Alhamdulillah pak ZK,
Alah baansua juo website nagari Maninjau bantuaknyo. Semoga dimaso nan akan datang akan semakin banyak website nagari nan muncul digagas oleh perantaunyo. Masih takana dek ambo, dulu pak ZK ado bakainginan untuak menetap di kampuang pabilo alah pansiun. Kini di Nagari Lawang, ado pemuda minang nan banamo pak Zuhrizul nan sadang basumangek membangun potensi wisata di saputaran Matua jo Maninjau. Ambo kiro, rancak juo pabilo pak ZK bisa bakomunikasi jo pak Zuhrizul sambia maansua-ansua persiapan untuak tingga di kampuang sambia badiskusi kiro-kiro apo nan rancak dikembangkan di Agam Baruah. wasalam AZ/lk/34th/caniago Sawah Tongah, Limo Koto, Kubang sadang di dangau ________________________________ Dari: Zulkarnain Kahar <[email protected]> Kepada: "[email protected]" <[email protected]> Dikirim: Rabu, 16 Januari 2013 9:22 Judul: [R@ntau-Net] Ketika Minangkabau Merasa Terhina Falsafah orang Minang itukan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (adat berpedoman pada agama, agama berpedoman pada kitab Allah – Al Qur’an). Bukan Syarak Basandi Injil kan? Nah, kalau keluar dari situ (Kitabullah) berartikan kehilangan identitas keminangan,” ungkap Yasraf kepada LenteraTimur.com. Menurut Yasraf, Minangkabau memiliki ciri tersendiri yang menempel dengan Islam. Ciri tersebut adalah kesalehan. Artinya, ketika orang bicara tentang Minang, maka tanda-tanda itu adalah Islam. “Karena bagi kita (orang Minang), agama (Islam) sudah menjadi satu dengan adat,” jelas Yasraf. Tanda-tanda atau simbol-simbol atau identitas keminangan yang muncul di film itu memang terlihat jelas. Sebut saja gonjong pada atap Rumah Gadang, Jam Gadang (juga bergonjong), Jembatan Limpapeh, musik Saluang, pun Jenjang Seribu. Itu semua adalah identitas yang dimiliki oleh Bukittinggi, bukan Padang. Dan itu menyimbolkan Minangkabau. “Ketika tanda-tanda itu dimasukkan Kristen, kan sama saja mendekonstruksi atau merombak Minang itu sendiri. Artinya mencoba mengacaukan pun merubah stereotip tadi,” terang Yasraf. Yasraf menduga film ini hendak kreatif dengan membongkar stereotip Minangkabau. Hanya saja, ia berlaga dengan Minangkabau yang memiliki falsafah adat yang berkiblat pada Kitabullah (Al-Quran). http://www.lenteratimur.com/ketika-minangkabau-merasa-terhina/ Zulkarnain Kahar http://www.maninjau.net -- -- . -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
