Alaaa Angku Mochtar Naim, Jan lah baitu bana mampaturuikkan paraso hati
bangih. Urang pambangih langek gaek. Awak alah manciikan paek... :)

Ikua postiang indak lo bakuaduang.

Fasabrun Jamiiiil ...

Salam,
-- Nyit Sungut

2013/2/16 Mochtar Naim <[email protected]>

>
> Sdr Rahyus,
>      Kok pakai nilai2 segala. Ngapain Sdr Rahyus dengan cara seperti itu?
> Nguji? Apakah memang Sdr Rahyus pantas menguji dan menilai saya? Apalagi
> bidang akademik Anda kan dokter tulang, sedang masalahnya adalah masalah
> sosial-budaya yang kebetulan saya geluti selama ini. Yang saya kemukakan
> itu kan baru wawasan untuk kita persamakan. Bukan proposal atau apapun yang
> sudah masak untuk diuji.
>      Di RN ini adalah tempat untuk kita saling bertukar-pikiran dan
> isi-mengisi pendapat. Kebetulan Gubernur kita, IP, mengharapkan agar Sumbar
> menjadi daerah pariwisata yang bisa diandalkan. Apalagi kita tak punya SDA
> yang cukup memadai. Makanya SDMnya yang diutamakan. Dalam rangka itulah
> saya mengusulkan agar daerah strategis titik temu ketiga Luhak nan3 itu
> dijadikan sebagai lokus atau sentra penampilan sosial-budaya dari ketiga
> Luhak itu dan Minangkabau secara menyeluruh.
>      Nah, kalau Anda sependapat, silahkan Anda memberikan kontribusi
> pemikiran Anda. Kalau tidak sependapat, silahkan pula mengemukakan point2
> apa2 keberatan Anda.
>      Saran saya, mari kita saling bertukar-pikiran tapi dengan cara yang
> galant, hormat-menghormati, harga-menghargai. Tidak cara kasar seperti
> yang Sdr Rahyus bawakan itu.
>     Bagaimanapun, yang kesalahan Anda telah saya maafkan terlebih dahulu.
> Dan kita tetap bersaudara.
>     Salam saya, MN
>
>
>   *From:* "[email protected]" <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Saturday, February 16, 2013 7:11 AM
> *Subject:* Re: Bls: [R@ntau-Net] TITIK PERTEMUAN LUHAK NAN TIGA
> **
> Tuo2 rantaunet nan ambo hormati dan sanak sadonyo.****Sebagai anggota
> palanta RN ambo manilai tulisan Pak MN: **1. Kalau tulisan ko dianggap
> sebagai 'imbauan' ambo maagiah nilai C (A sd E). **Alasan: imbauan ko sah
> sah sajo. Dampak imbauan ko low impact baik secaro ekonomi, sosial dsb.**2.
> Sebagai 'proposal' untuak sebuah project nan paralu direalisasikan ambo
> agiah nilai D.**Alasan: background ide ko lamah karena indak mengakar ka
> alasan sosio ekonomi budaya tiga wilyah, budgetingg indak adoh, dsb. Jadi
> masih banyak nan paralu diperbaiki agar ide iko bisa manjadi sebuah
> proposal nan bisa direalisasikan.****Mohon maaf...iko panilaian ambo
> sebagai urang nan duduak di lapau RN ko.****Rahyussalim****
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>  *From: *"Dr Saafroedin Bahar" <[email protected]>
> *Sender: *[email protected]
> *Date: *Fri, 15 Feb 2013 23:37:42 +0000
> *To: *Rantau Net Rantau Net<[email protected]>
> *ReplyTo: *[email protected]
> *Cc: *Dr. Mochtar Naim<[email protected]>
> *Subject: *Bls: [R@ntau-Net] TITIK PERTEMUAN LUHAK NAN TIGA
>
> Gagasan pak Mochtar ini jelas bagus dan sangat ideal jika bisa
> ditindaklanjuti. Beliau telah mengambil prakarsa dengan menulis Surat
> Terbuka kepada tiga Bupati terkait, Agam, Tanah Datar, dan Limapuluh Kota,
> serta pemilis RantauNet. **Belum perlukah dibentuk sebuah panitia kecil
> yang akan memperjuangkan terwujudnya gagasan besar dan berjangka panjang
> ini, kalau bisa dipimpin langsung oleh pak Mochtar Naim sendiri ?**
> Wassalam,**SB.
> Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
>  *From: *Mochtar Naim <[email protected]>
> *Sender: *[email protected]
> *Date: *Sat, 16 Feb 2013 06:51:33 +0800 (SGT)
> *To: *rantaunet rantaunet rantaunet<[email protected]>
> *ReplyTo: *[email protected]
> *Cc: *MOCHTAR NAIM<[email protected]>
> *Subject: *[R@ntau-Net] TITIK PERTEMUAN LUHAK NAN TIGA
>
>
>
> * *
> *TITIK PERTEMUAN LUHAK NAN TIGA*
> * *
> *Mochtar Naim*
> * *
> 15/02/13
>
>
>    S
> AMBIL menunggu respons dari Ketiga Bupati TD/A/LK (Tanah Datar/Agam/L
> Kota), maupun Gubernur Sumbar di atasnya, dan pengayaan pemikiran dari
> kawan2 di RN ini, tentang konsep pengembangan Titik Pertemuan Luhak nan
> Tiga, yaitu yang mencakup Tiga Nagari yang bersebelahan di Titik Pertemuan
> Ln3 itu: Tabek Patah (TD), Padang Tarab (A) dan Piladang (LK), kita bisa
> melanjutkan lagi butir2 tambahan yang perlu kita angkatkan.
>             Pertama tentu saja kita harus menjawab pertanyaan: Kenapa
> kita merasa perlu mengangkatkan persoalan ini: Menemukan Titik Temu atau
> Titik Silang dari ketiga Luhak ini, baik secara geografis-topografis maupun
> sosial-budayanya. Selama ini kita mungkin lebih terpaku kepada penemuan
> pusat kerajaan Minangkabau di Pagaruyung, Batu Sangkar, di Luhak Tanah
> Datar.   Dan alhamdu lillah kita selama dekade2 yl ini telah berhasil
> membangun kembali Ustano Rajo Pagaruyung, walau pernah kena musibah
> kebakaran, tetapi alhamdu lillah sekarang telah terbangun kembali, terutama
> berkat bantuan rang sumando niniak-mamak kita yang pernah menjadi orang
> kedua di RI ini:  Dr (Hon) Drs H Jusuf Kalla.
>             Karena yang namanya Minangkabau itu tidak hanya melihat
> strukturnya secara vertikal dalam konteks ber-Kerajaan, yang larinya lalu
> ke Adityawarman yang mempertemukannya dengan kerajaan Majapahit di abad ke
> 14, tapi juga secara horizontal mendatar karena sifatnya yang
> demokratis-egaliter-komunal, maka pada tingkat selanjutnya kita tentu juga
> perlu memperkenalkan kepada dunia Luhak Nan Tigo itu sendiri yang menjadi
> pusat jala pumpunan ikan dari wajah budaya Minangkabau itu.
>             Sebagai kita tahu, Minangkabau itu punya Darat dan Rantau.
> Darat disimpulkan ke dalam Luhak Nan Tigo: TD/A/LK itu dan rantau:
> Nagari-nagari sekeliling Darat yang dahulu bahagian dari Minangkabau dan
> sekarang terciutkan ke dalam bahagian dari Sumatera Barat. Luasnya rantau
> Minangkabau itu, kalau diluaskan, selebar alam ini, yang istilahnya: kalau
> dibalun sebalun kuku, kalau dikembang selebar alam. Kemanapun di dunia ini
> orang Minang karenanya bisa pergi merantau.  Di sana buminya dipijak,
> langitnya dijunjung. Dengan filosofi itu, orang Minang bisa hidup di
> manapun dan merasa seperti di rumah sendiri.
>             Darat yang berarti Luhak itu sistemnya “berpenghulu”
> sementara rantau “beraja.” Sendirinya Luhak nan Tiga yang bertemu titik
> temunya di ketiga Nagari Tabek Patah, Sungai Tarab dan Piladang tadi tentu
> juga berpenghulu yang sekaligus melambangkan sistem sosial yang
> egaliter-demokratis-komunal dengan ikatan kekeluargaannya yang
> matirilineal. Lalu antara adat dan agama juga terbuhul ke dalam filosofi
> hidup: ABS-SBK – Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah yang juga
> dianut di seluruh Dunia Melayu di Asia Tenggara ini. Sumatera Barat dan
> Minangkabau dengan demikian adalah juga bahagian dari Dunia Melayu-Dunia
> Islam yang tidak bisa dipisahkan.
>             Namun tentu saja ada varian dari ketiga Nagari yang mewakili
> ke Tiga Luhak itu yang perlu dikaji dan digali, sampai di mana kesamaan dan
> perbedaannya, yang sekaligus juga mencerminkan perbedaan dan kesamaan
> antara ketiga Luhak itu. Misalnya, dari langgam bahasanya saja, segera akan
> terlihat bahwa ada variasi dari ketiganya. Ada yang ber a-a dan ada yang ber
> o-o; ada yang ber ano-ano, ada yang ber inyo-inyo, dst. Belum lagi variasi
> adatnya, budayanya, dsb.
>             Kerjasama akademis dengan para ahli sejarah, antropologi dan
> sosiologi dari universitas2 yang ada di Sumbar maupun di Indonesia dan
> dunia lainnya dapat diciptakan untuk memperjelas kesamaan dan perbedaan
> itu, apalagi karena kitapun berniat menceritakannya secara lisan dan
> tertulis kepada dunia wisata sekaligus yang akan datang mengunjungi Titik
> Pertemuan Luhak Nan Tiga yang juga akan menjadi pusat wisata budaya itu.
>             Dengan kita menemukan dan mengidentifikasi titik temu dari
> ketiga Luhak Nan Tiga itu, yang kelihatannya tersimpul ke dalam Tiga Nagari
> yang bersebelahan di Titik Pertemuan atau Persilangan itu, pertanyaan
> berikutnya tentulah: Mau diapakan ketiga Nagari yang bersebelahan itu. Yang
> jelas kita harus menjadikan ketiga Nagari itu sekaligus sebagai model dari
> nagari2 di ketiga Luhak itu, baik secara kolektif per Luhak maupun per
> Darat yang berbagi berserikat dengan Rantau.
>             Dan ini tentu saja akan merupakan tantangan bagi kita,
> bagaimnana menjadikan ketiga Nagari yang bersebelahan itu sekaligus menjadi
> cermin replika dari semua nagari2 di Sumatera Barat. Dengan orang,
> siapapun, datang ke ketiga Nagari tu, orang sedikitnya dapat melihat contoh
> sempurna dari gambaran nagari2 di Sumatera Barat. Secara teoretis kita
> serahkan beban ini kepada kawan2 para ahli sosial-budaya di perguruan
> tinggi itu, sedang secara praktis pelaksanaannya kitapun serahkan kepada
> ketiga Wali Nagari dan lembaga tali nan tigo sapilin dari para niniak
> mamak, alim-ulama, dan cerdik pandai, serta lengkap dengan bundo kanduang
> dan pemuda di tiap2 Nagari nan Tiga itu. Sementara secara administratif
> pemerintahan dan kewenangannya tentu saja kita bebankan pula kepada para
> Camat dan Bupati terkait serta Gubernur Sumbar dan Dinas terkait di
> atasnya, sehingga proyek dan program ini menjadi proyek dan program kita
> bersama di Sumatera Barat secara kolegial in toto.
>             Dengan ketiga Nagari yang terletak di Titik Temu Tiga Luhak
> ini kita tentu juga ingin bahwa ini bukan hanya sekadar pajangan untuk
> tujuan pariwisata tetapi benar-benar dihayati dan dipraktekkan oleh anggota
> masyarakat dari ketiga Nagari yang mewakili ketiga Luhak itu. Sendirinya
> bukan hanya struktur masyarakatnya tetapi juga akhlak dan tingkah laku
> serta kurenah dan basa-basi yang tercermin dari sikap hidup warga
> masyarakatnya. Sendirinya, baik sekolah, surau-mesjid, korong-kampung dan
> rumah-tangganya adalah juga lambang ketauladanan yang sekaligus juga
> mencerminkan adat-agama dan sistem nilai budaya yang berlaku dalam
> masyarakat di Minangkabau itu.
>             Sebagai lambang dari kesemuanya itu, akan bagus sekali kalau
> di titik temu dari ketiga Luhak itu dibangun sebuah bangunan tradisional
> “surau balenggek” beratap ijuk dengan sebuah balairung adat di sampingnya,
> yang sekaligus juga melambangkan persatuan antara adat dan agama yang
> dilambangkan dengan motto ABS-SBK itu. Titik temu dari ketiga Luhak itu ada
> di bangunan surau dan balairung adat yang terletak di sebuah taman yang
> asri di persimpangan ke ketiga Luhak itu.
>             Silahkan kalau kita juga berkhayal membangun kampus
> universitas/perguruan tinggi ataupun madrasah dan sekolah di tanah ketiga
> Nagari pertemuan Tiga Luhak itu di samping juga obyek2 wisata lainnya.
>             Saya serahkan konsep ini kepada semua kita untuk kita bahas
> dan miliki bersama. Melalui cara ini juga mudah2an timbul pula ide lain2nya
> dalam membangun Sumatera Barat ini ke masa depan. Kita mengharapkan
> partisipasi dari para Bupati, Gubernur dan kepala2 Dinas terkait tidak
> hanya sekadar ikut membaca tetapi memanfaatkannya untuk diangkatkan menjadi
> program pemerintah dan masyarakat di Sumatera Barat. Kita masih harus
> mempertanyakan, media komunikasi yang macam mana yang bisa kita ciptakan
> agar komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat bisa terjelma.
>
>             Wassalam,
>
>             Mochtar Naim
>             15/02/13
>
> Berikut terlampir tulisan saya terkait sebelumnya:
>
> *SURAT TERBUKA DARI MOCHTAR NAIM *
> *KEPADA YTH KETIGA BUPATI DARI LUHAK TANAH DATAR, ***
> *AGAM DAN LIMA PULUH KOTA***
> * *
> *MENGENAI IDE MAMBANGUN LOKUS WISATA BUDAYA*
> *DI TITIK PERTEMUAN KETIGA LUHAK MINANGKABAU *
> *ANTARA TABEK PATAH**, SITUJUAH** DAN BASO***
>
> Assalamu'alaikum w.w.,
>
> Sambil menampung tanggapan dan pemikiran dari kawan2 di RN dsb, tentang
> ide membangun lokus pariwisata budaya di titik pertemuan antara ketiga
> Luhak TD/A/LK di persimpangan antara ketiga Luhak itu antara Tabek Patah, 
> Situjuah
> dan Baso, saya memberanikan diri menyampaikan Surat Terbuka ini kepada
> ketiga Bupati kita yang wilayahnya bersebelahan di titik pertemuan antara
> ketiga Kabupaten tsb, untuk memintakan perhatian dan keterlibatan dari
> ketiganya.
>
> Sumatera Barat walau termasuk salah satu dari pusat utama pariwisata di
> Nusantara ini, tetapi secara keseluruhan jauh ketinggalan dari Bali,
> Yogya dan beberapa daerah tujuan wisata lainnya. Pada hal Sumatera Barat
> dengan Alam Minangkabaunya diberkahi oleh Allah dengan keindahan alam yang
> tak terpermanai dan kekayaan budayanya yang boleh dikatakan khas di dunia
> ini.
>
> Dalam rangka itulah saya memintakan perhatian dan keterlibatan dari ketiga
> Engku Bupati yth. Wisatawan yang berkunjung ke daerah kita ini, setelah
> melihat keindahan alam di sana-sini, dan telah pula ke Ustano Rajo di
> Pagaruyuang, musium Puti Bungsu di Kebun Binatang Bukittinggi, ataupun
> pusat budaya nan tak selesai di Padang Panjang, kayaknya para wisatawan tak
> tahu lagi ke mana mau pergi untuk mengenal lebih jauh tentang aspek dan
> seluk-beluk budaya Minangkabau yang kita umumnya banggakan itu. Informasi
> tertulis tentang obyek wisata budaya ini pun kayaknya juga kurang sekali.
>
> Makanya saya dan kami mengusulkan bagaimana kalau ketiga engku Bupati
> berbincang-bincang membangun lokus atau pusat wisata budaya di persimpangan
> ketiga Luhak TD/A/LK itu yang strategis dan skenis-indah itu. Entah apa dan
> bagaimana bentuknya, sayang kalau kita tidak memanfaatkan sebagai obyek
> wisata budaya Minangkabau. Dengan itu nanti, ketika para wisatawan selesai
> melihat ustano rajo di Pagaruyuang, sambil dalam perjalanan ke Payakumbuh
> dan Bukittinggi dapat pula mampir di simpang tiga budaya Luhak nan Tiga itu.
>
> Bagaimana mengembangkannya dan apa yang dikembangkan, tentu akan banyak
> terserah kepada Engku Bupati yang bertiga. Yang kami rakyat berderai ini
> insya Allah akan selalu siap mendukung dan ikut menunjangnya.
>
> Demikianlah, disertai salam dari ranah dan rantau, kami menanti jawaban
> dan reaksi dari ketiga Engku Bupati yang kami hormati.
>
> Mochtar Naim
> 09/02/13
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke