Padang, Padek-- Jumat, 15 Februari 2008 Saat ini Indonesia belum bisa mencari Hamka generasi kedua. Pasalnya, sebagai seorang intelektual, seorang Buya Hamka bisa mencurahkan pemikirannya dalam segala bidang. Ia tidak hanya dikenal sebagai ulama dan sastrawan, namun prediket lainnya sebagai seorang politisi yang konsisten dan seorang diplomat ulung.
Semua itu dimilikinya tanpa menjalani pendidikan formal. Padahal, Hamka hanya menjalani pendidikan dasar hingga kelas dua sekolah rakyat. Hal ini mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Sumbar Intelektual Society (SIS) di Carano Room Padang Ekspres kemarin (14/2). Diskusi dalam rangka menyambut Seabad Buya Hamka ini menghadirkan Guest Editor Padang Ekspres H Marthias Pandoe dan sejarawan Mestika Zed sebagai pembicara. Selain mahasiswa yang tergabung dari berbagai organisasi kemahasiswaan dan organisasi kepemudaan, ikut ambil bagian pada diskusi ini, Dekan Fakultas Sastra Unand Adriyetti Amir. Semua peserta diskusi memandang sosok Buya Hamka patut dijadikan referensi intelektual. Bayangkan, di saat perkembangan ilmu pengetahuan belum berkembang pesat di Indonesia, Hamka tampil dengan kecendekiawanannya sebagai ilmuan agamis bersahaja. Marthias Duski Pandoe menyebutkan, Hamka mampu menjadi tokoh besar di bangsa ini, baik sebagai ulama maupun tokoh politik tidak terlepas dari cara pendidikan di surau. Karena di surau di Minangkabau saat itu sebagai lembaga pemberdayaan ulama dan pendidikan lainnya. Sedangkan di ranah politik, Hamka tampil sebagai satu-satunya tokoh yang berani menentang kebijakan pemerintah. Ia melihat ketika di zamaan orde baru, Hamka menolak keputusan MUI, kendati tokoh-tokoh lainnya tidak berani unjuk keintelektualnya di tengah-tengah kesalahan sebuah kebijakan negara. Selanjutnya Marthias menambahkan “Hamka tidak pernah melepaskan identitasnya sebagai orang beradat dan beragama dengan berkain sarung setiap style-nya. Padahal orang telah membudayakan mengenakan celana,” ulasnya. Pendapat hampir senada diungkapkan sejarawan Mestika Zed. Menurutnya, Hamka adalah intelektual Islam yang otodidak. “Ia tidak pernah merasakan pendidikan layaknya seorang Hatta dan M Yamin yang menyelesaiakan pendidikannya hingga sarjana,” ungkapnya. Hamka memiliki kemampuan menulis seperti ia berbicara. Tulisannya yang spektakuler adalah Tafsir Al Azhar. “Karya besar itu dihasilkannya ketika ia dipenjara oleh presiden Soekarno waktu itu,” tambahnya. Hamka tidak pernah bisa diam. Setiap saat ia selalu menyempatkan diri menulis. Sementara itu Adriyetti Amir menilai, Hamka tokoh yang memacu kemampuan menulisnya dengan membaca. “Sejauh pengetahuan saya generasi muda sekarang belum mampu menandingi kemampuan menulis dan membaca seorang Hamka. Padahal, sebagai seorang ulama, Hamka melatih kemampuan keagamaannya bukan di Ranah Minang, melainkan di Tanah Saudi Arabia. Kemampuannya mempelajari agama Islam hanya dengan bahasa arab yang diajarkan orang tuanya di surau dan di keluarga.(mg7) No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.5/1279 - Release Date: 14/02/2008 18:35 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. - Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahul -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
