Sabtu, 16 Februari 2008 Kampung itu sepi sekali. Jalannya penuh lubang dan mendaki. Orang-orang yang tinggal di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, menyebut kampung itu dengan nama Pua Data. Bagi mereka yang pernah menghirup udara tahun 1948-1949, Pua Data tentu sudah tidak asing lagi.
Di sinilah, pemancar radio pernah berdiri, sebagai alat propaganda ke pelosok negeri, bahwa Indonesia masih ada.Sayang, kini kampung bersejarah bagi ”Merah Putih” itu dibiarkan tertatih melawan nasibnya sendiri... Bukan cuma tertatih di puncak sepi. Penduduk Pua Data, juga merasa (bila tidak boleh ditulis dianaktirikan), jauh dari derap sepatu pembangunan. ”Republik Indonesia memang sudah merdeka. Hasil pembangunan juga telah dirasakan jutaan rakyat. Tapi kami masyarakat Pua Data yang pernah menjadi saksi bisu perjuangan bangsa, masih merasa darurat seperti dulu saja,” ujar H Zainul Kiyar, mantan pengurus Pemuda Pejuang di zaman PDRI, ketika ditemui Padang Ekspres bebereapa waktu lalu. Pengakuan tokoh gaek Pua Data tersebut, juga diamini Yuswadi, seorang warga yang bekerja sebagai petani. ”Kami tak hanya merasa darurat, tapi juga jauh dari derap pembangunan. Buktinya, saat jalan di kampung lain sudah di aspal. Jalan ke kampung kami justru berlubang dan rusak berat. Berkali-kali kami mengurus, tapi selalu dibilang ruas jalan ke kampung kami adalah jalan provinsi. Bagi kami, taka peduli jalan provinsi, negara, atau kabupaten, yang penting diperbaiki,” tegasnya. Komentar lebih pedas juga mengalir dari mulut M Nur Yakub, seorang pejuang PDRI yang masih terlihat bugar dalam usia tuanya. Dikatakan Yakub, selama ini banyak orang selalu bilang, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan. Namun dalam kenyataannya, masyarakat Pua Data yang pernah menjadi saksi sejarah PDRI belum dihargai. ”Malahan, hasil kekayaan kampung kami seperti emas di Manggani, terus diperas tanpa memberi keuntungan bagi masyarakat. Janji lapangan kerja yang pernah diucapkan investor, hanya bohong belaka. Karena itu, ke depan kami tak percaya kepada investor yang membohongi niniak mamak,” ucap Yakub yang aktif dalam Forum Peduli Pembangunan Pua Data (FP3D). Tugu pdri di Koto Tinggi, Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota merupakan saksi sejarah, tetap tegaknya Republik Indonesia. Atas kondisi di Pua Data yang begitu memilukan dan darurat ini, puluhan pemuka masyarakatnya, meminta kepada Pemkab Limapuluh Kota, agar mengabulkan permintaan mereka untuk membuat nagari sendiri. ”Biar kami tidak tertinggal lagi dalam sektor pembangunan. Kami warga Pua Data yang memiliki banyak penghulu, punya 30 warga berpendidikan S1, tujuh orang jebolan S2, dua orang berprediket S3, empat doktor luar negeri, dan dua perwira TNI/Polri, serta ratusan warga. meminta kepada Pemda, agar mengabulkan permintaan kami untuk membuat nagari pemerintahan, bukan nagari adat,” ujar Darlina, seorang tokoh bundo kanduang. Namun persoalan sosial di Pua Data, seperti kemiskinan dan terisolasi dari derap sepatu pembangunan, tentu tidak hanya tuntas dengan ide membuat nagari sendiri. Bagaimanapun, bila mereka terpisah dari Koto Tinggi, secara tidak langsung, wilayah administrasi bukan tidak mungkin akan menjadi pembatas ranji adat dan sekat sejarah yang selama ini membuhul kuat, antara Pua Data dengan Koto Tinggi. Karenanya, seperti diungkapkan aktivis sosial kemasyarakat Yulfian Azrial, jalan sunyi yang tengah dilewati anak kampung Pua Data, harus dipecahkan dengan memberikan perhatian. Sebab Pua Data merupakan daerah yang pernah menjadi basis Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). ”Bila tidak begitu, gak usah kita berkoar, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan. Sebab orang Pua Data adalah satu dari berderet pahlawan kecil yang terlupakan,” tukuk Yum AZ. (***) http://www.padangekspres.co.id/content/view/2347/1/ No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.6/1282 - Release Date: 15/02/2008 19:08 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. - Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahul -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
