Alaikumsalam ww

Baik Pak Saaf, nanti kita coba koordinir hunting foto kesini. Itu jugalah yg 
mendasari, kenapa saya agak ngotot utk mengadakan Workshop Fotografi di Padang 
9-10 Feb lalu. Walau harus merogoh kocek sendiri. Agar kawan2 pehobby fotografi 
di Sumbar ini juga "terpicu" utk memotret lebih banyak lagi obyek2 wisata yg 
masih berstatus "harta karun" di Sumbar.

Walaupun tidak perlu diungkapkan secara terbuka, tetapi dampak foto-foto ini 
sudah dirasakan banyak orang kok. Contoh skala kecil saja dululah. Kalau dulu 
perantau pulang ke Sumbar, langsung menuju kampung kelahirannya saja. Lalu 
balik langsung ke Bandara. Sekarang sudah agak berbeda. Sudah ada keinginan utk 
berwisata ke kampung tetangga. Ternyata banyak obyek wisata menarik disana. 

Bisa juga tanya pendapat Ajo Duta, kenapa ide Pulang Basamo 2008 tercetus dan 
berharap cukup mudah mempromosikannya utk mengajak perantau berkunjung ke 
Sumbar...?

Jujur sajo. Ambo sajak lahia dan sekolah di Bukittinggi, bakonco dulu jo anak 
Bupati Limapuluah Kota, bulak baliak ka Payakumbuah, tapi indak tapijak 
sakalipun Lembah Harau yang DAHSYAT tsb. Kini iklan Ji Sam Su dibuek di Lembah 
Harau. Cover Majalh Travel, menggunakan foto Harau. Hari ini Maestro Fotografer 
Landscape, Makarios Soekojo ingin baliak ke Harau utk motret yg kedua kalinya 
dlm seminggu ini. Padahal, bbrp hari sblmnya sdh 5 GB memory penuh hanya utk 
foto2 di Harau doang... Thanks.

Wassalam,
Nofrins
"4 rancak 5 lamak bana"


"Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Assalamualaikum w.w. Sanak 
Nofiardi dan para sanak sa palanta,

Terima kasih atas posting Sanak ini. Mohon konfirmasi, apakah posting tsb 
tulisan Sanak
sendiri atau dari Sdr N Hartanto yang terdapat di bagian bawah tulisan tersebut 
? 
Informasi Sanak ini sangat berharga untuk pengembangan wisata sejarah di 
Sumatera Barat. Saya pernah membaca nama candi Padang Roco ini, terkait dengan 
lokasi penemuan patung Adityawarman, salah seorang raja Pagaruyung, yang 
sekarang dipajang di Museum Nasional, Jakarta.
Kalau memang demikian indahnya, saya kira pak Nofrins bisa mengorganisir 
'ekspedisi' para fotografer untuk men-'shoot' daerah 'perawan' ini. Kita perlu 
lebih banyak foto tentang daerah yang cukup bersejarah bagi Minangkabau ini.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 70+6+7, Jakarta)
'Ya Allah, tunjukilah selalu aku jalan yang lurus dan Engkau ridhoi'
'Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya'
'Taqdir di tangan Allah swt, Nasib di tangan Manusia'
'Mari berlomba berbuat kebaikan'
'Setiap manusia adalah baik, sampai terbukti sebaliknya'
'Jangan pernah berhutang dan jangan mudah berpiutang'


--- On Sun, 2/17/08, Nofiardi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Nofiardi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Wisata Sejarah yang Terlupakan, Perpaduan 
Hindu-Budha dan Islam nan Mempesona
To: [email protected]
Date: Sunday,  February 17, 2008, 9:08 AM

      #yiv1680198068 DIV { MARGIN:0px;}               Wisata Sejarah yang 
Terlupakan,        Perpaduan Hindu-Budha dan Islam nan Mempesona             
Minggu, 17 Februari 2008                 
       Perpaduan Hindu-Budha dan Islam di        ranah Dharmasraya menjadi 
pesona wisata sejarah tersendiri di kabupaten        termuda Sumbar itu. 
Sayang, catatan sejarah itu belum banyak terekspos dan        dibukukan. 
Padahal masih banyak peninggalan-peninggalan kerajaan yang        pantas untuk 
dikaji dan ditelusuri. Malahan keturunan raja-raja        Dharmasraya yang 
berpusat di beberapa daerah masih bisa kita        temui. 

       Berbagi cerita sambil mengenal kembali sejarah        bangsa.Menuju 
situs bersejarah itu, penuh dengan tantangan dan pesona..        Lokasi 
masing-masing situs yang terbelah Sungai Batang Hari menjadi daya        tarik 
tersendiri untuk dikunjungi. Lagi-lagi sayang, daerah tersbeut        nyaris 
tak tersentuh dan belum terkelola dengan baik menjadi wisata        sejarah. 
Itu pula yang terus menerus melucur dari bibir para turis yang        sering 
berkunjung.  Akses transportasi satu kendala yang hingga kini        belum 
teratasi. Lokasinya nan jauh dari jalan lintas Sumatera membuatnya        sulit 
terjangkau para wisatawan. Menggapai Kerajaan Siguntur sebagai salah        
satu pusat kerajaan harus ditempuh dengan ojek dari Simpang Sikabah.        
Padahal jaraknya hanya 4 kilometer. Untungnya, rasa letih dan dahaga akan       
 tak bakal terasa ketika menemui masjid tua, istana dan kuburan para raja       
 dari kerajaan Islam.  Tak puas dengan situs peninggalan
 kerajaan        Islam, kita bisa meneruskan perjalanan ke lokasi situs 
peninggalan        kerajaan Hindu-Budha di Jorong Sungai Lansek. Terdapat dua 
jalur untuk        menggapainya di antaranya jalur Sungai Batanghari, Siguntur 
menggunakan        perahu boat atau disebut " tempek" sejauh 3 kilometer dengan 
perjalanan        selama 15 menit.
        
       "Bisa juga melalui jalur Koto Tuo menggunakan perahu        "Ponton" 
atau besi panyubarangan. Ongkosnya relatif murah jika        dibandingkan 
menggunakan perahu "tempek"," ujar Ibarhim (53), salah        seorang tokog 
Siguntur.  Selama dalam perjalanan akan dijumpai        pemandangan yang indah 
dan aktivitas ekonomi masyarakat sepanjang sungai        Batanghari. Beragam 
aktifitas masyarakat bakal terlihat mulai dari         pencarian ikan, 
pengerukan pasir, batu dan sebagai lintas transportasi.        Tentu hal ini 
akan memberi kesan tersendiri bagi para pencinta petualangan        alam nan 
menyegarkan.  Kala kita sampai di dermaga penyeberangan        harus siap-siap 
jalan kaki sejauh 1,5 km untuk sampai ke candi Padang        Roco. Perjalanan 
ini melewati perkampungan masyarakat Siluluk dan Sungai        Lansek yang 
ramah terhadap setiap pengunjung. Selepas itu bisa melanjutkan        
perjalanan dengan menaiki perahu "tempek"  menuju Pulau Sawah. Di        sana
 kita bisa temui peninggalan dan kekayaan zaman Hindu-Budha. 
       Belum lagi, kalau perjalanan wisata dilanjutkan ke daerah        Padang 
Laweh. Wisatawan akan dimanjakan dengan pemandangan bahari        Batanghari. 
Di sana kita akan melihat situs Padang Laweh dan rumah Gadang        serta 
beramah tamah dengan Raja Ibadat yang bergelar Sutan Alif Bagindo        
Muhammad. Biar tak penasaran perjalanan harus dituntaskan hingga         
Pulaupunjung.  Selain keindahan hulu Batanghari yang sekarang menjadi        
pusat bendungan irigasi Batanghari, pengunjung bisa menyusuri lokasi situs      
  rambahan di lubuk Bulang, rumah gadang Pulaupunjung dan Sungai Kambut        
serta bertemu langsung dengan Raja camin taruih yakni bagindo Alimuddin        
Tuanku Sati. Terakhir menuju daerah Koto Besar yang sampai sekarang masih       
 ada keturunannya.
n hartanto

  



       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat 
di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg 
bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang 
berlaku.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: 
[EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke