Salam, Bung Akmal yang juga budiman dan ara pembaca rantau net

Saya senang sekali membaca postingan Bung Akmal, selain bahasa yang memang enak 
dibaca, faktual dan  juga membangkitkan semangat kenasionalan. Sejak semalam 
itu yang saya pikirkan, apakah dokumen PDRI itu ada yg menyebut kata 
"Presiden", hampir saya menyurati Bung Akmal melalui japri, mana tahu memang 
ada kata Presiden itu dituliskan, kalau ada patut sekali kita membuat menulis 
ulang sejarah. 
Sebagai peristiwa hanya kata "Ketua" yang digunakan dalam PDRI, Bagi saya kata 
"ketua" tidak mengurangi makna bahawa Mr. Sjafroedin Prawiranegara adalah 
pemimpin tertinggi Republik Indonesia pada masa itu. Saya memang hanya 
berangkat dari fakta itu, kecuali saya tidak bsia menyalahkan apabila kita 
menulis fiksi. Karena fiksi boleh bicara di luar sumber. Sejarah sebagai 
historiografi selalu berhenti pada sumber dan data. Saya tidak menyalahkan 
interpretasi Asvi Warman Adam dan Bung Akmal, karena sebagai intrepretasi boleh 
saja terjadi. Itu menjadi sejarah yang telah dituliskan oleh Bung Akmal. Saya 
juga melihat semangat nasionalisme dan penghargaan  terhadap PDRI di sana. 
Tetapi secara faktual PDRI hanya punya Ketua, yang kedudukannya adalah sebagai 
kepala negara. Istilah pimpinan negara bisa berbeda tetapi yang penting peranan 
dan maknanya. Pertemuan saya dengan Bung Akmal pasti ada, yaitu beliau 
(Syafroedin adalah Pemimpin tertinggi Republik pada masa
 itu. 

Mengenai pembangunan Monas PDRI, saya termasuk orang yang juga kaget.Sehari 
setelah berita tentang itu saya baca, saya pernah memposting di FB saya dan 
mempertanyakan itu, tetapi tidak seberapa komentar, Padang Ekspres memberitakan 
dananya sebanyak Rp 297 m (?), saya kaget kok bisa, apa yang mau dibuat di 
pelosok itu? Sementara jalan ke arah Koto Tinggi  dan sekitarnya sangat kecil 
sejak puluhan tahun sementara pertumbuhan penduduk sudah begitu tinggi. 
Pemerintah tidak pernah menggandakan dan merenacanakan pelabaran jalan ini. 
Apakah Pemerintah  tidak mementingkan fasilitas /pra sarana masyaraat terlebih 
dahulu?

Di luar kontek PDRI,  saya sangat setuju apabila dibuat sebuah pustaka yang 
agak baik dekat  pusat kota yang dilengkapi museum dan taman kebudayaan. Sebab 
ini akan sangat berguna. sebab saya lihat sekarang, orang Minangkabau sudah 
kehilangan jutaan  atau milayaran karya intelektual masa lalunya, sementara di 
Malaysia  saya temui karya2 intelektual orang Minangkabau, termasuk beberapanya 
dicetak ulang dan dimikrofilmkan di universitas2. Sementara kita tidak merasa 
kehlangan dan pemimpin kita tidak merasa memerlukannya.

Wassalam
Wannofri Samry/ Malaysia-Padang


________________________________
 From: Akmal Nasery Basral <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Thursday, December 20, 2012 2:02 PM
Subject: [R@ntau-Net] @ Wannofri ... Re: PDRI (Status saya di Facebook hari ini)
 

Pak WS nan budiman,
Silakan baca posting saya sebelum ini dengan subyek: "Keliru besar!" yang 
merupakan tanggapan saya atas posting berjudul "Mandat Hatta kepada Sjafruddin 
Prawiranegara" di Haluan yang diposting sanak Nofend kemarin.

Alhamdulillah saya sudah baca (hampir) semua dokumen menyangkut PDRI di Arsip 
Nasional sebagai bahan novel saya, bahkan yang tak ada di buku PDRI: The 
Somewehere in The Jungle seperti Laporan rinci kegiatan Residen Rasjid (saat 
menginspeksi 3 kapal barang Singapura di Pariaman sehari sebelum Agresi Militer 
II pecah, dan itu menyebabkan Residen tak bisa mengikuti rapat dadakan di 
Istana Bung Hatta pada Minggu 19 Desember yang diikuti Pak Sjaf, Mr. T. Hasan, 
Kepala Polisi Sulaiman Effendi, Panglima Teritorium Sumatra Kol. Hidayat, dll), 
surat "teguran" Panglima APRI Letjen Sudirman kepada Bung Karno mengenai 
Perjanjian Roem-Roijen, atau cerita "prekuel" detik-detik keberangkatan Pak 
Sjaf ke Bukittinggi yang dijemput langsung Bung Hatta dan dibilang hanya 
"dipinjam seminggu", tapi kemudian berbulan-bulan tak bisa pulang, sementara 
Bung Hatta bisa pulang lagi ke ibukota (Yogyakarta).

Tentang istilah Presiden tidak digunakan dalam PDRI, memang betul yang 
digunakan adalah Ketua PDRI. Tapi jika Pak WS mengajak memahami dengan kacamata 
sejarah, saya kira Pak WS juga akan bersedia melihat dengan fakta sejarah juga 
penyebabnya yang sangat sederhana: karena mandat Bung Karno tak pernah diterima 
Pak Sjaf pada Minggu, 19 Desember itu, akibat kantor PTT (Pos, Telefon, 
Telegraf) Yogyakarta sudah diduduki pasukan Belanda, sehingga kurir yang 
mendapat tugas itu tak bisa mengirim mandat (yang baru diketahui Pak Sjaf dkk 
Kubu PDRI setelah beberapa saat kemudian).

Jadi saat merumuskan berdirinya PDRI, Pak Sjaf sebagai sarjana hukum, demikian 
juga Mr. T. Hasan yang pakar hukum alumni Leiden, tahu risiko penggunaan kata 
"Presiden" sekiranya ternyata tak pernah ada mandat, yakni Pak Sjaf dan PDRI 
akan dianggap melakukan kudeta. 

Soal Pusat PDRI, nah bagaimana melihat adanya Monas PDRI di Kototinggi itu, 
yang seakan-akan ditabalkan sebagai "Pusat" PDRI.

Kalau mengikuti logika Pemerintah Nasional yang mendirikan Tugu Proklamasi di 
tempat Bung Karno dan Bung Hatta membacakan Proklamasi 17 Agustus., bukankah 
harusnya Tugu Deklarasi PDRI (kenapa harus pakai istilah "Monas" PDRI segala 
yang menunjukkan inferioritas orang Minang saja karena "Monas" itu kan sudah 
jadi nama generik dari Monumen Nasional) seharusnya didirikan di bekas dangau 
Yaya di perkebunan teh Halaban, di kaki Gunung Sago, di mana "Proklamasi PDRI" 
dibacakan menjelang Subuh, 22 Desember 1948?

Saya khawatir, sudah semakin banyak kepentingan lain yang masuk dalam soal PDRI 
ini, dan itu membuatnya tak lebih baik dari kerumitan kondisi PSSI yang Pak WS 
maksudkan.

Salam,

Akmal N. Basral


Pada Rabu, 19 Desember 2012, wannofri samry menulis:

Pak Syarinal dan Bung Akmal.
>Pertama, semestinya memahami sejarah jangan dengankacamata masa kini, tetapi 
>pahami dengan kacamata sejarah. Untuk memahami PDRI yg paling baik adalah buku 
>PDRI: The Somewhere in the Junggle (Karya Mestika Zed, dan saya sendiri ikut 
>sebagai penulis draft dan peneliti untuk buku tsb). Baca juga kawat Soekarno 
>ke Sjafroedin Prawiranegara, ada di Arsip Nasional.
>
>
>Bung Akmal, istilah Presiden memang tidak digunakan dalam masa PDRI, hanya 
>Ketua. Sebagai fakta sejarah tidak mungkin diganti dengan kata Presiden, sebab 
>ini akan menjadi penyelwengan sejarah. Tetapi sebagai Syafroedin dalam masa 
>PDRI itu memang Kepala pemerintahan, sebab kalau tidak ada beliau maka tidak 
>ada lagi Indonesia ini. 
>
>
>Tidak ada juga pusat PDRI, makanya judul bukuPDRI: the somewhere in the 
>junggle... sudah menegaskan tidak ada sentral itu.
>yang penting mungkin maknanya yg perlu di dalami, bagaimana "nilai" kejuangan 
>dan nasionalis yang ditunjukkan oleh tokoh2 PDRI bersama rakyat. mereka 
>benar-benar berjuang dengan menyabung nyawa, tidak seperti tokoh-tokoh politik 
>kita hari ini yang suka bersenang-senang dan bicaranya seakan-akan leih 
>nasionalis dari pejuang dan kadang2 menghina para pejuang RI pula. Apa lai 
>para nasionalis elite politik yajg berebut mengurus sepak bola, sangat jauh 
>dari sikap kedewasaan bernegara. 
>
>
>
>
>Itu saja penjelasan singkat, mudah2an bermanfaat.
>Terima kasih.
>
>
>Selamat Hari Bela Negara.
>Wannofri Samry
>
>
>
>________________________________
> From: Syafrinal Syarien <[email protected]>
>To: "[email protected]" <[email protected]> 
>Sent: Wednesday, December 19, 2012 3:32 PM
>Subject: Re: [R@ntau-Net] PDRI (Status saya di Facebook hari ini)
> 
>
>Berdasarkan konstitusi RI, jika Presiden dan Wakil Presiden berhalangan tetap 
>dan tidak bisa menjalankan pemerintahan, maka kedudukannya diambil-alih 
>sementara oleh "Triumvirate" (Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, dan 
>Menteri Pertahanan), sampai diangkat Presiden definitif.
>
>
>Pertanyaannya: apakah bisa Triumvirate itu disebut sebagai Presiden?
>
>
>Kondisi yang sama (atau mirip) juga berlaku dalam kasus PDRI. Boleh saja 
>menyebut Mr. Sjafruddin Prawiranegara sebagai kepala/ketua/komandan PDRI. Tapi 
>untuk menyatakan beliau sebagai Presiden kedua, ya mesti kaji aspek hukum 
>tatanegaranya.
>
>
>Wassalam;
>Sy Syarien
>
>
>
>________________________________
> From: Akmal Nasery Basral <[email protected]>
>To: "[email protected]" <[email protected]> 
>Sent: Wednesday, December 19, 2012 3:22 PM
>Subject: [R@ntau-Net] PDRI (Status saya di Facebook hari ini)
> 
>
>Hari Bela Negara, 19 Desember. 64 tahun silam ibukota negara Yogyakarta jatuh 
>ke tangan Belanda pada Agresi Militer II. Presiden Soekarno, Wapres Hatta dan 
>7 pemimpin lain (H. Agus Salim, dll) ditangkap diasingkan ke Bangka. 
>Pemerintahan lumpuh.
>
>Pemerintahan lumpuh? Tidak. Di Sumatra Tengah (kini Sumatra Barat), Menteri 
>Kemakmuran Mr. Sjafruddin Prawiranegara (saat itu 37 tahun) mengumumkan 
>berdirinya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), berpindah-pindah dari 
>dusun-dusun, dari hutan ke hutan, selama 207 hari, sehingga Belanda mengejek 
>sebagai Pemerintah Dalam Rimba Indonesia. 
>
>Di dalam PDRI, Panglima Besar Sudirman menyatakan setia pada Pak Sjaf, 
>menteri-menteri yang lolos dari penangkapan Belanda menyatakan setia pada Pak 
>Sjaf.
>
>Pemerintahan Indonesia berjalan! 
>
>Tahun lalu, Pak Sjaf sudah diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden SBY. 
>Masih ada satu pengakuan lagi harus disematkan Pemerintah kepada Pak Sjaf yang 
>juga Gubernur BI pertama ini: Pak Sjaf harus diakui sebagai PRESIDEN KEDUA RI.
>
>Karena tanpa keberanian dan dedikasi Pak Sjaf menjadi nakhoda Republik 
>Indonesia di saat-saat genting itu, "kapal" negeri sebetulnya sudah karam saat 
>Pres-Wapres ditangkap dan Pemerintahan tak berfungsi.
>
>Jas Merah. Jangan sekali-sekali Melupakan Sejarah. Ajarkan pada generasi muda 
>apa yang sebenarnya terjadi pada 1948-1949: bahwa kelanjutan Indonesia sebagai 
>negara bisa terjadi karena adanya PDRI.
>
>Kawan-kawan harap membantu sesuai dengan profesi masing-masing untuk 
>menyuarakan kepada Pemerintah agar Pak Sjaf DIAKUI sebagai Presiden Kedua RI.
>
>Sebab kalau tidak, maka slogan "Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang 
>Menghargai Pahlawannya" adalah pepesan kosong belaka.
>
>
>
-- 
>-- 
>.
>* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
>wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>===========================================================
>UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>- DILARANG:
>1. E-mail besar dari 200KB;
>2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
>3. One Liner.
>- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
>http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
>- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
>subjeknya.
>===========================================================
>Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/
> 
> 
> 
>
-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke