Mereka tidak menjawab, hanya tertunduk malu karena sekarang mereka merasa perkelahian mereka itu tidak ada artinya bagi para tetua dan ini membuat mereka semakin merasa malu.
”Sapar, kamu jawab mamak (paman), sebenarnya ada apa kamu terus saja berkelahi dengan Keling, jawab dengan jujur!” kata tetua Hamid yang merupakan paman tertua Sapar dari pihak ibunya. Semakin Sapar terdiam dan menundukan kepala, Sapar sangat takut pada mamaknya ini karena beliau sangat keras terhadap kemenakan-kemenakannya yang melakukan kesalahan. ”Eh, Sapar, dengar tidak pertanyaan mamak?”, terlihat Sapar menganggukkan kepala, ”Lalu kenapa sampai sekarang kamu belum menjawab?” Karena tidak juga terdengar jawaban dari Sapar, mulai mamaknya naik darah kepada kemenakannya sebelum sang mamak melampiaskan dengan kemarahannya, sang wali nagari sudah mengangkat tangannya kepada tetua Hamid. ”Biar saya saja yang menjawabnya, tetua. Persoalannya sebenarnya sederhana saja dari soal ejek mengejek terus meluas ke urusan naksir menaksir perempuan.” ”Seperti kita semua ketahui saya memang memberikan latihan ilmu silat kepada semua pemuda kita yang berminat untuk menjaga keamanan nagari kita ini.” ”Dan ilmu silat ini diberikan untuk tujuan yang baik bukan menjadi ajang saling menonjolkan diri. Tiga hari lagi saya mengadakan ujian untuk kenaikan tingkat dalam belajar ilmu silat, dan untuk tingkatan dasar yang paling menonjol saat ini adalah Sapar dan Keling.” Lanjut wali nagari Bumi,”Mereka berdua ini selalu saja berusaha menjadi yang terbaik agar bisa menjadi pimpinan di tingkatan mereka, tapi karena kekuatan mereka berimbang maka pimpinan atas tingkatan dasar ini tidak pernah ada. Saya sangat menghargai ambisi mereka untuk menjadi yang terbaik, tapi ini bukan berarti harus saling mencelakai sesama teman......” ”Dduuuuuaaaarrrrrr.” Tiba-tiba terdengar ledakan yang dasyat sekali sehingga semua orang di dalam ruangan melompat dari duduknya saking terkejutnya akibat sedang serius mendengarkan wali nagari. Dengan cepat berhamburan keluar wali nagari, disusul petugas keamanan dan yang lain ke luar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata ledakan itu merupakan kerjaan jahil Aswin untuk mengagetkan orang yang sedang tidur-tiduran di pos keamanan yang kira-kira 10 tombak dari halaman depan rumah arah timur laut. Ledakan itu besar ledakan dikarenakan mercon yang digunakan oleh Aswin terlalu banyak dan digulung menjadi sebuah gulungan mercon yang sangat besar, jadi bila diledakan akan terdengar keras sekali karena mercon itu meletus bersamaan. Bocah nakal tertawa-tawa terpingkal-pingkal sambil bergulingan di atas tanah melihat wajah-wajah pemuda yang tadinya tiduran di pos keamanan tersebut. Orang yang punya rumah agak berjauhan dari lokasi kejadian bisa mendengar ledakan tersebut dengan keras, apalagi bagi orang yang mempunyai rumah dekat tempat itu, secepat kilat mereka berlarian keluar untuk melihat apa yang telah terjadi. Bisa dibayangkan bagaimana terkejutnya para pemuda itu sampai mereka perlu menenangkan jantung mereka sebelum mereka bisa bicara apapun. Sekejab mata sampailah wali nagari Bumi di tempat kejadian, dan tidak lama tempat itu penuh dengan penduduk yang keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi. Sukar dilukiskan betapa murkanya wali nagari Bumi ketika mengetahui bahwa itu semua merupakan kerjaan anaknya yang bandel itu. Dengan muka yang merah menahan marah pelan-pelan wali nagari Bumi bergerak ke arah Aswin yang masih saja memegangi perutnya karena sakit, kebanyakan tertawa, para penduduk tahu bahwa anak nakal ini sebentar lagi pasti dihukum berat oleh ayahnya. Kebetulan Bunda Siti yang biasa membela anak ini sedang tidak ada di rumah, sudah beberapa hari beliau pergi dengan Kahar ke nagari tetangga yang cukup jauh letaknya dari nagari mereka untuk menolong mengobati penduduk yang kena wabah penyakit di sana. Jadi sekali ini tidak ada yang akan membela lagi bocah nakal ini dari amarah sang ayah. Memikirkan hal itu beberapa penduduk yang memang sangat menyayangi bocah ini merasa kasihan, segera mereka bergegas ke arah bocah ini untuk melindunginya termasuk tetua Nurdin yang memang sangat menyayangi anak nakal ini karena tetua Nurdin melihat anak nakal ini seperti almarhum cucu kesayangannya yang meninggal akibat sakit yang pernah mewabah di nagari mereka yang juga menewaskan semua keluarganya yang lain.. Dan Aswin, anak itu sangat mengerti disayang oleh tetua Nurdin, dengan pintar dia mengambil hati sang kakek dengan memanggil kakekku dan selalu menghibur sang kakek supaya tidak kesepian dengan tiupan saluangnya. Kali ini tetua Nurdin tahu anak ini akan dapat masalah besar dengan kenakalannya seperti itu. Memikirkan itu segera tetua Nurdin menghadang wali nagari Bumi untuk mendekati Aswin, katanya,” Tunggu Bumi, jangan emosi dulu, bertanya yang baik-baik pada dia, apa yang terjadi, jangan kamu marah-marah dulu.” Bersambung…. No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.5/1279 - Release Date: 14/02/2008 18:35 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. - Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahul -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
