Bpk Darwin Bahar N.A.H

Kisah Bpk sungguh membuka dan menyentuh kembali kenangan lama saya ketika saya 
baru tamat tahun 1988, sebagai young forester semangat sedang menggebu-gebu 
saya memang tidak pikir-pikir ℓągȋ̊  ketika diajak sebagai tenaga di konsultan 
(part time)  untuk survey tata batas di sebuah HPH Sulawesi Tengah, dari Bogor 
awal perjalanan saya memulai petualangan nyata memasuki rimba belantara selama 
23 hari tanpa terputus merintis dan berjalan serta membuat flying camp di hutan 
sulawesi tengah yang khas dengan kayu/pohon Ebonynya

Sebelum mencapai camp HPH (saya lupa nama daerahnya) yang keara jalan lintas 
trans sulawesi terus ke Gorontalo dan menado itu ke daerah pedalam suku Kaili 
sudah melakukan perjalanan yang sangat berat, melelahkan dan penuhh tekanan 
psikologis.

Dari palu kami mencater 2 Unit Hard Top lepas kota palu perjalanan off road 
dimulai

Jalan tanah liat, sering terpuruk tarik menarik, jembatan yang belum ada jika 
air ℓągȋ̊  besar harus menunggu kecil paling tidak jangan sampai merendam. 
Mesin mobil saling ikat mengikat dengan sling beberapa mobil

Lalu jalan di tebing yang sempit tanah liat, genangan air berlumpur yang 
terkadan terpuruk dengan tenaga 4 WD tidak sanggup keluar dan ditarik hard top 
lain karena gardannya sudah terbenam tanah liat cukup dalam, terpaksa kami 
bermalam dijalan pas saat sore menjelang maghrib di pinggir jalan jauh dengan 
pemukiman/kampung besok paginya kami usahakan bekerja keras membongkar tanah 
dan lumpur yang membenamkan gardan mobil, mencari kayu2, batu2, betul2 kami 
berkubang lumpur mengusahakan mobil keluar dari jebakan.

Jalan sempit dan licin jika terpeleset tak ada ampunnya masuk jurang yang jauhh 
dengan dasar tebing karang laut di bawah menanti, pemandangan sungguh indah 
tapi berbalut bahaya yang mengintai.

Akhirnya sampai di camp hph disebuah log pond (tempat. Penumpukan kayu di muara 
laut) harus ditempuh 2 malam 3 hari dengan berbagai kendala, seandainya jalan 
trans tsb sudahh beraspal dan jembatan sudah jadi menurut perkiraan saya 
mungkin sekitar 8 jam saja (mungkin Prof Danil bisa menjelaskan berapa jam 
sekarang jika kita dari Palu ke daera suku Kaili tsb, jika prof Danil pernah 
survey ke hutan tsb sebagai patokan daerah itu eks HPH PT.Rasjlim and Co)

Sampai di camp istirahat total 1 hari memulihkan tenaga dengan makanan serba 
ikan laut segar2, alhamdulillah kami dari Bogor 3  orang ditambah orang HPH 1 
orang, dari dishut propinsi Palu 2 orang semua sehat-sehat tidak ada jatuh 
sakit.

Lalu setelahh istirahat kami memulai survey kedalam hutan selama 23 hari..ini 
benar2 pengelaman yang sangat bernilai tinggi bagi saya ketika itu sebuah 
kegiatan survey yang paling berat yang saya rasakan dengan segala keterbatasan 
logistik

Menjelang 2 hari berakhir saya memang tidak tahan ℓągȋ̊ , kaki saya melepuh 
karena kutu air karena memakai sepati dan kaos kaki jarang yang kering selalu 
basah, hari terakhir pulang ke camp saya tertatih-tatih berjalan dan dipapah 
penduduk, menjelang 500 dari camp terpaksa saya ditandu karena kaki begitu 
sakit diinjak dan fisik sudah lelah.

Akhirnya saya sampai kami semua sampai di camp, selama tim mengola data di camp 
3 hari saya istirat telapak kaki saya diobati, disuntik di puskesmas

Selesai semuanya kembali ke Palu tentunya hhampir sama dengan cerita 
berangkatnya tapi karena cuaca waktu pulang dalam beberapa hari perjalanan 
cukup lancar kalaupun terpuruk bisa diatasi dengan tarik menarik 2 hard top 4 WD


Sampai di Palu yang paling saya ingat ketika menginap di hotel malam sebelum 
pulang ke Jakarta/Bogor sedang berlansung final bola Olimpiade Seoul 1988 
antara brasil dan jerman, dua pemain muda yang kelak menjadi bintang di Timnas 
kedua tim saat itu dan digadang2kan adalah

Di Pihak Brasil ; Romario sedangkan di pihak Jerman Jurgen Klinsman

Mudah2an saya masih ingat yang juara atau medali Emas kala itu adalah Brasil ? 
(CMIIW)

Sampai di Bogor saya mengantongi upah bersih sekitar Rp 750 rb (sudah termasuk 
tambahan uang saku dari HPH Rp 150 rb) jumlah yang sangat besar saat itu jika 
mengingat kiriman orang tua saya sekitar Rp 75 ribu/bln  untuk biaya hidup 
kuliah menjelang tamat.

3-4 bulan saya seperti "ular" menghabiskan uang itu bersantai2 dikampus kesana 
kemari sambil mengurus segala sesuatu seperti ijazah, transkrip nilai, clearing 
dll serta bolak balik jakarta-bogor cari-cari info atau melamar pekerjaan.

Lalu kembali ke Topik Tim Gadang Sarawa itu, hal2 seperti itu sering saya alami 
kalau ke camp semisal terpuruk mobil terpaksa jalan kaki 2,3 bahkan 5 km belum 
ℓągȋ̊  survey di daerah/hutan yang sulit menuju kesuatu tempat.

Jika anak buah saya (crew survey) terkadang sarawa cincuik saja jalan jalan 
kaki sama saya menuju medan yang sulit jika dibandingkan dengan Tim Terpadu 
yang tidak sampai ke TKP ini tak pelak ℓągȋ̊  kalau Pak Darwin sebut

TIM GADANG SARAWA baik secara tersurat jika dibandingkan tim survey saya yang 
pakai sarawa kolor cincuik saja secara tersirat (sindirin) memang tidak 
bernyali atau memang telah terkondisi. Dearah2 seperti itu jika sebenar-benar 
Tim sudah ada perhitungan sebelum berangkat dengan membaca situasi dan segala 
jenis peta yang dibawa harus berjalan kaki dan menginap ditempat dimana ada 
kesulitan yg didapat dalam perjalanan dengan segala kondisi yang terbatas

Yo Gadang Sarawa Tim tu Pak

Wass-Jepe
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Darwin Bahar" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 24 Mar 2013 01:06:26 
To: 'Palanta Rantaunet'<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: <[email protected]>
Subject: [R@ntau-Net] Tim-Maaf-Gadang Sarawa

Razia Tambang tak Maksimal

Tim Provinsi Gagal Capai Lokasi

Padang Ekspres • Jumat, 22/03/2013 11:13 WIB • • 29 klik

Solsel, Padek—Upaya penertiban tambang emas liar di Solok Selatan terkesan
seremonial. Hingga kini, belum satu pun penambang besar yang telah merusak
lingkungan itu, diseret ke ranah hukum. Aparat keamanan dan pemda hanya
menangkap pekerja tambang dan operator ekskavator.

Hal serupa terjadi saat razia Tim Terpadu Provinsi bentukan Gubernur Sumbar
Irwan Prayitno, kemarin (21/3). Alih-alih mengungkap aktor di balik maraknya
eksploitasi emas ilegal di sepanjang daerah aliran sungai Batang Hari itu,
upaya tim provinsi menyisir lokasi illegal mining (penambangan liar) malah
terhadang.

Tim provinsi hanya mampu menjangkau Camp PT Geominex Solok Selatan. Anehnya,
gagalnya tim provinsi ke lokasi tambang liar karena tiada perahu timpek,
alat penyeberangan ke Alai, Batang Gumanti, Batang Bangko, dan Muko-Muko
Koto Parik Gadang Diateh (KPGD).     

Padang Ekspres yang turut menyertai rombongan yang diketuai Asisten
pembangunan Setprov Sumbar, Syafrial itu, hanya melihat bekas-bekas
aktivitas penambangan di Camp PT Geominex Solok Selatan. 

(Selengkapnya dapat dibaca di:

http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=41771)

 

===

Catatan: 

“Pak Darwin bisa tetap di Manado saja menuggu data yang akan dikumpulkan Tim
Engineering di lapangan,” ujar pakar TL Prof Dr Soetiman (Alm), atasan saya
ketika itu di ENCONA Engineering  serta Direktur Proyek Konsorsium Konsultan
Lokal (LCC) di Proyek Air Bersih Sulawesi Utara dan Selatan (IBRD-NSSWSSP),
suatu hari di Manado di bulan September di tahun 1985.

