Sabtu, 16 Februari 2008 Oleh : Wisran Hadi, Budayawan

 

Soewardi Idris beberapa tahun lalu meninggal di Jakarta. Beliau adalah salah
seorang pelaku sejarah dalam kemelut berdarah yang disebut orang sebagai
Pergolakan Daerah. Pada masa itu rakyat Sumatera Barat dipimpin oleh
sebagian besar petinggi TNI dan politisi telah melampiaskan kecemburuan
terhadap pemerintah pusat dengan membentuk sebuah tandingan dengan nama
Pemerintah Republik Revolusioner Indonesia (PRRI).  Terlepas dari berbagai
kronologi peristiwa dan argumentasi-argumentasi, yang jelas adalah bahwa
peristiwa PRRI tersebut sudah berumur 50 tahun. Artinya, 50 tahun yang
lampau, Sumatera Barat telah mencanangkan perlunya sebuah otonomi, pembagian
kekuasan dan pemerataan  pembangunan di seluruh daerah dalam wilayah NKRI.

 

Sebagai seorang wartawan sekaligus sastrawan Indonesia yang namanya sederet
dengan A.A.Navis, Subagio Sastrowardojo dan lainnya, Soewardi Idris telah
menuliskan berbagai pengalamannya selama terlibat dan melibatkan diri dalam
pergolakan tersebut. Beliau menulis laporan pandangan mata yang lengkap
sesuai dengan apa beliau amati selama tiga tahun lebih dan memproyeksikannya
ke dalam berbagai masalah-masalah krusial yang lebih luas yang tengah
melanda bangsa ini. Bahkan beberapa pemikirannya boleh dikatakan merupakan
prediski-prediksi yang kemudian jadi kenyataan dalam perjalanan kebangsaan.
Sebagai seorang sastrawan, beliau telah memotret sosok-sosok manusia pelaku
peristiwa dengan segala kelebihan dan kekurangan dan dengan segala
kekonyolan dan kenaifan mereka. Tak lupa pula, beliau menyelipkan berbagai
humor yang cerdas dan tinggi dalam setiap pengungkapannya dalam
cerita-cerita pendek yang ditulisnya tentang pergolakan tersebut.

 

Dua buku Soewarid Idris yang diluncurkan baru-baru ini di TVRI Sumatera
Barat; Antologi cerpen ”Pergolakan Daerah dan Perjalanan Dalam Kelam” dapat
dijadikan sebagai “dokumen budaya” terhadap hal ikhwal sebuah masyarakat
yang dilanda kepiluan terhadap tindakan-tindakan politik yang sulit untuk
dinafikan. Namun, sangatlah disayangkan, bahwa masalah PRRI tidak sepopuler
persoalan GAM di Aceh, dan tidak pula sepopuler Pengkhiatan PKI 30 September
yang selalu menjadi buah mulut politik. Tidak jadi “buah mulut” masalah PRRI
dalam pembicaraan politik hari ini tentu banyak alasan yang dapat
dikemukakan. Boleh jadi, masalah PRRI didiamkan karena berbagai interpretasi
pula. Ada yang mengatakan, pergolakan tersebut adalah pemberontakan setengah
hati, pemberontakan yang belum selesai dan sebagainya. Namun yang jelas,
dalam dunia manapun, yang kalah akan selalu dikesampingkan. Dan PRRI
dikesampingkan karena dia kalah.  Seandainya PRRI menang, persoalannya tentu
akan jadi lain. Bagaimanapun juga, interpretasi, penafsiran maupun  berbagai
pandangan terhadap kegagalan perjuangan PRRI yang perlu disadari adalah
bahwa pergolakan PRRI merupakan representasi politik dari rakyat Sumatera
Barat dalam usaha memperkuat kesatuan bangsa ini.  

 

Sebuah momentum sejarah yang besar, walau dalam pandangan skeptis mereka
dianggap sebagai pemberontak. Akan tetapi tidakkah kita mencoba menarik
garis lurus ke dalam diri kita, bahwa pergolakan itu telah menjadi sebuah
sebuah peristiwa tragedi kemanusiaan yang besar sepanjang sejarah Sumatera
Barat?  Dan apakah tokoh-tokoh yang berada dalam kancah PRRI itu tidak dapat
dianggap sebagai tokoh-tokoh Sumatera Barat yang perlu pula kita beri
penghormatan yang wajar? Kenapa kita bungkam dan memalingkan muka terhadap
mereka yang mencoba memberikan alternatif politik dalam sebuah negara
demokratis yang mulai bergerak menuju otoriter? Kalau generasi sekarang
merasa “malu-malu” untuk bicara tentang pergolakan daerah yang dimotori oleh
PRRI itu karena kebetulan mereka dikalahkan oleh kekuatan fisik bukan oleh
kejituan strategi politik, mungkin sebaiknya kita mencoba membalik-balik
kedua-dua buku yang diwariskan Soewardi Idris tersebut. 

 

Kita baca, kita simak, emosi-emosi kedaerahan yang sempit kita tinggalkan
sementara. Lalu kita mencoba memaklumi bahwa perang saudara atau perang
tidak bersaudara mampunyai hasil akhir yang sama, yaitu, kita tidak berdaya
untuk menghadapi tragedi kemanusiaan yang demikian kompleks. Soewardi Idris
tidak mengusulkan atau memutuskan siapa pemenang dalam perang saudara itu,
beliau juga tidak mengusulkan siapa yang harus dijadikan pahlawan dalam dari
pergolakan itu.  Akan tetapi, Soewarid Idris telah meninggalkan
catatan-catatan kemanusiaan yang berharga untuk kita cermati. Kita cermati,
untuk tidak mengulanginya lagi. Kita cermati, bahwa kondisi Indonesai saat
ini hampir tak ada bedanya pula kondisi pra timbulnya PRRI 50 tahun lalu.
Sekiranya Soewardi Idris panjang umurnya, tentu beliau kini telah tua dan
mungkin sedang duduk-duduk di palanta lapau di Solok sana. Dan sekali-sekali
berbisik kepada anak muda yang duduk di sebelahnya. “Yung, kabaa juo sawah
musti bapamatang. Kabaa juo awak jaan sampai kailangan tungkek duo kali.”
***


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.6/1282 - Release Date: 15/02/2008
19:08
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat 
di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg 
bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang 
berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke