TITIK PERTEMUAN LUHAK NAN TIGA
 
Mochtar Naim
 
15/02/13
 
 
S 
AMBIL menunggu respons dari Ketiga Bupati TD/A/LK (Tanah Datar/Agam/L Kota), 
maupun Gubernur Sumbar di atasnya, dan pengayaan pemikiran dari kawan2 di RN 
ini, tentang konsep pengembangan Titik Pertemuan Luhak nan Tiga, yaitu yang 
mencakup Tiga Nagari yang bersebelahan di Titik Pertemuan Ln3 itu: Tabek Patah 
(TD), Padang Tarab (A) dan Piladang (LK), kita bisa melanjutkan lagi butir2 
tambahan yang perlu kita angkatkan.
            Pertama tentu saja kita harus menjawab pertanyaan: Kenapa kita 
merasa perlu mengangkatkan persoalan ini: Menemukan Titik Temu atau Titik 
Silang dari ketiga Luhak ini, baik secara geografis-topografis maupun 
sosial-budayanya. Selama ini kita mungkin lebih terpaku kepada penemuan pusat 
kerajaan Minangkabau di Pagaruyung, Batu Sangkar, di Luhak Tanah Datar.   Dan 
alhamdu lillah kita selama dekade2 yl ini telah berhasil membangun kembali 
Ustano Rajo Pagaruyung, walau pernah kena musibah kebakaran, tetapi alhamdu 
lillah sekarang telah terbangun kembali, terutama berkat bantuan rang sumando 
niniak-mamak kita yang pernah menjadi orang kedua di RI ini:  Dr (Hon) Drs H 
Jusuf Kalla. 
            Karena yang namanya Minangkabau itu tidak hanya melihat strukturnya 
secara vertikal dalam konteks ber-Kerajaan, yang larinya lalu ke Adityawarman 
yang mempertemukannya dengan kerajaan Majapahit di abad ke 14, tapi juga secara 
horizontal mendatar karena sifatnya yang demokratis-egaliter-komunal, maka pada 
tingkat selanjutnya kita tentu juga perlu memperkenalkan kepada dunia Luhak Nan 
Tigo itu sendiri yang menjadi pusat jala pumpunan ikan dari wajah budaya 
Minangkabau itu. 
            Sebagai kita tahu, Minangkabau itu punya Darat dan Rantau. Darat 
disimpulkan ke dalam Luhak Nan Tigo: TD/A/LK itu dan rantau: Nagari-nagari 
sekeliling Darat yang dahulu bahagian dari Minangkabau dan sekarang terciutkan 
ke dalam bahagian dari Sumatera Barat. Luasnya rantau Minangkabau itu, kalau 
diluaskan, selebar alam ini, yang istilahnya: kalau dibalun sebalun kuku, kalau 
dikembang selebar alam. Kemanapun di dunia ini orang Minang karenanya bisa 
pergi merantau.  Di sana buminya dipijak, langitnya dijunjung. Dengan filosofi 
itu, orang Minang bisa hidup di manapun dan merasa seperti di rumah sendiri.
            Darat yang berarti Luhak itu sistemnya “berpenghulu” sementara 
rantau “beraja.” Sendirinya Luhak nan Tiga yang bertemu titik temunya di ketiga 
Nagari Tabek Patah, Sungai Tarab dan Piladang tadi tentu juga berpenghulu yang 
sekaligus melambangkan sistem sosial yang egaliter-demokratis-komunal dengan 
ikatan kekeluargaannya yang matirilineal. Lalu antara adat dan agama juga 
terbuhul ke dalam filosofi hidup: ABS-SBK – Adat Bersendi Syarak, Syarak 
Bersendi Kitabullah yang juga dianut di seluruh Dunia Melayu di Asia Tenggara 
ini. Sumatera Barat dan Minangkabau dengan demikian adalah juga bahagian dari 
Dunia Melayu-Dunia Islam yang tidak bisa dipisahkan. 
            Namun tentu saja ada varian dari ketiga Nagari yang mewakili ke 
Tiga Luhak itu yang perlu dikaji dan digali, sampai di mana kesamaan dan 
perbedaannya, yang sekaligus juga mencerminkan perbedaan dan kesamaan antara 
ketiga Luhak itu. Misalnya, dari langgam bahasanya saja, segera akan terlihat 
bahwa ada variasi dari ketiganya. Ada yang ber a-a dan ada yang ber  o-o; ada 
yang ber ano-ano, ada yang ber inyo-inyo, dst. Belum lagi variasi adatnya, 
budayanya, dsb.
            Kerjasama akademis dengan para ahli sejarah, antropologi dan 
sosiologi dari universitas2 yang ada di Sumbar maupun di Indonesia dan dunia 
lainnya dapat diciptakan untuk memperjelas kesamaan dan perbedaan itu, apalagi 
karena kitapun berniat menceritakannya secara lisan dan tertulis kepada dunia 
wisata sekaligus yang akan datang mengunjungi Titik Pertemuan Luhak Nan Tiga 
yang juga akan menjadi pusat wisata budaya itu.
            Dengan kita menemukan dan mengidentifikasi titik temu dari ketiga 
Luhak Nan Tiga itu, yang kelihatannya tersimpul ke dalam Tiga Nagari yang 
bersebelahan di Titik Pertemuan atau Persilangan itu, pertanyaan berikutnya 
tentulah: Mau diapakan ketiga Nagari yang bersebelahan itu. Yang jelas kita 
harus menjadikan ketiga Nagari itu sekaligus sebagai model dari nagari2 di 
ketiga Luhak itu, baik secara kolektif per Luhak maupun per Darat yang berbagi 
berserikat dengan Rantau.
            Dan ini tentu saja akan merupakan tantangan bagi kita, bagaimnana 
menjadikan ketiga Nagari yang bersebelahan itu sekaligus menjadi cermin replika 
dari semua nagari2 di Sumatera Barat. Dengan orang, siapapun, datang ke ketiga 
Nagari tu, orang sedikitnya dapat melihat contoh sempurna dari gambaran nagari2 
di Sumatera Barat. Secara teoretis kita serahkan beban ini kepada kawan2 para 
ahli sosial-budaya di perguruan tinggi itu, sedang secara praktis 
pelaksanaannya kitapun serahkan kepada ketiga Wali Nagari dan lembaga tali nan 
tigo sapilin dari para niniak mamak, alim-ulama, dan cerdik pandai, serta 
lengkap dengan bundo kanduang dan pemuda di tiap2 Nagari nan Tiga itu. 
Sementara secara administratif pemerintahan dan kewenangannya tentu saja kita 
bebankan pula kepada para Camat dan Bupati terkait serta Gubernur Sumbar dan 
Dinas terkait di atasnya, sehingga proyek dan program ini menjadi proyek dan 
program kita bersama di Sumatera Barat
 secara kolegial in toto. 
            Dengan ketiga Nagari yang terletak di Titik Temu Tiga Luhak ini 
kita tentu juga ingin bahwa ini bukan hanya sekadar pajangan untuk tujuan 
pariwisata tetapi benar-benar dihayati dan dipraktekkan oleh anggota masyarakat 
dari ketiga Nagari yang mewakili ketiga Luhak itu. Sendirinya bukan hanya 
struktur masyarakatnya tetapi juga akhlak dan tingkah laku serta kurenah dan 
basa-basi yang tercermin dari sikap hidup warga masyarakatnya. Sendirinya, baik 
sekolah, surau-mesjid, korong-kampung dan rumah-tangganya adalah juga lambang 
ketauladanan yang sekaligus juga mencerminkan adat-agama dan sistem nilai 
budaya yang berlaku dalam masyarakat di Minangkabau itu.
            Sebagai lambang dari kesemuanya itu, akan bagus sekali kalau di 
titik temu dari ketiga Luhak itu dibangun sebuah bangunan tradisional “surau 
balenggek” beratap ijuk dengan sebuah balairung adat di sampingnya, yang 
sekaligus juga melambangkan persatuan antara adat dan agama yang dilambangkan 
dengan motto ABS-SBK itu. Titik temu dari ketiga Luhak itu ada di bangunan 
surau dan balairung adat yang terletak di sebuah taman yang asri di 
persimpangan ke ketiga Luhak itu.
            Silahkan kalau kita juga berkhayal membangun kampus 
universitas/perguruan tinggi ataupun madrasah dan sekolah di tanah ketiga 
Nagari pertemuan Tiga Luhak itu di samping juga obyek2 wisata lainnya. 
            Saya serahkan konsep ini kepada semua kita untuk kita bahas dan 
miliki bersama. Melalui cara ini juga mudah2an timbul pula ide lain2nya dalam 
membangun Sumatera Barat ini ke masa depan. Kita mengharapkan partisipasi dari 
para Bupati, Gubernur dan kepala2 Dinas terkait tidak hanya sekadar ikut 
membaca tetapi memanfaatkannya untuk diangkatkan menjadi program pemerintah dan 
masyarakat di Sumatera Barat. Kita masih harus mempertanyakan, media komunikasi 
yang macam mana yang bisa kita ciptakan agar komunikasi dua arah antara 
pemerintah dan masyarakat bisa terjelma.
 
            Wassalam, 
 
            Mochtar Naim
            15/02/13
 
Berikut terlampir tulisan saya terkait sebelumnya:
 
SURAT TERBUKA DARI MOCHTAR NAIM 
KEPADA YTH KETIGA BUPATI DARI LUHAK TANAH DATAR, 
AGAM DAN LIMA PULUH KOTA
 
MENGENAI IDE MAMBANGUN LOKUS WISATA BUDAYA
DI TITIK PERTEMUAN KETIGA LUHAK MINANGKABAU 
ANTARA TABEK PATAH, SITUJUAHDAN BASO
 
Assalamu'alaikum w.w.,
 
Sambil menampung tanggapan dan pemikiran dari kawan2 di RN dsb, tentang ide 
membangun lokus pariwisata budaya di titik pertemuan antara ketiga Luhak 
TD/A/LK di persimpangan antara ketiga Luhak itu antara Tabek Patah, Situjuah 
dan Baso,saya memberanikan diri menyampaikanSurat Terbuka ini kepada ketiga 
Bupati kita yang wilayahnya bersebelahan di titik pertemuan antara ketiga 
Kabupaten tsb, untuk memintakan perhatian dan keterlibatan dari ketiganya.
 
Sumatera Barat walau termasuk salah satu dari pusat utama pariwisata di 
Nusantara ini, tetapi secara keseluruhan jauh ketinggalan dari Bali, Yogya dan 
beberapa daerah tujuan wisata lainnya.Pada hal Sumatera Barat dengan Alam 
Minangkabaunya diberkahi oleh Allah dengan keindahan alam yang tak terpermanai 
dan kekayaan budayanyayang boleh dikatakan khas di dunia ini. 
 
Dalam rangka itulah saya memintakan perhatian dan keterlibatan dari ketiga 
Engku Bupati yth. Wisatawan yang berkunjung ke daerah kita ini, setelah melihat 
keindahan alam di sana-sini, dan telah pula ke Ustano Rajo di Pagaruyuang, 
musium Puti Bungsu di Kebun Binatang Bukittinggi, ataupun pusat budaya nan tak 
selesai di Padang Panjang, kayaknya para wisatawan tak tahu lagi ke mana mau 
pergi untuk mengenal lebih jauh tentang aspek dan seluk-beluk budaya 
Minangkabau yang kita umumnya banggakan itu. Informasi tertulis tentang obyek 
wisata budaya ini pun kayaknya juga kurang sekali.
 
Makanya saya dan kami mengusulkan bagaimana kalau ketiga engku Bupati 
berbincang-bincang membangun lokus atau pusat wisata budaya di persimpangan 
ketiga Luhak TD/A/LK itu yang strategis dan skenis-indah itu. Entah apa dan 
bagaimana bentuknya, sayang kalau kita tidak memanfaatkan sebagai obyek wisata 
budaya Minangkabau. Dengan itu nanti, ketika para wisatawan selesai melihat 
ustano rajo di Pagaruyuang, sambil dalam perjalanan ke Payakumbuh dan 
Bukittinggi dapat pula mampir di simpang tiga budaya Luhak nan Tiga itu.
 
Bagaimana mengembangkannya dan apa yang dikembangkan, tentu akan banyak 
terserah kepada Engku Bupati yang bertiga. Yang kami rakyat berderai ini insya 
Allah akan selalu siap mendukung dan ikut menunjangnya.
 
Demikianlah, disertai salam dari ranah dan rantau, kami menanti jawaban dan 
reaksi dari ketiga Engku Bupati yang kami hormati.
 
Mochtar Naim
09/02/13   

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke