Mak MM NAH, satalah banyak thread tentang HB dan film CTB ko di Palanta RN, izinkan ambo ikuik bapandapek aa nan ambo tahu tentang HB, paling tidak sebagai upaya memperluas perspektif pemahaman.
Sependek pengetahuan ambo, paling tidak ado 3 filmnya yang merupakan hasil kerjasama dengan tiga novelis, yakni "Perempuan Berkalung Sorban" (novel karya Abidah El Khalieqy, 2001), "Ayat-ayat Cinta" (novel karya Habiburrahman El-Shirazy, 2004), dan "Sang Pencerah" (novel karya Akmal Nasery Basral, 2010). 1. "Perempuan Berkalung Sorban" Meski yang banyak dikecam orang dari "PBS" adalah versi filmnya, namun sebetulnya isi novel Abidah, sastrawati Jombang dari kultur pesantren (NU), tak berbeda jauh dari isi film Hanung. Bahkan Abidah juga muncul selintas dalam scene film itu. Kalau Mak MM menyebut adonya kecaman Taufiq Ismail terhadap PBS, kebetulan Mei 2012 ambo sampek satu oto jo Pak TI raun-raun dari Aie Angek ke Maninjau. Dan salah satu pembicaraan adolah manyangkuik PBS ko. Pak TI tahu bahwa film PBS adolah adaptasi dari novel Abidah El Khalieqy, yang sejak awal mengonsep novel itupun sudah hendak "meneriakkan" isu perempuan dalam lingkungan (pesantren) yang patriarkal.(Link-link soal ini bisa mudah dicari di internet). Justru hal inilah yang kemudian "disesalkan" Pak Taufiq Ismail, kenapa (ternyata) banyak orang yang "membombardir" Hanung tanpa tahu bahwa novelnya juga tak kalah sensitif. "Yang saya sayangkan, kenapa Abidah juga bermain di film itu," keluh Pak TI kepada ambo (waktu itu awak di daerah sekitar Batu Palano). "Meski menurut Abidah, sebagai film memang ado adaptasi-adaptasi kreatif yang dilakukan HB yang tak ada di novel aslinya." (Ini tema lain soal ekranisasi novel, karena sutradara sekaliber Francis Ford Coppola pun akan "menyunting" karya legendaris Mario Puzo "The Godfather" sesuai seleranya sendiri. Misalnya urutan film "The Godfather" 1, 2, 3, itu sebetulnya menyimpang dari novelnya. Urutan film pertama Coppola adalah novel kedua dalam trilogi Godfather. Sedangkan film kedua Coppola, adalah novel pertama Puzo, baru pada film ketiga Coppola taat pada novel ketiga Puzo). Lebih dari itu, seorang sutradara seperti Hanung (jangankan Hanung, bahkan sekaliber Akira Kurosawa atau Alfred Hitchcock pun akan menyutradarai berdasarkan skenario). Nah, skenario PBS ditulis oleh Gina S. Noer (muslimah, berjilbab), istri penulis skenario Salman Aristo (anak Minang, bekas anak buah ambo di majalah MTV Trax). Ambo tahu cara kerja Gina-Aris yang sangat kompak dan saling memberikan masukan satu sama lain. Untuak mampasingkek carito: PBS adolah hasil kerja banyak orang, mulai dari novelnya yang ditulis orang lain (bukan Hanung), sampai skenario yang juga ditulis orang lain (bukan Hanung). Sehingga kalau pun film ini disutradarai oleh orang lain yang bukan Hanung (katakanlah sutradara Minang, John de Rantau atau Enison Sinaro) dengan materi novel dan skenario yang sudah "seperti itu" hasil akhir filmnya tidak akan jauh berbeda. 2. "Ayat-ayat Cinta" Cuplikan wawancara Hanung yang menyatakan dia tidak sholat saat mengerjakan AAC, menurut ambo sudah terlalu jauh dilepaskan dari konteksnya. Sebab kalau keseluruhan wawancara itu dibaca (transkrip terlampir di bawah ini), justru setelah menyatakan dia tidak sholat itu, Hanung (di akhir wawancara) menyadari kesombongan dirinya, yang ternyata tidak ada apa-apanya di bawah kehendak Allah. Semua yang direncanakan HB di kepalanya, luluh lantak di lapangan, karena Allah menunjukkan kekuasaanNya yang tak pernah disangka-sangka HB. Jika wawancara di bawah ini dibaca dengan mengenyampingkan