*Teras Utama, Harian Padang Ekspres*, Sabtu, 30 Maret 2013


Meluruskan Tafsir Nama-nama “Aneh”

Oleh Andrinof A Chaniago

Akademisi dari Universitas Indonesia



Untuk perkara menafsir nama-nama khas orang Minang saja, orang Minang
ternyata bisa tersesat jauh. Seorang kawan di jaringan* facebook* yang
berasal dari Jawa menulis status begini, “Orang padang setelah kekalahan
Permesta tahun 1958 memang krisis identitas, jadi nama orang Minang
aneh-aneh kedengarannya, macam Don Vitto, Geovanni, Muhammad Rika, padahal
nama umum orang Minang kan Sutan Azwar, Nazrul Asril, Amrullah Karim atau
Marah Rusli.” Saya tidak terlalu kaget dengan prasangka seperti itu, meski
yang seperti ini selalu mengganjal hati saya. Tetapi, yang membuat saya
kaget dan prihatin, status kawan *facebooker* tadi diamini oleh seorang
kolega dan senior asal Minang di bawah status yang ditulis oleh kolega yang
berasal dari Jawa tadi. (Ini terjadi pada 19 April 2010)

Di kesempatan yang lain, saya menemukan lagi pikiran yang “mengejutkan” dan
membuat saya makin prihatin dengan pengetahuan dan sikap sejumlah orang
Minang sendiri terhadap nama-nama aneh orang-orang Minang. Sebuah tim yang
ingin mengambil inisiatif menjadi perumus usulan syarat-syarat untuk
menyebut seseorang Di sebagai orang Minang, tim itu mencantumkan rumusan
usulan bahwa untuk disebut sebagai orang Minang, orang harus memiliki nama
khas orang Minang atau nama yang islami. Saya agak terperanjat sekaligus
makin prihatin, membaca ide dan usulan kriteria tersebut.

Orang yang paling sering melontarkan “tesis” bahwa nama-nama aneh orang
Minang itu adalah dampak dari Peristiwaa PRRI, adalah pengamat politik dan
analis sejarah, yakni Fachry Ali. Fachry Ali yang secara pribadi dengan
saya berada dalam jalinan hubungan sebagai senior dekat saya, sudah sering
mendapat bantahan dengan bukti empiris dari saya. Sebagai pengamat, ia
memang sering terlalu mengandalkan metode interpretatif, walau dengan data
yang terbatas. Belakangan, saya melihat Fachry Ali sudah tidak lagi
menggunakannya. Tetapi, celakanya, klaim bahwa nama-nama khas orang Minang
berhubungan dengan Peristiwa PRRI sudah terlanjur diyakini oleh sejumlah
kalangan. Walaupun sebagian dari kita sudah pernah juga mendengar versi
lain tentang asal-usul nama “aneh” sebagian orang Minang tersebut, namun
nyatanya, klaim yang keliru itu tetap masih dipercaya oleh sebagian orang
Minang.

Saya ingin tunjukkan beberapa nama “aneh” orang Minang yang jelas lahir
sebelum Peristiwa PRRI sehingga nama itu diberikan orang tua mereka tidak
ada hubungan dengan Peristiwa PRRI. Ada Masmimar Mangiang, seorang ahli
bahasa media yang cukup dikenal di kalangan aktifis dan wartawan senior,
termasuk salah satu dari banyak orang yang memiliki nama yang berasal dari
singkatan yang punya nilai “historis”. Nama Mangiang di belakang namanya
adalah nama orang tua laki-lakinya. Namun nama Masmimar itu adalah
singkatan dari masa (singkatannya  dijadikan Mas) mempertahankan (M)
Indonesia (i) mardeka (mar) yang diambil dari suasana dua setengah bulan
sebelum KMB.

Berikutnya, ada nama Wisber Loeis, mantan diplomat terkemuka asal Minang,
yang pernah menjadi Duta Besar RI di PBB. Saya sudah lama meyakinin namanya
juga berasal dari singkatan tertentu. Keyakinan ini baru saja terbukti
pertengahan Maret 2013 lalu ketika saya bertemu beliau di sebuah resepsi.
Rupanya orang tua Pak Wisber Loeis ini selain selalu melekatkan nama Loeis
pada nama belakang anak-anaknya, penggalan namanya dilekatkan lagi pada
nama depan Wisber Loeis. Pak Wisber Loeis menjelaskan bahwa nama Wisber itu
singkat dari Luwis dan Oktober, yang merupakan bulan kelahiran Pak Wisber
Loeis,

Masih ada beberapa nama lain yang orangnya lahir sebelum Peristiwa PRRI.
Setahu saya, Sotion Arjanggi almarhum, mantan Ketua Umum DPP KADIN di tahun
1980-an, namanya juga berasal dari singkatan. Saya belum dapat informasi
untuk nama depan Sotion. Tetapi, Arjanggi berasal dari Aur Tajungkang
Bukittinggi. Pemilik nama ”aneh” lainnya adalah Revrisond Baswir yang untuk
nama  Revrisond itu berasal dari revolusionary sound (suara revolusioner).

Beberapa contoh orang Minang yang memakai nama ”aneh” di atas kranya cukup
untuk mementahkan tesis Fachry Ali yang mengatakan nama-nama aneh orang
Minang itu akibat peristiwa PRRI. Penjelasan yang bisa diterima atas
munculnya nama-nama ”aneh” pada sejumlah orang Minang adalah, kebiasaan
sebagian keluarga membuat nama-nama yang berasal dari singkatan tertentu
dan memiliki kaitan dengan peristiwa sejarah tertentu. Hal ini, menurut
hemar saya, berkaitan dengan ciri orang Minang yang selalu berupaya kreatif
untuk menghasilkan sesuatu yang khas di mata orang lain. Hal ini juga bisa
dilihat dari sejarah jenis-jenis makanan dan minuman di Sumatera Barat
sekarang.

Secara personal, saya sudah melakukan pelurusan tesis Fachry Ali tersebut
kepada yang bersangkutan. Nama saya memang aneh dan berbau Barat. Tetapi,
walaupun saya lahir setelah Peristiwa PRRI, nama Andrinof itu tidak ada
hubungannya dengan PRRI. Andrinof adalah ciri sebagian orang tua
Minangkabau dalam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Andrinof diambil
dari tiga suku kata: an (mungkin maksud orang tua saya untuk nama
panggilan), dri yang berasal dari drei atau dri (dekat ke Bahasa Jerman
atau Belanda) yang artinya tiga, dan nof yang berasal dari Nof(v)ember.
Artinya, mama ini berasal dari tanggal dan bulan kelahiran saya, yakni 3
November.

Kalau mau objektif membuat kategorisasi, nama-nama orang Minang berasal
dari dua budaya besar, yakni Arab dan Barat. Kebetulan Arab itu
diidentikkan dengan Islam, walau dalam kenyataannya, jumlah Arab Kristen
juga signifikan di Mesir, Libanon dan Irak. Nama-nama berpengaruh Arab
sebetulnya lebih banyak melekat pada perempuan Minang, seperti Siti
Fatimah, Kamila, Jamillah, Habibah, dan sebagai. Sementara nama-nama
bernada Barat lebih banyak diberikan kepada laki-laki, seperti John,
Edward, Don, Meizon, Wisber, dan sebagainya.

Diantara nama-nama yang bernada Barat itu bahkan ada yang sangat identik
dengan nama laki-laki Kristen. Samuel Koto, mantan fungsionaris Partai
Amanat Nasional (PAN) yang kini menjadi fungsionaris partai Hanura, jelas
orang Minang. Begitu juga kawan saya Oktavianus Rizwa yang bermukim di
Padang sebagai pengacara, pastilah orang Minang. Tentu aneh sekali kalau
saya dan orang-orang yang bernama Barat tadi mau dijadikan orang Minang
kelas dua. Seberapa islami kita, hanya Allah SWT yang tahu. Nama tidak akan
menjamin seseorang pasti sangat islami. Toh, beberapa nama politisi yang
islami dan berasal dari partai Islam juga menjadi narapidana karena
melakukan korupsi.

Maka, mari kita luruskan saja cara berpikir kita dalam melihat sesuatu.
Lihatlah sesuatu itu dengan jernih, obyektif dan dengan sedikit usaha untuk
menyelidiki sebab-akibatnya.Kalau tidak mau dan tidak bisa, janganlah latah
lalu timbang setiap gagasan seberapa besar manfaat dan kerugian yang akan
timbul bila kita mengusulkan sesuatu.mengamini pernyataan spekulatif orang
lain.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke