Minggu, 17 Februari 2008
Hari ini satu abad silam, lahir bayi yang akhirnya menjadi sastrawan besar
dan ulama terkemuka, Buya Hamka. Mula, saya tahu Buya Hamka (1908-1981),
ketika beliau menginap di rumah orangtua saya di Lawang Matur, Agam. Usia
saya waktu itu sekitar enam tahun, belum masuk sekolah, sekitar 72 tahun
silam. Saya ingat, hari Senin malam, waktu itu. Dulu zaman pemerintahan
kolonial Belanda, jadi tradisi rutin di kampung saya, tiap Senin malam
dilangsungkan wirid pengajian khusus untuk laki-laki dan besoknya Selasa
untuk kaum wanita tempatnya di madrasah atau masjid.
Hampir tiap mubaligh penganut aliran apapun, kaum tuo atau kaum mudo
(modern) yang bertabligh di Lawang, menginap di rumah orangtua saya.
Misalnya Buya Duski Samad, tokoh partai politik Partai Muslimin Indonesia
(Permi), Buya AR Sutan Mansjur (Ketua Umum Muhammadiyah), H Zainal dan
Haroen Joenoes (PSII), H Siradjuddin Abbas dari Persatuan Tarbiyah Islamiyah
(Perti) dan lain-lain. Bapak saya Tuanku Alam (alm) memperkenalkan Buya
kepada saya. ”lko anak nyiak de-er dari Sungai Balang Maninjau”. Yang
dimaksud nyiak de-er adalah ulama pembaharuan di Minangkabau. Karena
kepiawaian beliau dalam hukum Islam, H Abdul Karim Amarullah beroleh gelar
doktor honoriskausa dari universitas tertua di dunia Al Azhar Kairo, Mesir.
Kemudian populer pula dengan panggilan Nyiak Rasul. Hamka yang berpendidikan
hanya Sekolah Dasar, tahun 1955 beroleh gelar kehormatan seperti itu pula
dari almamater ayahnya, menyusul tahun 1955 dari University Kebangsaan
Malaysia. Beliau sastrawan besar, ahli agama, pengarang, bahkan politikus.
Dalam buku karangan Buya Hamka Ayahku, disinggung tentang hubungan beliau
dengan kampung saya Lawang, tapi kurang tuntas. Namun nenek saya Rafiah
(alm) pernah berkisah, bahwa nenek moyang kami berasal dari Koto Tuo
Bukittinggi. Setelah berkembang biak di Lawang, sebagian bermigrasi ke
Sungai Batang. Untuk mereka yang pindah diberikan seperangkat pinang-cangkir
yang terbuat dari porselen Cina, sedang yang tinggal di Lawang kebagian
pakaian adat pusaka yang dibawa dari Koto Tuo.
Indikasi lainnya Hamka bergelar Datuk Indomo, sedang di Lawang gelar
tersebut ada dalam pesukuan kami Tunjung. Namun kini hubungan kekerabatan
itu payah ditelusuri seolah-olah kehilangan jejak dan kejadian migrasi itu
entah tahun berapa. Wallauhu a’lam. Waktu sama-sama jadi siswa Madrasah
Thawalib Padangpanjang, di kalangan rekan-rekannya sebaya, seperti Buya
Mansjur Daoed Datuk Palimo Kayo memanggilnya si Maliak, nama asli Buya yang
diberikan orangtuanya ketika baru lahir. Beliau pun memanggil Buya Datuk si
Mansjur. Karena sudah menunaikan ibadah haji, nama beliau tersebut
dikombinasikan dengan nama ayah (dipendekkan) menjadi Hamka dan populer
sampai akhir hayatnya.
Buya Hamka sehari-hari sejak usia muda pakai sarung dengan baju jas. Di
Indonesia waktu itu terdapat empat tokoh yang berbusana seperti itu. Yakni
Buya Hamka sendiri, Ki Mangunsarkoro, Mohammad Sjafei (Pemimpin INS
Kayutanam), dan KH Mohammad Isa Anshary. Tapi tiga tokoh pertama sampai
ketiga, akhirnya menukar sarung itu dengan celana pantalon. Buya Hamka
berpantalon setelah jadi pegawai tinggi Departemen Agama, Mangunsarkoro
setelah jadi anggota Parlemen (fraksi PNI). Dan Mohammad Sjafei setelah
diangkat jadi Menteri PP&K pada awal kemerdekaan Indonesia. Hanya Isa
Anshary ulama tersohor yang digelari “Napoleon” Partai Masjumi juga asal
Maninjau, konsekwen bertahan pakai sarong sampai akhir hayat, meninggal di
Bandung.
Waktu saya berkunjung menjelang Hari Raya Idul Fitri (lupa tahunnya) ke
rumah beliau - kalau tidak salah di jalan Palatehan dekat Masjid Agung Al
Azhar Kehayoran Baru Jakarta Selatan, mendapati beliau sedang membuang bir
dari beberapa botol. Wajah beliau agak merah. “Kok dibuang Buya,” tanya
saya. Itu parsel Lebaran yang baru Buya tarimo, jawab beliau. Si relasi
tidak tahu psikologi, masak mengirim parsel berisi beberapa botol minuman
beralkohol kepada seorang ulama Islam. Hukumnya haram bila diminum. Beliau
tidak marah kepada yang mengantar, sebab dia cuma tukang antar. Beliau pun
tidak menggugat pada si pengirimnya.
Pernah saya berkelakar dengan Buya menanyakan, berapa orang malaikat maut
yang mencabut nyawa manusia ketika akan meninggal. Ah, waang bodoh.
Tambahlah ilmu, suruh beliau. Malaikat maut cuma surang. Walau baratuih ribu
urang mati dalam sahari, bahkan sekaligus misalnya tatimbun galodo, atau
karam di lauik, namun hakekatnya mereka mati indak sarantak. Jantungnyo
indak sarantak baranti. Tuhan bisa mambuek etongan sepersaratuih ribu
datiak. Barang nan gaib tidak bisa dihitung dengan matematika, tapi diyakini
dengan iman, nasehat beliau.Saya terperangah !
Ketika Amerika Serikat untuk pertama kali berhasil mendaratkan Apollo 11 di
bulan dengan astronot Neil Amstrong cs, langsung saya minta komentar Buya.
Waktu itu beliau sedang di Padang menginap di rumah Ketua Pemuda
Muhammadiyah Sumatera Barat Amir Thaib SH di Jalan Belakang Tangsi.
Pernyataan beliau: Tuhan bisa berbuat sekehendak-Nya). Pernyataan Buya ini
saya muat di surat kabar Aman Makmur terbitan Padang esok harinya.
Peluncuran pesawat ruang angkasa tersebut 16 Juli 1969. Anggapan orang awam
selama ini di bulan tumbuh pohon-pohon besar, seperti baringin sungsang,
menjadi sirna. Hanya ada tanah berwarna coklat gersang. Tidak terdapat air,
sehingga tidak ada kehidupan sama sekali. (***)
http://www.padangekspres.co.id/content/view/2393/45/
_____
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR
Sent: 18 Februari 2008 6:15
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Fw: DIM 7: PERGULATAN JIWA KEAGAMAAN HAMKA
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.7/1284 - Release Date: 17/02/2008
14:39
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat
di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg
bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang
berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---