kebencian terhadap HB dan melihatnya sebagai bagian dari upaya pencarian seorang anak manusia terhadap esensi relijiusitas dan keilahian, saya malah terharu membayangkan Hanung harus "tersuruk-suruk" seberat itu dalam pencariannya untuk menjadi YAKIN. Pada wawancara ini, HB menjelaskan dengan lengkap detil keluarganya, siapa ayahnya, siapa ibunya. Sebuah wawancara yang jujur menurut saya. Butuh keberanian untuk mengungkapkan pergulatan batin seperti yang dilakukan HB dalam wawancaranya ini. http://islamlib.com/id/artikel/hanung-bramantyo-agama-hanyalah-medium 3. "Sang Pencerah" Satu hari di bulan April 2009, saya ditelpon Gangsar Sukrisno (waktu itu GM Bentang Pustaka, kelompok Mizan. GS adalah orang yang "menemukan" Andrea Hirata, di mana pada dua launching awal sekuel Laskar Pelangi, dan Sang Pemimpi, saya menjadi pembahasnya di tahun 2005 dan 2006). GS meminta saya datang ke MP Book Point (Cipete) yang sekarang sudah tidak ada. Saya datang dan bertemu Hanung. (Sudah kenal sejak 2003/2004 tapi tak sering bertemu). Kami bertiga membicarakan ide awal Hanung yang ingin memfilmkan kisah KH Ahmad Dahlan dalam mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Hanung cerita bahwa ayahnya adalah Pengurus Muhammadiyah di Yogyakarta dan rumah mereka sangat dekat dengan Kauman, tempat Kiai Dahlan. HB pun kini kenal dengan cucu dan cicit Kiai Dahlan. Dari sana proyek berjalan simultan. Saya mengembangkan novel, Hanung mengembangkan skenario, setelah kami menyepakati tahun-tahun utama (time line) dari kehidupan KH Ahmad Dahlan. Kami riset ke Yogya, ke Kraton, ke ahli waris keluarga KH Ahmad Dahlan, dll. Singkat cerita, novel saya keluar lebih dulu, persis Juli 2010 saat Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta, dirilis dan dibedah di sebuah toko buku utama di sana oleh Dr. Abdul Mu'thi, sejarawan Muhammadiyah. Hanung, Zaskia Mecca, dan tim yang baru kelar syuting datang. (Dari editor Mizan, Suhindrati Shinta, yang mengoordinasi proyek novel dan film "Sang Pencerah" saya dapat cerita, bahwa HB saat syuting berlangsung dia baru sempat baca draf novel saya separuh saja dan tidak bisa melanjutkan. "Kenapa tidak sampai habis?" tanya Shinta. "Karena setelah membaca novel Mas Akmal, rasanya saya ingin syuting ulang seluruh adegan lagi," jawab Hanung. Tapi apa boleh buat, dia sudah syuting dua minggu). Singkat cerita ketika film preview di bulan September, saya bertemu dengan Raam Punjabi (dari Multivision Plus yang memodali film "Sang Pencerah"). DOP (Director of Photography, dulu sebutannya Camera Man) film "Sang Pencerah" Faozan Rizal (sekarang menjadi sutradara film "Habibie-Ainun") bilang ke Raam, "Pak Raam ini Mas Akmal yang nulis novelnya. Harusnya Hanung syuting mengikuti novel mas Akmal. pasti hasilnya lebih bagus." Hanung mesem-mesem saja mendengar itu. Ini kejadian di Epicentrum Kuningan. Ada yang aneh dengan "Sang Pencerah" ini, dalam hal tanggapan publik terhadap novel dan filmnya. Sementara novelnya terpilih sebagai Fiksi Terbaik Islamic Book Fair 2011 dengan acara selebrasi penyerahan hadiah di Istora Senayan, diserahkan oleh Mahfud MD (Dewan juri diketuai oleh Azyumardi Azra, dan salah satu anggota adalah Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Ahmadun Y. Herfanda, eks Redaktur Budaya Republika), dan saya mendapat undangan hampir dari seluruh cabang Muhammadiyah untuk membahas novel ini (termasuk dari Padang), film "Sang Pencerah" yang disutradarai Hanung bahkan lolos seleksi FFI 2010 pun tidak! Dan ini menjadi skandal besar di akhir 2010 yang membuat insan perfilman terbelah dua. Ketua Dewan Juri Jujur Prananto (penulis skenario dan cerpenis produktif) mengundurkan diri bersama anggota lain (termasuk juga Remy Silado, dll) karena penjegalan terhadap "Sang Pencerah" (film) masuk sebagai kandidat itu dilakukan oleh tim seleksi awal dengan alasan... cerita film banyak menyimpang dari sejarah! Lho? Meski versi novel dan film tidak 100 % persis, tapi bagaimana mungkin novel "Sang Pencerah" (yang kebetulan saya tulis), bisa memenangkan penghargaan tertinggi (Fiksi Terbaik Islamic Book Fair) dengan juri para akademisi dan sastrawan nasional, sementara filmnya sekadar masuk daftar seleksi pun tidak! (Yang sudah menonton "Sang Pencerah" dan membaca versi novel saya, tentu akan tahu mana persamaan dan mana perbedaan DETIL antara kedua karya kreatif itu. Misalnya soal haji. Di film, karena keterbatasan durasi, HB tak bisa mengeksplor banyak soal haji yang dialami Kiai Dahlan. Sementara di novel, saya menautkan haji dengan kebijakan Pemerintah Hindia Belanda saat itu yang memantau ketat para haji yang baru pulang dari Tanah Suci, sikap paranoid warisan Raffles yang menulis dalam The Story of Java, karena haji dianggap sebagai "provokator" dan "motor pemberontakan" di banyak tempat. Sebuah kesadaran tak mau dijajah yang mereka dapatkan sebagai hasil berinteraksi dengan umat Islam lain di Tanah Suci. Sehingga, cara berpakaian haji dan kelas duduk di kereta api pun untuk para haji diatur sangat ketat agar Belanda mudah memantau mereka. Detil-detil ini di film tak bisa muncul karena masalah durasi tadi. Ini baru satu contoh saja). Singkat cerita, terjegalnya HB, lewat "Sang Pencerah" di FFI 2010 pun disayangkan banyak pihak yang berbalik menjadi mendukungnya karena jelas-jelas terjadi diskriminasi dengan alasan sumir. Dan terungkap pula kemudian bahwa penyebab penjegalan itu adalah alasan "non-teknis" yang tak bisa saya share di sini. Politicking, politicking, politicking! Saya heran betul waktu itu melihat betapa "mustahalnya" perlakuan yang diterima oleh novel "Sang Pencerah" dan film "Sang Pencerah", yang secara garis besar batang tubuh ceritanya adalah ... sama! Yakni perjuangan KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Belum lagi di Bali Post muncul headline, "Orang Hindu Biayai Film Tokoh Islam." Sad but true! Karena Raam Punjabi adalah salah satu tokoh Hindu. Poor Hanung. Very painful. Sudahlah dalam tahap pre-produksi PH-PH Islam atau tokoh-tokoh Islam tak ada yang mau funding, angkat tangan setelah melihat budget untuk film outdoor yang membuat replika Yogya di awal abad ke-20, dan umumnya -- seperti kebiasaan para tokoh kita -- "kami mendukung, kami mendukung" (Memangnya bikin film bisa petik daun dari pinggir jalan?) Tapi tak ada kontribusi riil. Giliran film tentang TOKOH ISLAM jadi dan diganjal di sana-sini, semua menarik kepala seperti siput ke dalam cangkangnya. Very-very-very painful. Terutama sekali buat Hanung. Dan Demi Allah, Demi Rasul-Nya saya melihat, dengan mata kepala sendiri, Hanung SHOLAT selama pengerjaan "Sang Pencerah" (Itu sebabnya saya sebutkan konteks Hanung bilang dia "tidak sholat waktu pengerjaan Ayat-ayat Cinta" jangan dilepas konteksnya). Bahkan saat "Sang Pencerah" dibahas, didiskusikan di PP Muhammadiyah Menteng (kalau tidak salah sebagian besar peserta saat itu adalah guru SD Muhammadiyah se-Jabotabek) pada saat sholat Ashar, HB sendiri yang diminta jadi imam oleh banyak jamaah yang anggota Muhammadiyah. 