Bung mm*** dari fakta nan Bung tampilkan, nampaknyo memang ado missi idiologi 
bung Hanung iko mengobrak-abrik nilai-nilai dasar masyarakat, khususnyo Islam 
dan Minangkabau. Kini BK3AM dan KMM Jaya alah maambiak langkah hukum dan 
langkah non hukum. Paralu kito dukuang basamo.
Wassalam,
SB.
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.

-----Original Message-----
From: Muchwardi Muchtar <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 16 Jan 2013 17:16:17 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] Film-Film Hanung Yang Melecehkan Islam

Dunsanak komunitas r@ntaunet nan sa-akidah dan (insya Allah) sacito-cito.
Untuak manambah kaceo Sanak (nan alun tau) saputa kurenah Si Hanuang
kantuik, izinkanlah ambo mampalewakan tulisan nan bajudul di ateh. Paliang
tidak, "K" dari ABS-SBK maamanahkan bake awak untuak mambaco dan mahinok-an
kalakuan paja ko.

Salam..............,

*mm****

*Film-Film Hanung Yang Melecehkan Islam*

1). *Perempuan Berkalung Sorban*

*“Belum pernah selama saya ini menonton film, berapa puluh tahun lamanya,
berapa ratus judul banyaknya, kalau dihitung-hitung sejak masa kanak-kanak
dulu, belum pernah saya merasa dihina dan dilecehkan seperti sesudah
menonton film Hanung ini. Hanung, kau keterlaluan”*

Itulah curahan hati Sastrawan Taufiq Ismail ketika menanggapi Film
Perempuan Berkalung Sorban karya Hanung Bramantyo. Film itu mengisahkan
sistem pesantren yang dirasa mengekang perempuan. Tampilan Kyai pun dibuat
Hanung begitu menyeramkan, seakan kisah teladan dakwah para Ulama di
Indonesia berguguran. Wajar seorang Budayawan berkelas seperti Taufiq
Ismail begitu kaget. Budaya, yang menjadi bidangnya, kini jadi wasilah
untuk menyudutkan umat Islam.

Sikap Taufiq Ismail ini didukung oleh sineas senior lainnya, Misbach Yusa
Biran. Misbach menyebut film garapan Hanung Bramantyo tersebut sebagai
propaganda buruk terhadap pesantren.”Saya tidak bisa menahan diri,” tulis
Misbach. ”Inti cerita *Perempuan Berkalung Sorban *ini menurut saya sangat
merugikan Islam dan merupakan propaganda buruk tentang pesantren.”

Misbach menuliskan dalam film ini pesantren digambarkan sebagai tempat
pendidikan yang sumpek dengan pemikirannya sangat terbelakang. ”Dewasa ini
pesantren kecil di pedesaan terpencilpun rasanya sudah tidak ada yang
begitu buruk pemahamannya,” katanya.

Bahkan di film ini, kata Misbach, kiai lulusan Mesir begitu digambarkan
seperti seorang yang dungu karena tidak membenarkan orang membaca selain Al
Qur’an. ”Sehingga seolah-olah perguruan tinggi Islam di Mesir juga
digambarkan sangat terbelakang.”

*2). Film **?*

Masih belum lepas dari ingatan ketika tahun 2011 Hanung membuat film yang
tidak kalah heboh. Judulnya cukup singkat: ?. Namun di dalamnya banyak
pecelehan yang tidak bisa diselesaikan secara singkat.

Ada tayangan seorang muslim memerankan Yesus di Gereja. Muslimah yang
disudutkan mau bekerja di tempat yang menjual makanan haram. Bahkan
puncaknya Hanung menganggap sepele perkara pemurtadan. “Aku pindah agama
bukan berarti aku mengkhianati Tuhan,” ungkap Rika, tokoh utama dalam Film
?.

Maka itu, mungkin saja Hanung menganggap sepele untuk urusan akidah. Bahkan
secara tega, suami Zaskia Mecca ini memainkan pemeran murtad untuk tokoh
sekaliber KH. Ahmad Dahlan yang kuat melawan Kristenisasi di Film Sang
Pencerah.

Di awal-awal film itu, penonton sudah disengat dengan hal yang sensitif,
seperti  adegan penusukan terhadap seorang pendeta bernama Albertus. Tidak
jelas apa motif penusukan yang dilakukan oleh seseorang yang berpenampilan
preman tersebut. Meski tidak menunjuk hidung secara langsung, namun ada
kesan Hanung hendak menggiring sterotype buruk, seolah yang suka melakukan
tindakan anakis datang dari kelompok agama tertentu.

Adegan selanjutnya, tanpa alasan yang jelas pula, sekelompok pemuda Islam
bersarung dan berpeci tiba-tiba mencerca seorang keturunan Cina dengan
panggilan ”Cino” (menyebut Cina dengan logat Jawa). Dalam film ini, Hanung
banyak menggunakan simbolik-simbolik sensasi yang didramatisir, yang
berpangkal dari sebuah kemarahan terpendam.

Dangan dalih toleransi, Hanung juga menciptakan adegan seorang Muslimah
berkerudung yang merasa nyaman bekerja di sebuah rumah makan (restoran)
yang menyajikan daging babi yang diharamkan oleh Islam. Toleransi ala
Hanung ingin mengesankan, bahwa muslimah yang diperankan oleh Revalina  S
Temat adalah muslimah yang ideal, yang bisa menghargai sebuah perbedaan.
Meski tidak sampai memakannya, tidak terlihat kegalauan hati dari seorang
Muslimah, seolah daging babi bukan sesuatu yang diharamkan.

Di sela adegan itu, ada seorang Muslimah yang menolak bekerja di sebuah
restoran yang sama, dengan alasan prinsip agama yang dipegang. Namun, cara p
andang Hanung yang keliru, ingin menunjukkan bahwa Muslimah yang menolak
bekerja di restoran Cina karena menyajikan daging babi itu sabagai muslimah
yang tidak toleran.

Kepribadian Hanung sendiri dinilai bermasalah. Pada saat proses pembuatan
film Ayat-Ayat Cinta  yang berlangsung saat bulan Ramadhan ia mengaku tidak
menjalankan kewajiban puasa dan shalat. Tanpa rasa sungkan, Hanung berkata
jujur saat diwawancarai Radio KBR 68 H, Rabu 27 Oktober 2010.

“Saya tidak melakukan salat apa pun. Saya tidak salat. Itu pada saat bulan
Ramadhan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk
berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya,”  katanya.

Menanggapi film ?, Ketua MUI KH. Kholil Ridwan menyatakan, “Setelah
menyaksikan langsung film yang disutradarai Hanung secara utuh, saya
mendapatkan kesan, aroma pluraslisme agama yang sangat menyengat dalam film
ini,” katanya.

Menurutnya, pluralisme yang dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme
sosiologis. Itulah yang dikenal dengan pluralitas. Misalnya saja umat Islam
sudah semestinya hidup berdampingan dengan orang Kristen dan umat agama
lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya.

“Jadi yang namanya kerukunan dan toleransi itu tidak boleh mengorbankan
keyakinanya,” tukas Kiai Kholil mengingatkan.

3). *Cinta Tapi Beda*

Di akhir tahun 2012, ‘Film Cinta Tapi Beda’ mengawali petualangan Hanung
dalam dunia perfilman.  Film ini mengisahkan dua muda-mudi yang berbeda
keyakinan. Untuk film ini, Hanung juga menggandeng sutradara Hestu Saputra
dan musisi Eross Candra, yang juga pelaku cinta beda agama.

Film itu mengisahkan Cahyo (Reza Nangin), cowok ganteng asal Jogja, bekerja
sebagai *chef** *di Jakarta. Ia anak pasangan Fadholi dan Munawaroh,
keluarga muslim yang taat beribadah. Cahyo berusaha lepas dari kesedihan
setelah ditinggal selingkuh sang kekasih, Mitha.

Sedangkan Diana (Agni Pratistha) merupakan gadis asal Padang, Sumatera
Barat, mahasiswi jurusan Seni Tari. Ia tinggal bersama om dan tantenya di
Jakarta. keluarga Diana merupakan penganut Katolik taat.

Cahyo dan Diana bertemu di pertunjukan tari kontemporer di Jakarta. Mereka
memutuskan berpacaran walaupun berbeda keyakinan. Mereka bahkan serius
melanjutkan hubungan hingga jenjang pernikahan.

Diana was-was ketika Cah­yo mengajaknya menemui orangtuanya. Ibu Cahyo bisa
me­mahami cinta anaknya, tapi tidak Pak Fadholi. Sampai kapan pun Pak
Fadholi tidak akan merestui Cahyo. Bila Cah­yo memaksa, Pak Fadholi
me­milih memutus ikatan tali ke­luarga. Ternyata tidak mu­dah bagi Cahyo
dan Diana men­ja­lani cinta beda keyakinan.

Ibu Diana juga keberatan dengan pilihan putrinya. Ka­kak-kakak Diana,
termasuk om dan tantenya, telah me­ning­galkan keyakinan me­reka. Ibu Diana
memaksa Diana me­ngi­kuti kehendaknya. Itu se­bab­nya, Diana akhirnya
me­mi­lih kembali ke Padang dan me­nerima perjodohan dengan do­kter Oka,
lelaki pilihan ibu­nya dan seiman. Ia coba tutup ha­tinya untuk Cahyo.

Film ini tentu menggiring pembaca untuk membenarkan pernikahan beda agama.
Padahal ini adalah perkara sensitif dalam Islam karena sudah menyangkut
akidah.

Hanung pun kemudian juga harus menghadapi protes dari umat Islam
Minangkabau. Keluarga Mahasiswa Minang Jaya (KMM Jaya) mendesak Hanung
Bramantyo meminta maaf kepada masyarakat Minangkabau sekaligus menghentikan
penayangan film tersebut di bisokop-bioskop.

“Kami pengurus pengurus pusat Keluarga Mahasiswa Minangkabau Jaya (KMM
JAYA) sangat terusik (terhina) dengan film ini,” kata pengurus pusat KMM
Jaya Muhammad Rozi.

Ke­tua Umum Lembaga Kera­patan Adat Alam Minang­ka­bau (LKAAM) Kota
Pa­ya­kum­buh Indra Zahur Da­tuak Rajo Simarajo dan Ketua Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Paya­k­umbuh Haji Mismardi, juga terang-terangan,
memintafilm ”Cinta
Tapi Beda”, dari peredaran. ”Jangan sampai ada yang bere­dar atau diputar
lagi, apalagi di Payakumbuh,” kata mereka.

Menurut Indra Zahur dan Mismardi, film Cinta Tapi Beda, sangat tidak sesuai
de­ngan ajaran adat Minang. ”Se­jak leluhur kita menga­jarkan ni­lai-nilai
kehidupan, ber­aga­ma, berkorong berkampung, nilai-nilai Islam tetap
melekat da­lam ajaran adat Minang.  Artinya, orang Minang itu ada­lah kaum
muslim dan mus­limah, pemeluk Islam.

”Kalau ia tak beragama Islam, itu bukan orang Minang. Ka­mi takut, film ini
akan merusak sendi-sendi adat dan bu­daya masyarakat Minang da­lam
berkehidupan sehari-ha­ri yang sangat menjaga hu­bu­ngan antar sesama. Kami
men­curigai, ada keinginan terse­lu­bung dari orang-orang yang ikut
mendukung film tersebut ditayangkan. Misalnya, ingin  menghancurkan adat
dan bu­daya masyarakat Minang,” kata Indra Zahur dan Buya Mis­mardi.
(Pz/Islampos)

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/




-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke