EDITORIAL Media Indonesia 26-Mar-13 http://www.metrotvnews.com/videoprogram/detail/2013/03/26/16700/121/Lelucon- Kudeta/Editorial%20Media%20Indonesia
PEMANDANGAN di sekitar kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin (25/3) pagi, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Polisi dengan kendaraan taktis berjaga-jaga di sekitar istana. Lalu lintas pun dialihkan sehingga tidak ada kendaraan yang mendekati kompleks Istana Kepresidenan. Selain di Istana Kepresidenan, satuan Brimob Polri juga berjaga di sekitar Kedutaan Besar Amerika Serikat, Balai Kota DKI, hingga Tugu Tani dan Bundaran Hotel Indonesia. Di beberapa lokasi, polisi diperkuat mobil taktis barakuda, water cannon, serta kawat berduri. Apakah Jakarta, khususnya Istana Presiden, menghadapi ancaman serius? Tidak juga. Pengerahan polisi itu hanya bentuk ketakutan dan kepanikan pemerintah menghadapi rencana demonstrasi besar-besaran yang mengusung tema penggantian presiden dan wakil presiden. Demonstrasi yang disebut pemerintah sebagai kudeta itu digalang masyarakat sipil yang kritis terhadap pemerintah. Namun, demonstrasi itu pun batal digelar. Jakarta berjalan normal tanpa ada huru-hara. Yang ada malah Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI), penggagas demonstrasi itu, membagi-bagikan sembako. Sebagai manusia biasa, tentu saja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berhak untuk takut atau khawatir dengan isu kudeta. Presiden berhak takut karena waktu tersisa pemerintahannya tinggal 1,5 tahun lagi, jadi mengapa mesti kudeta? Selama 8,5 tahun pemerintahan SBY, masyarakat melewatinya dengan sabar, mengapa mesti makar di ujung masa jabatan? Isu kudeta menempatkan Indonesia sebagai negara paling aneh dan lucu di muka bumi ini. Aneh dan lucu karena MKRI sebagai inisiator memublikasikan rencana demonstrasi itu lengkap dengan agendanya sejak dua pekan lalu. Jika aksi itu disebut makar, berarti itulah kudeta terbuka yang diketahui secara luas oleh publik dan aparat keamanan. Lelucon lain ialah demonstrasi itu telah dilaporkan kepada polisi. Kalau demonstrasi itu disebut sebagai kudeta, berarti hanya di Indonesia-lah rencana makar diberitahukan kepada aparat keamanan negara. Jika demonstrasi itu disebut sebagai kudeta, inilah pertama kali dalam sejarah dunia penggulingan presiden dilakukan sipil. Namun, karena Presiden Yudhoyono juga manusia biasa, meski sudah dilaporkan kepada polisi, meski sudah tahu jadwal dan agendanya, ia tetap saja berhak takut pada isu kudeta itu. Presiden Yudhoyono dalam beberapa kesempatan menanggapi serius isu kudeta tersebut. Bahkan, para purnawirawan jenderal TNI seusai bertemu Presiden Yudhoyono pada dua pekan lalu (13/3) mengatakan akan melibas kelompok yang melakukan makar. Sejujurnya kita heran dengan sikap Presiden yang menganggap serius hal-hal sepele, tetapi sebaliknya, tidak segera menuntaskan hal-hal yang mestinya ditanggapi serius. Yang serius itu, misalnya, soal penyerangan TNI ke Kantor Polres Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan, penyerangan LP Cebongan, Sleman, DIY, pembentukan pengadilan HAM ad hoc kasus penculikan, serta kasus Hambalang dan Century. Itu yang harus dituntaskan, bukan isu kudeta. Hari gini kudeta? Enggaklah. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