4. Tentang "Cinta Tapi Beda" saya tak bisa komentar karena alasan sederhana saja: saya belum menonton filmnya. Karena saya pernah menjadi Redaktur Film baik di Gatra maupun Tempo, saya mengharuskan diri saya untuk menonton sebuah film jika saya ingin berpendapat tentang film itu, seperti saya harus membaca tuntas sebuah buku jika saya ingin berkomentar tentang sebuah buku. Bukan hanya dari sinopsis yang lalu-lalang dan sudah diisi banyak kepentingan. 5. Posting saya ini tidak untuk membela Hanung, karena dia punya hak (dan tanggung jawab) untuk membela dirinya sendiri. Tetapi membombardirnya membabi buta tanpa mengetahui latar belakang masalahnya, dan seakan-akan seluruh karya Hanung hanya "pelecehan" terhadap Islam, adalah juga sebuah judgement yang dipenuhi syak wasangka karena sangat bias. Paling tidak, Hanung juga pernah membuat "Sang Pencerah" dan "Ayat-ayat Cinta" yang mau ditinjau dari sudut mana pun, tak ada sama sekali unsur yang bisa disebut pelecehan terhadap Islam. Kalau dari dinamika proses kreatif seorang Hanung Bramantyo ada naik dan turun, seperti pesan Mak Darwin Bahar di Palanta ini yang sangat bijak, berulang kali: shoot the message, not the messenger. Bahkan kalau pun Islam kita "sudah sempurna" , tak ada hak kita seujung rambut pun untuk menilai keimanan orang lain karena hak itu hanyalah milik Allah semata. Kewajiban muslim terhadap muslim lainnya hanya saling mengingatkan, secara santun. Jauhi penggunaan kata-kata yang seakan-akan "ana khoirum minhu" (saya lebih baik dari dia). Demikian pendapat ambo, Mak MM*** NAH. Allahu a'lam. Wassalam, ANB 44+, Cibubur Pada 16 Januari 2013 17.16, Muchwardi Muchtar <[email protected]>menulis: > Dunsanak komunitas r@ntaunet nan sa-akidah dan (insya Allah) sacito-cito. > Untuak manambah kaceo Sanak (nan alun tau) saputa kurenah Si Hanuang > kantuik, izinkanlah ambo mampalewakan tulisan nan bajudul di ateh. Paliang > tidak, "K" dari ABS-SBK maamanahkan bake awak untuak mambaco dan mahinok-an > kalakuan paja ko. > > Salam.............., > > *mm**** > > *Film-Film Hanung Yang Melecehkan Islam* > > 1). *Perempuan Berkalung Sorban* > > *“Belum pernah selama saya ini menonton film, berapa puluh tahun lamanya, > berapa ratus judul banyaknya, kalau dihitung-hitung sejak masa kanak-kanak > dulu, belum pernah saya merasa dihina dan dilecehkan seperti sesudah > menonton film Hanung ini. Hanung, kau keterlaluan”* > > Itulah curahan hati Sastrawan Taufiq Ismail ketika menanggapi Film > Perempuan Berkalung Sorban karya Hanung Bramantyo. Film itu mengisahkan > sistem pesantren yang dirasa mengekang perempuan. Tampilan Kyai pun dibuat > Hanung begitu menyeramkan, seakan kisah teladan dakwah para Ulama di > Indonesia berguguran. Wajar seorang Budayawan berkelas seperti Taufiq > Ismail begitu kaget. Budaya, yang menjadi bidangnya, kini jadi wasilah > untuk menyudutkan umat Islam. > > Sikap Taufiq Ismail ini didukung oleh sineas senior lainnya, Misbach Yusa > Biran. Misbach menyebut film garapan Hanung Bramantyo tersebut sebagai > propaganda buruk terhadap pesantren.”Saya tidak bisa menahan diri,” tulis > Misbach. ”Inti cerita *Perempuan Berkalung Sorban *ini menurut saya > sangat merugikan Islam dan merupakan propaganda buruk tentang pesantren.” > > Misbach menuliskan dalam film ini pesantren digambarkan sebagai tempat > pendidikan yang sumpek dengan pemikirannya sangat terbelakang. ”Dewasa ini > pesantren kecil di pedesaan terpencilpun rasanya sudah tidak ada yang > begitu buruk pemahamannya,” katanya. > > Bahkan di film ini, kata Misbach, kiai lulusan Mesir begitu digambarkan > seperti seorang yang dungu karena tidak membenarkan orang membaca selain Al > Qur’an. ”Sehingga seolah-olah perguruan tinggi Islam di Mesir juga > digambarkan sangat terbelakang.” > > *2). Film **?* > > Masih belum lepas dari ingatan ketika tahun 2011 Hanung membuat film yang > tidak kalah heboh. Judulnya cukup singkat: ?. Namun di dalamnya banyak > pecelehan yang tidak bisa diselesaikan secara singkat. > > Ada tayangan seorang muslim memerankan Yesus di Gereja. Muslimah yang > disudutkan mau bekerja di tempat yang menjual makanan haram. Bahkan > puncaknya Hanung menganggap sepele perkara pemurtadan. “Aku pindah agama > bukan berarti aku mengkhianati Tuhan,” ungkap Rika, tokoh utama dalam Film > ?. > > Maka itu, mungkin saja Hanung menganggap sepele untuk urusan akidah. > Bahkan secara tega, suami Zaskia Mecca ini memainkan pemeran murtad untuk > tokoh sekaliber KH. Ahmad Dahlan yang kuat melawan Kristenisasi di Film > Sang Pencerah. > > Di awal-awal film itu, penonton sudah disengat dengan hal yang sensitif, > seperti adegan penusukan terhadap seorang pendeta bernama Albertus. Tidak > jelas apa motif penusukan yang dilakukan oleh seseorang yang berpenampilan > preman tersebut. Meski tidak menunjuk hidung secara langsung, namun ada > kesan Hanung hendak menggiring sterotype buruk, seolah yang suka melakukan > tindakan anakis datang dari kelompok agama tertentu. > > Adegan selanjutnya, tanpa alasan yang jelas pula, sekelompok pemuda Islam > bersarung dan berpeci tiba-tiba mencerca seorang keturunan Cina dengan > panggilan ”Cino” (menyebut Cina dengan logat Jawa). Dalam film ini, Hanung > banyak menggunakan simbolik-simbolik sensasi yang didramatisir, yang > berpangkal dari sebuah kemarahan terpendam. > > Dangan dalih toleransi, Hanung juga menciptakan adegan seorang Muslimah > berkerudung yang merasa nyaman bekerja di sebuah rumah makan (restoran) > yang menyajikan daging babi yang diharamkan oleh Islam. Toleransi ala > Hanung ingin mengesankan, bahwa muslimah yang diperankan oleh Revalina S > Temat adalah muslimah yang ideal, yang bisa menghargai sebuah perbedaan. > Meski tidak sampai memakannya, tidak terlihat kegalauan hati dari seorang > Muslimah, seolah daging babi bukan sesuatu yang diharamkan. > > Di sela adegan itu, ada seorang Muslimah yang menolak bekerja di sebuah > restoran yang sama, dengan alasan prinsip agama yang dipegang. Namun, cara p > andang Hanung yang keliru, ingin menunjukkan bahwa Muslimah yang menolak > bekerja di restoran Cina karena menyajikan daging babi itu sabagai muslimah > yang tidak toleran. > > Kepribadian Hanung sendiri dinilai bermasalah. Pada saat proses pembuatan > film Ayat-Ayat Cinta yang berlangsung saat bulan Ramadhan ia mengaku tidak > menjalankan kewajiban puasa dan shalat. Tanpa rasa sungkan, Hanung berkata > jujur saat diwawancarai Radio KBR 68 H, Rabu 27 Oktober 2010. > > “Saya tidak melakukan salat apa pun. Saya tidak salat. Itu pada saat bulan > Ramadhan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk > berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya,” katanya. > > Menanggapi film ?, Ketua MUI KH. Kholil Ridwan menyatakan, “Setelah > menyaksikan langsung film yang disutradarai Hanung secara utuh, saya > mendapatkan kesan, aroma pluraslisme agama yang sangat menyengat dalam film > ini,” katanya. > > Menurutnya, pluralisme yang dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme > sosiologis. Itulah yang dikenal dengan pluralitas. Misalnya saja umat Islam > sudah semestinya hidup berdampingan dengan orang Kristen dan umat agama > lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya. > > “Jadi yang namanya kerukunan dan toleransi itu tidak boleh mengorbankan > keyakinanya,” tukas Kiai Kholil mengingatkan. > > 3). *Cinta Tapi Beda* > > Di akhir tahun 2012, ‘Film Cinta Tapi Beda’ mengawali petualangan Hanung > dalam dunia perfilman. Film ini mengisahkan dua muda-mudi yang berbeda > keyakinan. Untuk film ini, Hanung juga menggandeng sutradara Hestu > Saputra dan musisi Eross Candra, yang juga pelaku cinta beda agama. > > Film itu mengisahkan Cahyo (Reza Nangin), cowok ganteng asal Jogja, > bekerja sebagai *chef** *di Jakarta. Ia anak pasangan Fadholi dan > Munawaroh, keluarga muslim yang taat beribadah. Cahyo berusaha lepas dari > kesedihan > setelah ditinggal selingkuh sang kekasih, Mitha. > > Sedangkan Diana (Agni Pratistha) merupakan gadis asal Padang, Sumatera > Barat, mahasiswi jurusan Seni Tari. Ia tinggal bersama om dan tantenya di > Jakarta. keluarga Diana merupakan penganut Katolik taat. > > Cahyo dan Diana bertemu di pertunjukan tari kontemporer di Jakarta. Mereka > memutuskan berpacaran walaupun berbeda keyakinan. Mereka bahkan serius > melanjutkan hubungan hingga jenjang pernikahan. > > Diana was-was ketika Cahyo mengajaknya menemui orangtuanya. Ibu Cahyo > bisa memahami cinta anaknya, tapi tidak Pak Fadholi. Sampai kapan pun Pak > Fadholi tidak akan merestui Cahyo. Bila Cahyo memaksa, Pak Fadholi > memilih memutus ikatan tali keluarga. Ternyata tidak mudah bagi Cahyo > dan Diana menjalani cinta beda keyakinan. > > Ibu Diana juga keberatan dengan pilihan putrinya. Kakak-kakak Diana, > termasuk om dan tantenya, telah meninggalkan keyakinan mereka. Ibu Diana > memaksa Diana mengikuti kehendaknya. Itu sebabnya, Diana akhirnya > memilih kembali ke Padang dan menerima perjodohan dengan dokter Oka, > lelaki pilihan ibunya dan seiman. Ia coba tutup hatinya untuk Cahyo. > > Film ini tentu menggiring pembaca untuk membenarkan pernikahan beda > agama. Padahal ini adalah perkara sensitif dalam Islam karena sudah > menyangkut akidah. > > Hanung pun kemudian juga harus menghadapi protes dari umat Islam > Minangkabau. Keluarga Mahasiswa Minang Jaya (KMM Jaya) mendesak Hanung > Bramantyo meminta maaf kepada masyarakat Minangkabau sekaligus menghentikan > penayangan film tersebut di bisokop-bioskop. > > “Kami pengurus pengurus pusat Keluarga Mahasiswa Minangkabau Jaya (KMM > JAYA) sangat terusik (terhina) dengan film ini,” kata pengurus pusat KMM > Jaya Muhammad Rozi. > > Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota > Payakumbuh Indra Zahur Datuak Rajo Simarajo dan Ketua Majelis Ulama > Indonesia (MUI) Payakumbuh Haji Mismardi, juga terang-terangan, memintafilm > ”Cinta > Tapi Beda”, dari peredaran. ”Jangan sampai ada yang beredar atau diputar > lagi, apalagi di Payakumbuh,” kata mereka. > > Menurut Indra Zahur dan Mismardi, film Cinta Tapi Beda, sangat tidak > sesuai dengan ajaran adat Minang. ”Sejak leluhur kita mengajarkan > nilai-nilai kehidupan, beragama, berkorong berkampung, nilai-nilai Islam > tetap melekat dalam ajaran adat Minang. Artinya, orang Minang itu adalah > kaum muslim dan muslimah, pemeluk Islam. > > ”Kalau ia tak beragama Islam, itu bukan orang Minang. Kami takut, film ini > akan merusak sendi-sendi adat dan budaya masyarakat Minang dalam > berkehidupan sehari-hari yang sangat menjaga hubungan antar sesama. Kami > mencurigai, ada keinginan terselubung dari orang-orang yang ikut > mendukung film tersebut ditayangkan. Misalnya, ingin menghancurkan adat > dan budaya masyarakat Minang,” kata Indra Zahur dan Buya Mismardi. > (Pz/Islampos) > > > > -- > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > > > -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
