Assalamualaikum w.w. Sanak Nofiardi dan para sanak sa palanta,
Terima kasih atas posting Sanak ini. Mohon konfirmasi, apakah posting tsb tulisan Sanak sendiri atau dari Sdr N Hartanto yang terdapat di bagian bawah tulisan tersebut ? Informasi Sanak ini sangat berharga untuk pengembangan wisata sejarah di Sumatera Barat. Saya pernah membaca nama candi Padang Roco ini, terkait dengan lokasi penemuan patung Adityawarman, salah seorang raja Pagaruyung, yang sekarang dipajang di Museum Nasional, Jakarta. Kalau memang demikian indahnya, saya kira pak Nofrins bisa mengorganisir 'ekspedisi' para fotografer untuk men-'shoot' daerah 'perawan' ini. Kita perlu lebih banyak foto tentang daerah yang cukup bersejarah bagi Minangkabau ini.
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, 70+6+7, Jakarta) 'Ya Allah, tunjukilah selalu aku jalan yang lurus dan Engkau ridhoi' 'Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya' 'Taqdir di tangan Allah swt, Nasib di tangan Manusia' 'Mari berlomba berbuat kebaikan' 'Setiap manusia adalah baik, sampai terbukti sebaliknya' 'Jangan pernah berhutang dan jangan mudah berpiutang'
--- On Sun, 2/17/08, Nofiardi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Nofiardi <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Wisata Sejarah yang Terlupakan, Perpaduan Hindu-Budha dan Islam nan Mempesona To: [email protected] Date: Sunday,
February 17, 2008, 9:08 AM
| Wisata Sejarah yang Terlupakan,
Perpaduan Hindu-Budha dan Islam nan Mempesona |
| Minggu, 17 Februari 2008 |
|
Perpaduan Hindu-Budha dan Islam di
ranah Dharmasraya menjadi pesona wisata sejarah tersendiri di kabupaten
termuda Sumbar itu. Sayang, catatan sejarah itu belum banyak terekspos dan
dibukukan. Padahal masih banyak peninggalan-peninggalan kerajaan yang
pantas untuk dikaji dan ditelusuri. Malahan keturunan raja-raja
Dharmasraya yang berpusat di beberapa daerah masih bisa kita
temui.
Berbagi cerita sambil mengenal kembali sejarah
bangsa.Menuju situs bersejarah itu, penuh dengan tantangan dan pesona..
Lokasi masing-masing situs yang terbelah Sungai Batang Hari menjadi daya
tarik tersendiri untuk dikunjungi. Lagi-lagi sayang, daerah tersbeut
nyaris tak tersentuh dan belum terkelola dengan baik menjadi wisata
sejarah. Itu pula yang terus menerus melucur dari bibir para turis yang
sering berkunjung. Akses transportasi satu kendala yang hingga kini
belum teratasi. Lokasinya nan jauh dari jalan lintas Sumatera membuatnya
sulit terjangkau para wisatawan. Menggapai Kerajaan Siguntur sebagai salah
satu pusat kerajaan harus ditempuh dengan ojek dari Simpang Sikabah.
Padahal jaraknya hanya 4 kilometer. Untungnya, rasa letih dan dahaga akan
tak bakal terasa ketika menemui masjid tua, istana dan kuburan para raja
dari kerajaan Islam. Tak puas dengan situs peninggalan kerajaan
Islam, kita bisa meneruskan perjalanan ke lokasi situs peninggalan
kerajaan Hindu-Budha di Jorong Sungai Lansek. Terdapat dua jalur untuk
menggapainya di antaranya jalur Sungai Batanghari, Siguntur menggunakan
perahu boat atau disebut " tempek" sejauh 3 kilometer dengan perjalanan
selama 15 menit.
"Bisa juga melalui jalur Koto Tuo menggunakan perahu
"Ponton" atau besi panyubarangan. Ongkosnya relatif murah jika
dibandingkan menggunakan perahu "tempek"," ujar Ibarhim (53), salah
seorang tokog Siguntur. Selama dalam perjalanan akan dijumpai
pemandangan yang indah dan aktivitas ekonomi masyarakat sepanjang sungai
Batanghari. Beragam aktifitas masyarakat bakal terlihat mulai dari
pencarian ikan, pengerukan pasir, batu dan sebagai lintas transportasi.
Tentu hal ini akan memberi kesan tersendiri bagi para pencinta petualangan
alam nan menyegarkan. Kala kita sampai di dermaga penyeberangan
harus siap-siap jalan kaki sejauh 1,5 km untuk sampai ke candi Padang
Roco. Perjalanan ini melewati perkampungan masyarakat Siluluk dan Sungai
Lansek yang ramah terhadap setiap pengunjung. Selepas itu bisa melanjutkan
perjalanan dengan menaiki perahu "tempek" menuju Pulau Sawah. Di
sana kita bisa temui peninggalan dan kekayaan zaman Hindu-Budha.
Belum lagi, kalau perjalanan wisata dilanjutkan ke daerah
Padang Laweh. Wisatawan akan dimanjakan dengan pemandangan bahari
Batanghari. Di sana kita akan melihat situs Padang Laweh dan rumah Gadang
serta beramah tamah dengan Raja Ibadat yang bergelar Sutan Alif Bagindo
Muhammad. Biar tak penasaran perjalanan harus dituntaskan hingga
Pulaupunjung. Selain keindahan hulu Batanghari yang sekarang menjadi
pusat bendungan irigasi Batanghari, pengunjung bisa menyusuri lokasi situs
rambahan di lubuk Bulang, rumah gadang Pulaupunjung dan Sungai Kambut
serta bertemu langsung dengan Raja camin taruih yakni bagindo Alimuddin
Tuanku Sati. Terakhir menuju daerah Koto Besar yang sampai sekarang masih
ada keturunannya. n hartanto
|
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
|
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---