nofend krn ini sejarah
Lihat kisah ; Tanggal 27-28 Desember 1948 rombongan Syafruddin meninggalkan Bangkinang menuju Taratakbuluh, menyeberangi Sungai Kampar, terus ke Teluk Kuantan. Beberapa sadan ditinggalkan/ditenggelamkan ke dalam sungai. Melewati kampung, Desa Lipatkain dan Muaralembu, jip berisi peralatan Sender terbalik, masuk kubangan lumpur. Syafruddin berada dalam jip itu, dan ia kehilangan kacamatanya. Syafruddin mendapatkan kacamata “baru” dari seorang dokter bertugas di wilayah dilalui. Tanggal 29 Desember 1949 perjalanan diteruskan ke Teluk Kuantan. ......??? Wass HM. Roy Noviar Amiroeddiin St. Tan Tuah Rang Tepi Selo Lintau Di Cilandak Jakarta Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: "Nofend St. Mudo" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 19 Dec 2012 20:21:22 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [R@ntau-Net] PDRI: Kototinggi atau Bidaralam? Catatan: SUTAN ZAILI ASRIL - Epaper Padang Ekspres, 19/12/12 SALAH satu topik gunjingan secara terbatas di lingkungan kita terakhir ini adalah tentang di mana tempat lebih bersejarah dalam konteks Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Kototinggi Kabupaten Limapuluh Kota atau Bidaralam Kabupaten Solok Selatan sebuah debat yang mungkin saja tidak produktif? Mungkin sejarawan akan lebih pintar menakar perkara itu. Saya mungkin hanya hendak berusaha menceritakan prosesi PDRI berdasarkan catatan staf radio TNI-AU sejak awal sampai konferensi internasional New Delhi yang menyatakan Belanda melakukan agresi dan mendesak penjajah itu berunding dengan Republik Indonesia. Sebagaimana diketahui, Belanda hendak kembali mencengkeramkan kuku di Indonesia, melancarkan agresi/melanggar perjanjian Renville/mengabaikan rundingan yang tengah dimediasi KTN (Komisi Tiga Negara), menyerang Kota Yogyakarta, tanggal 19 Desember 1948, dan sore harinya ibu kota sudah dikuasai Belanda. Sebelumnya tentang kawat yang dibuat Wakil Presiden/Perdana Menteri (PM) Bung Hatta ditujukan ke Menteri Kesejahteraan Mr Syafruddin Prawiranegara yang tengah berada di Bukittinggi membentuk pemerintah darurat, dan ke Duta Besar Dokter Soedarsono di New Delhi membentuk pemerintah RI di pengasingan, apabila Syafruddin tidak berhasil membentuk pemerintah darurat di Sumatera. Mr Syafruddin yang tengah berada di Bukittinggi tidak tahu dan tidak menerima kawat yang disebutkan memberi mandate padanya untuk membentuk pemerin tahan darurat. Ia hanya mendengar siaran radio, Ibu Kota Yogyakarta sudah diduduki Belanda, pada 19 Desember 1949 sore. Belanda menangkap/menawan Presiden Soekarno, Wakil Presiden/PM Mohammad Hatta dan sejumlah menteri. Belanda mengatakan, Republik Indonesia sudah pupus dari muka bumi. Syafruddin menemui Mr Teuku Mohammad Hassan di rumah di atas Ngarai Sianok, menyampaikan kemungkinan terjadi kevakuman pemerintahan. Ia mengusulkan, supaya dibentuk suatu pemerintah menyelamatkan kelanjutan nasib negara yang sedang dalam bahaya. Setelah berdiskusi panjang lebar di rumah di atas Ngarai Sianok itu, termasuk masalah hukum karena ketiadaan mandat apabila dibentuk pemerintahan darurat. Pemerintah darurat kemudian dibentuk dalam rapat di Halaban yang dipimpin Mr Syafruddin dan Mr TM Hassan jadi wakil. Malam itu juga Syafruddin dan Mohd Hassan menuju Halaban. Kesepakatan dua tokoh di rumah di atas Ngarai Sianok embrio dari pembentukan pemerintahan darurat dalam dua hari kemudian di Halaban. Rapat di Halaban menyepakati membentuk PDRI dan penyusunan Kabinet PDRI di Halaban. Stasiun radio perwira Tamimi di Halaban dapat berhubungan dengan stasiun radio AURI lainnya di Sumatera dan Jawa, pada tanggal 23 Desember 1948. Mr Syafruddin mengumumkan berdiri PDRI. Tanggal 24 Desember 1948, menjelang Subuh, rombongan PDRI dipimpin Mr Syafruddin, meninggalkan Halaban menuju arah Pekanbaru, lewat Lubukbangku, terus ke Bangkinang. Rombongan Syafruddin berada di Bangkinang—Belanda membom Bangkinang menggunakan pesawat-pesawat P-51. Tanggal 27-28 Desember 1948 rombongan Syafruddin meninggalkan Bangkinang menuju Taratakbuluh, menyeberangi Sungai Kampar, terus ke Teluk Kuantan. Beberapa sadan ditinggalkan/ditenggelamkan ke dalam sungai. Melewati kampung, Desa Lipatkain dan Muaralembu, jip berisi peralatan Sender terbalik, masuk kubangan lumpur. Syafruddin berada dalam jip itu, dan ia kehilangan kacamatanya. Syafruddin mendapatkan kacamata “baru” dari seorang dokter bertugas di wilayah dilalui. Tanggal 29 Desember 1949 perjalanan diteruskan ke Teluk Kuantan. Menginap di tepi Sungai Kuantan. Sementara itu, rombongan kedua yang dipimpin Gubernur St Mohd Rasyid sampai di Kototinggi. Belanda membom Kototinggi. Banyak korban tewas. Panglima Sumatera Kol Hidayat mengadakan rapat dengan Gubernur Rasjid. Atas persetujuan dari Ketua PDRI Syafruddin, rapat Kototinggi memutuskan merombak pemerintah sipil jadi pemerintah militer. semua pejabat gubernur sipil/jajarannya dimiliterkan, wakil gubernur dari tokoh militer. Tanggal 30-31 Desember 1948, rombongan Syafruddin berjalan kaki dari Taluk Kuantan (Riau) ke Sungaidareh/Sijunjung (Sumatera Barat)—semua kendaraan ditinggalkan di Teluk Kuantan. Tanggal 1 Januari 1949, tahun baru, rombongan menginap tiga hari di Sungaidareh, istirahat/merayakan bertahun baru. Melalui stasiun radio, Syafruddin mengirim ucapan selamat Tahun Baru ke semua Stasiun Radio AURI di Jawa dan Sumatera yang melayani pemerintahan sipil/militer. Tanggal 3 Januari, rombongan Syafruddin dari Sungaidareh menuju ke Bidaralam — lewat Abaisiat dan Abaisangir. Rombongan Syafruddin dibagi tiga: rombongan induk dipimpin Sjafruddin menempuh jalur Batang Hari mempergunakan sampan dayung/galah bambu. Dua rombongan lagi: rombongan keuangan yang dipimpin Loekman Hakim menuju Muara Tebo naik perahu motor; rombongan stasiun radio yang dipimpin Wakil PDRI TM Hassan mengambil jalan darat karena takut tenggelam, dengan berjalan kaki menuju Abai terus ke Bidaralam. Tanggal 16 Januari 1949, rombongan stasiun radio dan TM Hassan tiba di Bidaralam—rombongan Syafruddin sudah tiba di sana terlebih dalu. Pada minggu terakhir Januari 1949, seluruh rombongan PDRI lengkap berada di Bidaralam. Tanggal 17 Januai 1949 Stasiun Radio PDRI berhasil mengontak ke New Delhi. Tanggal 21 Januari 1949, Mr Syafruddin mengirimkan ucapan selamat ke PM Nehru dan peserta Konferensi New Delhi tentang Indonesia. Sebagai diketahui, tanggal 22 Januari 1949, Konferensi New Delhi, yang dihadiri 19 Delegasi Negara Asia – pun ada delegasi peninjau, merilis Resolusi (Resolusi New Delhi), berisi protes terhadap agresi militer Belanda di Indonesia, menuntut pengembalian tawanan politik Soekarno-Hatta/semua pemimpin Republik ke kota Yogyakarta. DK-PBB mengeluarkan resolusi tentang Indonesia. Tanggal 15-25 April 1949, rombongan Syafruddin meninggalkan nagari Bidaralam (Solok bagian selatan) menuju Sumpurkudus (Sijunjung), tempat diselenggarakan musyawarah besar pimpinan PDRI. Rombongan PDRI/Syafruddin dari Nagari Bidaralam, naik perahu dan berjalan kaki lewat kampung