Assalamualaikum ww. Sanak jepe, sarato sanak nan ado di palanta ko,
Mhn maaf baru kini dapek mahota. Lai tabaco email nan lalu ttg perjalanan sanak Jepe di hutan Sulawesi Tengah thn 1988, di salah satu daerah konsensi HPH, kalau dari carito sanak mungki itu di wilayah pantai Timur Sulawesi, setelah menyeberang dari Tawaeli- Parigi melewati Hutan Kebun Kopi, dan CA Panggi Binangga... Beberapa bulan nan lalu di BLH palu baru sajo diseminarkan ttg AMDAL Hutan tanaman Industri dari Coltan groub ,yang akan menggunakan seluruh kawasan bekas HPH di Sulawesi Tengah termasuk bekas Kebun Sari, Iradat Puri, Sinar Kaili (HPH thn 1980-an) mungkin termasuk hutan nan pernah sanak Jepe telusuri itu, yang akan ditanami Karet yg akan mensupport salah satu perusahaan Ban Oto kepunyaan Perusahaan ini juga. Cadiak juo perusahaan iko, tentu kawasan yg telah ditinggalkan lebih dari 25 th ini, pohon-pohonnya sekarang sudah besar-besar karea proses suksesi ekologi, dan dari pantauan kawan-kawan masih banyak terdapat tegakan kayu Eboni (Diospyros celebica), maskot Sulawesi yg statusnya dilindungi, nan nanti mungkin disikatnya juo. -------------------------------------------------------------------- Sehubungan dengan Padi Organik, ambo punyo pengalaman juo di wilayah Sulawesi Tengah, yaitu survey "ethnobotany" pada masyarakat adat "Tao Taa Wana yang hidup di cagar Alam Morowali, Kab. Morowali sekitar 600 km dari palu dan masyarakat "Kaili Laudje" yg tinggal di wilayah Palasa, kecamatan Tinombo Kabupaten Parigi Moutong (320 km dari Palu). Kesimpulan nan bisa diambil, kedua kelompok masyarakat ini masih tergantung kehidupannya dari hutan sekitar, termasuk kebutuhan subsisten (staple food), obat-obatan, untuk acara ritual adat, kontruksi bangunan, minuman dll). Mereka masih mempraktekan sistem perladangan berpindahan dgn sistem " "Slash and Burn", masih nomaden , tetapi ada satu nilai yg tdk dimiliki Orang kota dimana kedua kelompok masyarakat tadi semuanya "JUJUR/ TIDAK ADA YG PEMBOHONG", Jadi apak yang dibilang oleh mereka sudah itu, tdk ada ditambah kurangi. menurut pemahaman mereka, mereka tdk mau "Bohong" karena takut hukum adat. Sehubungan dengan Padi organik, dalam bhs "Tao Taa Wana" Padi bhs lokalnya : "PAE", sedangkan orang Kaili laudje : Padi = "Boung", mereka juga tdk mengenal pupuk sintetis akan tetapi masih menggunakan abu hasil pembakaran, dan juga tdk mengenal pestisida dari bhn kimia sintetik. Ini Potongan karya ilmiah ambo ttg itu : "Masyarakat Tao Taa Wana misalnya yang merupakan salah satu dari puluhan kelompok masyarakat adat yang terdapat di Sulawesi Tengah yang secara geografi hidup dan tersebar dari bagian timur dan timur laut CA Morowali, bagian barat pegunungan Batui di sekitar gunung Tokala (Kab. Banggai) dan pegunungan Balingara, dataran Bulan dan Gunung Lumut di Kab.Tojo Una-una Propinsi Sulawesi Tengah memiliki sistem ketahanan pangan yang baik dimana mereka melakukannya melalui persilangan varietas padi lokal secara alami dengan cara selalu mengganti varietas yang ditanam yang bibitnya diperoleh dari desa lain. Bibit disimpan dan dibagi-bagi kepada orang-orang di desa. Penyimpanan bibit dilakukan di berbagai desa dengan maksud supaya jenis padi tersebut tidak mudah hilang. Disamping itu juga dengan cara menanam beberapa varietas padi secara bersamaan sehingga melalui persilangan alami akan terbentuk varietas-varietas baru dengan genetik yang bervariasi. Tercatat beberapa varietas padi lokal yang selalu di budidayakan seperti “pae (padi) gondu” (buah hitam), “pae lamboro” (kuning), “pae moraa” (kulit padi berstrip), “pae ranta” ( buah mudah rontok), “pae talingku” (buah berbulu), “pae bendera” (padi yang ada bendera), “pae tobongku” ( tidak berbulu, kulit kehitaman) dan lain-lain (Ramadhanil Pitopang 2009). " Iyo sabana lamak raso nasinyo, apolai bareh nan ka ditanak ditumbuak padinyo pagi jo lasuang, kudian ditampih, walaupun dimakan jo sayua umbuik Rotan, nan ditumis jo bawang putiah dan merah saketek, digiliangkan "rica + garam", dan secuil ikan garam bakar. Sangaik babeda rasonyo jo bareh nan banyak dijua di pasa-pasa kota kiniko, nan warnanyo putiah rancak (kecek urang pakai pemutiah supayao warnanyo rancak), apolai padi nan di programkan dinas pertanian dulu sarupo jo " padi VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng), nan rasonyo jaankan manusia Wereng sajo indak suko mamakannyo doh. Di bawah iko ado link tulisan ambo ttg ethnoecology masyarakat Tao Taa wana tsb, tapi tampaknya indak lengkap papernyo doh. http://biosains.mipa.uns.ac.id/P/P0101/P010136x.pdf Sakitu dulu, Ramadhanil --- Pada Jum, 29/3/13, [email protected] <[email protected]> menulis: > Dari: [email protected] <[email protected]> > Judul: Re: [R@ntau-Net] "Beras Gunung/Ladang Organik Mahulu" > Kepada: "rantaunet rantaunet" <[email protected]> > Tanggal: Jumat, 29 Maret, 2013, 8:04 PM > Mak Ngah > > Ambo yo baru tahu lo jo jenis beras dari India tu nan banamo > Basmati tu > > Ambo memang basic edu Pertanian tapi forestry > Ilmu padi-padia/beras tu di jurusan agronomy yg lebih > spesialis tantu ado > > Doktor2 di bidang padi dan lembaga2 riset khusus Padi nan > maagiah namo padi tu dengan kode2 tertentu hasil temuannyo > bisa dari jenis lokal lalu disilangkan dengan jenis padi > dari luar mako tercipta jenis baru yang. Lebih unggul > > Mungkin members palanta RN ko nan ahli padi/beras bisa > jalehkan > > Mokasih berbagi cerita Mak Ngah jaman saisuak yo ndak tahu > tetuo kito jo pupuak2 kimiawi sarupo kini > > Wass-Jepe > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: "sjamsir_sjarif" <[email protected]> > Sender: [email protected] > Date: Fri, 29 Mar 2013 12:49:44 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [R@ntau-Net] "Beras Gunung/Ladang Organik > Mahulu" > > Sangat menarik cerita Angku Jepe tentang "Beras > Gunung/Ladang Organik Mahulu" ini baik dari pertemuan > pertama dengan Weq (Kakek), cerita motoris, penjelajahan ke > Mahulu (Mahakam Hulu) serta pencobaan makan nasi dari beras > organik ini. > > Sebetulnhya, dahulu sebelum orde baru main-main dengan pupuk > padi, kita semua (yang saya ingat) di Sumatera Barat makan > nasi dari Beras Organik ini walaupun bukan dari Padi Ladang. > Waktu kecil saya hidup di lingkungan persawahan dataran > tinggi Agamtuo. Suasana bertanam padi di sawah selalu > menjadi kenangan dengan proses orang menanamkan benih dengan > garis-garis lurus; benihnya dicocokkan sepencet-sepencet, > dioleskan ke pubuk abu dalam belanga yang ditarik sambil > membungkuk beringsut-ingsut arah ke balekang. > > Sebelum saya berangkat meninggalkan Kampung Halaman, awal > 1966) tidak pernah saya dengar "pupuk padi kimia" itu. Waktu > itu padi-padi di sawah ditanam dengan Pupuk Abu. Jadi > hasilnya, yah organik. Jadi waktu itu, Beras Solok, Beras > Taram, dan Beras Ampek Angkek terkenal semuanya adalah > organik. Namun, 20 tahun kemudian 1985 baru saya terperanjat > heran, orang sudah menggunakan pupuk buatan kimia yang > dispnsor/dianjurkan oleh jawatan pertanian/pemerintah. > > Alih cerita, di US kita punya banyak pilihan membeli beras. > Macam-macam, organik atau tidak. Dari US garis besarnya ada > California rice, Texas rice, beras impor ada Jasmine rice > dari Thailand, ada beras Jepang, dan Basmati Rice dari India > dan Pakistan. Pilihan saya biasanya Jasmine dan Basmati > rice. Jasmine mengingatkan saya kepada Beras Ampek Angkek. > Namun, Basmati Rice menjadi favorit karena aroma dan rasanya > unik dan nasinya berderai, jarang yang lembik. > > Pertanyaan saya kepada Angku Jepe, apakah namanya Basmati > Rice di Indonesia? Beras Basmati atau ada nama lain? > > Salam, > -- MakNgah > Sjamsir Sjarif > Mar 29, 2013 > > --- In [email protected], > andi.jepe@... wrote: > > > > Beras Gunung/Ladang Organik Mahulu > > By :Jepe > > > > Jaman sekarang sudah menjadi semacam gaya hidup juga > bagi sebagian masyarakat terutama dikalangan yang berpunya > (the have) diperkotaan untuk mendapatkan apa yang > dikonsumsi sehari-haru sebagai sumber energi, mineral, > vitamin dan karbohidrat seperti buah-buahan, sayur-sayuran > dan beras yang serba organik dalam > arti proses budi daya penanaman sampai panen tanpa > menggunakan pupuk-pupuk kimiawi dan zat-zat pestisida > kimiawi yang terkadang berbahaya dari segi kesehatan > jika terkonsumsi dalam jangka panjang dan tentunya tidak > ramah lingkungan pupuk dan pestisida ini dalam bentuk > apapun residu yang tercecer. > > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan > di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta > R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui > jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! > Lihat di: > http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan > reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email > lama & mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting > keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup > "RantauNet" dari Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari > grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] > . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan > di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta > R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui > jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! > Lihat di: > http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan > reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email > lama & mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting > keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup > "RantauNet" dari Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari > grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] > . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
