Kecek Dr. Gusti Asnan dalam bukunyo nan baru: MEMIKIR ULANG REGIONALISME:
SUMATERA BARAT TAHUN 1950-AN [catatan: huruf kadang ko indak tando marabo bagai
ko doh], PRRI itu iyo pemberontak. Alasannyo? baco dek sanak bukunyo lansuang
(promosi ko untuak Da Gusti). Bacolah buku nan ditulih dek sejarawan UNAND tu.
Kok iyo ndak PRRI ko pemberontak? Kok iyo, baa sarik bana mangakui kito salah
atau khilaf? Bak kato urang bijang kito: Kok salah ka negara mintak maaf, salah
ka Tuhan mintak tobaik. Urang Bugih lai co kito pulo ko maliek Dr. Saumokil?
Kadang awak ko tageh mana managak'an banang basah.
salam,
Suryadi
kabaMinang OnLine <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
st1\:*{behavior:url(#default#ieooui) } Oleh Wisran Hadi
Mustahil itu bisa terjadi! Bagaimana mungkin bisa diberikan gelar pahlawan
nasional kepada tokoh-tokoh PRRI, ketika semua pikiran rakyat Sumatra Barat
sampai hari ini masih menganggap bahwa pergolakan daerah yang disebut PRRI itu
sebagai sebuah pemberon­takan.
Dari sisi pemerintah pusat di Jakarta, memang pergolakan daerah seperti itu
dianggap pemberontakan. Tapi dari sisi Sumatra Barat sendiri, apakah PRRI juga
dianggap pemberontakan?
Bukankah kehadiran PRRI merupakan representasi keinginan rakyat Sumatra Barat
terhadap sistem sentralistik Jakarta, dan keinginan untuk membagi kue
pembangunan dan kekuasaan, antara daerah dan pusat berada dalam sebuah
keseimbang yang adil?
Bukankah pergolakan tersebut merupakan cetusan kehendak dari keinginan untuk
mendapatkan otonomi daerah, agar masing-masing daerah dapat membenahi dirinya
menurut kemampuan yang ada di daerah tersebut?
Mungkin saat ini kita perlu kembali untuk mengkaji ulang tentang keberadaan
PRRI.
Dua rezim terdahulu; Soekarno dan Soeharto telah meluluh lantak­kan
keberadaan PRRI, baik secara fisik maupun politik, karena dianggap sebagai
tandingan dari pemerintah pusat yang sah.
Kedua rezim terikat dengan pengertian kata PRRI, tetapi tidak memasuki esensi
persoalan dengan lebih objektif.
Ketika seorang wartawan sekaligus sastrawan Soewardi Idris menu­lis
berpuluh cerita pendeknya tentang keterlibatannya dengan PRRI, dan berpuluh
eseinya tentang pergolakan daerah tersebut, mungkin kita tersentak membacanya.
Sampai akhirnya kita dapat menemukan berbagai hal yang penting untuk
keberadaan kita hari ini. Bahwa, pergolakan daerah yang merebak dan meletus
begitu cepat dan padam begitu cepat pula, perlu mendapat apresiasi yang wajar.
Mungkin saja para tokoh PRRI masih terbelenggu dengan tudingan bahwa mereka
adalah "pemberontak", tetapi dari hari ke hari bahwa apa yang diperjuangkan
para tokoh itu untuk mendapatkan otonomi daerah, untuk mendapatkan perlakuan
yang pantas dan seimbang bagi setiap daerah di wilayah NKRI kian terasa dan
nyata.
Apakah kita begitu teganya menghapus apa yang diperjuangkan para tokoh itu
beserta rakyat Sumatra Barat dipinggirkan begitu saja, dihapus, tidak diapa
siapakan lagi?
Sebagai sebuah mata rantai dari sejarah kebangsaan, peristiwa pergolakan
daerah yang dimotori oleh PRRI tidak perlu disembun­yikan. Jika pengkhiatan
PKI terhadap republik ini makin hari makin dimaafkan, lalu kalau kita boleh
membanding, seberapa benarlah "dosa" PRRI terhadap negeri ini dibanding dengan
pengk­hiatan partai komunis itu?
Sampai saat ini, baik pemerintah daerah mapun tokoh-tokoh politik
selalu menghindar bila bicara hal-hal yang telah lalu.
Masalah PDRI dan masalah PRRI sama-sama dianggap sebagai "masa lalu" yang
tidak perlu diungkit lagi, karena dianggap dapat menggelisahkan kedudukan
beberapa tokoh-tokoh.
Begitupun tokoh-tokoh PRRI, yang tentunya mereka sudah banyak
yang meninggal, tua renta, juga tidak dapat menjelaskan secara lebih gamblang
kepada generasi berikutnya, kenapa mereka terlibat dalam "dosa" yang tidak
dapat diampuni itu?
Dalam konteks ini, posisi Soewardi Idris sebagai "pembawa berita" dan
"penyampai khabar" terhadap bagaimana kemelut itu dirasakan, dialami oleh
rakyat Sumatra Barat sangatlah penting. Dua bukunya yang diluncurkan oleh TVRI
Sumbar 15 Februari 2008;
Kumpulan cerpen "Pergolakan Daerah" dan setumpuk esei tentang pergolakan
daerah itu "Perjalanan dalam Kelam" adalah sesuatu yang dapat disebut sebagai
"catatan kebudayaan" dari perjalanan sejarah bangsa ini.
Tapi benar juga, sedangkan pergolakan daerah yang telah begitu banyak memakan
korban, nyawa dan harta benda tidak mendapat perhatian yang layak dari generasi
hari ini, apalagi Soewardi Idris-nya.
Begitulah sifat kita yang kurang terpuji. Kekalahan PRRI dianggap
pemberontakan. Bagaimana sekiranya PRRI menang? Mungkin jika PRRI itu menang,
akan berbondong-bondong pula rakyat Sumatra Barat ini mengusung tokoh-tokohnya
untuk diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.
Memang, tidak ada tokoh yang kalah dibuatkan sejarahnya. Artinya sejarah
kekalahan termasuk "aib" dari sebuah masyarakat yang sombong. Tapi bagaimana
pula dengan Imam Bonjol yang ditangkap Belanda, yang dituduh pula oleh Belanda
sebagai pengacau dan
pemberontak?
Imam Bonjol kalah dari Belanda, namun dia dipandang terbalik oleh bangsa
Indonesia; dia pahlawan.
PRRI kalah oleh pemerintah pusat, lalu apakah rakyat Sumatra Barat berani
memandangnya terbalik sebagaimana mereka memandang Imam Bonjol; bahwa PRRI
telah berjuang untuk mencegah munculnya pemerintahan yang otoriter; bahwa PRRI
telah berusaha untuk mendapatkan otonomi daerah dan setelah berjarak 50 tahun
barulah
otonomi itu dapat dilaksanakan sedikit-sedikit.
Walau sudah 50 tahun peristiwa PRRI itu berlalu, namun kita tetap kehilangan
nyali untuk memberikan apresiasi.
Akankah kita, masyarakat Sumatra Barat ini, terus menjadi orang-orang yang
tidak mampu lagi untuk berterima kasih? o **
http://www.hariansinggalang.co.id/komentar.html
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat
di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg
bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang
berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---