Kompas, Senin, 18 Februari 2008 | 01:20 WIB
Yudi Latif
Tak salah sebagian orang
menjulukinya "kiai cinta". Dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, 11
Maret 1970, Hamka mengakui, "Dasar kepengarangan saya adalah cinta."
Cinta
altruistik, seperti pesan Hayati kepada Zainuddin dalam Tenggelamnya
Kapal van der Wijck. "Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus
asa, bukan menimbulkan tangis sali sedan. Cinta menghidupkan
pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri
penghidupan."
Cinta adalah kepribadiannya. Terbentuk oleh
pengalaman masa kecil dan hambatan budaya yang diseberangi, yang
menantangnya untuk menafsir kembali tradisi.
Hamka bukan hanya
saksi, tetapi juga pelaku sejarah. Baginya, menulis merupakan upaya
menancapkan posisinya. Mirip kredo Milan Kundera, "For me being a
novelist was more than just working in one 'literary genre' rather than
another; it was an outlook, a wisdom, a position; a position that would
rule out identification with any politics, any religion, any ideology,
any moral doctrine, any group."
Penderitaan dan perbenturan
merindukan cinta, memberinya daya sensitivitas dan hasrat pengembaraan
intelektualitas. Betapapun luas dan jauh pengembaraan, Hamka tak pernah
lupa menariknya kembali ke posisi awal. Dibesarkan dalam jaringan
keislaman yang kuat, apa pun bentuk pengucapan Hamka selalu didenyuti
nilai dan posisi keislamannya.
Dalam pandangan M Yunan Nasution,
mitranya di Pedoman Masjarakat (1936- 1942). "Sebagai seorang putra
yang dilahirkan dan dibesarkan di tepi Danau Maninjau dengan air yang
biru, ditambah penderitaan yang dialami di zaman kanak-kanak yang lebih
banyak digenangi air mata perasaan, telah membentuk jiwa Hamka
mempunyai perasaan halus dan peka terhadap masalah-masalah
sosial-kemasyarakatan."
Bangga sekaligus berjarak
Hamka
kecil bangga sekaligus berjarak pada ayahnya. Bangga, karena ayahnya
ulama terkenal, suhu "kaum muda" Islam di Sumatera Barat, Dr H Abdul
Karim Amrullah. Berjarak, bukan karena kesibukan ayahnya sebagai
pendakwah pengelana dalam tradisi matrilineal Minangkabau.
Kecenderungan dakwahnya yang "keras" tak kenal kompromi merembes ke
cara mendidik anaknya.
Dalam Falsafah Hidup, Hamka bertutur,
"Tetapi entah bagaimana, dari umur sepuluh tahun, telah tampak jiwa
saya melawan beliau.... Jiwa beliau adalah jiwa diktator.... Kalau
sekiranya cara beliau mendidik itu sajalah, maulah saya terbuang,
menjadi anak yang tidak berguna. Saya tidak mau pulang ke rumah, saya
tidak mau mengaji, saya bosan mendengar kitab Figh yang diajarkan di
Thawalib."
Kerenggangan hubungan anak-ayah ini bukan hanya
ingatan pedih dalam biografi pribadi, tetapi juga riak dari gelombang
ketegangan dalam biografi kolektif. Sejak awal abad ke-19, alam
Minangkabau diterjang tsunami konflik nilai, yang pusat gempanya
terletak di Timur Tengah.
Menghadapi krisis Dunia Islam, sejak
abad ke-17 para pembaru dalam jaringan ulama internasional mengajukan
pertanyaan sentral: mengapa masyarakat Islam begitu terpuruk? Mereka
tak mau mengalamatkan keterbelakangan ini pada kelemahan inheren Islam
karena percaya Islam relevan untuk segala zaman. Ditudingkan, biangnya
adalah pengamalan Islam yang menyimpang dari ajaran asli. Lebih parah
lagi, Islam distortif penuh bidah dan takhayul itu dimistifikasi secara
taqlid, tidak memungkinkan pembaruan.
Solusinya berdimensi ganda:
pemurnian Islam dengan berpulang pada Al Quran dan Hadis; serta
penjebolan dinding taqlid lewat ijtihad, agar Islam relevan dengan
dinamika perkembangan.
Penekanan pada pemurnian berjuluk
reformisme Islam. Pendukung utamanya ulama yang belum melek pengetahuan
modern sehingga cenderung reaktif terhadap pengaruh Barat. Penekanan
pada ijtihad berjuluk modernisme Islam. Pendukung utamanya ulama
angkatan baru, yang lebih melek pengetahuan modern, sehingga bersedia
melakukan apropriasi terhadap pengaruh Barat.
Sepanjang abad
ke-19, reformisme Islam merupakan wacana dan ideologi dominan di Mekkah
dan Madinah. Sebagai jantung dunia Islam, perkembangan ini mengancam
posisi adat dan tarekat yang menjamur di Sumatera Barat sejak abad
ke-18, menyusul kemunduran Pagarruyung sebagai pusat teladan.
Serangan
pertama terhadap adat-tarekat datang bersama kepulangan tiga ulama pada
1802. Terpengaruh faham Wahabiyya, penetrasi ajarannya mengobarkan
pertikaian, berujung Perang Paderi. Serangan kedua meledak menyusul
kepulangan ayah Hamka dari Mekkah (1901 dan 1906), yang mengibarkan
bendera "kaum muda", berhadapan dengan "kaum tua", bahkan ayahnya
sendiri, Syekh Amrullah, pemimpin Tarekat Naqsabandiyah.
Hamka
kecil menyaksikan arkeologi pengetahuan yang terbelah. Jejak-jejak
heterodoksi Islam tarekat masih tersisa, dihadapkan gempuran ortodoksi
Islam. Keterbatasan ayahnya dalam jaringan komunitas epistemik dan
pengetahuan modern membuatnya lebih menekankan dimensi pemurnian
ketimbang pembaruan.
Bentrokan antara dunia kakek dan ayah
mendorong Hamka untuk melampauinya. Keberjarakan dengan ayah disertai
etos perantauan Minangkabau mendorong Hamka mengembara mencari jati
diri. Berbekal kemampuan baca-tulis (Arab dan Latin) dari pendidikan
dasar, pada 1924 ia merantau ke Jawa; lantas ke tempat-tempat lain
hingga menetap di Jakarta.
Pengembaraan meluaskan minat dan
horizon pengetahuannya. "Saya tidak dapat melupakan perkenalan saya
dengan almarhum HOS Tjokroaminoto yang mulai menunjukkan pandangan
Islam dari segi ilmu pengetahuan Barat saat beliau mengajarkan 'Islam
dan Socialisme' saat saya datang ke Yogyakarta tahun 1924". Di kota ini
ia mereguk pengetahuan sosiologi dari Soerjopranoto, filsafat dan
sejarah (Islam) dari KH Mas Mansur, tafsir dari Ki Bagus Hadikusumo.
Di
Pekalongan, ia menemukan guru panutan dalam pendalaman studi Al Quran,
AR Sutan Mansur. Di Bandung, ia bertemu A Hassan dan M Natsir, yang
memberinya kesempatan belajar menulis dalam majalah Pembela Islam.
Keterlibatan
dalam jaringan mengendurkan atavismenya. Perluasan pengetahuan
menguatkan jiwa kosmopolitan. Etos puritan dalam keluwesan pergaulan
dan kelapangan jiwa mengantarnya menjadi pribadi berkarakter dan
produktif dengan tetap toleran dan estetik.
Paham kebangsaan
Dalam
paham kebangsaan, semula Hamka mengikuti pandangan Persatuan Islam
(Persis), memandang nasionalisme sebagai asyabiyah yang bersifat
jahiliah dan tak bisa ditolerir. Menyimak tanpa prasangka argumen yang
dikembangkan pendukung kebangsaan yang netral agama, Hamka melihat
kemungkinan lain. Baginya, antara kebangsaan dan Islam tidak perlu ada
pertentangan, malah bisa sesuai. Hal ini menuai kritik pedas dari
Persis.
Saat Bung Karno wafat, Hamka yang pernah dipenjarakan
melawan arus dengan menshalati jenazahnya. Menurut dia, tidak ada hak
untuk mengatakan Bung Karno munafik.
Kekayaan jaringan bukan
hanya membawa kelenturan, tetapi juga kebesaran. Menurut sosiologi
pengetahuan, intelektual besar kerap muncul dari jaringan besar, baik
jaringan ke atas, ke samping, maupun ke bawah. Para pemikir besar
galibnya memiliki guru-guru yang besar; berinteraksi dan diuntungkan
oleh kehadiran para pemikir (besar) sezaman; sebagai mitra maupun
"lawan" yang mematangkan pemikiran; juga jaringan murid-muridnya yang
mengikuti dan menyempurnakan pemikiran gurunya. Hamka memiliki semua
itu.
Kebesaran Hamka tercemin dari peninggalannya. Tak kurang
dari 118 buku yang dikarangnya. Al Azhar dengan jaringan
persekolahannya menjadi ikon dari kelas menengah Muslim yang modern.
Siaran keagamaan televisi yang dipeloporinya menjadi trend setter yang
kini mewabah.
Hamka menjelmakan ekspresi Islam yang luas, lentur,
dan estetik. Islam produktif yang membawa kemaslahatan bagi kemanusiaan
universal. Dalam peringatan 100 tahun Buya Hamka, keteladanannya pantas
menjadi monumen di hati kita.
Yudi Latif Pemikir Kenegaraan dan Keagamaan