Assalamualaikum Wr.Wb. Yth. Bapak Darwin Bahar.
 
Per-tama2 saya mohon maaf seandainya "bla bla" saya yang secara langsung maupun tidak, juga disisi lain mungkin sedikitnya telah mengecewakan Bapak Darwin.
Saya bukanlah bermaksud yang demikian,  ataupun yang bertendensi kearah situ, tetepi hanya mengeluarkan pendapat saja, agar supaya tidak terlalu dicultus individukan seseorang itu.
Terserah siapa individunya, agar supaya tidak terlalu kecewa nantinya, seandainya tahu lebih mendalam lagi, tentang persona yang dimaksudkan.
Saya rasa Bapak Darwin yang telah berusia 69 Thn, cukup mengerti apa itu sampah Nuk ataupun berapa kurun waktu (ratusan tahunkah??) sinarnya bisa meredup alias tidak membahayakan lagi. Standard2 yang diperlukan, yang memenuhi persyaratan Manusiawi, untuk membuat tempat..... katakanlah dengan santai...�KUBURAN NUK� Dimana lokasi KUBURAN NUK itu yang (telah) bakal dipilih.
Pertengahan tahun 1993 saya diundang oleh seorang kandidat Doktor di Univ. Giessen, fakultas Fisika, kemungkinan besar beliau juga orang UI langsung, entah sbg. Staff Pengajar atau orang Laboratoriumnya, saya tak ingat lagi.
Beliau sangat baik sekali orangnya, telah berkeluarga 2 anak kecil dengan seorang istri, dan kalau tak salah, mungkin anak yang ke-3 lahir disini.
Apakah beliau yang menjabat Ketua ICMI seJerman ataukah hanya Ketua Regional sahaja pada era saat itu, saya tak begitu ingat lagi, yang pasti beliau orang Minangkabau.
Beliau menawarkan saya masuk keanggotaan ICMI, sewaktu saya diundang keapartementnya. Sebelum saya mengisi Formulir Pendaftaran, sbg. Anggota sesuatu Organisasi, saya terlebih dahulu membaca Anggaran Dasar Organisasi tsb.
Dalam hal, ini saya minta beliau memberikan saya terlebih dahulu Anggaran Dasar ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia).
Setelah saya baca, langsung saya tolak dengan alasan, Bahasa Indonesia saya, menurut saya relativ jelek, karena selain saya hanya hingga SMA diRI kemudian langsung kuliah Technik ke-Jerman. Selanjutnya  hampir tak ada mempergunakan Bahasa Indonesia. Dibanding kollega2/teman2 saya yang meneruskan karir/garis hidupnya diIndonesia.
Menurut saya yang awam ini A.D. ICMI yang pada saat itu bahasa Indonesianya bukanlah level anak SMA, melainkan lebih rendah lagi.
Adapun menurut pandangan saya, dengan nama organisasi yang begitu cemerlang Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia, tetapi gaya tulisan A.D.nya yang pada saat itu sangat berlawanan sekali dengan makna kata Cendikiawan yang ditambah dengan kata Muslim.
Ini pendapat saya yang membaca A.D. ICMI yang pada saat itu pemakaian Bahasa Indonesianya kurang baik.
Saya menapik menjadi Anggota karena Bahasa Indonesia saya yang �plintat plintut� saja, jauh masih lebih bagus dari Bahasa Indonesia A.D. Pada saat itu.
Itu saya katakan langsung kepada Kandidat Doktor Fisika tsb. Saya bakal malu sekali, andaikata seseorang atau sekelompok orang yang berAgama/Bangsa lain mencemoohkan saya dengan Bahasa Indonesia hanya sebegitu saja, tapi berani menggunakan kata Cendikiawan Muslim Indonesia.
Kebanyakan yang saya lihat pada saat itu, banyak yang menjadi Anggota2 ICMI, sangat menonjolkan titel2 kesarjanaannya, Malah yang masih kandidat saja sudah membubuhi titel yang masih belum diperoleh, dengan membubuhi KAND./Cand./Kandidat, kurang lebih begitulah kira2nya.
Semisal yang punya banyak Titel kesarjanaan, yach &.berleretlah Titelnya..., istilah saya bagaikan Jendral2 Rusia yang memakai Pakaian Upacara keMiliteranya, singkatnya istilah disini kaya �Pohon Natal�.
Kebanyakan, Mahasiswa2 Indonesia yang diJerman pada saat itu, yang saya tahu, umumnya tanpa/sonder membaca A.D. langsung saja isi Formulir jadi Anggota.
Misal yang di P.P.I. (Persatuan Pelajar Indonesia) -nya, begitu juga yang Y.M.A.E. (The Young Muslim Association in Europe). ataupun Perkumpulan2 yang lainnya.
Malahan yang Ketua Regional saja (maaf, bukan maksud saya untuk bersifat negatip, mereka2 ini adalah teman2 saya sendiri, yang malahan lebih Senioran dari saya) tak mengerti beda Hak Suara dan Hak Bicara dalam Bahasa Indonesia, kononpula bagaimana nantinya membaca Kontrakt/UU/AD. dalam Bahasa Jerman yang umumnya jauh lebih sukar dari Bahasa Inggris (maaf, ini pendapat saya yang awam).
Bagaimana sekirannya mereka2 ini membaca buku2 pelajaran di Matakuliah mereka, atau andaikata esoknya menjadi Petinggi diIndonesia, menjadi Wakil Indonesia di Negara Asing ataupun di-UNO dsb.dsb.dengan keterbiasaan2 seperti ini?????
Maka dari itu & syukurlah, seorang teman saya yang lebih Senior (Sekarang beliau menjadi Guru Besar, satu dari Univ. ternama di Indonesia, orang Minangkabau juga) menghimbau saya dan beberapa teman lainnya membentuk team di kota Univ.Giessen ini membuat/memodifikasi menambal sulam A.D. P.P.I. serta Y.M.A.E. pada kisaran akhir 70-an. Beliau dengan rajin menghimbau, mengetuk hati kami, agar bersedia memperindah/menyempurnakan A.D. dengan cara didaktik yang sangat sederhana sekali......yakni �“hanya sebegitu saja bisanya kamu ini.“..�
Supaya saya tidak kebagian rezeki nomplok kebagian kalimat mukjizat tsb., maka saya berusaha peras otak saya sebaik mungkin.
Malahan sewaktu mau menggoalkan A.D. Y.M.A.E. di-Mesjid kota Univ. Aachen pernah saya diketawai oleh beberapa Senior2 dari Kota Lain dan atau Negara Lain.
Mayoritas mereka berpendapat HALAL dan SYAH itu artinya sama, kebetulan saja, saya yang membuat Bab tsb.
Langsung dengan sedikit malu dan berusaha berlaku sopan dengan etika hormat kepada Senioran, saya memohon kepada Audience agar supaya Ulama saja(maksud saya yang sebenarnya agar salah seorang yang Senior menerangkannya, bukan saya, segan se-akan2 menggurui yang Senior ) yang menjelaskan ketidak samaan arti SYAH & HALAL tsb.
Wah... malahan satu ataupun beberapa diantara Audience ada yg nyeletuk secara serentak; �yang hadir disini hampir semuanya Ulama�.
Kontan terbesut tawa ria para Audiance. Saya sangat malu sekali jadinya, dan sayapun merasa sangat dipermalukan, entah dengan secara disengaja ataupun tidak, hanya yang bersangkutan dan yang diAtaslah yang tahu.
Dengan tabah, hati panas, tapi kepala dingin, saya hanya memberikan contoh saja, yakni: „Seandainya saya nikah dengan wanita Jerman di Jerman ini, harus memenuhi persyaratan U.U. R.F.J (Republik Federasi Jerman) yang berlaku, lalu saya dengan Wanita tsb. menghadapi Hakim di Catatan Sipil RFJ, setelah upacara Nikah selesai, perkawinan itu baru SYAH. Tetapi sayang belum HALAL. Agar supaya HALAL....., nah saya wajib mendatangi Ulama Islam, misalnya satu diantara Audience yang Hadir, lalu dinikahkan secara ISLAM dengan persyaratannya, barulah SYAH pernikahan tersebut“.
Selanjutnya saya berkata, „jikalau para Audience mau ber-bincang2 serta berfilsafat ber-Bahasa Arab, maafkan saja, saya dengan hormat mau mohon diri,.... permisi tidak bakal bersedia menghadiri Rapat selanjutnya. Alasannya, karena saya tak faham bahasa Arab“.
Singkat cerita, A.D. kami itu tembus, apakah dipakai atau dipergunakan hingga sekarang saya tah tahu.
Karena tak lama sesudah itu saya mengundurkan diri dari YMAE, padahal saya malah ditawarkan menjabat Sekertaris, oleh Ketua YMAE yang baru terpilih pada saat itu, seorang Dr. Med.
Secara sopan saya tolak, walaupun beliau itu Senioren saya, yang tinggal di kota Univ. Giesen, Univ. tempat beliau menamatkan kuliahnya, dan kebetulan saja saya juga menamatkan kuliah saya dikota yang sama.
Setelah itu, saya ada mendengar sedikit berita......kabar2nya... DuBes Saudi utk Jerman Barat pada saat itu yang sangat spendable, kabarnya leluhur beliau berasal dari tanah Palembang (Palembani).
Apa & bagaimana kelanjutannya, sayang saya tak mendengarnya sama sekali.
Sampai saat ini, seandainya saya diundang dan diizinkan yang diAtas, saya ada juga bertemu, bersilaturrahim dgn berapa Mahasiswa Indonesia maupun Asing, baik yang berupa Islam dlm bentuk pengajian dll, Kultur & Pendidikan.
Pada Era Beasiswa2 yang Bapak Darwin sebutkan, saya ada juga datang.
Yach macam2lah cerita yang saya dapatkan. Malahan tanpa mendapat ceritapun, hanya dari melihat seri-wajah dan tindakan mereka2, menurut hemat saya, serta perlakuan2 para Senior terhadap yang mudaannya. Menurut saya kurang pantas, sangat feodalismus sekali.
Walaupun saya pada saat itu agaknya sudah dikatagorikan sebagai Senior ditilik dari perilaku mereka kesaya yang hormat. Walaupun bukan itu yang sebenarnya yang saya maui, melainkan berlaku apa adanya, tanpa tatakrama feodalismus, yang mana.... saya sangat allergie dengan tatacara kebiasaan2 seperti ini.
Beasiswa yang keJerman ini pada saat itu hingga kini, ada macam ragamnya-nya Pak Darwin, beda Sponsor beda Dana, beda tempoe datang uangnya. Apa gerangan penyebabnya.... dengan sedikit fantasi mungkin bisa diterka Pak Darwin. Maaf saya tak bisa lebih mendetail.