Abaisiat, Sungaidareh, Kiliranjao, Sungai Betung, Padangtarok, Tapus, Duriangadang, Menganti (nginap satu malam) dan tiba di Calau, Silantai, Nagari Sumpurkudus. Pada tanggal 5 Mei 1949, rombongan PDRI/Sjafruddin tiba di Korong Calau, Sumpurkudus. Tanggal 7 Mei 1949, pernyataan Roem-Royen di Jakarta disusul reaksi keras oposisi, PDRI, dan Panglima Besar Soedirman. Tanggal 9 Mei 1949, rombongan Mr Syafruddin meninggalkan Calau, menuju ke Sumpurkudus. Setelah menempuh satu hari perjalanan, rombongan tiba di satu dataran tinggi. Saat itu, rombongan dipecah tiga: Syafruddin ke Desa Silangit dan Silantai. Tanggal 14-17 Mei 1949, Sidang Paripurna Kabinet PDRI diadakan di Silantai, Sumpurkudus, di daerah Ampalu. Di situ berkumpul semua dari anggota Kabinet PDRI yang berada di Bidaralam dan Kototinggi, membicarakan reaksi PDRI terhadap prakarsa perundingan yang dilakukan pemimpin yang ditawan di Bangka (Soekarno/Hatta). PDRI merilis pernyataan yang menolak prakarsa perundingan yang dilakukan oleh kelompok Bangka. Tanggal 18 Mei-19 Juni 1949, Syafruddin tidak kembali ke Bidaralam, melainkan tetap bersama seluruh anggota rombongan berangkat ke Kototinggi. Tanggal 2 Juni 1949, Syafruddin melakukan kontak radiogram dengan Wakil Presiden/PM Mohd Hatta melalui Panglima Sumatera bermarkas di Aceh, Kolonel Hidayat. Tanggal 5-11 Juni 1949, utusan Mohd Hatta berangkat ke Aceh mencari PDRI. Tanggal 19 Juni – 20 Juni 1949, Stasiun Radio AURI Tamimi (walau tanpa Tamimi, karena yang bersangkutan telah ikut ke Kototinggi) masih di Siaur. Mereka ikut serta berpuasa dan berlebaran di Desa Siaur, tanggal 27 Juli 1949. Tanggal 2-3 Juli 1949, utusan Mohd Hatta (Leimena, Mohd Natsir, dan Abdul Halim) bertemu Syafruddin. Tanggal 6-7 Juli 1949 utusan Wakil Presiden/PM Mohd Hatta dan Ketua PDRI berunding di Kotokaciak Padangjopang, Payakumbuh. Perundingan berjalan alot/menegangkan, Syafruddin akhirnya mau diajak kembali ke Yogyakarta, menandai terjadinya rujuk antara PDRI dan pihak Soekarno-Hatta yang sejak semula ditawan Belanda di Bangka. Tanggal 6-8 Juli 1949, rombongan pemimpin dari Bangka tiba di Yogyakarta. Dua hari kemudian utusan Wakil Presiden/PM Mohd Hatta tiba di ibu kota. Tanggal 10 Juli 1949 Mr Syafruddin dan Panglima Besar Soedirman masuki Yogyakarta. Mr Syafruddin bertindak sebagai inspektur upacara penyambutan para pemimpin yang kembali masuk ke ibu kota negara di Yogyakarta. Tanggal 13 Juli 1949, Sidang Kabinet PM Mohd Hatta pertama semenjak Agresi II Belanda. Acara pokok: pengembalian mandat PDRI dari Mr. Sjafruddin ke Presiden Soekarno/Wakil Presiden Mohammad Hatta yang merangkap PM. Tanggal 25 Juli 1949, Badan Pekerja KNIP dalam sidang pertama, dipimpin Mr. Asaat, menyetujui pernyataan Roem-Royen, tapi, dengan persyaratan hauslah diajukan melalui PDRI dan melalui pengumuman pada tanggal 14 Juni 1949. Yaitu: (1) TNI tetap ada di daerah yang didudukinya; (2) Tentara Belanda harus ditarik dari daerah-daerah yang pada saat itu didudukinya; (3) Pemulihan Pemerintah RI Yogyakarta harus dilakukan dengan tanpa syarat. Suasana diupayakan untuk menjadi diterima baik dan dengan nyaman oleh semua pihak-pihak. NAH! Silakan pembaca menentukan sendiri, mana tempattempat bersejarah berkaitan PDRI berdasarkan kronologi di atas. Bukittinggi, Halaban, Kototinggi, Bidaralam, dan atau Sumpurkudus? (*) -- * * *Wassalam * *Nofend St. Mudo 36Th/Cikarang | Asa Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola * -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
