Pidato Deklarasi Menikam Jejak, Mencari Akar: “Kota Pariaman Ramai, Bersama Rakyat Badarai”
Bismillahirrahmanirrahim Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Assalamu’alaikum Wr Wb Pertama dan utama sekali, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat perjalanan hidup, cuaca yang cerah dan angin yang berhembus pelan. Kita sampai di pulau ini dalam keadaan selamat. Tak lupa, salawat dan salam kita hadiahkan kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam jahiliyah ke alam ilahiyah. Kita berkumpul di Pulau Angso Duo ini untuk sebuah momen, sebuah agenda, sebuah tekad perjuangan, guna menghidupkan lagi tradisi berpolitik yang penuh keringat dan idealisme. Sengaja Pulau Angso Duo ini dijadikan sebagai tempat kita berkumpul dan deklarasi, tidak lebih dari upaya mambangkik batang tarandam. Selama ini, kita mendengar dan menyebut nama Pulau Angso Duo lewat pepatah berikut: Pulau Pandan jauah di tangah, di baliak Pulau Angso Duo! Walau badan dikalang tanah, budi baiak takanang juo! Pepatah itu menjadi filosofi yang menarik, menghadapkan antara kematian dengan kebaikan, tentang tak abadinya kekayaan, pangkat dan jabatan, dibandingkan dengan perbuatan baik yang kita lakukan ketika hidup. Pada gilirannya, manusia dinilai bukan dari seluruh kehebatan yang diraih secara pribadi, melainkan pada kebaikan yang diberikan kepada orang lain. Semakin manusia berguna bagi manusia lain, semakin tinggi derajat manusia itu. Rakyat Pariaman Yang Saya Muliakan Dipilihnya Hari Minggu, tanggal 31 Maret 2013 ini, bukan berdasarkan perhitungan mistik apapun. Hari Minggu adalah hari libur nasional. Di hari libur, kita idealnya melihat orang-orang istirahat dari tugas rutin sehari-hari. Hari Minggu menjadi hari keluarga. Hari Minggu adalah hari berwisata. Kesibukan selama hari-hari biasa, pada hari Minggu membutuhkan aktivitas berbeda. Tentu bukan istirahat, melainkan mencari cara menjalani hidup yang berbeda, semacam proses pengisian energi secara mingguan. Kita di sini menjadi saksi tentang kondisi Pulau Angso Duo ini. Ada bagan yang sedang bersandar, nyamuk dan pohon baguak, kuburan panjang, sebuah surau dan sapuan ombak. Ada keindahan di sekeliling pulau ini. Yang paling penting, kita melihat Piaman Laweh dari pulau ini, Piaman yang tidak memiliki batas. Bukan hanya Gunung Marapi, Tandikek dan Singgalang yang terlihat sebagai bagian dari Kota Pariaman, bahkan juga Gunung Pasaman, sampai ke arah pesisir. Kalau kita memandang ke arah laut, Pariaman adalah lautan luas tak terbentang. Kini, ikan-ikannya diambil oleh pelaut-pelaut dari Jepang, Vietnam, Kamboja, Thailand dan Philipina, disamping nelayan-nelayan dari Sukabumi sampai Sibolga. Usia Kota Pariaman sudah lebih dari 5 abad. Saya perlu ulangi, pada tahun 1513, Tome Pires, seorang penulis asal Portugis, menyinggahi Kota Pariaman ini. Ia menulis kesannya di dalam buku Suma Oriental. Apabila kita memandang ke arah pesisir pantai dan laut, lalu membayangkan perjalanan kota ini selama 5 abad, terlihat sekali banyak yang sudah dilewati kota ini. Kapal-kapal dari beragam negara pernah singgah di kota ini. Para petualang, penulis, pedagang, militer, sampai orang-orang yang membantu manusia lain juga pernah melewati kawasan ini. Sebagai Kota Bandar, kota pelabuhan, Pariaman disinggahi beragam suku bangsa. Pariaman adalah salah satu daerah yang paling heterogen sejak lebih dari 5 abad lalu. Di Kota ini terdapat berbagai keturunan suku-suku bangsa besar di dunia. Ada yang masih hidup, tetapi ada juga yang sudah punah dan meninggalkan pusara dan pekuburan. Kita mengenal Kuburan Belanda (Kubel) di Lohong dan Kuburan China di Kuraitaji. Tapi jejak mereka, baik dari sisi sikap hidup, karakter mereka, semangat pembaharuan dan penjelahan, masih tertanam dan hinggap di kalangan warga kota Pariaman, sampai hari ini. Intinya, masyarakat Pariaman adalah masyarakat yang semuanya adalah raja dan ratu. Bahkan, untuk mencari seorang raja diraja, orang Pariaman mengangkat orang Mongol yang memiliki tanduk. Tanduk itulah yang naik ke darek dan menjagi rumah gadang. Hadirin Yang Kami Banggakan Kita hadir di sini, di tempat ini, untuk sebuah momen, sebuah peristiwa, betapa Pulau Angso Duo ini adalah kawasan strategis dan penting. Dengan visi besar Menikam Jejak, Mencari Akar, kami bersama-sama akan bekerja keras meneruskan tradisi yang pernah hidup di kota ini sebagai kota yang pernah menjadi kosmopolitan di eranya. Kota yang tidak hanya dihuni orang-orang Minang, melainkan juga orang Jawa, Batak, Nias, Bugis, Pesisir Selatan, Palembang, Bengkulu, Aceh dan lain-lain. Kami tidak muluk-muluk, dengan visi besar Menikam Jejak, Mencari Akar, kami mengusung program-program yang mengarah kepada : Kota Pariaman Ramai, Bersama Rakyat Badarai. Program meramaikan Kota Pariaman ini kita mulai dari titik ini, di Pulau Angso Duo. Program yang langsung kita jalankan sejak sekarang. Sebab, tantangan Pariaman ke depan bukan terletak dari warga kotanya, melainkan dari kepemimpinan yang lahir di kota ini. Kepemimpinan yang visioner, sekaligus sama sekali tidak melupakan agama, tradisi, sejarah dan kebudayaannya. Kepemimpinan yang memiliki azas meritokrasi dalam sisi pemerintahan, bukan yang mudah terpengaruh oleh kepentingan keluarga, suku, golongan ataupun sifat-sifat yang sebetulnya tidak sesuai dengan sejarah kota ini. Dari Pulau Angso Duo ini, kami menyerukan semangat pembaharuan dan perubahan bagi kota Pariaman. Mari kita lakukan proses ini dengan itikad baik, niat yang bersih, kerjasama yang utuh, guna kemajuan kita bersama. Mari kita kembangkan wisata bahari dari pulau ini, wisata kuliner, wisata belanja, wisata sejarah, wisata relegius, sampai wisata jiwa dalam semangat perantauan yang jauh. Selain itu, dengan letaknya yang strategis, Kota Pariaman ini sangat cocok dikembangkan menjadi kota jasa, kota pendidikan dan industri yang berbasiskan warga. Sir Stanford Raffles pernah mencoba membangun Bengkulu sebagai salah satu pusat kota di Nusantara. Namun, Raffles gagal, lalu memindahkannya ke Malaka yang kini menjadi Singapura. Kita tentu tidak ingin muluk-muluk. Yang perlu kita pelajari adalah, kenapa Raffles gagal di Bengkulu, lalu berhasil di Malaka (Singapura)? Tanpa harus menjadi sebuah negara, kami menyediakan pangkal lengan kami, bahu kami, tenaga kami, pikiran kami, bahkan waktu dan biaya, guna mengembangkan kota ini sebagai satu daerah yang penting di Sumatera Barat, khususnya, dan Sumatera, umumnya. Hadirin Yang Berbahagia Tentu kita berkejaran dengan waktu. Karena maju dari Partai Rakyat Badarai, berupa KTP warga, kami berharap kepada warga kota mendukung kami dengan KTP. Dukungan berupa KTP inilah yang menjadi dasar bagi kami untuk terus melanjutkan proses ini, sampai ke ujungnya, yakni berkompetisi secara sehat dalam pilkada Kota Pariaman. KTP yang kami perlukan sekitar 10.000. Seluruh relawan dan tim akan bekerja keras, siang dan malam, untuk mendapatkannya, sampai hari pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum Kota Pariaman. Mengapa KTP? Karena dari sini kami bisa mengukur, seberapa besar response masyarakat Kota Pariaman terhadap proses pencalonan kami. KTP adalah lambang administrasi negara dalam level yang lebih jelas, dengan dokumen yang terukur. Perjuangan mendapatkan KTP inilah langkah selanjutnya setelah deklarasi. Kalau ada warga Kota Pariaman yang mau memberikan dukungan, silakan datang ke Jln M Jamil Nomor 3, Kelurahan Jawi-Jawi I, Simpang Sianik, Kota Pariaman. Namun demikian, kami juga tidak menutup kemungkinan diusung oleh partai-partai politik. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan yang sudah ada. Banyak yang datang mengantarkan KTP ke posko kami. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada warga yang hadir. Perjuangan kita belum selesai. Kita perlu sampai ke tujuan, dengan cara yang santun, bermartabat, sekaligus dengan pikiran dan semangat yang sehat. Demikianlah pidato singkat ini kami sampaikan, guna diketahui oleh masyarakat Kota Pariaman. Terlebih dan terkurang, kami haturkan banyak terima kasih. Wabillahi Taufik Walhidayah Wassalamu’alaikum Wr Wb Pulau Angso Duo, 31 Maret 2013 Indra Jaya Piliang dan Jose Rizal Mandai Silakan buka: http://indrapiliang.com/2013/03/31/pidato-deklarasimenikam-jejak-mencari-akar/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