Kebebasan Pers ....., diJerman ini...... Pers Bebas Mutlak, setahu saya tidak/belum ada.
Idealnya...., yang haus Infos, musti mau mencari Infos dari setiap Sumber (Koran/Majalah/TV/Radio/Google) sebanyak mungkin dari bermacam Bangsa dan dari pelbagai penjuru mata-angin.
Setelah itu, barulah bisa membuat kesimpulan yang kurang lebih �di-takok2� dengan mengombinasikan kumulativ Infos yang diperoleh tadi,.... istilah saya �membaca/menafsirkan yang tersirat diantara baris2 tulisan� yang ter(di)tulis & dimengerti .
Timor-Timur/Timor Leste
Maaf Pak Darwin, saya awam Pak Darwin, yang pernah saya dengar sedikit tentang peperangan yang mempergunakan Helikopter Buatan Indonesia Lisensi MBB dll. dsb.
Entah bagaimana terjadinya, izinkanlah saya yang awam ini, mengibaratkan Timor-Timur itu seumpama �'bak lepas dari Mulut Buaya, tapi jatuh kejurang Singa�.
Saya sangat prihatin sekali melihat nasib Timor-Timur itu, saya tilik dari segi Pendidikan. Di Sana yang dipakai sebagai Bahasa Pengantar diSekolah adalah Bahasa Portugis, buku2 dari Portugis. Jangankan Rakyat jelatanya, sedangkan Guru2nya sendiri kabar2nya tak faham Bahasa Portugis. Nah untuk mengerti suatu Bahasa-Asing, manusia itu musti mempunyai Bahasa Dasar.
Akan bagaimanakah nasib saudara2 kita, disana dalam kurun waktu jangka panjang nantinya dengan (system) Pendidikan yang sangat menyedihkan sekali itu...????
Setiap tahunnya kalau saya tak lupa, kabar2nya Timor-Timur berhutang sekitar 60 Juta US Dolar entah keSiapalah (itu irrelevans), sementara itu yang memberi janji2 angin Syorga jaminan keamanan dll. dsb sebelumnya, menurut saya yang awam ini, hanya janji2 saja.
Mereka2 hanya duduk2 saja, ibarat Bodyguard/Centeng saja, mungkin2 saja ujung2nya kalau Timor-Timur kelilit utang yang berjibun, baru dibuat kontrakt baru tentang pertambangan Minyak Fosil yang diduga relativ banyak disepanjang pantai Perairan Timor-Timur tsb.
Sebagai pembanding, lihallah Negara Indonesia saja yang berdaulat, yang banyak cerdik pandainya, … juga yang sangat berutung, mempunyai Bahasa Indonesia …...hitung2 pukul rata......nasibnya masih merana, entah di-bodoh2i oleh siapa, itu lain thema.
Irian Barat, setahu saya dari segi Fauna saja, kalau saya tak lupa kira2 70% macam2 dari Unggas/Burung2an Didunia ini, berada di Irian. Itu belum bicara tentang Geozoological Perikanan maupun Flora, Hutan2 maupun kekayaan lainnya yang diperut bumi dll. dsb. dsb.
Lihat saja Tambang kita (maaf, apa iya kita yang punya??) yang dikelola oleh Asing, semua Tanah2/Hasil Tambang bulat2 langsung dinaikan kekapal, dibawa kenegerinya.
Siapa yang bisa/boleh/sanggup/berhak kontrol......, Benda2 berupa apa2 saja yang diperoleh dari hasil tambang tersebut Pak Darwin?????
Apakah ada Journalist Indonesia yang memberitakannya secara seksama tanpa aksen2 yang di delegasi oleh........ katakan sajalah beberapa gelintir manusia?

Malahan Pak Darwin berpendapat, saya kutip kalimat Pak Darwin �Malah secara pribadi� melihat kondisi masyarakat Papua sampai saat ini (dulu saya pernah 4 kali ke sana)�saya lebih suka Papua lepas saja dari Indonesia.�
Saya mohon sudilah kiranya Pak Darwin yang saya hormati, memberi tahu saya, apa gerangan yang mengakaibat Pak Darwin berkesimpulan sedemikan sangat dan teganya?????
Kalau saya tak lupa pelajaran Sejarah, dahulu semasa masih disekolah di Medan, Bapak Haji Agus Salim yang menjabat MenLu yang berupaya sangat banyak...., menggegerkan PBB/Dunia.
Urang awak Juo kalau ambo indak salah, beliau yang memang berperawakan kecil, konon pula dari perspektiv mata kepala orang2 yang berasal dari Ras Kaukasia.
Nah jerih payah, sesamo Urang Awak mau disia-siakan begitu saja.
Sedangkan Bulando ngak punya Daratan, berikhtiar mengupayakan Laut jadi Daratan.
Malah SingaPura membuat usaha yang serupa, tapi tak sama , mereka membentuk dari Sampah2 yang dinetralisir dan dimodifikasi secara ilmiah menjadi daratan. Belum lagi bantuan2 dari Urang2 Indonesia yang membawa Pasir2/Tanah2 via Tongkang/Kapal2 secara Legal/Illegal entahlah pak Darwin.
Sudah tentu Ibu Rina Permadi yang saya hormati, ataupun Dunsanak-Palanta yang merantau di Batam bisa menambah Infos yang lebih luas dan mendetail dibanding saya yang awam ini Pak Darwin.
UU Otonomi daerah dll. dsb.
Maaf Pak Darwin, saya tidak ingin berpolemik baik dengan Bapak Darwin yang saya hormati, maupun dengan siapa saja di Palanta ini.
Saya bermaksud hanya mau belajar berMinang2, belajar bahasa dan bertaratik Minangkabau. Mungkin dikarenakan, kedua OrangTua saya berasal dari Minangkabau......., mungkin juga karena akibat pengaruh dari (banyak) mendengar/mambaca Cerdik-Pandai Minangkabau yang banyak saya kagumi. Makanya saya yang tak berarti ini, berpatisipasi sebisa saya.
Saya ini bak Kentut didalam Angin-Topan, maaf istilah yang kurang baik, tetapi sedikit jenaka. Mungkin ipengandaian yang agak lebih baik, bagaikan bagian yang terkecil dari Molekul, didalam Jagat Raya yang tak ada artinya.
Manurut saya, yang banyak kurang baik itu bukanlah UU-nya, melainkan pelaku2 nya yang tidak menjalankan UU secara konsekwen.
Yang saya lihat, Indonesia itu kaya raya, penduduknya Mayoritas Islam ca.90%, Negara yang Penduduk Islamnya terbesar didunia.
Kalau jumlah Haji yang terbesar juga dari Indonesia kabar2nya, selebihnya Pak Darwin malah lebih faham dari saya.
Nah bagaimana Pemimpin Indonesia yang semuanya Muslim, tetapi...........apakah mereka berperilaku dan bertindak seperti yang diajarkan Islam????
Saya sendiri memeluk agama Islam, walaupun saya pernah belajar agama lain, berteman dengan Pastor2 baik Katholik maupun Protestan, Pendeta2 Agama lainnya, berusaha sebisanya, tidak memalukan agama Islam.
Malahan seandainya saya tergiur masuk keAgama mereka, kalau ditilik hanya dari segi karir dan keuangan sajalah......pendeknya bakal di-katrol oleh lobby2 Agama yang dipilih tersebut. Fungsional sebagai pembawa bendera, untuk diperlihatkan secara tidak langsung (istilah saya... yang mungkin kurang cocok)
Makanya tidak bisa disalahkan, sebagian dari kaum2 kita.... yakni mereka2 yang pindah ke-Agama lain tersebut, tergiur karena mungkin tak makan, labil, ataupun melihat tingkah polah Petinggi yang serba punya. Mencuri untuk makan, dengan mencuri untuk kaya luxus dll itu beda, menurut saya yang awam ini Pak Darwin.
Jadi yang salah itu bukanlah Islamnya, melainkan Muslimnya, kurang lebih saya analogkan saja, UU itu tak salah, hanya Pelaku yang menjalankannya yang tak konsekwen.
Maafkan saya Pak Darwin yang saya hormati, seandainya kata2 saya yang kurang taratik menurut ethika Minangkabau (ini bukan pledoie, tetapi saya memang lahir dirantau hingga SMA lalu Langsung ke Jerman), saya sangat respekti pendapat Bapak Darwin, dan saya sangat bergembira sekali mendapat tambahan2 informasi dari Bapak Darwin.
Tersambil maaf saya, juga saya mintakankan kepada Pembaca2 yang Budiman, yang tidak sependapat dengan saya, terutama sekali tentunya kepada mereka2 yang telah mengidolakannya.
Terimakasih atas kemakluman dan maafnya, saya ucapkan sebelumnya.

Wassalam,
hormat saya,
 
Muljadi Ali Basjah.
 
Saya minta Pak Darwin, kalau bisa himbau saya terserah dengan apa saja,  tapi mohon janganlah panggil saya"Angku"
 
 
Gesendet: Montag, 25. März 2013 um 09:50 Uhr
Von: "Darwin Bahar" <[email protected]>
An: "'Palanta Rantaunet'" <[email protected]>
Cc: [email protected]
Betreff: Kapa Tuo Habibie eks Jaruman Tumur - Re: [R@ntau-Net] Salahgunakan Ambulans

Angku Muljadi di Jaruman, sarato Sanak Sa Palanta nan Ambo Hormati;

Sato saya sakaki.

Masalah skandal Kapa Tuo eks Jaruman Timur ini pernah diangkat ke permukaan oleh beberapa media nasional, antara lain oleh MBM TEMPO, yang membuat Presiden  Suharto marah besar dan berujung dengan dibreidelnya media-media tersebut oleh Pemerintah Orde Baru.  Tapi kita tahu cerita Habibie di Indonesia bukan hanya tinta kelam Kapa Tuo (plus bau KKN di masa Pemerintahannya), beliau juga menorehkan tinta emas dalam dunia perpolitikan dan sosial di Indonesia.

Yang pertama-tama, adalah Pak Habibie—melalui pendirian ICMI di awal tahun 90-an—secara langsung dan tidak langsung melepaskan belenggu represi terhadap Umat Islam selama hampir 20 tahun. Orang seusia saya yang mempunyai akar Islam yang kuat hampir pasti merasakan hal ini. Ketika itu untuk melakukan pengajian di rumah-rumah saja perlu izin RT/RW. Belum lagi provokasi-provokasi berdarah seperti Peristiwa Tanjung Priok dan Peristiwa Lampung. Untuk Peristiwa Tanjung Priok ini, bahkan sanak kita Jusfiq Hadjar St Marajo Lelo “mencarut-maruti” Mendiang Jendral LBM yang dianggapnya bertanggung jawab terhadap peristiwa pelanggaran HAM berat tersebut. Dalam kaitan ini, jasa Pak Habibie yang memberikan kesempatan luas dan beasiswa  bagi sarjana-sarjana beragama Islam untuk melanjutkan studi ke LN, tentu tidak dapat dilupakan. Ada suatu masa, di mana ketika Dep Keuangan dipimpin oleh Menteri JBS, dari 10 pegawai Dep Keu yang dikirim ke LN, hanya dua yang beragama Islam (!)

Kedua adalah Pak Habibie yang membuka keran demokrasi dan kebebasan pers di Indonesia. Kebebasan pers yang sampai hari ini masih dinikmati masyarakat Indonesia, IMHO, tidak dapat dipisahkan dari apa yang dilakukan Pak Habibie di masa pemerintahannya.

Ketiga, di masa pemerintahannya, Pak Habibie juga berhasil mengatasi hyperinflasi di Indonesia di tahun sebelumnya dari 70 persen-an menjadi sekitar 12 persen-an.

Keempat, keberaniannya melakukan terobosan dengan memberikan kebebasan kepada masyarakat Timor Timur melalui referendum untuk tetap bergabung atau memisahkan diri dengan NKRI. Walaupun hasil referendum, yakni lepasnya Timor Timur dari NKRI, diratapi oleh sebagian orang, kalau kita setia pada cita-cita proklamasi dan mukadimah Konstitusi RI, tidak ada yang perlu disesali. Apa lagi kita tahu bergabungnya Timor Timur ke NKRI lebih banyak bersifat akal-akalan politik dan militer. Malah secara pribadi—melihat kondisi masyarakat Papua sampai saat ini (dulu saya pernah 4 kali ke sana)—saya lebih suka Papua lepas saja dari Indonesia.

UUD Otonomi Daerah yang pertama, yakni UU 22 dan 25 Tahun 1999, juga  merupakan produk Pemerintahannya Habibie

Dan last but not least, Pak Habibie telah mengajarkan etika berpolitik yang tinggi. Setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak MPR hasil Pemilu 1999, dia menolak dicalonkan kembali oleh Golkar. 

WaLlâhu a‘lam bi as-sawâb

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69+), asal Padangpanjang, tinggal di Depok

====

Aw: Re:  Re: [R@ntau-Net] Salahgunakan Ambulans 
Sun Mar 24, 2013 2:06 am (PDT) . Posted by: "Muljadi Ali Basjah"

Ass.W.W. Yth. Pak Taufik Rasyid. Kaba2nyo, Kapa Tuo ntun,
memang nan ado alat pemanas, indak ado AirkonCingdisonnyo doo.
Salain Macan Ompong/Harimau Tuo nan indak batariang, batukuak
puloo topingnyo jo Sampah Kijok2/ Alias Lampu Hiro-/Fuku-shima.
Kabanyo Tariang/Jajinyo babali pulo dari nagari Obami Obama,
tadanga siaran "Radio Dengkul" Indak talok ambo magaiah
pandangan doo P'Taufik, dek Angku nan bisa mancaliak/memandang
Lampu Fukushima ntun, dari jarak dakek dan bisa pulo manonton
Filem nan baru2 iko di-takok2 uok Para Dunsanak sia Bintang
pandampiang Aktor Utamanyo. Wassalam. P'Taufik rang 4-Angkek,
Muljadi Ali Basjah. Gesendet: Sonntag, 24. März 2013 um 09:51 Uhr

Von: [email protected]
An: [email protected]
Betreff: Re: Aw: Re: [R@ntau-Net] Salahgunakan Ambulans
Angku Mulyadi di Juruman

 

 
 

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
 
 

Kirim email ke