Assalamualaikum w.w. Sanak Dedi Yusmen,
Saya sudah pernah membaca artkel ini sebelumnya, dengan sikap setengah percaya. kalau sekiranya penemuan tersebut memang benar, wah, ini akan jadi sumbangan besar kepada dunia yang harus bahan bakar itu. Namun saya masih bertanya-tanya: mengapa para 'inventor' ini tak segera meminta hak paten atas temuannya yang benar-benar revolusioner itu ? Mengapa Pemerintah kita, yang sekarang harus mengeluarkan subsidi BBM kl. Rp 50 triliun setahun itu kok diam-diam saja? Mengapa Bupati Bantul tak mengeksploitasi temuan ini untuk mengajak investor ? Dan mengapa perusahaan-perusahaan minyak dunia kok sepert acuh tak acuh saja ? Siapa yang biasa memberi penjelasan yang masuk akal ?
Wassalam, Saafroedin Bahar
(L, 70+6+5, Jakarta) 'Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya' 'Taqdir di tangan Allah swt, Nasib di tangan Manusia' 'Mari berlomba berbuat kebaikan' 'Setiap manusia adalah baik, sampai terbukti sebaliknya' 'Jangan pernah berhutang dan jangan mudah berpiutang'
--- On Fri, 2/15/08, Dedy Yusmen <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Dedy Yusmen <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Air menjadi Bahan Bakar, ini baru berita To: [email protected] Date: Friday, February 15, 2008, 11:19 AM
Tak
perlu repot ngantri minyak, karena air sudah dapat jadi sumber bakar, di swedia
sudah ada mobil dengan berbahan bakar air, kini ada penelitian mutakhir dari
UMY Yogya. Tentu kita tunggu proses selanjutnya....
Dari Soft Launching
Bahan Bakar Air Hidrofuel Banyugeni di UMY
Wah...Menakjubkan,
seperti Bahan Bakar Minyak
Terus melambungnya harga bahan bakar minyak
(BBM) membuat berbagai kalangan mulai mengembangkan energi alternatif. Salah satunya dilakukan
para ilmuwan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Kemarin,
UMY menggelar soft launching BBM yang berbahan dasar air. Produk hidrofuel ini diberi nama Banyugeni.
SYUKRON M, Bantul
Tepuk tangan bergemuruh di halaman
Gedung Ahmad Dahlan, komplek Kampus Terpadu UMY saat sepeda motor Suzuki Smash AB 5520 GI menyala.
Sejurus kemudian, tangan Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori langsung menggeber gas kendaaran roda ini. Lambat laun, suara mesin
semakin keras dan stabil. Bupati Bantul Idham Samawi
pun didaulat menaiki kendaraan itu. Bersama Khoiruddin, Idham pun naik motor ini mengitari halaman
kampus.
Begitulah suasana soft launching Banyugeni.
Bukan hanya sepeda motor, produk hidrofuel ini juga diujicobakan
di berbagai media. Seperti lampu minyak, kompor,
traktor dan aeromodeling. "Wah, menakjubkan. Seperti bahan bakar minyak,"
ujar Idham di sela-sela soft launching.
Ya, hidrofuel Banyugeni adalah temuan dari lima peneliti UMY. Yakni Drs Purwanto,
Ir Bledug Kusuma Prasadja MT, Ir Tony K. Haryadi MT, Ir Lilik Utari
MS dan Dra Nike Triwahyuningsih MP. Ada empat macam produk berbahan dasar air yang dihasilkan kelima peneliti.
Hidrofuel hasil penelitian UMY yang telah dipatenkan ini terdiri atas
beberapa varian produk. Yakni hidrokerosene atau
setara dengan minyak tanah, hidrodiesel
(solar), hidropremium (bensin),
dan hidroavtur (bahan bakar jet). Sama seperti yang dilakukan pada sepeda motor, percobaan pada tiga varian lainnya
juga berhasil dengan sempurna. "Bau dan warna bisa disesuaikan
dengan keinginan kita," kata Khoiruddin.
Purwanto mewakili tim peneliti menjelaskan, penelitian produk hidrofuel ini dilakukan sejak
2003. Latar belakang penelitian
karena semakin tingginya harga minyak mentah di
pasaran dunia.
"Subsidi pemerintah untuk BBM tahun 2007 sudah mencapai Rp 50,64 triliun.
Sungguh beban amat berat
bagi pemerintah yang sekarang ini terus
mengalami defisit anggaran. Bahan bakar dari minyak
bumi dan batu bara
semakin sulit diperoleh, padahal konsumsinya terus meningkat," ujar Purwanto.
Ia mengungkapkan,
untuk menjadikan air menjadi bahan bakar
diperlukan empat perlakukan yang disebut teknologi mekanotermal-elektrokemis.
Proses ini melalui empat tahapan.
Yakni, mekanik (gerak), thermal (panas), listrik dan kimiawi. "Pengertian kimia dalam proses ini
adalah memberikan bahan lain yang bisa menjadikan air bisa menyala. Nah
hal ini yang saya tidak bisa
matur," tuturnya.
Ia menjelaskan,
untuk bisa terbakar ada beberapa
proses kimia yang harus dilalui. Secara kajian ilmiah, air terdiri atas beberapa
molekul yang bisa terbakar. Yaitu molekul atom H2O. Unsur ini bisa dipisahkan
secara kimiawi, sehinga menjadi molekul 2H2 + O2. "Nah unsur hidrogen inilah yang bisa menyala. Bahkan bisa meledak. Selain
itu, unsur oksigen (O2) juga merupakan molekul yang sangat berpengaruh dalam
pembakaran. Jadi pada hakekatnya air adalah api," urainya.
Hanya Purwanto tidak bersedia menjelaskan secara detail berapa anggaran yang
dibutuhkan untuk mengubah air menjadi bahan bakar. Menurutnya, jika diproduksi
secara masal, anggaran yang dikeluarkan bisa ditekan sedemikian kecil. "Karena
pada prinsipnya yang digunakan adalah air yang jumlahnya tidak terbatas. Bukan
seperti fosil," jelasnya.
Khoiruddin menuturkan, selain sebagai bahan baku alternatif, keunggulan
hidrofuel ini juga ramah lingkungan. Pada percobaan yang dilakukan di PT
CoreLab Indonesia, sebuah laboratorium internasional yang independen, produk
ini telah memenuhi standar Dirjen Migas. Antara lain, tidak korosif atau tidak
menyebabkan karat, tidak meninggalkan residu dan kandungan sulfur dan timbal
yang dihasilkan lebih rendah dari yang diperbolehkan.
Sedang Idham Samawi mengaku bangga dengan hasil penelitian ini. Ia menegaskan,
Pemkab Bantul siap mengalokasikan anggaran untuk pengembangan penelitian ini. "Bahkan
seharusnya bukan hanya APBD, tapi APBN juga layak untuk membiayai
penelitian," tandasnya. ***
Wassalam
----- --~---
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.5/1279 - Release Date: 14/02/2008 18:35
|