Bung Akmal, bagus dan terima kasih atas tambahan bahan yang sangat berharga ini. Jadi missi pak Sjaf ke Bukit Tinggi bulan November 1948 itu bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga militer. Sayangnya Panglima Komandemen Sumatera yang baru, Kolonel Hidajat dari Siliwangi, yang datang bersama pak Sjaf, tidak ikut bergerilya, malah terus mengungsi ke Aceh yang aman dari Agresi Militer Belanda kedua. Beda sekali dengan Panglima Komandemen Jawa, Kolonel A.H. Nasution, yang aktif memimpin perang. Bung Hatta, kemudian, menyebut pak Sjaf sebagai " Presiden Darurat" ? Bagus dan cukup meyakinkan. Hanya aneh juga, mengapa beliau sebelumnya malah mengabaikan sama sekali peran " Presiden Darurat" ini dalam perundingan dengan Belanda, dan ikut menunjuk Mr. Moh. Roem utk mewakili Republik berunding dgn Mr. Van Rooyen dari fihak Belanda dan bukannya menunggu "Presiden Darurat" ini ? Bukankah hal ini yang menyebabkan kemarahan yang amat sangat dari fihak PDRI, sehingga sangat menyukarkan missi Dr. Halim utk mengajak pak Sjaf mengembalikan mandatnya kepada Presiden Soekarno, yang sudah kembali ke Yogya atas wibawa PBB?. Hanya argumen akal sehat, bahwa dunia luar dan bangsa Indonesia hanya mengenal Bung Karno, dan bukan pak Sjaf, sebagai pemimpin bangsa Indonesia, yang akhirnya menyadarkan pak Sjaf utk mengembalikan mandatnya sebagai " Ketua PDRI", bukan sebagai " Presiden Darurat". Jadi - maaf sebesar-besarnya - sebutan " Presiden Darurat " kemudian oleh Bung Hatta tersebut juga termasuk dalam kategori ' rekonstruksi ahistoris'. Sudah barang tentu kita semua menjunjung tinggi kejujuran Bung Hatta, namun menjadikan ungkapan simbolis " Presiden Darurat" yang bersifat honoris causa tersebut sebagai argumen utk mengangkat pak Sjaf sebagai presiden sungguhan, belum dapat saya cerna. Bagaimanapun juga, saya menilai wacana ttg posisi pak Sjaf dalam perjuangan membela dan menegakkan NKRI, sangat bermanfaat bagi kita semua. Upaya bung Akmal menulis novel yang didukung oleh penelitian yang cukup, jelas layak diacungi dua jempol. Akhirnya perlu saya ulangi lagi, saya sama sekali tidak berkeberatan dgn judul " Presiden Prawiranegara" sebagai penghormatan kepada pak Sjaf dan sebagai judul novel, tetapi saya masih merasa berkeberatan jika judul itu dianggap sebagai sungguhan. Dengan satu pengecualian, yaitu jika Bangsa ini - pada suatu saat nanti - mengakui pak Sjaf sebagai presiden kedua Republik ini. Saya akan ikut. Silakan dilanjutkan upaya ini. Wassalam, SB. Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
-- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