“Bagaimana saya bisa merancang dan membuat laporan hasil survei dengan baik,
kalau saya tidak mengenal kota-kota yang  disurvei,” jawab saya.

Sesuai dengan TOR, kami harus melakukan survei pendapatan rumah tangga di
sejumlah kota kecamatan yang termasuk kategori BNA (penduduknya > 20.000
jiwa), yang tersebar di empat kabupaten  dari Lirung, yang terletak di
sebuah pulau kecil di dekat ujung selatan Pulau Talaud sampai ke Tilamuta di
Gorontalo, yang ketika itu  masih menjadi bagian Prov. Sulawesi Utara. 

Seperti pernah saya tulis dulu di sini, ketika itu, jalan darat Manado –
Gorontalo yang merupakan ruas jalan Trans Sulawesi itu, terutama di jalur
Inobonto (persimpangan ke Kotamobagu) – Bintauna kondisinya parah sekali.
Selain jalan belum beraspal, jembatan belum ada yang dibangun, sehingga
setiap meliwati sungai  kendaraan harus turun ke sungai, sementara
penumpang berjalan dengan menggunakan jembatan darurat. Kalau hujan lebat
yang menyebabkan permukaan sungai naik, kendaraan harus
menunggu---kadang-kadang berhari-hari--- sampai permukaan sungai turun
kembali sehingga dapat dilewati kendaraan kembali.

Perjalanan mengunjungi kota-kota BNA di daratan Sulawesi Utara  saya lakukan
pada bulan Oktober.  Jadi sudah mulai musim hujan. Ketika saya akan ke
Gorontalo dengan mampir di Kotamobagu, “otak Padang” saya :) berfikir, jika
menggunakan   jip yang   disediakan kantor, jip plus sopirnya bisa jadi
beban atau menghambat langkah saya jika hujan lebat turun yang menyebabkan
air sungai yang harus dilewati naik sehingga harus menunggu lebih dari
sehari. Akhirnya saya memutuskan berangkat naik kendaraan umum secara
sambung menyambung, dan pulang ke Manado naik pesawat. Bahkan saya pernah
naik truk dari Bolaang Itang di Kabupaten Bolaang Mogondow ke Limboto di
Kabupaten Gorontalo. 

Ketika selesai di Lirung—di sini saya menginap di rumah wakil camat—pesawat
perintis ke Tahuna di Pulau Sangihe baru ada dua hari lagi. Tidak mau
melewati hari-hari tanpa kegiatan, saya memutuskan naik kapal motor kayu ke
Tahuna yang memakan waktu semalam penuh, padahal ketika itu sudah masuk
musim Barat sehingga ombak sudah mulai besar.

Alhamdulillah, dengan berbagai kesukaran yang saya hadapi di perjalanan,
semua kota-kota tersebut dapat saya kunjungi sesuai dengan jadwal.

Dari kisah pengalaman kecil saya sebagai orang kecil di atas—jika yang
diberitakan Koran Padang Ekspres di atas benar adanya—sangat sulit bagi saya
untuk memahami, bagaimana  Tim Terpadu Provinsi bentukan Gubernur Sumbar
yang bertujuan untuk menemukan fakta mengenai tambang emas liar di Solok
Selatan, gagal mencapai lokasi.

Apatah lagi jika dibandingkan dengan perjalanan, yang selain sangat sulit,
juga penuh marabahaya yang dilakukan Pak Kuding, Residen Rasyid, Tengku Moh
Hasan dll di era PDRI, sebagaimana yang dituturkan “Pak Kusir ANB” dalam
novel sejarahnya: Presiden Prawiranegara.

Oleh sebab itu, dengan segala hormat saya kepada beliau-beliau  para anggota
Tim Terpadu Provinsi, yang tentunya merupakan pejabat teras di tingkat
provinsi itu, saya tidak mempunyai  kosakata yang tepat bagi Tim tersebut,
kecuali—maaf—Tim Gadang Sarawa. 

WaLlâhu a‘lam bi as-sawâb 

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69+), asal Padangpanjang, tinggal di Depok


Tidak ada jalan pintas ke Surga, tidak ada “panacea” obat tunggal yang
mujarab mengobati semua penyakit

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke